Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~31
"Mbak Marni lihat apa yang ku bawa lagi,"
Sore itu Marwan yang baru datang dengan motor andalannya itu nampak membawa tentengan di tangannya tersebut.
"Apa ini dek?" Marni pun segera menerimanya dengan pandangan bingung karena perasaan ia tak sedang memesan sesuatu.
"Itu sate dan ayam bakar masing-masing dari mas Isanul dan mas Sapri oh ya ini es teler dari mas samsul juga," terang Marwan menjelaskan asal muasal barang bawaannya itu.
"Samsul siapa?" Marni langsung mengernyitkan dahinya.
"Itu mas samsul anak pak RT kampung sebelah, dia titip salam sama mbak Marni dan kapan dibolehkan main kesini." sahut Marwan dengan santai lantas segera duduk di kursi sembari menunggu bedug maghrib tiba.
Marni pun langsung meletakkan beberapa makanan tersebut di hadapan adiknya itu. "Mbak ga mau menerimanya jadi lebih baik segera kembalikan kepada mereka dan beritahu mereka juga untuk tidak mengirim lagi apapun itu kesini," tegasnya karena menerima makanan tersebut itu sama saja ia memberikan harapan kepada mereka semua.
"Ga bisa begitu dong mbak enak saja dikembalikan kalau mbak ga mau biar buat Marwan saja," Marwan pun langsung mengambil semua makanan tersebut seakan enggan jika akan dikembalikan oleh kakaknya.
"Marwan, dengan mengambil itu sama saja kamu membuat mbak memberikan harapan kepada mereka? pokoknya mbak mau makanan itu di kembalikan!" tegas Marni tak mau dibantah.
"Ya apa salahnya memberikan harapan pada mereka mbak siapa tahu ada salah satu yang nyantol lagipula buat apa nungguin mas Firman belum tentu juga mau menikahi mbak, kalau teman-temanku sudah pasti mau tinggal mbak bilang setuju mereka akan langsung melamar." keukeh Marwan dengan argumennya.
Marni nampak tak sabar menghadapi adiknya tersebut. "Pokoknya mbak ga mau menerimanya dan ga mau terlibat dengan mereka semua jadi jika suatu saat mereka minta imbalan itu menjadi tanggung jawabmu." tegas Marni lantas berlalu masuk ke dalam kamarnya, selama ini ia selalu menolak pemberian mereka bahkan enggan melihatnya apalagi hanya sekedar untuk mencicipinya karena mereka memberikan itu semua pasti ada maunya.
"Ada apa sih nak?" ibunya Marni langsung keluar dari dapurnya ketika melihat kedua anaknya itu kembali ribut, mereka memang jarang sekali akur selama ini.
"Mbak Marni minta semua makanan ini dikembalikan bu enak saja orang sudah diberikan pada kita," Marwan langsung mengadukan semuanya kepada wanita itu.
"Sudah jangan dipikirkan mbakmu memang bodoh harusnya senang di royalin sama laki-laki jangan kayak bapakmu seumur-umur ga pernah belikan ibu makanan enak seperti ini, jaman sekarang makan cinta saja tidak kenyang pokoknya kamu harus cari istri kaya nanti Marwan biar hidupmu enak dan ibu juga ikutan kecipratan." ujar sang ibu menanggapi sekaligus memberikan nasihatnya.
"Jangan khawatir bu, asalkan aku kuliah di kota mudah bagiku mencari wanita kaya yang penting ibu selalu dukung aku ya." tukas Marwan meyakinkan wanita itu yang memang selalu mendukungnya meskipun terkadang pemuda itu sering mengecewakannya.
"Tenang saja Marwan kapan sih ibu tak pernah mendukungmu pokoknya nanti setelah mendapatkan istri kaya kamu jangan lupakan ibu ya kalau bisa ajak ibu sekalian tinggal bersamamu, ibu juga ingin merasakan jadi orang kaya tinggal di rumah gedong bertingkat tidak seperti di rumah ini kayak gubuk." mohon sang ibu dengan penuh harap menatap putranya tersebut.
"Tentu saja bu tenang saja," sahut Marwan menanggapi dan bersamaan itu bedug maghrib pun terdengar yang menandakan jika waktunya berbuka puasa telah tiba.
