Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Suami Vivi Selingkuh!
"Hoamm..."
Pukul tiga pagi, Roni terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Untuk itu, dengan malas dia berjalan keluar kamar untuk mengambil minum. Tapi alangkah terkejutnya dia saat sampai di ruang tengah, melihat ada Althan di sana.
"Astaga! Than, kamu nggak tidur?!"
Althan yang sedang fokus dengan benda di tangannya hanya menoleh sekilas. "Belum bang, bentar lagi,"
"Tapi ini udah jam tiga,"
"Belum ngantuk,"
Roni hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya heran. Tapi, Althan memang berlaku aneh tidak sekali dua kali, jadi ia membiarkannya saja.
Sementara itu, Althan sudah tidak mempedulikan keberadaan Roni lagi. Ia kembali fokus merangkai manik-manik yang ada di tangannya. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, karena benang tersebut sangat rapuh, khawatir akan putus lagi.
Lalu, setelah semua manik-manik nya terangkai dengan rapi seperti semula, dengan penuh kehati-hatian Althan menyimpulkan benangnya menjadi satu.
Selesai.
Gelang benang merah itu kembali utuh seperti semula.
Althan tersenyum puas. Setelah itu, ia memasukkan gelang itu ke dalam sebuah kotak perhiasan dengan hati hati, seolah benda itu adalah permata yang tidak ada duanya di dunia.
"Besok, aku harus minta maaf pada Vivi," tekadnya.
...----------------...
Namun, apa yang diharapkan Althan tak menjadi kenyataan.
Pasalnya, Vivi tak kunjung datang ke apartemen meskipun ia sudah menunggu sejak pagi.
Althan menjadi gelisah sendiri. Berulang kali ia menatap ke arah pintu yang sedari tadi tidak menunjukkan pergerakan apa apa. Padahal, biasanya jam segini Vivi sudah sampai.
"Nyariin siapa, Than?" Roni kebetulan memergoki Althan yang sedang menatap pintu.
Althan berdehem. "Nggak nyari siapa siapa," ucapnya bohong. Tapi, beberapa detik kemudian ia berubah pikiran untuk menanyakan secara langsung saja kepada Roni, siapa tau dia tau.
"Itu.. si stylish aku, hari ini nggak dateng ya?" tanyanya dengan nada senormal mungkin. Seolah hanya basa basi.
"Oh, mbak Vivi izin tadi sama aku, katanya dia lagi ada urusan,"
Mata Althan terbelalak. "Kenapa nggak bilang aku?!"
"Loh, emang harus bilang kamu ya, Than?" Roni menggaruk garuk tengkuknya. "Hari ini kan kamu nggak ada schedule, jadi aku pikir ya nggak perlu bilang lah sama kamu,"
Althan menghela napas panjang.
Benar juga sih, batinnya. Tapi nggak bisa, hari ini aku harus ketemu Vivi.
"Bang, aku keluar dulu ya," katanya kemudian sambil meraih kunci mobil dari atas meja.
"Mau kemana?"
"Belanja," jawabnya asal.
"Perlu ditemenin nggak?"
"Nggak usah!" jawabnya cepat.
"Hati-hati loh, jangan lupa pakai topi pakai masker, jangan sampai kena foto paparazi!"
"Oke," Althan menjawab sembari keluar dari pintu apartemen.
...----------------...
Tujuan awal Althan adalah di Farida salon.
Pikir Althan, kalau Vivi bilang ada urusan, pasti wanita itu di sana. Tapi, saat sampai di sana, ia malah mendapati Vivi tidak ada.
"Setelah kerja sama Mas Althan, Vivi sudah tidak pernah ke sini untuk kerja Mas. Memangnya ada apa?" tanya Farida heran.
Althan hanya menjawab dengan tidak jelas.
"Kalau Mas Althan yang cari, pasti urusan penting mbak, gimna kalau saya telpon aja?" tanya salah satu karyawan.
"Eh, nggak usah, nggak usah," Althan menolak. "Nanti saya aja yang hubungin langsung," katanya. Tentu saja dia tidak bisa berkata terus terang kalau ponsel Vivi ada padanya.
Para staf salon saling pandang. Kalau gitu, kenapa seorang artis besar seperti Althan Alaric harus datang kesini, kenapa tidak menghubungi langsung saja?
"Ya sudah ya, kalau gitu saya pamit," Althan meraih topi dan masker nya, lantas keluar dari salon. Sementara itu, para staf masih bergunjing di belakang.
"Enak banget ya jadi Mbak Vivi, tiap hari ketemu cowok ganteng, kalau lagi nggak ada dicariin.. Huh, pengen deh aku kaya begitu,"
"Eh, tapi aneh nggak sih? Sebenarnya hubungan mereka apa? Kalau cuma sebatas kerja, ngapain Althan sampai cari dia segitunya?"
"Eh, iya juga ya, jangan jangan mereka..."
"Kalian nggak mau kerja?" suara Farida membuat para stafnya langsung menutup mulut. Lalu tanpa banyak bicara lagi, mereka segera bubar dan kembali ke pekerjaan masing masing.
...---------------...
Karena Vivi tak ada di salon, tujuan Althan selanjutnya hanya satu, yaitu TK tempat Vivi bersekolah.
Meskipun ia tak yakin Vivi ada di sana, tapi setidaknya ia bisa bertemu bocah perempuan yang ia rindukan itu. Entah kenapa, sejak pertemuan mereka, Althan merasa ada ikatan batin tersembunyi yang ia tak ketahui.
Althan menunggu di kursi taman tempat mereka mengobrol dulu. Ruang kelas Mikaila masih tertutup, sepertinya pelajaran sedang berlangsung di dalam sana. Althan memilih menunggu dengan sabar, lagipula dia sedang tidak ada kegiatan lain.
Althan menunggu cukup lama sampai terdengar suara anak anak berdoa dari dalam kelas. Althan sudah gembira, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa gugup bertemu dengan Mikaila lagi.
"Sayang, habis ini kita kemana ya?"
Suara seorang pria menginterupsi perhatian Althan. Suara itu adalah suara orang yang dulu mengganggu kebersamaannya dengan Mikaila, siapa lagi kalau bukan ayahnya Mikaila, suaminya Vivi.
Althan menoleh dengan malas. Lagi lagi rencana nya gagal. Kalau sudah ada ayahnya yang menjemput, bagaimana Althan bisa mengobrol dengan anak itu?
Loh, tapi tunggu. Pria itu keluar dari mobil bersama siapa?
Althan terbelalak saat melihat pria yang ia yakini sebagai suami Vivi tampak bergandengan mesra dengan wanita lain. Wanita itu bahkan menyandarkan kepalanya ke bahu sang pria. Kelihatan sekali kalau mereka punya hubungan lain.
Tiba-tiba, semuanya terasa masuk akal bagi Althan.
Alasan Vivi tidak pernah memakai cincin perkawinannya, alasan Vivi tidak menjadikan foto suaminya sebagai wallpaper, ternyata karena suaminya selingkuh!
"Bajingan!"
Althan mengepalkan tangan, lantas tanpa pikir panjang, ia menghampiri pria itu. Lalu...
Buakkkk!
Meninjunya dengan sekuat tenaga.
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara