Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perbincangan Gosip dan Hati Lana yang Ciut
Langkah kaki Lana terasa seberat timah saat ia menyusuri koridor marmer gedung fakultas yang luasnya seolah tak berujung. Ia sengaja berjalan menempel ke dinding, berusaha menjadi sekecil mungkin agar tidak tertangkap oleh radar penglihatan mahasiswi-mahasiswi lain yang tampak begitu berkilau di bawah lampu auditorium. Aroma parfum mahal yang berseliweran di udara, yang biasanya Ezra semprotkan di penthouse untuk menenangkan sarafnya, kini justru terasa menyesakkan. Baginya, wangi itu kini identik dengan penghakiman.
Ia memutuskan untuk tidak menemui Rian di kafetaria. Ia takut. Ia takut jika ia duduk di depan Rian, air matanya akan tumpah dan ia akan menghancurkan citra Rian sebagai dosen yang berwibawa. Lana memilih untuk bersembunyi di toilet mahasiswi di lantai dua, sebuah ruangan yang lebih mirip lounge hotel bintang lima daripada kamar mandi umum.
Lana masuk ke salah satu bilik paling ujung dan mengunci pintunya. Ia duduk di atas tutup kloset yang tertutup, memeluk tas kulit cokelatnya erat-erat ke dada. Di tempat sunyi ini, ia akhirnya membiarkan napasnya terengah-engah, mencoba menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
"Tenang, Lana... Kamu di sini buat belajar. Jangan dengerin mereka," bisiknya pada diri sendiri, meskipun suaranya bergetar hebat.
Tiba-tiba, suara pintu utama toilet terbuka dengan kasar. Disusul oleh suara denting sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai granit. Lana membeku. Ia menahan napas, tidak ingin keberadaannya diketahui.
"Gila ya, lo liat nggak tadi si cewek udik itu? Siapa sih namanya? Lana?" suara melengking itu sangat familiar. Itu adalah mahasiswi berambut pirang yang tadi duduk di barisan depan kelas Makroekonomi.
"Iya, si Lana. Sumpah, gue hampir muntah pas liat dia pake tas vintage itu. Itu kan koleksi limited yang harganya bisa buat beli mobil LCGC," sahut suara lain yang terdengar serak dan penuh nada sinis. "Gak asik banget kalau barang sekelas itu jatuhnya ke tangan orang yang bahkan nggak tau cara pake eyeliner yang bener."
Lana memejamkan mata erat-earat. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia bisa merasakannya di ujung jari-jarinya.
"Eh, denger-denger dia itu 'anak angkat' salah satu donatur kampus. Tapi gosipnya sih lebih parah," suara pertama kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih rendah namun penuh racun. "Gue dapet info dari anak administrasi, dia dibawa langsung sama Pak Rian. Lo tau kan Pak Rian gimana? Dingin banget sama cewek. Tapi tiba-tiba dia bawa bocah kampung ke sini? Pasti ada 'servis' khusus yang dia kasih."
Deg.
Dunia Lana seolah runtuh saat itu juga. Ia tidak keberatan jika dirinya dihina sebagai orang miskin atau orang udik, tapi menyeret nama Rian ke dalam narasi yang kotor adalah sesuatu yang tidak bisa ia terima. Rian yang baik, yang mengajarinya mengetik di laptop, yang menjaganya dengan sabar—kini dihina karena dirinya.
"Hahaha, bener juga. Mungkin selera Pak Rian emang yang 'polos-polos' begini biar gampang dibego-begoin. Lo liat mukanya tadi? Pucet, ketakutan, kayak domba mau dipotong. Gak level banget saingan sama kita," tawa mereka pecah, menggema di ruangan yang sunyi itu.
"Eh, tapi pulpennya itu lho. Perak asli. Gue curiga dia itu simpenan om-om kaya, terus Pak Rian cuma jadi 'kurir' buat masukin dia ke sini biar nggak curiga. Kasian banget ya, dapet barang mewah tapi jiwanya tetep jiwa pelayan."
Suara air keran yang mengalir deras menenggelamkan tawa mereka sejenak, namun kata-kata "jiwa pelayan" itu terus berputar-putar di kepala Lana. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, membasahi pipinya yang kini terasa panas. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha agar tidak ada satu pun suara isakan yang lolos dari bibirnya. Ia merasa sangat kotor, bukan karena apa yang mereka katakan itu benar, tapi karena ia merasa telah menjadi noda hitam di tengah kehidupan sempurna para pria elit yang menampungnya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, suara denting sepatu itu akhirnya menjauh dan pintu toilet tertutup kembali. Lana tetap diam di dalam bilik selama hampir sepuluh menit, menunggu sampai ia benar-benar yakin tidak ada orang lain di luar sana.
Saat ia keluar dari bilik, ia berdiri di depan cermin wastafel yang besar. Ia melihat bayangan seorang gadis yang tampak sangat berantakan. Matanya merah dan sembab, rambutnya yang tadi diatur rapi oleh Kenzo kini sedikit kusut, dan kemeja linen mewahnya tampak terlalu besar untuk bahunya yang kini merosot karena beban mental.
