ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT III
Bagaikan kilat muncul di belakang kepalanya, ingatannya langsung membawa dirinya ke sepuluh tahun lalu; Bunyi logam yang saling beradu memekakkan telinga, pecahannya beterbangan ke sembarang arah dengan kecepatan dan tinggi berbeda-beda, sementara tangki bahan bakar bocor dan menyebarkan bau gas beracun bercampur dengan kabut dingin. Akibatnya, api menjilat-jilat tubuh yang terguling di jalan licin. Tidak peduli seberapa banyak bulir air hujan jatuh di atasnya, si jago merah itu tetap menyala sampai bau hangus yang tidak enak merebak ke sekitar.
Dibantingnya dus terakhir yang digenggamnya, lantas bergegas menghampiri Riyan.
“Saat Nenek itu mencari wanita bernama Keisha, aku langsung sadar bahwa namanya terdengar tidak asing. Benar, namanya ada di dalam berita yang Bu Kaila tunjukkan padaku,” kata Pak John lagi. Ia menundukkan kepalanya sembari menggumamkan kata ‘Maafkan aku, pak.’.
Bahu Riyan tersentak, baru sadar ia melamun sambil menatap orang dalam pikirannya. Kontak mata yang mereka lakukan secara tidak sengaja pun berakhir canggung, dan tentunya ia langsung cepat mengalihkan atensinya.
...• • • • •...
“Singkatnya, mereka selalu bersama,” kata Niana sembari mencondongkan kepalanya, berkata lirih.
“Mustahil, setahuku mereka bukan teman dekat.” Karinn menopang dagunya, berkata seolah seratus persen yakin dengan pernyataannya. Tentu, peristiwa yang baru saja terjadi kemarin adalah bukti kuatnya. Irene menyerahkan bungkus kemasan suntikan dan berkata bahwa ia tidak bisa menemukan jawaban dari kejanggalan yang dirasakannya pada Villy karena ia merasa mereka hanyalah sebatas senior dan junior, tidak lebih dan tidak kurang sebagaimana teman sekamar. Pikirnya pun seharusnya begitu.
“Yang kumaksud itu bukan hubungan mereka, melainkan keberadaan mereka.” Sembari melanjutkan perkataannya, Niana mengambil ponselnya dari kolong meja, mencari sesuatu untuk ditunjukkan. “Bulan kemarin, Kak Villy bukan teman sekamarku. Dia bertukar kamar dengan teman sekelasnya, Kak Hadzel.” Niana mengarahkan jari telunjuknya, membawa atensi si lawan bicara ke kolom nama yang disebutkannya di data anggota kamar 38—Hadzel, sebaliknya tidak ada nama Villy. “Itu bukan yang pertama kalinya,” lanjutnya lagi. “Dari yang kudengar, Irene selalu satu kamar dengan Kak Villy atau Kak Ayaa. Biasanya salah satu dari keduanya, tapi saat pertukaran kamar asrama kemarin, mereka berdua ada di dekatnya tanpa perlu lagi melakukannya secara diam-diam.”
Karinn mematung sebentar, masih berusaha mencerna informasi tersebut. “....Kau tahu apa alasannya?”
“Entahlah. Mungkin karena dia (Irene) dikenal sebagai beruang laser.”
“Hu? Apa hubungannya?”
“Yah, begitu. Dia akan melotot dan membentak pada siapa pun yang bertindak semena-mena, tanpa peduli senior atau junior. Sangat cocok dengan julukan, kan?” Niana tertawa tipis, menyaksikan wajah si lawan bicara yang sepersekian detik sudah berubah pucat bagai terasi. Dia tahu, hal yang sama pasti juga terjadi padanya.
Benar saja, Karinn langsung merespons dengan menyentuh rambutnya—tempat di mana sepatu sneakers berwarna hitam melayang tanpa aba-aba ke kepalanya.
“Aih, tak perlu sedih. Harusnya jadi keajaiban dunia kalau kau tidak bernasib sama denganku,” kata Niana lagi. “Omong-omong tidak ada yang mau kau tanyakan tentang anak itu, wahai maniak yang haus oleh rasa penasaran?”
“Ada!” serunya. “Kau bilang dia terlihat mencurigakan saat kalian membahas kasus itu, kan. Saat itu ... apa ada di antara kalian yang berpendapat kalau kematiannya adalah karena dibunuh?”
