Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Mahkota Ayam di Malam Itu
Isya masih jongkok di bawah meja kasir.
Satu tangannya memegang buku menu menutup wajahnya.
Wajahnya merah sampai ke telinga.
“Hiii… malu banget…”
Ia menggoyang-goyangkan kepalanya pelan.
“Kenapa sih Isya tadi teriak ayam…”
“Kenapa juga ditaruh di kepala orang…”
Ia menutup wajahnya lebih rapat.
“Ya Allah…”
“Maluuuuu…”
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat.
Kak Rara muncul di depan kasir.
Ia melihat ke bawah meja.
Lalu menghela napas panjang.
“Isya…”
Tidak ada jawaban.
“Isyaa…”
Pelan-pelan buku menu itu bergerak sedikit.
Terlihat sepasang mata yang mengintip dari baliknya.
“Kak…”
Kak Rara menatapnya beberapa detik.
Lalu tiba-tiba menutup mulutnya menahan tawa.
Bahunya sampai bergetar.
“Hahaha—”
Ia langsung memalingkan wajah.
Namun tawanya tetap keluar.
“Ya ampun Isya…”
“Baru kali ini kakak lihat orang kasih ayam… ke kepala artis.”
Isya langsung menutup wajahnya lagi.
“Jangan diingat-ingat kak…”
“Malu banget…”
Kak Rara masih tertawa kecil.
“Isya…”
“Keluar dulu…”
Isya menggeleng dari bawah meja.
“Gak mau…”
“Nanti mereka lihat…”
Kak Rara menghela napas lagi sambil menepuk meja kasir pelan.
“Ya ampun anak ini…”
----------------------------------------------------------------------------------
Sementara itu di meja boyband…
Kelima pemuda itu masih duduk mengelilingi meja penuh makanan.
Namun suasana mereka jauh dari serius.
Kevin masih memegang perutnya sambil tertawa.
“Hahaha… sumpah…”
“Ahnaf… ini pertama kali aku lihat kamu dipakaikan ayam di kepala.”
Dev ikut tertawa.
“Biasanya fans kasih bunga…”
“Ini malah ayam.”
Sam menyandarkan tubuhnya di kursi sambil tersenyum.
“Bukan cuma ayam…”
“Dia teriak dulu lagi.”
Ia menirukan suara panik.
“AYAM! AYAMM!”
Meja itu langsung pecah tertawa lagi.
Viki sampai menepuk meja.
“Ahnaf sekarang resmi punya mahkota ayam.”
Semua kembali tertawa.
Ahnaf sendiri hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
Namun sesekali ia melirik ke arah kasir.
Seolah mencari sesuatu.
Kevin memperhatikan itu.
“Ohooo…”
Ia menyenggol bahu Ahnaf.
“Kenapa?”
“Masih kepikiran ayamnya?”
Dev ikut menggoda.
“Atau kepikiran yang kasih ayam?”
Yang lain langsung bersorak kecil.
“Ooooh…”
Ahnaf menghela napas sambil tersenyum tipis.
“Ah… kalian ini.”
Namun matanya sekali lagi melirik ke arah kasir.
Entah kenapa…
gadis itu terasa berbeda dari orang-orang yang biasanya ia temui.
Bukan karena kejadian ayamnya saja.
Tapi karena sikapnya yang benar-benar terlihat polos dan panik.
Ahnaf bersandar pelan di kursinya.
Senyum kecil masih tersisa di wajahnya.
“Gadis aneh…” gumamnya pelan.
Namun anehnya…
ia justru merasa kejadian itu lucu.
Dan entah kenapa…
ia ingin melihat gadis itu sekali lagi.
----------------------------------------------------------------------------------
Di meja mereka.
Makanan yang tadi memenuhi meja akhirnya mulai dimakan.
Suasana masih santai.
Sesekali mereka masih tertawa mengingat kejadian ayam tadi.
Beberapa menit kemudian makanan mereka selesai.
Manajer mereka berdiri.
“Sudah selesai?”
“Kalau begitu saya bayar dulu.”
Namun Ahnaf langsung mengangkat tangannya.
“Ah… biar saya saja pak.”
Manajer menoleh.
“Kamu?”
Ahnaf mengangguk santai.
“Iya.”
Ia lalu berdiri dari kursinya.
Teman-temannya langsung saling melirik dengan senyum jahil.
