Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paradoks Realita dan Keretakan Ingatan
Jalanan Surabaya Barat yang biasanya dipenuhi kendaraan mewah di pagi hari terasa begitu panjang bagi Adnan. Pening di kepalanya belum juga surut, justru semakin menjadi-jadi, seiring dengan setiap putaran roda mobilnya.
Ia terus menghirup aroma di kerah jasnya, bau kimia manis yang memualkan. Bius atau sisa aroma kabin pesawat? Logikanya bertarung hebat.
Adnan dikenal sebagai pria dengan daya ingat fotografis. Ia tidak mungkin salah mengingat detail syal sutra itu atau rintihan mertuanya di telepon. Bahkan siaran langsung cumbuan Bagaskara di setiap jengkal kulit istrinya yang memuakkan. Tapi, ponsel yang kosong adalah bukti fisik yang membungkam segalanya.
Mobil berhenti dengan derit ban yang tajam di depan studio yang digunakan istrinya bekerja untuk mengurator lukisan dari seniman kota Surabaya. Studio yang gedungnya Adnan sendiri yang menyewanya. Sebuah bangunan berarsitektur Industrial di sudut perumahan elite.
Rendra adalah seseorang yang ia percaya untuk ikut bekerja menjadi asisten Arini di gedung itu. Rendra sudah menunggu di depan pagar. Wajah pelukis itu pucat, rambutnya berantakan, dan tangannya gemetar saat menyambut Adnan.
"Mas Adnan, syukurlah Mas datang. Saya, saya bingung sekali," suara Rendra terbata-bata.
"Arini datang semalam bersama rombongan anak-anak galeri. Mereka mabuk, tapi Arini yang paling parah. Dia tidak bangun-bangun sejak jam tiga pagi tadi."
Adnan melangkah masuk dengan langkah lebar, mengabaikan kegelisahan Rendra, "Di mana dia?"
"Di sofa ruang tengah, Mas."
Adnan masuk ke dalam studio yang berantakan dengan kanvas dan kaleng cat. Di sana, di atas sofa beludru abu-abu, Arini terbaring lemas. Adnan terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lega, tapi karena kengerian yang baru.
Arini mengenakan terusan silk berwarna hitam. Gaun yang sederhana. Namun, di memori Adnan memori yang ia yakini terjadi semalam. Pukul satu dini hari, Arini mengenakan gaun berwarna pastel dengan syal sutra yang melilit lehernya.
Adnan mendekat, tangannya gemetar saat ia menyingkap rambut istrinya yang menutupi leher.
Kosong,
Leher Arini putih bersih. Tidak ada bercak merah keunguan yang ia lihat semalam. Tidak ada bekas gigitan Bagaskara yang ia saksikan lewat siaran langsung kamera Jo. Kulit itu tampak suci, seolah-olah adegan panas di studio lensa jingga hannyalah sebuah mimpi buruk yang dikarang oleh otaknya yang kelelahan.
"Mas Adnan? Mas baik-baik saja?" Rendra menyentuh bahu Adnan.
Adnan tidak menjawab. Ia memapah tubuh Arini yang terkulai lemas. Tubuh istrinya terasa dingin, dan bau alkohol tercium tajam dari napasnya. Adnan tidak melihat ke arah Rendra lagi. Ia membawa Arini keluar, memasukkannya ke dalam mobil, dan segera memacu kendaraan menuju rumah sakit Internasional di pusat kota.

Koridor rumah sakit yang serba putih dan berbau karbol itu terasa mencekam. Adnan duduk di kursi tunggu depan ruang observasi. Menyandarkan kepalanya ke dinding yang dingin. Pikirannya seperti benang kusut yang mustahil diurai.
Tak lama, seorang pria dengan jas putih keluar. Dokter Adrian, teman lama Adnan sejak masa sekolah menengah.
"Adnan," sapa Adrian sambil melepas maskernya.
"Istrimu sudah kami tangani."
Adnan berdiri dengan kaku. "Bagaimana keadaannya, Adri?"
"Dia baik-baik saja secara fisik. Hanya intoksikasi alkohol yang cukup berat dikombinasikan dengan tingkat stres yang tinggi. Sepertinya dia tidak makan dengan benar beberapa hari ini, jadi alkoholnya bereaksi lebih keras," jelas Adrian tenang.
"Dia hanya butuh istirahat dan hidrasi. Beberapa jam lagi juga sadar."
Adnan terdiam, "Apa kamu melihat... tanda-tanda lain? Seperti bekas kekerasan atau obat bius?"
