Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran besar
Aliya masih kepikiran soal semalam. Betapa tak bisanya Ibas menghargai perasaan dirinya sebagai seorang istri.
Mereka memang menikah karena perjodohan. Namun, janji yang diucapkan Ibas di depan Allah, adalah janji yang harus laki-laki itu pertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Bagaimana bisa, seseorang mempermainkan sumpah dan janjinya sendiri di hadapan penciptanya?
"Aliya, ke sini, Nak!" panggil Nyonya Saraswati.
Aliya masih berdiri di tempat yang sama. Dia melamun.
"Aliya?" panggil perempuan paruh baya itu sekali lagi.
"Eh, iya Bun?" sahut Aliya. Dia terkejut saat tangan lembut Nyonya Saraswati menyentuh pundaknya.
"Kamu... lagi banyak pikiran, ya?" tanya perempuan paruh baya itu. "Apa Ibas bikin sesuatu yang buat kamu nggak senang?"
Aliya tampak tersenyum paksa. Dia berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya didepan sang Ibu mertua.
"Aliya nggak apa-apa kok, Bun. Aliya cuma kepikiran Almarhum Bapak aja," jawab Aliya berbohong.
Jika dia mengadu soal semalam, maka kemungkinan besar Ibas akan dimarahi habis-habisan oleh Nyonya Saraswati. Dan, jika hal itu sampai terjadi, maka Ibas akan semakin membenci dirinya.
Dengan begitu, Ibas otomatis akan semakin menjauh. Pernikahan yang bahkan baru genap dua hari, mungkin akan terancam bubar jauh lebih cepat.
"Aliya, sekarang kamu udah jadi anak Bunda juga. Posisi kamu dan Ibas sudah setara di hati Bunda. Jadi, kalau kamu ada apa-apa, jangan sungkan ngomong sama Bunda, ya! Terutama, kalau Ibas berani ngelakuin hal yang bikin kamu jadi sedih."
Aliya mengangguk dengan senyum yang terlihat begitu kaku. Ya, ini baru dua hari. Aliya masih punya banyak waktu untuk meluluhkan hati Ibas.
"Iya, Bunda. Makasih karena udah nerima Aliya di keluarga ini."
"Oh, iya... Bunda punya sesuatu buat kamu."
Perempuan paruh baya itu tiba-tiba melepaskan gelang berlian ditangannya lalu memakaikan benda berkilau tersebut ke tangan Aliya.
"Bun... Ini?" Aliya speechless. Dia terkejut karena tidak menyangka sang Ibu mertua akan memberinya hadiah semahal itu.
"Sesuai dugaan Bunda, gelangnya memang lebih cocok kalau dipakai sama kamu."
Buru-buru, Aliya hendak melepas gelang tersebut. Namun, sang Ibu mertua malah mencegahnya.
"Jangan dilepas!"
"Tapi, ini gelang Bunda. Aliya nggak pantas memakainya."
"Sekarang, gelang itu udah jadi milik kamu."
Aliya tertegun. Cukup terkejut karena sang Ibu mertua dengan entengnya memberi dia gelang semahal itu.
"Tapi, gelang ini terlalu bagus buat Aliya. Aliya nggak pantas memakainya."
"Kamu pantas, Aliya!" ujar sang Ibu mertua meyakinkan. "Sekarang, kamu sudah jadi menantu Bunda. Apapun yang Bunda punya, kamu juga harus punya. Jadi, jangan tolak hadiah dari Bunda, ya!"
"Tapi..."
"Sebentar lagi, waktunya berangkat ke kantor. Tolong kamu bangunkan Ibas supaya cepat siap-siap, ya!" potong sang Ibu mertua.
"I-iya," angguk Aliya.
Nyonya Saraswati pun tersenyum. Kemudian, dia memeluk Aliya singkat sebelum pamit untuk memberi makan ikan di kolam belakang.
Setelah sang Ibu mertua pergi, Aliya pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Dia harus membangunkan Ibas sesuai perintah sang Ibu mertua.
Begitu membuka pintu kamar, Aliya melihat Ibas masih terlelap di atas tempat tidur. Ditangannya, ada sebuah bingkai foto yang seolah tak mau dilepas.
