Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Rahasia Sang CEO
Keluarga Mahendra bukan sekadar nama,
melainkan simbol kekuasaan.
Sebagai pewaris tunggal PT Senja Abadi.
Beban Arkananta Mahendra terasa kian menghimpit.
Sang ayah, Baskara Mahendra,
tak lagi memberi celah,
Arkan dituntut untuk segera menikah,
dan memberikan cucu demi kelangsungan takhta bisnis mereka.
Bagi Arkan,
pernikahan adalah penjara.
Ia lebih memilih menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas di siang hari,
dan melampiaskan penatnya dengan kehidupan malam bersama alkohol.
Malam itu,
tekanan Baskara mencapai puncaknya.
Dengan pikiran yang kacau, Arkan melarikan diri ke sebuah bar eksklusif.
Gelas demi gelas alkohol ia teguk hingga kesadarannya kian menipis.
Dalam kondisi mabuk berat,
arkan memutuskan untuk menyewa kamar di sebuah hotel mewah,
untuk menghindari amukan ayahnya.
Langkah Arkan sempoyongan saat berjalan di lorong lantai atas.
Di depan sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka,
ia menabrak sesosok wanita.
Zevanya Adistira,
seorang pelayan hotel yang baru saja selesai membereskan ruangan, tersentak kaget.
Belum sempat Zevanya meminta maaf,
tangan Arkan sudah menarik lengannya dengan kuat.
Di bawah pengaruh alkohol,
Arkan justru hanya melihat satu hal,
pelampiasan atas segala tuntutan ayahnya.
Tanpa sepatah kata,
ia menarik paksa Zevanya masuk ke dalam kamar,
mengunci pintu di dalam ruangan yang gelap,
memulai malam yang akan mengubah garis hidup mereka selamanya.
Napas Zevanya tersengal.
Punggungnya menghantam daun pintu yang baru saja tertutup dengan bantingan keras.
Aroma alkohol tercium dari mulut pria yang mengurung nya.
"Tuan... maaf, Anda salah kamar. Saya pelayan di sini,"
suara Zevanya bergetar.
Ia berusaha mendorong dada Arkan dari hadapannya,
namun Arkan dengan keras menahan nya.
Arkan menunduk,
matanya yang merah dan sayu menatap Zevanya,
dengan penuh gairah,
"Diam..."
bisik Arkan,
Suaranya rendah, namun penuh penekanan.
"Tapi Tuan, ini tidak benar! Tolong lepaskan saya!"
Ucap Zevanya panik.
Air mata mulai mengalir di mata zevanya,
ia menyadari kekuatan pria ini jauh lebih kuat darinya.
Arkan tertawa sinis,
tawa yang terdengar hampa.
"Semua orang menuntut sesuatu dariku. Ayahku, perusahaanku... sekarang, aku yang akan menuntut semua itu darimu."
"Tuan, Anda mabuk!"
zevanya berteriak.
"Aku memang mabuk,"
jawab Arkan cepat,
"Mabuk karena muak dengan aturan Mahendra. Jadi, jangan membantah."
Zevanya ingin berteriak,
namun bibirnya mendadak kaku saat Arkan mencengkeram rahangnya dengan lembut namun posesif.
"Tuan aku mohon Jangan!"
Diam dan nikmati saja,
Arkan mulai mencium lembut bibir Zevanya,
Ciuman lembut arkan membuat Zevanya ikut larut dan membalas ciumannya".
Perlahan Arkan mendorong tubuh Zevanya ke atas kasur dan menghempaskan pakaiannya.
Arkan memasukan alat vitalnya ke area bawah zevanya,
Zevanya justru larut dengan gerakan lembut arkan
dan menikmati goyangan Arkan yang agresif,
"tolong hentikan tuan hmpph ahhk agh"
desah zevanya,
Arkan tidak menghiraukan,
dia justru menjadi lebih bergairah dan bergerak lebih agresif.
Arkan berbisik,
"Terimakasih telah memberikan ku kenikmatan malam ini"
Setelah adegan itu Arkan jatuh tertidur lemas di atas ranjang.
Zevanya terbangun lebih dahulu.
Ia segera memungut pakaiannya yang berserakan dengan terburu-buru dan masuk ke dalam kamar mandi,
"Gak mungkin... bagaimana bisa aku melakukan hal tadi?"
gumamnya sambil menangis
"Aku bahkan tidak mengenalnya. wajahnya pun tidak terlihat dengan jelas. Bodoh... benar-benar bodoh!"
Zevanya keluar dari kamar mandi,
Ia sempat melirik ke arah ranjang untuk melihat jelas wajah pria itu,
Namun karna ruangan yang gelap membuat semuanya tidak terlihat begitu jelas,
Zevanya langsung berlari keluar dari kamar dengan perasaan bersalah pada diri sendiri,
Ia pulang menembus dinginnya malam sambil menangis
meninggalkan Arkananta Mahendra yang masih terlelap,
tanpa tahu bahwa benih dari Arkan baru saja tertanam di rahim
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