Lana mengambil tisu dan mencoba menghapus sisa air matanya. Ia menatap pulpen perak yang menyembul dari saku tasnya. Ia merasa ingin melempar pulpen itu ke tempat sampah. Ia merasa ingin mencopot semua pakaian mahal ini dan kembali mengenakan dasternya yang lama. Di desa, ia mungkin miskin, tapi tidak ada yang pernah menyebutnya "simpenan" atau "pelayan".
"Lana... kamu harus kuat. Buat Kak Arka, buat Kak Rian..." gumamnya, namun hatinya sendiri tidak mempercayai kata-katanya.
Lana keluar dari toilet dan memutuskan untuk tidak kembali ke kelas selanjutnya. Ia merasa sudah tidak punya sisa keberanian untuk menghadapi sorot mata mahasiswi-mahasiswi itu lagi. Ia berjalan menuju taman di bagian belakang kampus yang jarang dilewati orang. Ia duduk di sebuah bangku batu di bawah pohon besar, menunduk dalam-dalam sambil memainkan ujung kemejanya.
Setiap kali ada mahasiswa yang lewat dan meliriknya, Lana akan langsung membuang muka atau menutup wajahnya dengan buku. Ia merasa seolah ada tulisan "ANAK DESA" dan "SIMPENAN" yang tercetak besar di dahinya. Ia mulai menarik diri dari lingkungannya. Bahkan ketika seorang mahasiswa laki-laki mencoba mendekat untuk bertanya arah, Lana langsung berdiri dan pergi tanpa berkata sepatah kata pun. Ia menjadi paranoid. Ia merasa setiap senyuman adalah ejekan, dan setiap bisikan adalah kutukan.
"Gue nggak pantes di sini," bisiknya pada angin sore.
Ia mengambil ponsel pintarnya, benda canggih yang diajarkan Rian dengan penuh kasih sayang. Ia melihat aplikasi WhatsApp. Ada pesan dari Rian: 'Lan, lo di mana? Gue di kafetaria. Kok nggak muncul?'
Lana tidak membalas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa jika ia bertemu Rian sekarang, ia akan langsung berlutut dan minta maaf karena telah merusak nama baiknya. Lana memilih untuk mematikan ponselnya, memutus komunikasi dengan dunia yang kini terasa begitu mengintimidasi.
Sepanjang sisa hari itu, Lana hanya duduk terdiam di pojok perpustakaan yang paling gelap, bersembunyi di balik rak buku-buku tebal tentang hukum yang tidak ia pahami. Ia memandangi jejak kakinya di lantai perpustakaan. Jejak kaki yang mengenakan sepatu mahal, tapi terasa sangat rapuh. Ia merasa kesepian di tengah ribuan orang. Ia merasa terasing di tempat yang seharusnya memberinya masa depan.
Hatinya yang dulu penuh dengan rasa ingin tahu dan semangat untuk belajar, kini ciut dan layu. Ia menyadari satu hal pahit: kemewahan yang diberikan Arka dan yang lain adalah sebuah benteng, tapi benteng itu tidak memiliki atap. Ia tetap kehujanan oleh cacian, dan tetap kepanasan oleh api kecemburuan orang lain.
Saat jam pulang tiba, Lana berjalan menuju gerbang depan dengan langkah yang sangat cepat, hampir berlari. Ia melihat mobil mewah yang menjemputnya sudah menunggu. Ia segera masuk ke dalam mobil tanpa menoleh ke kanan atau kiri. Supir Arka sempat bertanya apakah harinya menyenangkan, tapi Lana hanya memberikan jawaban berupa anggukan lemah dan segera menyandarkan kepalanya ke kaca jendela.
Di dalam mobil yang sejuk dan kedap suara itu, Lana menatap gedung-gedung tinggi Jakarta yang mulai menyalakan lampunya. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang baru saja dilepaskan ke hutan rimba hanya untuk dipatuki oleh burung-burung lain, dan kini ia kembali ke sangkarnya dalam keadaan terluka.
Ia tidak tahu bagaimana ia akan menghadapi hari esok. Ia tidak tahu bagaimana ia harus bersikap di depan Arka, Jeno, Bumi, dan yang lainnya saat mereka bertanya tentang hari pertamanya. Ia hanya ingin tidur dan berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk, dan esok ia akan terbangun di atas tikar pandan di desanya, mencium bau tanah dan masakan ibunya yang sederhana namun jujur.
Lana meremas ujung kemeja linennya, menyadari bahwa meskipun ia bisa mengubah penampilannya menjadi mahasiswi elit dalam semalam, ia tidak bisa mengubah hatinya yang masih sangat "desa"—hati yang terlalu lembut untuk dunia yang sangat keras ini. Ia menarik diri semakin dalam ke pojok kursi mobil, menutup matanya, dan membiarkan setetes air mata terakhir jatuh di atas jok kulit mewah yang dingin.