Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Warisan yang Terlupakan
Matahari pagi Sukabumi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar Della, menyinari spion tua yang masih tergeletak di atas meja belajar.
Setelah kejadian di Pasar Pelita semalam, Della merasa ada yang berubah dari cara ia memandang kota kelahirannya sendiri.
Sukabumi bukan lagi sekadar kota sejuk dengan kuliner enak, tapi kota yang penuh dengan lapisan rahasia yang tak terlihat.
"Del! Sarapan dulu!" teriak Papanya dari bawah.
Della turun dengan langkah gontai. Di meja makan, Papanya sedang asyik membaca koran cetak kebiasaan orang tua di tahun 2017 yang belum sepenuhnya pindah ke portal berita online.
"Pa," panggil Della sambil mengoles selai ke rotinya. "Rumah lama Kakek Buyut Tan di deket kebun teh itu... kenapa nggak pernah ditempatin lagi?"
Papanya menurunkan koran, menatap Della dengan dahi berkerut. "Kok tiba-tiba nanya itu? Itu kan sudah jadi urusan keluarga besar di Jakarta. Lagipula, daerah sana jalannya rusak sejak pabrik teh ditutup. Kenapa? Kamu mau motoran ke sana?"
"Cuma nanya, Pa. Kemarin lewat sana kayaknya bangunannya masih kokoh."
"Hati-hati kalau main ke daerah sana, Del," suara Papanya merendah. "Kakek buyutmu dulu bukan orang sembarangan. Dia punya banyak 'simpanan' yang mungkin sekarang sudah liar karena nggak ada yang merawat."
Della terdiam. Simpanan. Apakah spion ini salah satunya?
Kampus – Siang Hari ini
Della bertemu Geri di kantin. Geri tampak sibuk mengutak-atik karburator motor milik mahasiswa lain, tapi matanya sesekali melirik ke arah parkiran, memastikan Scoopy Della aman.
"Ger, loe inget pria baju changshan yang gue ceritain semalam?" bisik Della.
Geri mengelap tangannya yang berminyak. "Inget. Gue semalam juga nggak bisa tidur, Del. Gue coba cari-cari di forum otomotif jadul tentang kecelakaan tahun 90-an di Situ Gunung yang diceritain Mang Asep."
"Ketemu?"
"Nggak ada data digitalnya, tapi gue dapet info dari montir senior di bengkel sebelah. Katanya, dulu emang ada pria keturunan yang hilang di sana. Dia kolektor barang antik, mirip sama deskripsi keluarga Tan loe. Tapi anehnya, motornya bukan jatuh karena licin, tapi karena dia kayak 'ditarik' masuk ke dalam spionnya sendiri."
Della merinding. "Ditarik masuk?"
"Makanya, Del. Loe jangan pernah coba-coba ngulik rumah tua itu sendirian. Kita butuh persiapan."
Tiba-tiba, Sasha datang dengan wajah ceria, seolah trauma semalam sudah hilang tertutup oleh kabar viral terbaru. "Guys! Liat deh, ada kafe baru buka di jalan Selabintana. Namanya The Vintage Mirror. Katanya estetik parah dan kopinya juara!"
Della dan Geri saling pandang. Nama kafenya terdengar seperti sebuah ejekan langsung dari alam gaib.
"Ayo lah, Del! Gue butuh healing nih setelah hampir jadi santapan Genderuwo pasar!" paksa Sasha.
Della melihat ke arah spion kirinya dari kejauhan. Di bawah terik matahari, spion itu tampak berkilat aneh. Ia tahu, meskipun ini adalah bagian dari awal Penampakan Pertama, "perkenalan" ini akan membawanya ke tempat-tempat yang lebih gelap di Sukabumi.
"Oke, kita ke sana," jawab Della akhirnya. "Tapi Geri harus ikut."
Geri menghela napas pasrah, menaruh kuncinya di atas meja kantin yang penuh noda kopi. "Ya udah, gue ikut. Tapi kalau kafenya banyak kaca-kaca aneh, gue duduk di parkiran aja jagain motor."
"Dih, penakut banget sih loe, Ger! Itu kafe hits, bukan rumah hantu!" Sasha mencibir sambil sibuk memulas lipstik nude tren warna bibir yang sangat 2017.
