NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pertemuan

Suasana di Markas Besar Militer pagi itu terasa mencekam bagi siapa pun yang berpapasan dengan Matthew. Jenderal itu kini berusia 29 tahun tidak memberikan instruksi apa pun, ia hanya duduk diam di meja kerjanya, menatap sebuah alamat yang ditulis tangan di atas secarik kertas kecil.

Kebimbangan itu menyiksanya. Di satu sisi, ada Daisy, istrinya yang berusia 26 tahun, yang baru saja mulai ia cintai dengan cara yang lebih lembut. Di sisi lain, ada hantu dari lima tahun lalu yang tiba-tiba mewujud kembali. Matthew tahu, melangkahkan kaki ke klinik itu adalah sebuah pengkhianatan terhadap gencatan senjata yang baru saja ia bangun dengan Daisy di Glanzwald. Namun, rasa penasaran dan sisa-sisa obsesi lamanya lebih kuat daripada logikanya.

Matthew melepaskan seragam kebesarannya. Ia memilih mengenakan kemeja sipil berwarna hitam dan mantel panjang yang biasa, berusaha menghilangkan identitas Jenderal Agung Eisenberg dari dirinya. Ia mengendarai mobilnya sendiri menuju pinggiran kota, menjauh dari pusat kekuasaan dan kemewahan aristokrasi.

Klinik itu terletak di sebuah bangunan kecil yang bersih dengan cat putih yang sudah sedikit mengelupas di beberapa bagian. Saat Matthew melangkah masuk, suara lonceng kecil di atas pintu berdenting, memecah kesunyian ruang tunggu yang sederhana.

Aroma antiseptik dan obat-obatan langsung menyerbu indranya. Matthew berdiri kaku di tengah ruangan, tangannya mengepal di dalam saku mantel.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Sebuah suara yang sangat familiar terdengar dari balik meja administrasi.

Matthew menoleh. Di sana, berdiri seorang wanita dengan jubah putih dokter yang rapi. Rambut merah brownnya disanggul sederhana, memperlihatkan wajahnya yang kini tampak lebih berisi dan sehat. Tidak ada lagi ketakutan yang mengintai di matanya. Maira tampak sangat dewasa, tenang, dan memiliki otoritas yang lahir dari kemandirian.

Maira tertegun. Pulpen di tangannya terjatuh ke lantai saat melihat siapa yang berdiri di depannya.

"Tuan Duke..." bisiknya. Suaranya tidak gemetar hebat seperti dulu, hanya ada sedikit keterkejutan yang terkontrol.

"Lama tidak bertemu, Maira," suara Matthew berat, kaku, dan penuh dengan emosi yang tertahan.

Maira segera menguasai dirinya. Ia mengambil pulpennya, lalu menunjuk ke arah ruang periksanya yang kosong. "Masuklah. Kita tidak bisa bicara di luar sini."

Di dalam ruang periksa yang sempit, Matthew merasa sangat tidak pada tempatnya. Ia terbiasa dengan Paviliun Eisenberg Manor yang luas atau barak militer yang keras, namun di sini, di antara stetoskop dan botol obat, ia merasa kecil.

Maira duduk di kursi kerjanya, menatap Matthew dengan pandangan yang jernih. "Bagaimana Anda menemukan saya, Tuan Duke? Saya pikir laporan intelijen Anda sudah menyerah mencari saya."

"Saya tidak pernah menyerah, Maira. Hanya saja, saya sempat mengira Anda... hancur," Matthew menatap setiap inci wajah Maira, mencari sisa-sisa gadis rapuh yang dulu ia kunci di paviliun. "Ternyata Anda menjadi dokter. Cita-cita yang dulu saya anggap konyol."

Maira tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kedamaian sekaligus luka yang sudah mengering. "Dulu Anda menganggapnya konyol karena Anda ingin saya hanya menjadi pajangan di hidup Anda. Tapi Friedrich... dia mengajari saya bahwa saya berharga bukan karena siapa yang memiliki saya, tapi karena apa yang bisa saya berikan pada dunia."

Mendengar nama Friedrich, rahang Matthew mengeras. "Saya dengar dia sudah meninggal."

"Dua tahun lalu," sahut Maira tenang. "Dia pergi sebagai pahlawan bagi pasien-pasiennya. Dan dia meninggalkan saya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada gelar bangsawan mana pun."

Tiba-tiba, pintu ruang periksa terbuka sedikit. Seorang bocah perempuan kecil dengan rambut cokelat gelap dan mata yang sangat mirip dengan mendiang ayahnya mengintip ke dalam.

"Ibu? Adelie lapar," bisik bocah itu.

