NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis kamar Thalia. Ponselnya yang tergeletak di nakas tidak berhenti bergetar sejak subuh, notifikasi berdentang seperti lonceng kecil yang keras kepala. Thalia menggeliat, meraih ponsel, dan membuka layar.

Angka di pojok kanan atas membuatnya terdiam sejenak.

1.2M followers.

Semalam, sebelum tidur, jumlahnya masih di kisaran ratusan ribu. Dalam semalam, dunia seperti berlari ke arahnya.

Ia duduk bersandar pada sandaran kepala, ibu jari men-scroll cepat. Ada ribuan komentar baru: pujian penonton, potongan video dari panggung, fanart yang entah bagaimana sudah muncul kurang dari dua belas jam setelah tampil, bahkan ada reaction dari beberapa vocal coach independen yang memuji tekniknya. Sebagian menyebutnya "goddess", sebagian lagi menulis kalimat sederhana: Akhirnya, suara yang bisa dipercaya.

Pintu kamar diketuk pelan. Rina menyembul, membawa nampan sarapan. "Selamat pagi, Nyonya. Jus segar dan roti panggang."

Thalia menoleh, mengulurkan ponsel sambil tersenyum tipis. "Lihat ini."

Rina membungkuk sekilas mengintip. Matanya membesar. "Satu koma dua juta? Dalam semalam?"

"Kelihatannya begitu." Thalia menaruh ponsel, menerima gelas. "Pastikan semua DM dari manajemen luar disaring. Hanya jadwalkan pertemuan dengan pihak yang kita pilih."

"Siap, Nyonya. Saya juga sudah setel auto-reply untuk brand yang hanya ingin endorsment tanpa kontrak musik." Rina menata roti di piring Thalia, lalu menambahkan, "Oh, Tuan Liam sudah menunggu di ruang keluarga. Dia menuntut diputar ulang penampilan Nyonya... ketiga kalinya pagi ini."

Thalia tertawa, hangat, lalu turun dari ranjang. "Baik. Ayo kita temui bos kecil itu."

Di rumah keluarga Anderson, Yoshi duduk di tepi ranjangnya, baju kerja sudah melekat rapi, dasi terikat sempurna. Ia menunda turun ke ruang makan, duduk sebentar untuk membuka ponselnya. Timeline berita menjejalkan satu nama yang sama: Thalia Anderson. Potongan penampilan Thalia memenuhi layar, disusul headline tentang peringkat pertama WTBS malam perdana.

Yoshi mengetuk video. Wajah anak kandungnya memenuhi layar-bersinar, tenang, memaku perhatian seperti magnet. Suara itu jernih, tidak minta belas kasihan, tidak memohon pengakuan. Ia selesai menonton, menekan ulang, menonton lagi. Ada sesuatu yang berdenyut pelan di dadanya. Rasa bangga, mungkin. Rasa menyesal, mungkin juga.

Ia menghela napas panjang. Seharusnya dari dulu aku menaruh anak ini di bawah sayap perusahaan. Seharusnya dari dulu... Pikiran lain menyusul, lebih tajam: Jika dia bergerak sendiri, aku akan kehilangan kendali. Dan keluarga Anderson butuh wajah baru yang bersih, tak bercela. Nadine... terlalu banyak retak belakangan ini.

Yoshi berdiri, menatap bayangannya di cermin. Wajah yang biasanya dingin tampak lebih berat. Ia meraih ponsel lagi, mengetuk kontak sekretaris pribadinya.

"Siapkan rencana makan malam keluarga. Formal. Minggu ini."

"Dengan siapa saja, Tuan?"

"Dengan Thalia." Ia berhenti sebentar. "Dan jangan bocorkan pada pers. Belum saatnya."

Setelah panggilan berakhir, Yoshi menatap layar ponsel sekali lagi. Komentar-komentar di bawah video Thalia mengalir deras. Ia memejamkan mata sejenak; di alam ingatannya, sosok mendiang istrinya muncul, senyum lembut, cara bicara pelan yang selalu menenangkan. Wajah Thalia baru saja mengingatkannya pada itu semua.

"Pulanglah," gumamnya pada layar. "Ayah akan menata segalanya."

Namun di belakang kalimat itu ada niat lain, yang bahkan ia enggan mengakuinya pada diri sendiri: Ayah akan menata... dan memegang kemudi.

Di kamar Nadine, suara pecahan terdengar beruntun. Vas kristal di meja rias hancur, bingkai foto meluncur ke lantai, lipstik-lipstik mewah beterbangan seperti peluru yang kehabisan nama korban.

Marrie bergegas masuk. "Nadine!"

"Jangan masuk!" Nadine memukul bantal, tersengal. Mata cantiknya memerah, sudut bibirnya bergetar. Ia menunjuk layar ponsel yang memperlihatkan trending list: Thalia di urutan pertama, namanya sendiri muncul di bayang-bayang -sekadar bahan gosip masa lalu.

Marrie menutup pintu, berjalan hati-hati melewati serpihan. "Sayang, tenang dulu."

