NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Bab 12

Pintu besi itu menutup dengan suara yang berat, seperti sesuatu yang tidak hanya mengurung tubuh, tapi juga harapan.

Brak.

Bumi masih berdiri di tengah ruangan kecil itu, mencoba mencerna semuanya. Dinding sel terbuat dari batu kasar yang lembap, penuh lumut tipis yang merayap seperti urat-urat halus. Udara terasa pengap, berbau tanah basah bercampur sesuatu yang lebih tajam—bau karat, mungkin juga sisa-sisa kehidupan yang pernah dikurung di sana.

Cahaya hanya masuk dari celah kecil di bagian atas, cukup untuk membuat bayangan tampak lebih menyeramkan daripada seharusnya.

“Pam?” panggil Bumi pelan.

“Di sini,” jawab suara dari sebelah, terhalang dinding batu tebal.

Bumi mendekat ke arah suara itu, menempelkan telinganya ke dinding.

“Mereka misahin kita,” katanya lirih.

“Iya, kelihatan,” jawab Pam santai, meski ada nada waspada di baliknya.

Bumi menarik napas panjang. Jantungnya masih belum sepenuhnya tenang sejak pertemuannya dengan wanita itu—Ratu Nuri. Wajah itu… terlalu sama.

“Pam,” katanya lagi, kali ini dengan nada lebih serius. “Ratu di sini… wajahnya benar-benar sama persis sama kakakku.”

Hening sejenak dari seberang.

“Persis?” tanya Pam akhirnya.

“Persis. Nggak beda sedikit pun. Bahkan… cara dia lihat aku tadi…”

Bumi berhenti. Tangannya tanpa sadar menyentuh pipinya. Rasa panas itu masih ada, seperti jejak yang belum mau pergi.

Pam menghela napas pelan. “Kemungkinan ada dua,” katanya. “Satu, itu cuma kebetulan yang sangat aneh. Dua… kakakmu juga ikut ‘terlempar’ ke masa ini.”

Bumi menelan ludah. “Dari 2026 ke 6026?”

“Kamu saja bisa,” jawab Pam singkat.

Bumi terdiam. Pikiran itu terasa terlalu besar untuk langsung diterima.

“Tapi…” lanjut Pam, suaranya sedikit berubah, “kalau dia benar kakakmu, kenapa dia nampar kamu seperti itu?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Bumi memejamkan mata sejenak. Ingatan tentang kakaknya, Nuri, muncul perlahan—senyum usil, cubitan tiba-tiba, tamparan kecil yang lebih seperti candaan daripada kemarahan.

“Iya sih…” gumamnya. “Kakakku emang sering mukul atau nampar aku… tapi itu becanda. Jahil. Nggak pernah… kayak tadi.”

Ia mengusap pipinya lagi. Kali ini lebih pelan.

“Yang tadi itu…” suaranya melemah, “beneran.”

Pam tidak langsung menjawab.

“Itu bukan reaksi orang yang lagi bercanda,” kata Pam akhirnya. “Itu reaksi orang yang… mau menjauhkan diri.”

Bumi membuka mata. “Menjauhkan?”

“Iya. Entah dari kamu… atau dari sesuatu yang kamu bawa.”

Bumi bersandar ke dinding, menatap kosong ke depan.

“Kalau itu bener kakakku…” katanya pelan, “berarti dia hidup di sini… selama ini?”

“Dan berubah,” tambah Pam.

Kata itu terasa dingin.

Berubah.

Seperti dunia ini.

Seperti semua yang mereka temui.

Beberapa detik berlalu tanpa suara, hanya terdengar tetesan air dari suatu tempat di sudut sel.

Pam kembali bicara, kali ini lebih ringan. “Tidur saja dulu.”

Bumi mengernyit. “Hah? Tidur?”

“Iya. Kita nggak bisa ngapa-ngapain sekarang. Energi kamu lebih berguna buat besok.”

“Besok kita mau ngapain?” tanya Bumi.

“Negosiasi.”

“Negosiasi sama siapa?”

“Pemimpin mereka. Rajanya si Ratu itu. Entah siapa, tapi pasti ada seseorang di atasnya.”