Adrian mengerutkan dahi, menatap temannya dengan heran, "Obat bius? Tidak ada, Nan. Hanya alkohol dan soal tanda kekerasan, kulitnya bersih. Kenapa kamu tanya begitu? Kamu tampak sangat kacau, Adnan. Mungkin kamu yang butuh diperiksa."
Adnan memaksakan senyum tipis, "Mungkin aku hanya kelelahan setelah dari Jakarta. Terima kasih, Adri."

Setelah Adrian pergi, Adnan masuk ke kamar perawatan. Arini masih terlelap dengan selang infus terpasang di tangannya. Adnan duduk di kursi samping tempat tidur, menatap wajah istrinya yang tampak polos dalam tidurnya.
Ia merogoh sakunya, mengambil ponselnya lagi, pukul 09.30 pagi. Keanehan ini semakin menjadi-jadi. Sejak ia mendarat di Surabaya kemarin hingga detik ini, Jo dan Bima.
Dua orang kepercayaannya yang tidak pernah luput melapor setiap jam, benar-benar menghilang. Tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan. Panggilan yang ia coba lakukan hanya berakhir di kotak suara.
Tidak mungkin mereka berdua lalai secara bersamaan, batin Adnan.
Logika arsiteknya mulai bekerja. Sebuah bangunan tidak akan runtuh tanpa sebab.
Jika semua data di ponselnya hilang, jika pintu kerjanya terbuka, jika Bi Sum menangis dengan bekas tamparan. Maka ada seseorang yang masuk ke rumahnya pagi-pagi sekali. Seseorang yang tahu persis di mana ruang rahasianya. Seseorang yang tahu cara menggunakan bius untuk melumpuhkannya dan melemahkan mental Bi Sum dengan ancaman.
Tapi siapa? Arini tidak tahu soal ruang kerja itu. Bagaskara tidak memiliki akses ke rumahnya. Jo dan Bima adalah orang yang memasang sistem keamanannya.
Lalu, ada aroma bius itu. Adnan kembali menghirup kerahnya. Bau itu nyata, itu bukan bau sisa pesawat, itu adalah bau Chloroform yang dimurnikan. Seseorang telah membekapnya saat ia jatuh tertidur karena kelelahan di sofa semalam atau mungkin saat ia baru saja selesai melihat siaran langsung itu.
Adnan menatap Arini. Jika benar ia bermimpi, lalu bagaimana dengan pesan dari pelukis bernama Rendra itu? Pesan itu masuk tepat setelah ia terbangun. Seolah-olah pesan itu adalah bagian dari skenario untuk mengarahkan Adnan pada realita yang baru. Bahwa Arini hanya mabuk di studio teman, bukan berselingkuh di studio Bagaskara.
"Siapa yang bermain di belakangku?" desis Adnan pelan.
Ia merasa terjebak di dalam sebuah labirin yang dindingnya terus bergeser. Ingatannya tentang syal sutra dan rekaman video itu terasa begitu tajam, begitu menyakitkan, hingga ia bisa merasakan kembali amarah yang membakar dadanya semalam. Tapi dunia di sekitarnya, Dokter, Rendra, dan kondisi fisik Arini. Semuanya memberi penyangkalan dan mengarah ke realita menghapus ingatan itu.
Adnan menyentuh cincin di jarinya dingin. Tiba-tiba, sebuah pikiran mengerikan melintas. Bagaimana jika Jo dan Bima bukan hilang, tapi dihilangkan? Atau lebih buruk lagi. Bagaimana jika mereka adalah bagian dari skenario ini? Adnan berdiri, berjalan menuju jendela kamar rumah sakit yang menghadap ke arah kota Surabaya.
Ia menyadari satu hal. Jika musuhnya bisa menghapus data digital dan memanipulasi bukti fisik dalam waktu beberapa jam. Maka ia sedang berhadapan dengan lawan yang jauh lebih kuat dan lebih rapi daripada Bagaskara.
Ia harus menunggu Arini bangun. Ia harus mendengar suara istrinya. Lalu yang paling penting, ia harus menemukan Jo dan Bima. Agar sedikit ada titik penjelasan dari mereka.
Di tengah kesunyian kamar rumah sakit, Adnan menyadari bahwa peperangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan lagi soal perselingkuhan, tapi soal perebutan kewarasan dan kendali atas hidupnya sendiri. Seseorang telah mencoba menghapus noda dari hidup Arini, dan dalam prosesnya, mereka mencoba menghapus ingatan Adnan.
"Kamu pikir kamu bisa menghapus kenyataan, Arini?" bisik Adnan sambil menatap istrinya yang masih tak sadarkan diri.
"Aku akan mencari tahu siapa yang memegang penghapusnya."
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...