Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Labirin Kaca di Pulau Cermin.
Kabut di depan haluan Nusantara Raya bukan lagi uap air biasa. Ia berwarna perak pekat, dingin yang menusuk tulang, dan memiliki denyut elektromagnetik yang membuat kompas Maya berputar gila seperti jantung yang sedang panik.
"Kita tidak bisa maju lebih jauh, Arga," teriak Maya dari anjungan. "Radar mati. Sensor termal buta. Jika kita menabrak karang, kita akan tenggelam sebelum sempat melihat pantulan wajah kita sendiri!"
Arga berdiri di dek kapal, tubuhnya masih dibalut perban yang merembeskan noda platinum. Ia memegang Pedang Patah Mahendra, yang kini bergetar pelan, seolah sedang berbisik pada kabut di depannya. Di sampingnya, Sari menggenggam lengan Arga, matanya waspada menatap kegelapan perak itu.
"Pedangnya tidak hanya bergetar, Sari. Ia sedang... bernyanyi," bisik Arga. Suaranya puitis, namun mengandung ketegasan dewa yang terluka. "Kabut ini adalah 'Dinding Nurani'. Ia akan menyesatkan siapa pun yang datang dengan niat membunuh, dan menghancurkan siapa pun yang datang dengan rasa takut."
"Lalu bagaimana kita masuk?" Sari menatap wajah Arga yang pucat.
"Dengan menyerahkan kendali," jawab Arga.
Arga melangkah ke tepi haluan. Ia menutup mata peraknya. Ia tidak menggunakan tenaga Mustika untuk meledakkan kabut itu. Sebaliknya, ia menjatuhkan dirinya ke laut yang tenang seperti cermin, sambil tetap mendekap Sari.
Byuur!
Maya dan Abah terpekik, namun saat mereka melihat ke bawah, Arga dan Sari tidak tenggelam. Mereka berdiri di atas permukaan air yang keras seperti kaca. Di depan mereka, muncul sebuah penghalang: Raksasa Penjaga Tanpa Wajah yang terbentuk dari kristal garam dan energi kuno.
SENSASI PERANG: ARGA VS PENJAGA LABIRIN
Penjaga itu tidak bicara. Ia mengayunkan gada kristal raksasa yang mampu membelah samudra. Arga, yang fisiknya masih hancur karena merkuri, tidak bisa melompat tinggi. Ia terbatuk darah, namun matanya tetap tenang.
"Sari... pegang pundakku," perintah Arga. "Jadilah mataku di sisi kiri. Saat aku bilang 'sekarang', tarik aku ke arahmu."
Ini adalah momen kemistri yang krusial. Mereka bertarung sebagai satu kesatuan. Saat gada raksasa itu menyambar, Sari menarik Arga dengan sinkronisasi yang sempurna. Arga menggunakan momentum tarikan Sari untuk meluncur di atas air kaca, lalu menusukkan Pedang Patah ke sendi kristal sang penjaga.
Krak!
"Kau hanya bayangan masa lalu!" geram Arga. "Aku adalah masa depan yang kau takuti!"
Arga memaksakan sisa energi Platinumnya mengalir ke pedang. Cahaya putih meledak, menghancurkan penjaga kristal itu menjadi ribuan serpihan yang jatuh seperti salju di atas laut cermin. Namun, setiap serpihan yang jatuh berubah menjadi ilusi—menampilkan bayangan Indra Mahendra, Jagat Mahesa, dan penderitaan Sari di laboratorium.
"Jangan lihat, Sari! Itu hanya pantulan ketakutan kita!" Arga memeluk Sari erat, menenggelamkan wajah gadis itu di dadanya agar tidak melihat ilusi tersebut.
Arga berjalan menembus badai ilusi itu. Setiap langkahnya adalah perjuangan melawan rasa sakit yang membakar sarafnya. Ia menyeret kakinya, memecahkan setiap kaca penghalang dengan tekad murni. Ia tidak lagi bertarung demi takhta; ia bertarung agar gadis di pelukannya tidak perlu lagi menangis di bawah lampu neon laboratorium.
EMOSI YANG MENGHANYUTKAN
Setelah menghancurkan penghalang terakhir, kabut perak itu mendadak tersingkap. Di depan mereka, berdirilah sebuah pulau dengan hutan pohon perak dan sebuah gubuk bambu tua yang bersinar keemasan di bawah cahaya bulan yang ganjil.
Arga jatuh berlutut di pasir putih yang halus. Napasnya tersengal, darah merembes dari hidungnya. Ia sudah mencapai batas absolutnya.
"Kita... sampai," bisik Arga, senyumnya rapuh namun penuh kemenangan.
Sari berlutut di sampingnya, mendekap wajah Arga yang bersimbah keringat dan darah. "Kau melakukannya, Arga. Kau menembus labirin itu demi kita."
Sari mencium dahi Arga yang panas. Sebuah kecupan yang lebih kuat dari mantra apa pun. Di saat itulah, pintu gubuk bambu terbuka.
Seorang wanita tua dengan pakaian putih sederhana keluar. Matanya tertutup kain sutra hitam, namun langkahnya begitu ringan hingga tak meninggalkan jejak di pasir. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat kayu yang ujungnya berbentuk bunga melati yang mekar.
"Suara langkah kuli... tapi jantung seorang raja," suara wanita itu lembut, namun getarannya membuat air laut di belakang mereka tenang seketika. "Sudah lama sekali sejak seorang Mahendra bersedia berdarah hanya untuk seorang gadis jelata."
Arga mendongak dengan sisa tenaganya. "Kau... Nyai Ageng?"
"Aku adalah ingatan yang kau lupakan, Arga Satria," jawab Nyai Ageng. "Masuklah. Sebelum merkuri itu mengubah jantungmu menjadi batu. Gadis itu... bawa dia. Dia adalah satu-satunya alasan kenapa Mustika di dadamu belum memakan jiwamu."
Arga mencoba berdiri, namun ambruk. Sari dengan sigap memapah tubuh kekar Arga, membiarkan beban pria itu bertumpu pada pundaknya yang kecil. Mereka berjalan menuju gubuk, meninggalkan dunia elit yang busuk di balik kabut perak yang kembali menutup rapat.
Di pulau ini, waktu seolah berhenti. Dan di sinilah, Arga akan menemukan bahwa musuh terbesarnya bukanlah Indra Mahendra, melainkan rahasia yang ia bawa di dalam darahnya sendiri.