Bumi menarik napas dalam. “Dan kita harus yakinin mereka kalau kita bukan musuh?”

“Lebih tepatnya, bukan suruhan Led Hamlich,” kata Pam. “Dan kita cuma mau ke timur selatan cari tempat aman.”

Bumi mengangguk pelan, meski Pam tidak bisa melihatnya.

“Kalau mereka nggak percaya?” tanyanya.

Pam diam sejenak.

“Ya kita cari cara supaya mereka percaya,” jawabnya akhirnya, sederhana tapi berat.

Bumi tersenyum tipis, meski situasinya jauh dari lucu.

“Jawabanmu selalu kayak gitu ya.”

“Efisien.”

Bumi tertawa kecil, lalu merebahkan tubuhnya di lantai batu. Dingin langsung merambat ke punggungnya, tapi anehnya, tubuhnya justru merasa lega.

Serangga kecil merayap di dekat tangannya. Bentuknya aneh —  seperti perpaduan antara kelabang dan sesuatu yang tidak punya nama.

“Ini pertama kalinya aku tidur bareng… makhluk beginian,” gumam Bumi.

“Anggap saja teman baru,” sahut Pam.

“Teman yang bisa masuk kuping?”

“Ya… jangan kasih izin.”

Bumi terkekeh pelan. Lelahnya perlahan mengambil alih.

Matanya terpejam.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai… ia tertidur cepat.

Suara langkah kaki membangunkannya.

Pagi datang tanpa sinar matahari yang jelas. Hanya cahaya abu-abu yang merayap masuk, membuat dunia terlihat seperti belum sepenuhnya bangun.

“Bangun.”

Suara penjaga terdengar dingin.

Pintu sel terbuka. Bumi bangkit perlahan, tubuhnya terasa kaku.

“Pam?” panggilnya.

“Aku di sini,” jawab Pam dari kejauhan.

Mereka dibawa keluar, masing-masing dijaga oleh dua orang bertopeng. Lorong yang mereka lewati panjang dan berliku, dindingnya dipenuhi ukiran aneh, simbol-simbol yang tidak dimengerti Bumi, seperti bahasa yang hilang bersama waktu.

Akhirnya mereka tiba di ruangan besar.

Udara di sana berbeda. Lebih luas, tapi juga lebih berat.

Di depan, ada dua sosok.

Yang pertama… Ratu Nuri. Berdiri tegak, wajahnya tenang tapi tajam seperti bilah yang tidak pernah tumpul.

Yang kedua…

Seorang pria tua duduk di kursi roda.

Tubuhnya gemuk, dibalut pakaian militer yang tampak sudah lama, tapi tetap dirawat. Rambut dan jenggotnya putih seperti abu. Matanya… kosong. Seperti tidak benar-benar melihat.

Ada bekas luka di mata kirinya—goresan panjang yang membuatnya tampak seperti seseorang yang pernah melihat terlalu banyak hal.

“Raja Arbuck,” bisik Pam pelan.

Bumi menelan ludah.

Arbuck mengangkat sedikit kepalanya.

“Kalian…” suaranya berat, serak, seperti kayu tua yang digesek. “Untuk apa datang ke wilayahku?”

Pam melangkah sedikit maju. “Kami tidak bermaksud mengganggu. Kami hanya butuh bantuan.”

“Bantuan?” Arbuck tersenyum miring. “Dunia ini sudah lama tidak mengenal kata itu.”

Bumi menatap Pam, lalu memberanikan diri bicara. “Kami hanya ingin mengambil sedikit energi inti bumi… untuk pesawat kami. Setelah itu kami akan pergi ke timur selatan, mencari tempat aman.”

Sunyi.

Lalu memecah keheningan dan menggema ke seluruh ruangan. Arbuck tertawa. Tawanya tidak keras, tapi panjang dan penuh ejekan. “Tempat aman?” katanya. “itu hanyalah mitos. Tempat seperti itu sudah lama mati. Kalau pun pernah ada.”

Bumi mengerutkan kening. “Tapi .. ”

“Tempat aman adalah di sini,” potong Arbuck. “Di bawah perlindunganku.”