Niana mengangguk, sembari mengacungkan dua jari tangannya. “Ada dua orang. Aku salah satunya.”
“Satu orang lainnya ... apakah Irene?”
“Irene? Tidak, Itu Audrey.”
Karinn terkesiap, lantas mematung dalam diamnya. Tidak—katanya. Jelas-jelas semalam dia mendengar anak itu berpendapat sama dengan dirinya dan Erica. Maka itu, terbesit dalam benaknya sebuah pertanyaan; Mungkinkah informasiku berhasil menggoyahkannya? Jika benar begitu, seharusnya tidak ada masalah—karena tujuannya sejak awal memang itu. Namun bagaimanapun, perasaan tidak dapat berbohong. Semakin ia menyangkalnya, semakin ia yakin ada sesuatu yang dilewatkan.
...• • • • •...
Karinn menjatuhkan kepalanya ke meja, mendesah berat. Dilaluinya empat jam yang terasa panjang sambil memperhatikan guru berikutnya yang masuk untuk memulai pelajaran kedua. Papan tulis kembali penuh oleh coretan kapur, sementara buku tulisnya masih kosong tanpa sedikit pun tinta tercoret. Dia melirik temannya di kursi sebelah, tampak sibuk mencatat dengan kepala menengadah dan menunduk walau di sisi lain terdengar bunyi mirip guntur dari perutnya—lapar.
“Hwaaahmm...” Karinn menguap, rasa kantuk mulai menyerangnya melalui udara dingin dari AC. Matanya berair, terasa berat seolah ditarik oleh gravitasi ekstra kuat menuju permukaan meja. Sementara suara yang dihasilkan kapur saat menggores permukaan papan tulis terdengar seperti irama monoton yang membuatnya makin melayang-layang menuju dunia mimpi. Namun sesaat matanya mulai terpejam, dia mendengar suara gaduh puluhan kaki berlarian di samping tubuhnya—para siswi berbondong-bondong keluar kelas. Benar! Waktunya istirahat! Tanpa pikir panjang atau bahkan berniat melanjutkan tidur, dia bergegas lari menyusul, mengekor rombongan teman-temannya agar tidak tertinggal mendapatkan antrean kantin terdepan.
Permukaan dinding kelas 11-2 menghantarkan gelombang suara berdentum cukup keras, cukup untuk membuat langkahnya berhenti mendadak.
“Tidak perlu kau hiraukan,” kata salah seorang gadis sembari menarik lengan Karinn, mencegah pergerakan spontan si maniak penasaran itu. “Justru aneh kalau sehari tidak terdengar kegaduhan dari sana,” lanjutnya lagi.
“Kau tahu sesuatu?”
Si gadis tidak menggubris, memilih membisu dan mengalihkan kontak mata sebelum kemudian berlalu. “Baiklah, lakukan sesukamu.” Dia melambaikan tangan, berjalan pergi setelah mengakhiri obrolan secara sepihak.
Karinn yang tidak perlu disuruh pun langsung bergerak mendekati jendela, mengintip walau harus sampai berjinjit-jinjit.
“Masih banyak catatan yang harus kuselesaikan,” katanya sembari mendorong buku tulis bersampul cokelat yang bukan miliknya dari hadapannya, lanjut berkutat dengan urusannya.
“Tunggu, dia...” Karinn mengerjap-erjapkan matanya, merasa tidak asing dengan wajah seorang gadis yang berada di tengah kerumunan itu. Benar! Dialah gadis garang yang bergulat sikut dengannya pagi ini karena berebut siapa yang berhak mandi duluan; Irene.
Tiga orang mengelilingi mejanya, membentuk lingkaran intimidasi sementara kerumunan terbesarnya agak menjauh dari tempat perkara. Sebagian besar dari mereka yang jadi penonton pasif berdiri di depan papan tulis, tepat di belakang tubuh Giselle agar dapat mencegah atau menahan jika sewaktu-waktu tindakannya sudah melewati batas.
“Di mana ketua kelas?”
“Di mana Rina?”
“Apa ada yang pergi bersamanya?”
“Di sini situasinya sedang tidak baik.”
“Kirimi dia pesan, suruh cepat datang.”—bisik-bisik para siswi.
Diambilnya buku catatan yang sedang dipakainya, kemudian membantingnya ke lantai. “Kau tidak dengar perkataanku?” Giselle mengangkat paksa dagu Irene, memaksanya berkontak mata. “Kau menyebalkan. Selalu tidak menurut setiap kali kuberi perintah.”