Pelan, Aliya mengambil bingkai foto itu. Dadanya seketika bergemuruh hebat saat menyadari foto siapa yang dipeluk suaminya saat tertidur.
Itu foto Nadia. Sosok kekasih yang paling Ibas cintai.
Mengabaikan rasa sesak itu, Aliya memilih untuk meletakkan foto Nadia diatas nakas. Ia mengusap sudut matanya. Menarik napas panjang, lalu membangunkan Ibas dengan suara lembut.
"Mas, bangun!"
"Mas?"
Dahi Ibas tampak mengernyit. Seolah kesal karena seseorang menganggu tidur lelapnya.
"Mas?? Ayo, bangun!"
"Apa sih?!" ketus Ibas dengan suara kesal.
"Kamu nggak mau siap-siap berangkat ke kantor? Nanti telat loh."
"Aku libur," jawab Ibas singkat.
"Libur?"
"Ehm," sahut pria itu. "Udah, sana pergi! Jangan ganggu terus!! Dasar berisik!"
Aliya menghela napas panjang. Sikap Ibas masih sama. Tak ada kelembutan sama sekali yang ia sisakan untuk Aliya.
"Ibas nggak mau ke kantor, Aliya?" tanya Nyonya Saraswati saat mereka sedang sarapan.
Gerakan mengunyah Aliya terhenti otomatis. Tangannya dengan pelan menurunkan sendok yang tadi dia pegang.
"Kata Mas Ibas, hari ini dia libur," jawab Aliya.
"Libur?" celetuk Sang Ayah mertua yang bernama Ikhsan. "Libur apa? Seharusnya, hari ini dia sudah masuk kerja," lanjutnya dengan suara tegas yang sedikit mengandung kekesalan.
"Aliya, naik ke atas dan bangunkan bocah nakal itu! Sekarang, dia sudah menikah. Sudah seharusnya, dia jauh lebih bertanggung jawab karena sudah memiliki seorang istri."
Aliya mengangguk patah-patah. Dia melaksanakan perintah Ayah mertuanya dengan hati yang gelisah.
Pasti, Ibas akan kembali memarahinya.
"Mas?" panggil Aliya. "Bangun!"
"Argggh!" Ibas berseru kesal. "Apa lagi sih, Aliya?"
"Kata Ayah, hari ini kamu harus masuk kerja," jawab Aliya.
"Aku kan udah bilang kalau hari ini aku mau libur."
"Tapi, kata Ayah..."
Tiba-tiba, Ibas bangkit dari posisi tidurnya kemudian melemparkan bantal guling ke arah Aliya.
Bugh!
Bantal guling itu langsung mengenai wajah Aliya yang tidak sempat menghindar.
"Dengar baik-baik! Kamu itu bukan siapa-siapa. Kamu bisa ada di rumah ini hanya karena tuntutan balas budi yang diminta sama Bapak kamu. Jadi, bersikaplah layaknya orang yang tahu diri! Jangan suka ikut campur sama apapun yang aku lakuin karena kamu nggak pantas untuk itu. Ngerti?"
"Tapi, aku istri kamu, Mas!" lirih Aliya dengan mata memerah.
"Terus, kenapa?" balas Ibas. "Apa hanya karena kamu menyandang gelar sebagai istri, lantas kamu bebas mengatur-ngatur hidup aku? Woi, sadar diri, cewek kampung! Sampai kapanpun, aku nggak akan pernah menganggap kamu sebagai istri yang sebenarnya. Di mata ku, kamu itu cuma cewek matre. Pemburu harta yang nggak tahu malu."
"Aku nggak pernah berniat mengincar harta keluarga kamu."
Seringai tipis terbit di wajah Ibas. "Oh, ya? Terus, gelang berlian Bunda kok bisa ada di tangan kamu?"
Reflek, Aliya menyentuh gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Bunda sendiri yang memberikannya."
"Dan kamu menerimanya dengan senang hati, kan?" sahut Ibas dengan seringai mengejek.
"Bunda yang maksa aku buat terima."
"Kamu pikir, aku akan percaya?"