"Bagaimana aku tenang?" Nadine membanting ponsel ke kasur, napasnya pendek-pendek. "Sejak malam pemilihan duta kampus, Ayah... sudah berbeda. Dia dingin. Dia... tidak memuji seperti dulu. Dan sekarang lihat semua orang memuja Thalia."

Marrie meraih bahunya. "Yoshi hanya terbawa suasana. Dia selalu seperti itu jika ada hal baru yang bisa dijadikan headline. Kau tahu caranya kembali ke hatinya: reputasi. Kembalikan sorotan, dan dia akan kembali melihatmu."

Nadine mendengus kecil. "Bagaimana caranya? Apa aku harus bernyanyi di atas api? Atau memanjat gedung manajemen?" Ia duduk, memeluk diri, nada suaranya berubah getir. "Aku Nona muda Anderson. Apa gunanya gelar itu kalau semua orang menatap orang lain?"

Marrie mengambil napas. "Kau tidak akan kehilangan apa pun... selama kau bergerak duluan."

Nadine menoleh. "Maksud Mama?"

"Temui Aurora," ucap Marrie pelan. "Dia mungkin kasar, tapi dia tahu cara membuat ramai. Kau butuh sekutu yang tidak takut kotor."

Nadine terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan mata yang kembali tajam. "Baik. Aku akan menemuinya."

Marrie merapikan helai rambut di pipi putrinya, lalu berdiri. "Berhenti menghancurkan barang. Kita akan butuh uang untuk hal-hal yang... lebih berguna."

Nadine menatap serpihan kristal di karpet. "Baik, Mama."

Di rumah besar lain, Leon duduk di sofa ruang keluarga, kakinya ditekuk naik, laptop terbuka, ponsel juga hidup di genggaman. Di layar TV-penampilan Thalia diputar ulang. Ia sudah menonton puluhan kali sejak malam tadi, tetapi rasa takjubnya tidak menurun.

"Sumpah..." Leon tertawa kecil sendiri. "Bagaimana bisa orang terlihat setenang itu tapi membakar ruangan di saat yang sama?"

Ia mengetik cepat di ponselnya. Akun barunya-ketiga? keempat? baru saja dibuat beberapa jam lalu. Ia menggunakan semuanya untuk menambah vote Thalia saat window tambahan dibuka oleh WTBS untuk encore seperti biasa. Setelah itu, ia berpindah ke kolom komentar.

"Jangan hina suara orang kalau telingamu belum belajar," tulisnya menanggapi akun anonim yang menuduh Thalia lip-sync. "Itu live, dan itu bagus. Titik."

"Penampilan terbaik malam itu. Siapa pun yang objektif akan mengakuinya," tulisnya di kolom lain.

Ia berhenti sejenak, menatap freeze frame Thalia saat kamera menyorot close-up. Suara di kepalanya pelan: Aku akan berkenalan denganmu. Bukan sebagai penggemar, tapi sebagai seseorang yang ingin tahu caramu memegang dunia.

Leon menenggak air mineral, tersenyum simpul. Ingatan tentang Thalia yang sempat jatuh ke pelukannya di basement mall muncul sebentar, tajam, seperti foto yang terlalu kontras. Rasa ingin melindungi yang bahkan ia tak paham dari mana datangnya-muncul seperti refleks.

"Lihat saja," gumamnya. "Aku bukan tipe yang menonton dari jauh untuk selamanya."

Di apartemen Aurora, suasana tidak kalah meledak. Ia berdiri di depan cermin rias, menyapu sisa maskara dengan gerakan cepat dan kasar. Wajahnya tetap cantik, tetapi sorot mata menyala dengan marah yang dingin.

"Tampar aku di depan semua orang," katanya lirih pada cermin, seperti berbicara pada hantu yang tak mau pulang. "Baik. Kau berani menandai batas di depan publik. Sekarang lihat bagaimana aku mengaburkan peta."

Ponselnya berdering. Nama Nadine muncul. Aurora mengangkat, bibirnya melengkung penuh kemenangan kecil-tak perlu menjemput, mangsa datang mengetuk.

"Kau lihat trending?" suara Nadine di ujung sana tajam tapi bergetar.

"Dari semalam," jawab Aurora, datar. "Selamat untuk lawanmu."

"Ini belum selesai," potong Nadine. "Kita bertemu. Sekarang."

Aurora tertawa kecil, tanpa humor. "Kau mengundangku merencanakan pelajaran?"

"Aku mengundangmu mengambil kembali panggung," jawab Nadine.

"Baik. Beri aku tiga puluh menit." Aurora menutup telepon, meraih jaket. Gerakannya cepat, seperti orang yang sudah hafal jalan menuju badai.

Kembali ke mansion Maverick, Thalia duduk di karpet ruang keluarga, menyuapkan potongan buah ke Liam yang masih setengah mengantuk. Anak itu memeluk boneka pandanya sambil menunjuk TV.

"Mama, putal lagi," pintanya.

Thalia menekan tombol play, menahan tawa.

"Liam tidak bosan?"

"Tidak," jawab Liam mantap. "Mama paling baguc."