Marni yang masih kesal dengan adiknya enggan keluar kamarnya, sebelumnya ia sudah menyiapkan segelas air mineral dan dua butir kurma untuk membatalkan puasanya lantas dilanjutkan dengan ibadah sholat maghrib. Biar saja semua makanan yang dibawa oleh adiknya mereka habiskan semua karena jika suatu saat ada yang meminta sesuatu buat imbalannya atas makanan-makanan tersebut ia takkan ikut campur.
"Nduk, kamu tidak makan dulu?" ucap sang ibu ketika melihat anak gadisnya itu keluar kamarnya sudah rapi dengan mukenah siap pergi ke mushola.
"Nanti saja bu pulang taraweh." sahut Marni lantas berlalu pergi setelah pamitan, ia sengaja menunjukkan kemarahannya agar keluarganya terutama adiknya dan ibunya tidak lagi memanfaatkannya untuk mendapatkan makanan dari para lelaki itu lagi.
"Ada apa dengannya bu?" tanya sang ayah yang baru selesai berbuka puasa itu.
"Paling juga sedang marah pak karena Marwan menerima makanan pemberian laki-laki yang pada naksir mbak Marni," tukas Marwan dengan santainya.
"Benar pak, orang kita di kasih tidak minta." timpal sang ibu sembari menikmati tulang ayam bakarnya yang terlihat enak itu.
Suaminya itu pun hanya menghela napas panjangnya. "Lain kali tolak saja kalau mereka ingin memberikan sesuatu karena pasti ada timbal baliknya kelak," ucapnya seraya beranjak dari duduknya untuk melaksanakan sholat maghrib sebelum menikmati sebatang rokok dan juga kopi di teras rumahnya.
Mendengar perkataan pria itu pun ibunya Marni dan Marwan nampak saling berpandangan. "Sudah jangan didengar perkataan bapakmu, menolak tapi ikut menikmatinya juga." ujar sang ibu mengejek suaminya itu lirih.
Sementara itu Marni yang masih berada di teras rumahnya nampak melihat Astuti sedang menggantung beberapa pakaian barunya di teras rumahnya, sepertinya wanita itu baru saja mencuci bajunya.
"Sedang jemur mbak?" sapa Marni, meskipun terkadang ia sangat gedek dengan kelakuan wanita itu tapi ia tidak membencinya dan hanya selalu mengingat kebaikannya karena memang kadang-kadang juga tiba-tiba baik meskipun hanya bisa dihitung dengan jari.
"Ga kok, ini baju baru sengaja ku gantung disini biar bau barunya hilang." sahut wanita itu sembari membolak balik bajunya diatas gantungan seakan-akan sedang ingin menunjukkan kepada semua orang yang lewat jika ia baru saja membeli baju.
"Kenapa tidak dicuci sekalian mbak biar tidak gatal saat dipakai lebaran nanti?" ucap Marni menanggapi, karena sudah menjadi kebiasaannya mencuci pakaian baru karena ia tidak tahu bagaimana proses saat pembuatannya bersih atau tidak.
"Kalau dicuci namanya bukan baju baru lagi Marni, lagipula maju mahal tidak mungkin gatal kecuali bajumu yang murah-murah begitu biasanya kurang steril buatnya." sahut Astuti yang kini nampak memadu padankan salah satu bajunya ke badannya.
"Oh mungkin juga mbak, ya udah aku pergi ke mushola dulu mbak." Marni pun segera pergi meninggalkan rumahnya dan enggan melanjutkan pembicaraan mereka karena pasti akan kemana-mana topiknya dan berujung menghinanya atau membicarakan orang lain.
"Ck, baru juga jam segini sudah pergi ke mushola pasti sengaja ingin menggoda para laki-laki itu." gerutu Astuti melihat kepergian wanita itu.
"Ada apa dek?" ucap Joko yang baru keluar.
"Itu Marni padahal taraweh masih lama sudah pergi saja pasti sengaja ingin menggoda para bujang di kampung kita" sahut wanita itu menjelaskan.
"Benarkah? wah ini ga bisa dibiarkan dek sebentar mas lihat dulu jangan sampai kampung kita menjadi buruk karena kelakuannya." sahut Joko lantas berlalu pergi dengan tergesa.
Astuti yang melihat kepergian suaminya pun nampak mendukungnya. "Kapok kamu Marni, makanya jangan sok kecantikan jadi perempuan." gumamnya, ia jadi tak sabar untuk melihat wanita itu digerebek oleh suaminya maupun warga kampung lainnya.
baru bahagia Dateng Kutu hadeh
skrg marni bisa fokus dengan rumah tangga nya