Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI PASTI BERLALU
Mobil SUV hitam milik Adi membelah jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan di jam pulang kantor. Di dalam kabin, suara musik dari siaran radio mengalun, namun suasana terasa hening. Keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan yang mencekam seperti di laboratorium tadi, melainkan sebuah atmosfer yang sarat akan ketegangan yang berbeda—sesuatu yang lebih manis, dan mendebarkan.
Ana menyandarkan kepalanya di jok mobil, menatap keluar jendela melihat deretan lampu jalan yang mulai menyala. Pikirannya masih melayang pada perkataan Adi di bawah pohon akasia tadi. “Kamu punya masa depan saya.” Kalimat itu terus bergema, meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia bangun dengan sikap jutek dan formalitas sebagai asisten.
Adi sesekali melirik ke arah samping. Ia melihat siluet wajah Ana yang diterpa cahaya sore dan lampu-lampu kota yang meremang. Gadis ini biasanya begitu keras kepala, selalu punya argumen untuk membantah perintahnya, dan memiliki tatapan mata yang seolah berkata bahwa ia tidak butuh siapa pun. Namun hari ini, untuk pertama kalinya, Adi melihat kerapuhan dari diri gadis itu. Anehnya, melihat Ana menangis karena dirinya, tidak membuat Adi merasa bersalah secara negatif, melainkan menimbulkan sebuah rasa gemas sekaligus protektif. Ada kebanggaan maskulin yang menyeruak di dadanya; menyadari bahwa seorang Ana yang begitu mandiri ternyata bisa hancur hanya karena cemburu. Sudah lama Adi tidak merasakan hal seperti ini. Rasa gemas dan berdebar seperti cinta remaja yang memabukkan.
"Masih mau diem-diem aja, nih?" tanya Adi memecah keheningan. Suaranya rendah, jauh dari nada otoriter yang biasa ia gunakan di depan kelas.
Ana menoleh, mencoba mengembalikan ekspresi datarnya walau sisa-sisa sembab di matanya tak bisa berbohong. "Aku masih kepikiran ucapannya Bu Myra tadi, mas."
"Bu Myra? bilang apa memang dia?" Adi memutar setir, berbelok memasuki kawasan perumahan dan kos-kosan mahasiswa.
"Katanya Mas itu orangnya terlalu lurus. Saking lurusnya, sering lupa kalau perasaan orang lain nggak semuanya 'lempeng' kayak Mas. Terus dia bilang juga, saya jangan cuma jadi bayang-bayang." Ana menghela napas. "Di satu sisi, aku bingung kenapa dia ngomong kaya gitu? seakan-akan tau soal kita. Dan di sisi lain, aku ngerasa dia bener kan, mas? Di mata semua orang, aku cuma mahasiswi bimbingan Mas. Sedangkan Bu Eva... dia adalah rekan sejawat yang setara. Dan yang jelas mereka semua tau masa lalu kalian berdua."
Adi menghentikan mobilnya di depan gerbang kosan Ana yang tertutup rapat oleh rimbunnya tanaman rambat. Ia mematikan mesin, membuat suasana di dalam mobil seketika menjadi sunyi senyap. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.
"Oooh...masih banyak yang mau dibahas ini kayaknya?" tanya Adi lembut. "Setara itu subjektif, Ana," ujar Adi sambil melepas sabuk pengamannya. Ia memutar tubuh menghadap Ana sepenuhnya. "Secara akademik, mungkin dia lebih berpengalaman. Tapi dalam hal yang membuat saya seperti ingin selalu ketemu setiap hari, kayaknya nggak pernah ada di hubungan kami."
Adi menatap Ana dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seolah oksigen di dalam mobil mendadak menipis. Adi merasa gemas. Gadis di depannya ini baru saja menunjukkan sisi paling jujur dan sedikit gelap dari dirinya, dan ia tidak ingin membiarkan momen ini berlalu begitu saja. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Adi mengulurkan tangan, mengusap pipi Ana yang halus.
"Kamu tahu, saya hampir gila tadi saat kamu membantah saya di depan Eva," bisik Adi. "Bukan karena kamu tidak sopan, tapi karena saya tahu kamu sedang terluka dan saya tidak bisa langsung meluk kamu saat itu juga."