Rina berdiri agak jauh, mengawasi jadwal di ponsel. "Nyonya, manajer WTBS mengirim slot wawancara radio untuk siang ini. Kita bisa ambil atau menunda."

"Ambil," kata Thalia, mencium kening Liam.

"Tapi pastikan aku punya satu jam untuk latihan vokal sebelum berangkat."

"Siap."

Thalia memandangi layar sebentar-wajahnya sendiri, panggung, lampu-semuanya terasa nyata sekaligus jauh, seperti mimpi yang difoto. Ia tahu ini baru awal. Ia tahu besok bisa saja namanya jatuh, jika lengah. Dan ia tidak punya niat jatuh.

Ponselnya bergetar. Pesan dari akun resmi WTBS: "Selamat pagi, Thalia. Kami menyiapkan VT khusus penampilanmu untuk prime-time news malam ini." Ia balas singkat: "Terima kasih."

Di sudut hatinya, sesuatu bergerak-perpaduan tenang dan tajam. Jika dunia adalah lomba panjang, aku akan menempuhnya dengan napas yang benar.

Yoshi duduk di kursi belakang mobil dinasnya, memandangi kalender digital. "Konfirmasikan restoran privat. Makanan tidak terlalu penting. Aku ingin ruang yang sunyi dan elegan," katanya pada sekretaris melalui handsfree.

"Baik, Tuan."

Ia menutup panggilan, menyandarkan kepala. Dalam benaknya, Thalia duduk di seberang meja makan, lampu gantung kristal memecah bayang-bayang di pipinya. Ia akan bicara lembut, menawarkan "perlindungan", menjanjikan platform, menekan soft power di balik setiap kalimat. Ia sudah lama memainkan permainan ini. Anak-anak muda akan luluh pada pelukan besar bernama keluarga.

Ia lupa atau pura-pura lupa-bahwa beberapa orang belajar berjalan di tempat yang tak ada rumah.

Nadine dan Aurora bertemu di lounge hotel yang biasa digunakan sosialita muda untuk minum kopi sambil bersiasat. Dari luar, mereka tampak seperti dua gadis cantik yang mengobrol tentang gaun dan pesta. Dari dalam, pembicaraan mereka dingin seperti batu.

"Aku tidak mau hal-hal bodoh yang bisa dibaca polisi," ucap Nadine datar. "Aku mau sesuatu yang mengikis citranya. Perlahan. Bersih. Dan tidak menetes ke arahku."

Aurora memutar cangkirnya. "Kau ingin reputasi. Baik. Kita mulai dari noise. Jadikan dia terlihat terlalu ambisius, terlalu dibuat, terlalu... tak tulus." Ia mencondongkan tubuh. "Aku punya beberapa teman di forum gosip. Mereka lapar konten. Kita suapi."

"Pastikan tidak ada jejak," kata Nadine.

Aurora tersenyum. "Aku bukan anak lahiran kemarin sore."

Nadine mengembuskan napas. "Dan untuk urusan kampus... tunggu momen. Satu langkah salah dari dia saja, kita perbesar."

Aurora mengangguk. "Tenang. Untuk yang di lapangan basket-aku belum selesai. Aku akan menunggu panggungnya sendiri."

Mata mereka bertemu. Kesepakatan tanpa jabat tangan.

Sore menjelang, trending masih dikuasai Thalia. Video breakdown penampilannya mencapai jutaan tayang. Media hiburan menulis: "Fenomena Baru di WTBS: Thalia Anderson, Bukan Hanya Wajah." Di kolom komentar, sebagian fans Tiffany masih menggeram, namun kebanyakan netizen bergerak ke arah yang sama: menikmati, menilai, membandingkan seperti biasa.

Di kantor Maverick Corporation, Aiden menutup berkas perkara Ghospal, kepalanya sedikit ringan. Ia melirik ponsel: notifikasi dari kanal resmi WTBS menyodorkan klip Thalia. Ia memutar tanpa suara, sekadar melihat bagaimana lampu memeluk wajah itu. Sesaat ia ingin mengirim pesan-kalimat sederhana: Selamat. Jari telunjuknya menyentuh layar, lalu berhenti.

Gengsi menatap balik seperti cermin. Ia memasukkan ponsel ke saku, berdiri, dan memanggil sopir. "Kita pulang."

Di rumah, Liam berlari menyambut. Malam nanti, di meja makan, suara kecil itu akan bercerita dengan mata berbinar tentang "Mama nomol catu". Aiden mungkin tidak akan mengaku pada siapa pun, tapi ia akan mendengarkan. Lebih lama dari biasanya.

Dan di kota yang tak pernah benar-benar tidur, dua arus mulai berlari saling berkejaran: arus yang ingin merangkul, dan arus yang ingin meruntuhkan. Di tengahnya, Thalia berdiri, memegang nada-panjang, stabil, dan benar-benar miliknya.

1
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
tunggu pergerakan Abraham setelah itu langsung sikat habis ya Aiden 😂😂makin seru aja nih.. up lagi dong thor..
Nurmalasari
Luar biasa
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry: hehehe😁
total 1 replies
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!