Jantung Matthew mencelos. Itu adalah Adelie. Anak dari musuh bebuyutannya. Matthew menatap bocah itu dengan perasaan campur aduk—marah, iri, namun juga takjub. Bocah itu adalah bukti nyata bahwa Maira pernah sangat mencintai pria lain selain dirinya.

"Tunggu sebentar ya, Adelie. Ibu sedang ada tamu," ucap Maira lembut. Begitu Clara menutup pintu, Maira kembali menatap Matthew. "Jadi, apa tujuan Anda ke sini, Tuan Duke? Apakah Anda ingin membawa saya kembali ke sangkar emas Anda?"

Matthew terdiam. Kata-kata Maira menyentil nuraninya. Ia teringat Daisy. Jika ia membawa Maira kembali, apa yang akan terjadi pada Daisy? Dan jika ia meninggalkan Maira di sini, bisakah ia hidup dengan bayang-bayang bahwa wanita ini sekarang bebas dan bahagia tanpa dirinya?

"Saya hanya ingin memastikan... bahwa Anda tidak menderita," bohong Matthew. Gengsinya tidak membiarkan dia mengakui bahwa dia merindukan kehadiran Maira.

"Saya sangat bahagia, Tuan Duke. Hidup saya mungkin tidak mewah, tapi saya bebas. Saya memiliki Adelie, dan saya memiliki profesi saya," Maira berdiri, menandakan pertemuan ini harus berakhir. "Pulanglah, Tuan Duke. Saya dengar Anda sudah menikah dengan Putri Daisy. Jangan hancurkan hidupnya seperti Anda hampir menghancurkan hidup saya dulu. Dia adalah wanita yang hebat, jangan jadikan dia pajangan berikutnya."

Matthew keluar dari klinik itu dengan perasaan yang jauh lebih kacau daripada saat ia datang secara diam-diam. Ia masuk ke dalam mobilnya dan memukul setir dengan frustrasi. Maira yang ia temui hari ini bukan lagi Maira yang bisa ia kendalikan. Maira sudah memiliki dunianya sendiri.

Sepanjang perjalanan pulang, Matthew merasa seperti pengkhianat. Ia memikirkan Daisy. Istrinya yang berusia 26 tahun itu memiliki gengsi yang tinggi, tapi Matthew tahu di balik itu, Daisy mulai menaruh harapan padanya.

Sesampainya di Glanzwald, suasana sudah gelap. Matthew masuk ke paviliun dengan langkah gontai. Ia berharap bisa menyelinap ke ruang kerjanya, namun Daisy ternyata sedang berdiri di balkon lantai dua, menatap ke arah gerbang.

Daisy turun dengan anggun, gaun malamnya yang berwarna hijau zamrud menyapu lantai porselen. "Anda pulang lebih lambat lagi hari ini, Jenderal. Apakah perbatasan Utara sedang mencoba pindah ke Ibukota?"

Matthew berhenti di depan Daisy. Ia melihat wajah istrinya yang cantik, cerdas, dan penuh martabat. Aroma parfum bakung Daisy menyambutnya, namun kali ini Matthew merasa tidak pantas menghirupnya.

"Ada... evaluasi mendadak di barak, Daisy. Aku harus memimpin latihan malam," Matthew berbohong lagi. Ia tidak berani menatap mata Daisy yang tajam.

Daisy mengernyit. Ia melangkah mendekat, hidungnya yang bangir seolah mencoba mendeteksi sesuatu. "Oh ya?"

Daisy menatap Matthew lama sekali. Gengsinya menahannya untuk menuduh secara langsung, tapi hatinya mulai merasa ada sesuatu yang retak. "Baiklah kalau begitu, jangan lupa makan malam anda."

Daisy berbalik, membelakangi Matthew. Lalu pergi begitu saja.

Matthew hanya bisa menatap punggung Daisy yang menjauh. Ia ingin memeluk Daisy, ingin mengatakan yang sebenarnya agar beban di hatinya hilang, tapi ia terlalu takut akan reaksi Daisy. Ia tahu, sekali Daisy tahu bahwa suaminya menemui masa lalunya secara diam-diam, Daisy tidak akan pernah memaafkannya.

Malam itu di Glanzwald, Matthew tertidur dengan sejuta bimbang. Di mimpinya, ia melihat Maira yang tersenyum di samping Friedrich, dan Daisy yang berdiri di atas puncak menara, membelakanginya dengan dingin. Sang Jenderal Agung kini terjebak di tengah-tengah dua wanita, memegang rahasia yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan segala kedamaian yang baru saja ia cicipi.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!