Sambil tersenyum geli, Ana memukul dada Adi dan berkata "Mas gombal mulu ah... jang...."
Belum sempat Ana menyelesaikan kalimatnya, Adi sudah mendekat. Jarak di antara mereka terkikis habis. Adi menangkup wajah Ana dengan kedua tangannya, dan detik berikutnya, ia mendaratkan kecupan yang dalam di bibir gadis itu.
Awalnya, itu adalah ciuman yang lembut—sebuah permintaan maaf dan penegasan kepemilikan. Namun, rasa gemas yang tertahan sejak di laboratorium tadi seolah meledak. Adi mencium Ana dengan intens, menyalurkan semua rasa frustrasinya selama beberapa jam terakhir, juga rasa bahagianya karena akhirnya Ana mengakui perasaannya.
Ana sempat terkesiap, tangannya secara insting mencengkeram kemeja batik Adi, mencoba mencari pegangan. Aroma parfum milik Adi yang maskulin bercampur dengan aroma kopi yang selalu melekat pada pria itu memenuhi indra penciumannya. Seluruh logika yang biasanya ia agungkan seolah terbang keluar jendela. Tidak ada teori-teori rumit diantara mereka, hanya ada debaran jantung yang berpacu liar.
Adi melepaskan ciumannya sejenak, untuk menatap mata Ana yang kini tampak sayu dan penuh damba. Ia menyatukan kening mereka, napasnya memburu pendek-pendek.
"Jangan pernah berani mikir buat mundur lagi Ana, kamu paham, kan?" bisik Adi dengan nada memerintah yang sangat personal. "Kamu adalah ehm... bentar lagi jadi mantan mahasiswi saya, yang naik tahta jadi asisten saya, , dan sekarang... kamu adalah satu-satunya orang yang punya hak buat jutekin saya."
Ana terkekeh kecil di sela napasnya yang belum stabil. Ia merasa seperti baru saja melewati badai besar dan mendarat di pelabuhan yang hangat. Rasa bangga terpancar dari wajah Adi; ia merasa telah berhasil menaklukkan benteng paling kokoh di kampus ini—hati Ana.
"Mas terlalu percaya diri," gumam Ana, mencoba kembali pada mode juteknya meski kini tangannya sudah melingkar di leher Adi.
"Saya dosen, Ana. Saya dibayar untuk percaya diri," balas Adi dengan senyum tipis yang mematikan. Ia kembali mencium kening Ana dengan lama, menghirup aroma rambut gadis itu. "Besok, datang ke lab dengan kepala tegak. Nggak usah pedulikan Eva maupun omongan orang. Biarkan dia melihat bahwa asisten saya jauh lebih hebat dalam segala hal."
"Termasuk dalam hal membuat Pak Dosen Killer bertekuk lutut?" goda Ana dengan binar mata nakal. Mencoba menggoda Adi dan menaikan kembali harga dirinya.
Adi tertawa kecil, suara yang kini menjadi musik favorit Ana. "Ya, terutama dalam hal itu." Adi menjawab sambil menatap tajam.
Malam itu, di dalam mobil yang terparkir di depan kosan sederhana, Ana menyadari satu hal. Masa lalu mungkin punya cerita yang panjang, tapi ia dan Adi sedang menulis bab baru yang jauh lebih menjanjikan. Ia bukan lagi asisten yang butuh dilindungi, melainkan perempuan yang dipilih Adi untuk mendampinginya, bukan sebagai bayang-bayang, melainkan sebagai cahaya yang melengkapi langkahnya yang 'terlalu lurus' itu.
"Sudah, masuk sana. Istirahat. Jangan nangisin mas lagi," ancam Adi main-main.
Hidung Ana mengernyit. "Dih, Geer!"
Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Sebelum masuk ke gerbang, ia menoleh dan melambaikan tangan. Adi tetap di sana, memperhatikannya sampai sosok Ana menghilang di balik pintu, dengan senyum puas yang tak kunjung hilang dari wajahnya. Ia benar-benar telah memenangkan hati gadis jutek itu, dan baginya, itu adalah pencapaian tertingginya tahun ini.
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