Lidah Aliya mendadak kelu. Tatapan Ibas jelas menyiratkan ketidakpercayaan dan juga kesan merendahkan.
Mungkin, di mata Ibas, Aliya selamanya tidak akan pernah menjadi baik.
"Ibas! Jadi begini cara kamu bicara sama istri kamu?"
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Saraswati dan Ikhsan masuk dengan wajah yang tampak memerah karena marah.
Ibas cukup terkejut karena kedatangan kedua orangtuanya. Ia pun menatap Aliya dengan tatapan sengit.
"Kamu benar-benar licik, ya! Bisa-bisanya, kamu ngejebak aku di hadapan Ayah sama Bunda," tuduh Ibas.
"Aku nggak ngomong apa-apa," sangkal Aliya.
"Jangan bohong!" hardik Ibas. "Buktinya, Ayah sama Bunda ada di sini, kan? Pasti kamu yang udah ngadu yang nggak-nggak sama mereka."
Plak!
Tamparan keras seketika mendarat di pipi Ibas. Saraswati yang sudah tidak tahan mendengar kalimat-kalimat kasar yang keluar dari mulut sang putra langsung memukul Ibas tanpa pikir panjang.
"Aliya nggak ngadu apa-apa sama Ayah dan Bunda. Kami sendiri yang inisiatif mengikuti Aliya karena ingin tahu bagaimana cara kamu memperlakukan menantu kami," pekik Saraswati marah.
Ibas tersenyum sinis. Seumur hidup, baru kali ini sang Ibu menampar dirinya.
"Jadi, sekarang Bunda lebih memihak perempuan kampung ini dibanding anak kandung Bunda sendiri?" tanya Ibas menahan geram.
"Dia bukan sekadar perempuan kampung, Ibas. Dia istrimu!"
"Oke!" Ibas mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau memang Bunda lebih memilih untuk memihak dia, maka lebih baik Ibas keluar dari rumah ini!"
Ibas segera turun dari tempat tidur. Dia mengambil dompet dan kunci mobil di laci nakas. Kemudian, dia menyambar jaket dari dalam lemari lalu bersiap-siap untuk pergi.
"Kamu mau kemana, Bas?" tanya Saraswati dengan nada khawatir.
"Pergi," jawab Ibas. "Rumah ini udah nggak nyaman semenjak ada perempuan benalu yang menumpang di sini."
Aliya hanya bisa berdiri kaku sambil menundukkan kepalanya. Tak ia sangka, pertengkaran besar akan pecah pagi ini hanya karena dirinya.
"Kalau kamu mau pergi, silakan saja!"
Suara sang Ayah akhirnya terdengar. Langkah Ibas pun seketika terhenti di depan pintu kamar.
"Tapi, kembalikan kunci mobil dan kartu bank yang Ayah kasih ke kamu!" lanjut Ikhsan dengan suara yang penuh dengan penekanan.
Ibas pun berbalik dengan ekspresi tidak percaya.
"Yah, serius?" tanya Ibas. "Ayah tega giniin Ibas hanya demi dia?" lanjutnya sembari menunjuk Aliya.
"Mobil dan kartu bank itu sepenuhnya milik Ayah. Ayah yang kerja keras buat dapat semuanya. Jadi, kembalikan semua milik Ayah kalau kamu memang berniat untuk keluar dari rumah Ayah!"
Ibas tertawa sumbang. Dia kesal, tapi tak bisa melawan.
Memang benar, semua yang dia miliki sekarang adalah pemberian dari sang Ayah. Sementara, dirinya sendiri masih belum menghasilkan apa-apa.
Dia hanya pemuda manja yang hidup bergantung pada orangtuanya yang kaya. Sementara, bekerja di perusahaan juga belum genap satu bulan. Itu pun sering sekali bolos.
"Oke. Aku nggak akan pergi. Kalian senang, kan?" ujar Ibas yang akhirnya mengalah.
Kehilangan mobil mungkin tidak apa-apa. Tapi, kalau harus kehilangan kartu milik sang Ayah, maka hidup Ibas akan benar-benar sulit.
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺
ya sudah Al biarin saja mulut bencis akan berkata apa ,,,😭