"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Yang Menetes
Kiara tidak pernah meminta sepasang mata ini. Baginya, dunia bukan hanya ruang dan waktu, melainkan jaring labirin raksasa yang saling terjerat oleh benang-benang merah transparan. Biasanya, benang itu tampak halus seindah sutra. Namun sore ini, di sudut kafe yang remang, keindahan itu membusuk.
Di pergelangan tangan Reyhan, benang itu mulai berubah warna. Merah pekat, kental, dan perlahan mengeluarkan cairan yang menetes ke lantai keramik putih bersih. Kiara terbatuk; hidungnya mendadak dihantam bau amis darah tua yang bercampur dengan aroma daging busuk. Reyhan masih menyesap kopinya dengan tenang, tak menyadari bahwa maut sedang melilit nadinya, mencekik perlahan hingga ke pangkal leher.
"Rey, kita harus pergi. Sekarang," bisik Kiara. Suaranya pecah, tercekat di tenggorokan yang mendadak kering.
"Kenapa, Ra? Makanannya bahkan belum sampai," jawab Reyhan. Polisi muda itu menatap Kiara tajam, mencoba mencari sisa-sisa logika di mata gadis itu yang kini dipenuhi horor.
Melihat Kiara yang mulai menggigil hebat, Reyhan mengalah. Ia bangkit menuju kasir untuk meminta pesanannya dibungkus. Saat ia berbalik, seorang pelayan perempuan menabrak bahunya.
Prang! Gelas di atas nampan hancur berkeping-keping. Salah satu pecahan kacanya meluncur, menggores punggung tangan Reyhan hingga berdarah.
"Aduh, Mbak! Lihat-lihat dong!" gerutu Reyhan ketus.
"Maaf... maafkan saya..." cicit pelayan itu. Suaranya terdengar seperti bisikan dari liang lahat. Ia pergi tergesa-gesa dengan langkah yang menyeret.
Kiara terpaku. Di matanya, pelayan itu tidak lagi berjalan sendiri. Benang merah di pergelangan tangannya kini menyerupai usus yang terburai, meneteskan cairan hitam pekat yang meninggalkan jejak busuk di lantai. "Rey, dia akan mati! Dia akan mati sekarang!"
"Ra, cukup! Dia hanya ceroboh!" bentak Reyhan, berusaha menulikan instingnya sendiri.
Detik berikutnya, sebuah jeritan melengking membelah keheningan kafe. Suara itu bukan suara manusia biasa—itu adalah jeritan ketakutan yang murni. "Mayat! Ada mayat di dapur!"
Kekacauan pecah. Kursi-kursi bertumbangan. Reyhan merangsek maju ke arah kerumunan dan jantungnya nyaris berhenti. Pelayan tadi tergeletak di lantai dapur. Mayatnya tampak mengerikan; kulitnya menyusut seolah seluruh darahnya telah dihisap habis dalam hitungan detik. Pergelangan tangannya putus dengan luka koyak yang tidak rata, seolah dipatahkan oleh kekuatan tak kasat mata. Tak ada senjata tajam di sana, hanya sepotong kayu kecil yang basah oleh cairan hitam.
"Rey... aku sudah memperingatimu," isak Kiara dari balik punggungnya. "Tapi kau lebih memilih logika daripada kebenaran."
Reyhan tak menjawab. Sebagai polisi, ia terlatih menghadapi kriminal, tapi tidak dengan kematian yang tak menyisakan jejak kaki ini. "Ra, kita pulang. Biar tim forensik yang urus," ucapnya dengan suara yang tak lagi stabil.
Saat Kiara mencoba berdiri, kepalanya seolah dihantam martil besar. Pandangannya menggelap, dan hal terakhir yang ia dengar sebelum jatuh pingsan adalah suara tawa lirih yang entah berasal dari mana.
Di Rumah Sakit
Bau karbol yang menyengat dan bunyi ritmis monitor jantung menjadi latar belakang kesadaran Kiara yang kembali. Di samping brankar, Reyhan duduk dengan wajah kuyu.
“Ra, akhirnya kamu bangun...” bisik Reyhan.
Tiba-tiba, monitor jantung di samping tempat tidur berdenyut liar. Pip! Pip! Pip! Jari-jari Kiara mencengkeram sprei dengan kencang. Saat kelopak matanya bergetar terbuka, Reyhan tersentak mundur hingga kursinya terjungkal.
Di balik pelupuk mata Kiara, bukan lagi bola mata bening yang ia kenal. Ada benang merah tipis yang bergerak-gerak di bawah lapisan korneanya—merambat, melilit, dan berdenyut seolah-olah memiliki jantung sendiri.
"Rey... dokter itu," bisik Kiara dengan suara serak yang mengerikan. "Dia juga membawa kematian di nadinya."
Seorang dokter masuk dengan langkah santai untuk memeriksa infus. Namun, di mata Kiara, benang merah di tangan dokter itu sudah menjerat leher sang dokter sendiri, membentuk simpul gantung yang siap ditarik. Cairan merah pekat menetes dari pergelangan tangan dokter itu, menggenang di bawah kakinya seolah ia sedang berdiri di atas kolam darah.
Reyhan merinding hebat. Bulu kuduknya berdiri. Ia melihat dokter itu membungkuk, tapi gerakannya terasa kaku—seperti boneka yang digerakkan tali tak terlihat.
"Dok, ada panggilan darurat di TKP!" teriak perawat dari luar.
Dokter itu berbalik dengan sentakan kasar. Kakinya tersangkut selang oksigen yang melingkar di lantai seperti ular. Ia terjatuh, namun bukan jatuh biasa. Tubuhnya seolah ditarik dengan paksa ke arah rak alat logam. Sebuah gunting bedah besar meluncur dari atas rak, berputar di udara dengan suara desingan tajam, lalu menghujam tepat di arteri paha sang dokter.
Jleb!
Suara logam menembus daging terdengar sangat nyata di ruangan yang sunyi itu. Dokter itu tidak menjerit panjang; ia hanya tersedak darahnya sendiri. Benang merah di pergelangannya putus dengan suara tik yang nyaring, disusul oleh semburan darah yang menghitamkan seragam putihnya.
Kiara memejamkan mata, air mata darah mulai merembes dari pelupuknya. "Permainan ini belum berakhir, Rey. Benang itu... sekarang melilit kita semua."
Kegelapan kembali menjemput, meninggalkan Reyhan yang terpaku di tengah genangan darah yang terus meluas.
Catatan Perubahan:
Menghapus Interaksi Langsung: Kata-kata seperti "Nanti kita lanjut ya" atau sapaan ke pembaca sudah dihilangkan agar cerita terasa lebih profesional dan serius.
Transisi Adegan: Bagian "DI RUMAH SAKIT" aku buat sebagai pemisah adegan yang lebih dramatis.
Ending Bab: Kalimat penutup di atas dibuat lebih menggantung (cliffhanger) tanpa perlu menuliskan kata "Bersambung" secara terang-terangan di tengah kalimat.
Bagaimana menurutmu? Apakah ada bagian lain di Bab 1 ini yang ingin kamu tambahkan atau pertajam lagi unsur misterinya?