“Wah…”
“Alasan bagus tuh.”
Kevin berbisik pelan.
Ahnaf hanya menggeleng sambil berjalan menuju kasir.
Di kasir…
Isya masih berdiri agak menunduk.
Ia berusaha terlihat sibuk mengatur buku catatan.
Padahal sebenarnya ia masih malu.
Kak Rara berdiri di sampingnya.
Tiba-tiba langkah seseorang mendekat.
Kak Rara langsung menoleh.
Dan seketika tubuhnya jadi kaku.
Itu Ahnaf.
Kak Rara langsung salah tingkah.
“I-iya… ada yang bisa dibantu?”
Namun Ahnaf justru menatap Isya.
Dengan senyum kecil.
“Hee…”
“Gimana ini?”
“Kamu masih punya utang maaf sama aku.”
Isya langsung panik.
“Ahh iya! Maaf! Maaf!”
“Aku nggak sengaja!”
“Duhh… maaf banget!”
Namun Ahnaf tertawa kecil.
“Ah… iya nggak apa-apa.”
“Kita impas kok.”
Isya mengangkat wajahnya sedikit bingung.
Ahnaf melanjutkan dengan santai.
“Tadi pagi aku juga nggak sengaja nabrak kamu.”
“Terus aku kabur.”
“Sekarang kamu nggak sengaja naruh ayam di kepalaku.”
Ia tersenyum.
“Jadi impas.”
Isya tiba-tiba tersadar.
Matanya membesar.
“AHHH!”
“Itu kamu?!”
“Ihh kamu yang tadi nabrak terus lari!”
Ahnaf tertawa kecil.
“Iya…”
“Maaf juga.”
Lalu ia sedikit mendekat ke meja kasir. Dengan nada bercanda.
“Tapi…”
“Kamu tadi bikin aku malu di depan banyak orang.”
Isya langsung panik lagi.
“Ehhh?!”
Ahnaf menatapnya dengan senyum jahil.
“Masih ada utang satu lagi.”
Isya bingung.
“Apa?”
Ahnaf menunjuk wajahnya.
“Buka maskermu.”
“Niatnya biar aku lihat wajah orang yang naruh ayam di kepalaku.”
Isya langsung kaget.
“HAH?!”
“Aduh… gimana ini…”
Wajahnya terlihat benar-benar panik.
Ahnaf masih tersenyum jahil di depannya.
Di saat itu—
Tiba-tiba seseorang datang dari samping.
Seorang pemuda berdiri di dekat kasir.
Penampilannya rapi dan tenang.
“Sepertinya…”
“Untuk hal sekecil itu tidak perlu sampai membuat orang lain tidak nyaman.”
Semua menoleh.
Seorang pemuda berdiri di dekat kasir.
Tubuhnya tegap.
Tatapannya tenang.
Namun ada ketegasan di wajahnya.
Itu Zai.
Kak Rara langsung melotot kecil.
"Wahhhhhh"
Ahnaf kemudian menatap Zai.
Namun ekspresinya tetap santai.
“Oh ya?”
Zai berdiri di samping Isya.
Tidak terlalu dekat, tapi jelas seperti melindunginya.
“Dia hanya tidak sengaja.”
“Tidak perlu membuatnya panik seperti itu.”
Ahnaf tersenyum tipis.
“Panik?”
“Aku sebenarnya hanya bercanda.”
Ia melirik sekilas ke arah Isya yang memang terlihat sangat gugup.
“Lagipula…”
“Kejadian tadi juga cukup membuatku kaget.”
“Jadi mungkin kita sama-sama tidak menyangka.”
Zai menjawab dengan nada tenang.
“Kalau begitu… sepertinya dia juga sudah cukup panik sebagai balasannya.”
Ia melirik Isya yang masih menunduk malu sambil memegang ujung buku menu.
“Kadang hal yang tidak disengaja bisa membuat seseorang merasa sangat tidak enak.”
Ahnaf mengangguk pelan.
“Benar juga.”
Ahnaf sedikit mengangkat alisnya.
Menarik.
Ia menatap Zai lebih serius sekarang.
“Kamu kelihatannya sangat peduli.”
Zai membalas tatapan itu tanpa ragu.
“Karena aku tidak suka melihat orang dipersulit untuk hal yang tidak disengaja.”
Ahnaf tertawa kecil.