“Enyah, kau.”
Giselle menghela napas, tertawa palsu dengan seringai di sudut bibirnya. “Apa kau baru saja mengabaikanku?” Dia menarik kembali dagu Irene yang tadi ditepisnya, berkontak mata lagi. “Dengar, waktumu hanya sampai istirahat selesai. Jadi jangan banyak bertingkah dan kerjakan sekarang.” Dia meletakkan buku bersampul cokelat di atas buku catatan Irene, kemudian menahannya dengan kedua telapak tangan agar si lawan bicara tidak punya pilihan lain.
Kendati diam tanpa membalas, Irene tetap mempertahankan sikap defensifnya—tidak menggubris, juga tidak membalas apa-apa selain menunjukkan tatapan matanya yang tidak bersahabat.
“Cih, kau melotot?”
Irene memutar manik matanya, menunjukkan reaksi jengkel sebelum kemudian ia mendorong bahu Giselle agar menjauh dari hadapannya. “Aku lapar. Akan kukerjakan setelah makan.”
“Kau bilang apa?! Beraninya..” Giselle menarik pergelangan tangan Irene, menjatuhkan tubuhnya ke kursi saat hendak bangkit. “Kau mau pergi? Aku tidak memberimu perintah!”
“Aku bukan anjingmu, dasar bedebah.”
Luput dari pandangannya, Giselle dengan cepat mengayunkan tangan kanannya ke udara, menampar pipi Irene. Suara keras itu menggema di antara kerumunan, membuat waktu seolah berhenti sejenak. Para penonton yang berdiri di pinggiran keramaian kompak bereaksi sama, menutup mulut sambil siap siaga mengambil tindakan. Beberapa dari mereka bahkan memberanikan melangkah maju, namun niat tersebut urung lantaran ragu oleh potensi yang dapat terjadi jika makin banyak yang terlibat.
“Dengar,” Giselle mengangkat dagu Irene lagi, membiarkan cahaya dari lampu pendar menyorot luka di sudut bibirnya. “Anjing yang melawan tuannya harus diberi pelajaran. Kau ada saran? Katakanlah, mungkin aku bisa melakukannya untukmu.” Karena Irene memberontak, maka ia pun melepaskan dagunya dan beralih mencengkeram kerah seragamnya—mencekiknya guna melumpuhkan tenaganya sejenak.
Cekrek..! Lampu kilat menyala dalam hitungan detik, bersamaan dengan suara yang menunjukkan bahwa objek berhasil dipotret.
“Wah, ini karya seni.”
Spontan, semua mata serempak mencari asal suara tersebut. Di tengah-tengah kerumunan dekat papan tulis, seorang gadis yang tidak diketahui sejak kapan sudah berdiri di sana dan bagaimana ia bisa datang, sedang mengamati hasil jepretan fotonya.
“Irene, kau tampak keren dengan luka itu.” Karinn mengacungkan jempol, lantas berpindah tempat untuk berganti sudut pengambilan gambar. “Berposelah sedikit. Satu.. dua.. tiga.” Cekrek..!
“Siapa kau?!“
“Apa yang kau lakukan di sini?!” Dua kaki tangan Giselle maju menghampiri, melayangkan beberapa serangan untuk merebut kameranya.
Karinn yang punya keahlian bergulat tentu dengan tangkas menghindar, menurutnya juga tidak perlu jika harus mengeluarkan banyak jurus karena lawannya tidak sepadan. Tiga puluh detik pun berlalu sangat singkat. “Ah, sial. Apa kalian tidak punya mulut?” Dihentikannya serangan terakhir mereka, lalu dengan santai ia melempar kameranya ke pihak lawan. Pikirnya biar saja mereka mengutak-atik, toh, hanya dirinya sendirilah yang tahu bagaimana cara pakainya. Selesai dengan urusan pertamanya, ia pun menghampiri meja tempat terjadinya perseteruan—meja terdepan yang jadi pusat perhatian. “Singkirkan tanganmu,” katanya sembari menepis tangan Giselle di kerah seragam Irene. “Kau tidak boleh menyakitinya. Dia adalah penggemarku.”
Giselle menggertakkan gigi, lantas mengayunkan tangannya ke udara. Namun tepat sebelum ia berhasil meluncurkan serangan, Karinn dengan cekatan membuka telapak tangannya, menangkap rambut Giselle dengan sekali tarikan telak.
