Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Vivian terkejut. Tubuhnya membeku seketika saat melihat wanita yang berdiri di ambang pintu itu.
“Maksudnya apa ini? Mami tidak tahu apa-apa,” elaknya cepat, meski nada suaranya terdengar sedikit gugup.
Nathan menatap ibunya tajam. Kekecewaan di wajahnya kini tidak lagi bisa ia sembunyikan.
“Kenapa, Mi? Kaget ya?” ucapnya pelan, namun terasa menekan.
Vivian langsung mengalihkan pandangan. “Nath, sejak kapan kamu gampang percaya pada orang lain seperti ini?”
Nathan tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. “Kalau cuma satu orang yang bicara, mungkin aku juga tidak akan percaya.”
Ia melangkah sedikit mendekat. “Tapi masalahnya… ini bukan hanya satu.”
Alis Vivian langsung berkerut. “Apa maksudmu?”
Nathan mengeluarkan ponselnya, lalu mengangkat layar itu sedikit.
“Ada seseorang yang juga sedang menyelidiki malam dua belas tahun lalu.”
Vivian menatap layar itu sekilas, lalu kembali menatap Nathan. Namun kali ini wajahnya tidak setenang sebelumnya.
Nathan lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu. “Masuk.”
Wanita yang berdiri di ambang pintu itu terlihat ragu. Kakinya gemetar saat melangkah masuk ke dalam ruangan.
Begitu wajahnya terlihat jelas, Vivian langsung berdiri dari kursinya.
“Kamu?” desisnya.
Wanita itu langsung menunduk. “Maaf, Bu…”
“Diam!” potong Vivian cepat.
Namun Nathan langsung menyela. “Tidak, Mi,” katanya tegas. “Biarkan dia bicara.”
Ruangan itu seketika terasa semakin sesak. Wanita itu menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya berkata dengan suara gemetar.
“Ibu yang menyuruh saya datang ke sekolah… untuk membuat keributan dan menuduh Mbak Andin.”
Deg.
Wajah Vivian langsung berubah pucat, sekuat apapun ia ingin mengelak, tetap saja tidak bisa lari dari masalah yang ia ciptakan sendiri itu.
Sementara Nathan hanya berdiri diam. Tatapannya tidak lagi sekadar marah. Melainkan penuh luka.
"Dua belas tahun Mi," ucapnya dingin. "Aku hancur, dan menyalahkan orang lain atas kehancuranku itu," lanjutnya kembali.
Vivian masih tidak bergeming tapi Nathan tetap melanjutkan ucapannya seolah ingin mengeluarkan rasa kecewanya terhadap sang Ibu.
"Apa Mami tidak pernah merasa bersalah?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Mami sudah membuat hidup perempuan lain hancur demi ambisi Mami sendiri."
Untuk pertama kalinya, Vivian tidak langsung menjawab, ia memejamkan mata dengan nafas yang memburu karena ketakutan yang mulai menjalar di hatinya, tapi bukan Vivian namanya kalau tidak pandai mengatur strategi.
“Karena kamu memang harus tahu tempatmu, Nathan!” bentaknya tiba-tiba.
Nathan membeku.
Vivian menatapnya dengan emosi yang kini benar-benar terbuka.
“Kamu anak keluarga terpandang!” lanjutnya tajam. “Sementara perempuan itu siapa? Tidak punya apa-apa! Bahkan keluarganya pun tidak jelas!”
Nathan mengepalkan tangannya, merasa tidak percaya, kalau perempuan yang selama ini ia kenal cukup baik, tapi mempunyai sifat lain yang benar-benar membuatnya kecewa.
Vivian tertawa sinis. “Kamu pikir Mami akan membiarkan kamu menghancurkan masa depanmu hanya karena perempuan seperti dia?”
Nathan menatap ibunya tidak percaya.
“Jadi… semua ini benar?”
Vivian tidak menjawab. Namun sorot matanya sudah cukup menjawab semuanya.
Nathan menggeleng pelan. "Aku benar-benar tidak percaya, jika Mami yang melakukan ini semua."
Vivian justru mendekat satu langkah. “Ini dunia nyata, Nathan,” katanya dingin. “Status itu penting.”
Nathan tertawa pahit. “Status?”
Ia menunjuk ke arah wanita yang masih gemetar di dekat pintu.
“Sekarang Mami bahkan menyuruh orang lain mempermalukan dia lagi.”
Vivian menoleh tajam pada wanita itu. Tatapannya berubah sangat dingin.
“Keluar.”
Wanita itu langsung panik.