“Tenang saja.”
“Aku tidak sedang mempersulitnya.”
Ia melirik ke arah Isya.
“Aku cuma ingin mengenalnya.”
Beberapa detik suasana menjadi hening.
Tatapan Ahnaf dan Zai saling bertemu.
Seperti dua orang yang sama-sama mengerti maksud satu sama lain.
Zai menjawab pelan.
“Kalau begitu…”
“Caranya mungkin bisa lebih baik.”
Ahnaf tersenyum.
“Ah…”
“Kamu kelihatannya sudah mengenalnya lebih dulu.”
Zai tidak langsung menjawab.
Namun dari sorot matanya sudah cukup jelas.
Ahnaf akhirnya mengangguk kecil.
“Baiklah.”
“Anggap saja aku yang salah.”
Lalu ia kembali menatap Isya dengan senyum ramah.
“Maaf kalau tadi bikin kamu panik.”
“Terima kasih sudah mengantar makanannya.”
Ia lalu berbalik dan berjalan kembali ke mejanya.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun saat melewati Zai, ia sempat berkata pelan.
“Persaingan yang menarik.”
Zai hanya menjawab singkat.
“Hmm, jika begitu menurutmu .”
Ahnaf tersenyum kecil lalu kembali ke mejanya.
Sementara Zai yang tadi terlihat tenang…
tiba-tiba terlihat sedikit gugup.
Seperti baru sadar ia terlalu menunjukkan sesuatu.
Isya menoleh kepadanya dengan wajah polos.
“Ah… Zai?”
“Kamu kok di sini?”
Zai langsung panik.
“A-ah… aku cuma lewat.”
“Iya… lewat saja.”
Ia mundur beberapa langkah.
“Pamit ya.”
“Assalamu’alaikum.”
Lalu ia cepat-cepat keluar dari restoran.
Isya hanya berdiri dengan wajah bingung.
Sedikit manyun.
“Kenapa hari ini semua orang aneh…”
Tiba-tiba Kak Rara memiting kepalanya dari samping.
“AAHH ISYAA!”
“Aduh kak!”
Kak Rara mengguncangnya pelan.
“Masak kamu nggak paham?!”
“Itu tadi PERSAINGAN!”
Isya makin bingung.
“Hah?”
“Persaingan?”
Kak Rara menatapnya tidak percaya.
“Ihhh emang dasar kamu tuh ya, si paling polos.”
----------------------------------------------------------------------------------
Setelah suasana kembali tenang…
Boyband itu akhirnya menyelesaikan makan mereka.
Beberapa dari mereka masih bercanda kecil sambil berdiri dari kursinya.
Salah satu dari mereka—Kevin—tiba-tiba berjalan ke arah kasir.
Isya yang sedang merapikan buku catatan sedikit menoleh.
“Iya kak?”
Kevin tersenyum ramah.
“Terima kasih ya sudah melayani kami malam ini.”
Isya mengangguk kecil.
“Iya kak… sama-sama.”
Kevin melirik sebentar ke arah meja teman-temannya.
Lalu kembali menatap Isya dengan senyum percaya diri.
“Sebenarnya… aku mau kasih sesuatu.”
Isya berkedip bingung.
“Untuk… aku?”
Kak Rara yang berdiri di samping langsung menegakkan badan dengan mata berbinar.
Kevin tertawa kecil.
“Iya.”
“Sesuatu yang biasanya… banyak orang ingin punya.”
Isya hanya tersenyum kecil dengan wajah bingung.
Kevin lalu mengeluarkan sebuah kaset album dari
tas kecilnya.
Itu adalah album terbaru boyband mereka lengkap dengan tanda tangan semua anggota.
Ia menyerahkannya ke Isya dengan santai.
“Nih.”
“Buat kamu.”
Isya menerimanya dengan ragu.
“Oh… makasih kak…”
Sementara Kak Rara di sampingnya hampir meloncat kegirangan.
Kevin tersenyum puas lalu kembali ke meja teman-temannya.
Tak lama kemudian mereka semua keluar dari restoran.
Begitu pintu terbuka…
teriakan fans di luar langsung meledak.
“AHNAFFF!!!”
“DEV!!!”
“KEVIN!!!”
Bodyguard berusaha menahan kerumunan.
Beberapa menit kemudian mobil mereka pun pergi meninggalkan restoran dengan suasana yang masih heboh di luar.