“Akkh! Sial! Apa yang kau lakukan?!” Giselle menjerit, memberontak dengan mencakar dan memukul-mukul lengan si pelaku. “Oi, itu sakit! Lepaskan tanganmu! Dasar bedebah gila! Jangan campuri urusanku!”
Karinn tersenyum tipis, lalu berbisik di telinganya dan mengatakan, “Benarkah? Sayang sekali, kaulah urusanku.”
“Aakkh!!”
“Karinn..” Irene bangkit dari kursi, tangannya terulur ke depan seolah hendak menghentikan dirinya.
“Apa yang bedebah ini lakukan padamu?”
“Kubilang bukan urusanmu!” Giselle memberontak lagi, tapi kali ini ia berhasil memberikan luka gores sungguhan di lengannya. “Enyah, kau!” hardiknya.
Pikirnya main-main, Karinn justru tetap tenang, menunjukkan bahwa dirinya tidak akan mudah tunduk pada perundung. Dia mengambil lebih banyak rambut Giselle, lalu menariknya dengan satu tarikan kuat.
“Aakkkh! Itu sakit, bodoh! Kau tidak dengar, hu?! Dasar bedebah gila!”
“Karinn!” Seseorang memanggil namanya, suaranya terdengar berasal dari kerumunan terbelakang. Tampak Erica datang tergopoh-gopoh sembari menyibak para penonton. “Tolong, hentikan,” katanya.
Alih-alih merespons wajah pias Erica yang mengkhawatirkan dirinya, Karinn malah bereaksi sebaliknya. Dia mengerutkan dahi dan melontarkan sebuah pertanyaan, “Kau ada di sini?”
Erica yang jelas tidak paham maksud perkataannya, mengambil tindakan lebih dulu—mencoba membuka kepalan tangannya di rambut Giselle.
“Aakkh! Sial! Mau sampai kapan kau begini?! Singkirkan tanganmu!! Kubilang singkirkan!!” Giselle memberontak lagi, memecah lamunan si pelaku.
“Karinn, cukup. Lepaskan dia.” Tangan Irene yang terulur sebelumnya kini berhasil menyentuh pergelangan tangan Karinn, isyarat memintanya untuk segera berhenti.
“Setelah yang dia lakukan padamu, kau memintaku melepaskannya?”
“Kau tidak dengar?! Singkirkan tanganmu!!” Merasa dapat dukungan dari korbannya, Giselle dengan satu serangan pertama berhasil melumpuhkan Karinn. Dia menyikutnya lalu melontarkan satu pukulan telak di wajahnya yang membuatnya langsung terjatuh.
Suara riak-riuh yang semula berasal dari meja Irene, berpindah ke area kerumunan para penonton. Terlebih saat melihat Sherlock si bintang yang datang sebagai pahlawan meringis kesakitan akibat pukulan, mereka jadi makin mengutuk si perundung itu sambil merekam dengan ponsel—guna dikirim ke ketua kelas supaya cepat datang dan menangani situasi.
Dari ujung pintu, seseorang menyibak kerumunan. “Ada ramai-ramai apa ini? Apa yang terjadi di sini?” tanyanya.
“Kak Ayaa!” Para penonton berseru kompak, tersenyum lega atas ganti doa mereka yang menantikan kedatangan ketua kelas.
Si pemilik nama berjongkok di depan Karinn, memperhatikan lamat-lamat si junior yang menundukkan kepala sambil menutup hidungnya. Berkat bercak darah di lantai, ia langsung tahu apa yang telah terjadi, juga alasan yang membuat si maniak penasaran ini bisa sampai ke sini.
Irene menghampiri Ayaa, berkata, “Ini bukan hal besar. Akan kutangani dengan baik.”
“Bagaimana dengan Giselle?”
“Biasanya kami berunding dulu sebelum melaporkan ke wali kelas.”
Ayaa bangkit, berdiri berhadapan dengan Irene. “Tentu, selesaikan dengan kebijakan yang ada di kelas ini. Ingatlah,” Ia berbalik badan, menatap para penonton. “...jika keributan masih berlanjut, bukan hanya pelaku dan korban, tapi kalian semua akan kumintai keterangan di kantor guru tanpa terkecuali. Poin minus? Kalianlah yang menentukannya. Kalian mengerti?”
“Ya!” Seisi kelas menyahut serempak.