“Tapi Bu—”
“KELUAR!” bentak Vivian.
Wanita itu hampir berlari meninggalkan ruangan.
Kini hanya tersisa Nathan dan Vivian.
Ibu dan anak, yang masih dipenuhi dengan amarahnya masing-masing. Nathan menatap wanita yang selama ini ia hormati itu dengan pandangan berbeda.
“Mulai hari ini,” ucapnya pelan namun tajam, “aku tidak tahu harus melihat Mami sebagai apa lagi.”
Kalimat itu membuat Vivian membeku. Ada sesuatu yang retak di balik wajah percaya dirinya
“Cukup!”
Plak!
Tamparan keras itu menggema di dalam ruangan.
Nathan terpaku. Kepalanya sedikit berpaling karena pukulan itu. Untuk beberapa detik ia hanya diam, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Vivian berdiri di hadapannya dengan amarah yang tidak bisa lagi terbendung.
“Jangan pernah bicara pada Mami dengan nada seperti itu!” bentaknya.
Nathan perlahan menoleh kembali. Sudut bibirnya terasa perih, namun yang lebih menyakitkan justru hatinya.
“Kenapa, Mi?” tanyanya pelan. “Karena kebenaran mulai terbuka?”
Vivian tertawa sinis. “Kebenaran?” ulangnya.
Ia melangkah mendekat, menatap Nathan dengan sorot mata tajam. “Kamu benar-benar ingin tahu kenapa Mami tidak pernah menyukai perempuan itu?”
Nathan menatap lurus. “Ya.”
Vivian tersenyum tipis. Senyum yang dingin dan menusuk.
“Mami mu ini, terlahir dari keluarga yang terpandang sejak dulu kala, begitu dengan Papi, terus menurutmu? Apa Mami akan diam saja ketika anak Mami mencintai seorang yang tak lebih dari batu kerikil," ejeknya penuh kemenangan.
Nathan mengepalkan tangannya dengan kuat. Rahangnya mengeras. "Meskipun kata Mami dia baru kerikil, tapi bagiku dia mutiara yang keberadaannya tak banyak yang mengetahui," sahut Nathan cukup menohok.
“Berlian? Dia hanya perempuan biasa,” lanjut Vivian dengan nada merendahkan. “Tidak punya keluarga terpandang. Tidak punya apa-apa.”
Nathan melangkah satu langkah lebih dekat. Tatapannya menusuk. “Itu bukan alasan untuk menghancurkan hidupnya, dan biarpun Mami bilang seperti itu, nyatanya anak Mami mencintai dia."
Vivian langsung menatapnya tajam. “Kamu tidak tahu apa-apa, Nathan.”
Pria itu menggeleng pelan, lalu mengusap wajahnya kasar, seolah menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dada.
Vivian tertawa kecil. Tipis dan sinis. “Perempuan itu membuatmu berubah.”
Nathan berjalan beberapa langkah ke samping ranjang Darrel. Ia menatap anaknya yang masih tertidur, lalu kembali memandang Vivian.
“Sejak kamu mengenalnya,” lanjut Vivian, “kamu mulai menentang Mami. Kamu mulai membantah. Kamu bahkan hampir meninggalkan semua yang sudah Mami siapkan untuk masa depanmu.”
Nathan tertawa hambar. Kepalanya menunduk sejenak sebelum kembali menatap ibunya.
“Masa depan?”
Vivian mengangkat dagu. “Mami tidak akan membiarkan seorang perempuan menghancurkan masa depan anak Mami.”
Nathan menarik napas panjang. Lalu ia melangkah mendekat hingga kini hanya berjarak beberapa langkah dari Vivian.
“Bukan dia yang menghancurkan hidupku, Mi.” Suaranya rendah, tapi penuh tekanan. Tangannya terangkat menunjuk ke arah dirinya sendiri. “Aku yang menghancurkannya.”
Lalu perlahan tangannya turun… dan pandangannya kembali menancap tajam pada Vivian.
“Dan sekarang aku baru sadar siapa yang membuat semuanya terjadi.”
Untuk pertama kalinya Vivian tidak langsung membalas. Nathan berjalan mundur satu langkah, lalu tertawa kecil tanpa rasa.
“Selama dua belas tahun…” suaranya serak. “Aku menyiksa orang yang tidak bersalah... dan semua itu terjadi karena kebohongan ibuku sendiri."
Deg!
Dunia Vivian benar-benar hancur, saat menyaksikan sendiri, anak yang selama ini ia besarkan menentang dan menyalahkan dirinya hanya karena seorang perempuan.
Bersambung ....