Pam tetap tenang. “Kami menghargai itu. Tapi kami tetap harus pergi.”

Arbuck memiringkan kepalanya sedikit, seolah mendengar sesuatu yang tidak terdengar oleh orang lain.

“Kalian keras kepala,” katanya. “Aku suka.”

Bumi tidak tahu harus merasa tersanjung atau takut.

Pam mencoba lagi. “Kami hanya butuh sedikit energi. Tidak banyak.”

Arbuck menggeleng pelan.

“Tidak.”

Jawabannya jatuh seperti batu.

“Sebagai gantinya,” lanjutnya, “aku bisa beri kalian bahan bakar lain.”

“Apa?” tanya Bumi.

“Singkong.”

Mereka harus mendarat karena singkong tidak cukup menerbangkan pesawatnya lebih jauh lagi. Bumi menoleh ke Pam.

Pam langsung menggeleng kecil, hampir tidak terlihat.

“Itu tidak akan cukup,” bisiknya pada Bumi. “Tidak sampai ke California.”

Bumi menelan ludah. Situasinya terasa seperti pintu yang perlahan menutup.

“Pak… maksud saya, Yang Mulia,” katanya gugup. “Saya… saya datang dari tahun 2026. Kami benar-benar harus kembali—”

Arbuck tertawa lagi, kali ini lebih pendek.

“Delusi,” katanya. “Atau stres.”

Bumi mengepalkan tangan. “Saya serius!”

“Semua orang di dunia ini merasa ceritanya paling penting,” jawab Arbuck dingin. “Tapi dunia tidak peduli.”

Sunyi kembali.

Arbuck mengangkat tangannya sedikit.

“Pilihan kalian sederhana,” katanya. “Ambil singkong itu… dan pergi. Atau tinggal di sini… dan hidup.”

Pam dan Bumi saling pandang.

Tidak ada pilihan yang benar-benar baik.

“Kalau kalian tidak mau,” lanjut Arbuck, “pintu keluar selalu terbuka. Tanpa apa pun.”

Ia menoleh sedikit ke arah Nuri. “Antar mereka.”

Nuri melangkah maju. Tatapannya singkat ke arah Bumi—tajam, sulit dibaca.

“Kalian sudah diberi pilihan yang sangat bijaksana,” katanya dingin. “Ambil atau tinggalkan.”

Bumi menatap Pam.

Pam mengangguk pelan.

“Ambil saja,” bisiknya.

Bumi menarik napas dalam. “Kami… ambil singkongnya.”

Perjalanan menuju pabrik energi terasa panjang.

Bangunan itu berdiri seperti makhluk raksasa dari logam dan akar. Asap tipis keluar dari bagian atasnya, membawa bau hangus yang aneh—campuran antara tanah dan sesuatu yang terlalu diproses.

Mesin-mesin berdengung pelan di dalamnya, suara yang ritmis tapi tidak menenangkan.

Nuri berjalan di depan, diikuti Pam dan Bumi, serta beberapa penjaga.

Bumi menatap punggung Nuri.

Wajah itu.

Langkah itu.

Segalanya terlalu familiar.

Lalu—

Nuri memperlambat langkahnya sedikit.

Cukup untuk sejajar dengan Bumi.

Tanpa menoleh, tanpa mengubah ekspresi, ia berbisik sangat pelan.

“Aku benar kakakmu.”

Dunia Bumi seperti berhenti.

Detak jantungnya melonjak.

“Aku juga nggak tahu gimana bisa ada di masa ini,” lanjut Nuri, hampir tak terdengar.

Bumi melotot kaget.

“Jangan bereaksi,” potong Nuri cepat, masih tanpa menoleh.

Bumi menutup mulutnya. Matanya terasa panas. Di sekeliling mereka, para penjaga tetap berjalan. Tidak ada yang tampak curiga. Bumi menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan ekspresinya. Kepalanya penuh pertanyaan. Penuh emosi. Penuh… sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.

Kakaknya. Benar-benar di sini. Dan entah kenapa… berpura-pura menjadi orang lain.

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!