Dirasa masalah telah selesai, Ayaa pun membalikkan tubuh dan berlalu dari kerumunan.
“Dasar brengsek!” Karinn tiba-tiba bangkit dari lantai, melayangkan tinju di lengan kanan Irene tanpa aba-aba. “Begitu mudah bagimu untuk menyerah, hu? Dasar brengsek gila!”
Sebelum tinju kedua mendarat di tempat yang sama, Irene dengan cepat menangkap kepalan tangannya. “Ayo ke kantin. Kau akan punya cukup tenaga setelah makan.”
...• • • • •...
Asap putih mengepul di atas wajan besar, membentuk gumpalan halus yang kemudian lenyap secara perlahan. Ratusan cabai mentah dicampurkan ke dalam kuah kaldu yang kaya oleh rempah, menghasilkan perpaduan aroma berupa pedas, gurih, dan sedikit manis. Sementara itu, mesin pemanggang di sebelahnya mengeluarkan aroma harum berbagai jenis roti dan kue dengan warna coklat keemasan yang menggugah selera. Jajanan tradisional dikemas dengan menarik juga tidak kalah ramai antreannya, menyajikan berbagai macam jajanan khas daerah dan internasional dengan masing-masing citarasa asalnya.
Kantin snack berdiri bersebelahan dengan kafetaria, menjadikannya seolah sebagai tempat pelarian bagi para gadis yang malas mengantre untuk berkeliling sebentar mencari makanan pengganjal perut. Setelah satu atau dua kantong plastik terisi penuh, baru mereka pun memasuki kafetaria. Dan pada saat itu, antrean telah berkurang. Hanya saja lauk yang tersisa tinggal sedikit, ditambah lagi meja dan kursi sudah banyak ditempati para gadis.
“Kau terlambat sepuluh menit.” Villy mendongakkan kepala, atensinya menyambut kedatangan seseorang yang ditunggunya bergabung kembali di meja. “Kau mendapatkannya?”
Manik mata Ayaa bergerak ke kanan-kiri, bingung. Benar juga, dia berniat pergi ke kelasnya karena dompetnya tertinggal, tapi yang terjadi dirinya malah dibuat tenggelam oleh perseteruan juniornya di kelas 11-2.
“Apa sesuatu telah terjadi?” tanya Villy, memecah lamunan si lawan bicara.
“..Tidak. Aku hanya...” Kalimat berikutnya menggantung di udara, tepat setelah atensinya tidak sengaja menangkap punggung seseorang di meja lain—Ariana.
Pada saat situasi menegangkan di kelas 11-2 sudah mereda dan masalah dinyatakan selesai, Ayaa berlalu dari kerumunan. Pada saat itulah ... dia bersitatap dengan seorang gadis yang berdiri di pintu keluar. Dia tersenyum kepadanya sambil menyentuh liontin kalung yang menjuntai di tengah tulang selangkanya.
“Dia memakainya,” begitulah batin Ayaa saat ia sadar bahwa liontin tersebut berbeda dari yang dilihatnya di hari sebelumnya—liontin berbentuk mahkota bunga berwarna merah muda.
“Mau kupukul dulu agar kau bercerita?” Villy menyiapkan ancang-ancang, mengepalkan tangannya di depan wajah si sobatnya itu.
“Apa hari ini kau bertemu dengannya?” tanya Ayaa.
“Siapa?”
“Penyihir itu.”
Sembari menyeruput minuman dinginnya, Villy menggeleng. “Kenapa? Kau bertemu dengannya?”
“....Tidak. Kalau begitu lupakan.”
Di meja lain, Karina yang baru saja meletakkan kotak stainless berisikan menu makan siang tiba-tiba dihampiri oleh tiga orang teman sekelasnya. Bukan hanya bergabung untuk makan bersama, mereka juga menyita laptopnya agar ia tidak berkutat dengan tugasnya sembari mengunyah.
“Oi, kau pergi ke mana sebenarnya?” Helen menarik kursi, mengajukan diri duduk di sebelahnya.
“..Ruang guru. Kenapa?”
“Aih, kau tidak tahu? Kelas kita benar-benar nyaris berada di situasi genting. Ketegangannya bahkan cukup untuk membuat kita merinding,” Elia ikut menyahut, sembari memeluk kedua lengannya guna memperagakan bagaimana tubuhnya bereaksi kala itu.
“Giselle. Si kunyuk itu cari masalah lagi,” tambah Laure.