Di dalam restoran…
Isya menatap kaset di tangannya.
Lalu perlahan bahunya turun lemas.
Ia menunduk.
“Ahh…”
“Ihh ini kan bikin sakit kepala…”
“Ihh apaan sih ini…”
Ia menggerutu pelan.
“Mending dibakar aja…”
Kak Rara langsung teriak.
“EH JANGAN!”
Isya menoleh kaget.
“Kalau Isya nggak suka… kasih kakak aja!”
Isya langsung menggeleng cepat.
“Ihh nggak mau!”
“Ini haram harammm!”
Kak Rara melotot.
“Hah?”
“Masak Isya bikin kakak kenapa-kenapa.”
Kak Rara mengibaskan tangan.
“Ahh gpp… sekali-kali aja…”
Isya tetap menggeleng.
“Ihhh nggak mau.”
Ia membuka kaset itu dan melihat tanda tangan mereka.
“Ini apa lagi sih…”
“Kalau ngasih itu yang bermanfaat… duit kek.”
Kak Rara tiba-tiba terdiam.
Isya masih mengomel kecil.
Lalu Kak Rara mendekat dan berbisik pelan.
“Ehh isya, isyaa…”
“Itu kalau dijual bisa dapat duit loh.”
Isya langsung membelalakkan mata.
“WAHH!”
“Serius kak?!”
Matanya langsung berbinar.
Kak Rara tersenyum kecil.
“Iya.”
Lalu ia berdeham sedikit.
“Ehem…”
“Daripada kamu buang… kakak beli aja ya.”
Isya berkedip.
“Kakak mau?”
“Iya lah… kakak pengen.”
Isya tersenyum kecil.
“Ya udah kalau begitu buat kakak aja…”
“Nggak usah bayar deh.”
Kak Rara langsung menggeleng cepat.
“Eh jangan gitu.”
“Jangan biarin kakak dapat cuma-cuma.”
“Ini kan berharga… bisa dapat duit loh, Sya.”
Isya tersenyum lembut.
“Ahh nggak apa-apa kak.”
“Itu cuma secarik kertas.”
“Apa yang Allah beri… Isya lebih suka.”
Ia lalu berkata pelan sambil tersenyum.
“Allah kan sudah menjamin rezeki semua makhluk.”
Isya kemudian membaca ayat dengan pelan.
“Dan tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)
Isya melanjutkan dengan nada ringan.
“Tuh kak…”
“Kalau hewan melata saja Allah jamin rezekinya…”
“Apalagi kita yang sholat, yang puasa…”
“Pasti Allah juga kasih.”
“Karena Dia Maha Baik💕… dan Maha Kaya💕💕.”
Kak Rara menatap Isya dengan kagum.
“Wah dek…”
Lalu ia tetap menyelipkan uang ke tangan Isya.
“Nggak enak kalau gratis.”
“Nih… ambil aja.”
“Lumayan buat kamu beli makan buat Ba’da sama nenek.”
Isya sempat ragu.
Namun akhirnya ia menerima uang itu perlahan.
“Ahh… kalau begitu Isya terima ya kak.”
“Bukan karena Isya mau ambil…”
“Tapi Isya berdoa… dari kebaikan kakak ini Allah kasih kakak rezeki yang lebih banyak.”
Kak Rara tertawa.
“Ya Allah…”
“Adek ini…”
“Kalau kakak cowok pasti jatuh hati sampai ke tulang deh sama si imut ini.”
Isya ikut tertawa kecil.
“Haha kakak bisa aja.”
Ia menggenggam uang itu dengan senyum hangat.
“Makasih ya kak.”
“Nanti pulang Isya mau beli martabak buat Ba’da sama nenek.”
Kak Rara mengangguk sambil tersenyum.
“Ba’da sama nenek pasti senang.”
Isya menatap uang di tangannya sebentar.
Lalu ia tersenyum kecil.
Di hatinya hanya ada satu rasa.
Syukur.
Malam itu restoran kembali tenang.
Keramaian fans sudah lama pergi.
Namun tanpa Isya sadari…
malam yang baginya terasa biasa saja itu…
telah meninggalkan kesan yang tidak biasa di hati seseorang.
Dan dari kejadian sederhana itu…
sebuah cerita baru mulai perlahan berjalan.
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