Della tidak menyahut.
Di dalam tasnya, ia bisa merasakan aura dingin yang memancar dari spion tua yang ia lepas dan bungkus dengan kain flanel. Ia tidak berani membiarkannya terpasang di motor saat diparkir di kampus; ia takut ada mahasiswa iseng yang mencoba bercermin di sana.
Sore Hari – Perjalanan ke Salabintana.
Jalanan menuju Salabintana selalu menyenangkan bagi anak motor. Udara semakin dingin seiring mereka mendaki lebih tinggi, dan pohon-pohon besar di pinggir jalan memberikan keteduhan yang menenangkan. Scoopy Della melaju di tengah, diapit motor trail Geri dan motor matic Sasha yang penuh stiker lucu.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Saat mereka melewati sebuah persimpangan tua yang dikenal warga sebagai "Tikungan Manis", Della merasakan stang motornya bergetar hebat. Getaran itu bukan berasal dari mesin, tapi seperti ada detak jantung yang berdenyut dari spion tua di dalam tasnya.
Dug... dug... dug...
Della melambat. Ia menepi di pinggir jalan yang rimbun oleh pohon bambu.
"Kenapa, Del?" Geri langsung berhenti di sampingnya, matanya waspada.
Della membuka tasnya perlahan. Kain flanel pembungkus spion itu tampak basah.
Saat ia membukanya, spion itu mengeluarkan uap dingin. Dan di permukaan kacanya yang retak, tidak ada bayangan jalanan Selabintana.
Spion itu menunjukkan sebuah pemandangan Pasar Pelita dari malam sebelumnya.
Di dalam kaca, Della melihat dirinya sendiri sedang menarik Sasha keluar dari pasar. Tapi, ada detail yang ia lewatkan semalam.
Di belakang mereka, di antara bayangan kios yang gelap, berdiri sosok pria baju changshan abu-abu itu. Dia tidak membantu, dia hanya memperhatikan... dan di tangannya, dia memegang sebuah jam saku antik yang rantainya terhubung langsung ke arah tas Della.
"Ger, dia nggak cuma di rumah tua itu," bisik Della, suaranya hampir hilang tertiup angin gunung. "Dia ngikutin kita dari pasar."
Geri melihat ke arah tas Della, lalu ke arah spion itu. Wajahnya mengeras. "Del, masukin lagi. Jangan diliat terus. Kita harus sampai ke kafe itu sebelum magrib. Gue denger pemilik kafe The Vintage Mirror itu kolektor barang dari tahun 40-an. Mungkin dia tahu sesuatu tentang keluarga Tan."
Sasha yang berdiri agak jauh hanya bisa memandangi mereka dengan cemas. "Kalian ngomongin apa sih? Mukanya serius banget, kayak mau sidang skripsi."
"Bukan apa-apa, Sha. Yuk lanjut, keburu mendung," alibi Della.
Mereka sampai di The Vintage Mirror tepat saat langit Sukabumi berubah menjadi merah keunguan. Kafe itu adalah sebuah bangunan tua yang direnovasi dengan gaya industrial.
Di dinding-dindingnya, tergantung puluhan cermin berbagai ukuran mulai dari cermin rias perak hingga cermin besar dengan bingkai kayu ukir yang berat.
Begitu Della melangkah masuk ke dalam kafe, seluruh cermin di ruangan itu tampak... bergetar.
Hanya Della yang merasakannya. Bagi pelanggan lain, itu hanyalah dekorasi yang indah. Tapi bagi Della, setiap langkahnya membuat pantulan di cermin-cermin itu tertinggal satu detik di belakang gerakan aslinya.
Seorang pelayan pria dengan rompi kulit mendekat. "Selamat sore. Untuk tiga orang?"
Della menatap pria itu. Di mata batinnya yang kini terhubung dengan spion di tasnya, ia melihat pria pelayan itu tidak memiliki pantulan di cermin besar di belakang bar.
"Iya, tiga orang," jawab Della pelan. Tangannya mencengkeram erat tali tasnya. "Di pojok sana aja, yang jauh dari kaca."
"Maaf, Neng," pelayan itu tersenyum tipis, matanya tampak sangat datar. "Di kafe ini, tidak ada tempat yang bisa sembunyi dari kaca."