NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 — Garis yang Tidak Bisa Dilintasi

“Perlindungan?”

Suara Gray merambat masuk ke gendang telinga Leon, bergetar di frekuensi tinggi yang terasa lebih tajam dari biasanya. Nada suaranya dingin, seolah kata itu adalah sebuah bahasa asing yang tidak seharusnya diucapkan dalam kamus profesional mereka.

Leon tetap berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip redup di ujung gang Distrik 6. Cahaya kuning pucat yang sekarat itu jatuh di atas aspal yang basah oleh sisa hujan, memanjang dan meliuk-liuk seperti bayangan yang menolak untuk mati. Di belakangnya, pintu Klinik Arden tetap tertutup rapat, mengunci sebuah dunia yang begitu tenang namun rapuh.

Lampu di dalam klinik masih menyala, memancarkan garis cahaya yang menembus celah tirai. Alice masih di sana, mungkin sedang membereskan sisa peralatan bedah atau menulis laporan pasien yang tak kunjung habis. Dia sama sekali tidak sadar bahwa nasibnya baru saja digeser oleh satu kata dari mulut seorang pembunuh.

“Ya,” jawab Leon singkat.

Sunyi menyelimuti sambungan mereka selama beberapa detik. Hanya ada suara statis halus yang mengiringi napas Leon yang teratur. Di ujung sana, Gray seolah sedang memproses sebuah anomali sistem yang sangat besar.

“Itu bukan bagian dari kontrak yang kita tanda tangani,” kata Gray akhirnya. Suaranya terdengar seperti gesekan logam.

Leon menatap jalan kosong di ujung gang yang gelap. “Aku tahu.”

“Helix menawarkan tujuh juta dollar untuk kepalanya, Leon,” lanjut Gray, suaranya naik satu oktav. “Tujuh juta. Dan kau memutuskan untuk menjadi penjaga pintu di sebuah klinik kumuh yang bahkan tidak punya asuransi kebakaran.”

Leon menyandarkan bahunya pada dinding bata yang terasa lembap dan dingin. Rasa perih di perutnya kembali berdenyut, seolah jahitannya sedang memberikan peringatan. “Dia bukan ancaman. Dia hanya seorang dokter.”

Gray tertawa pendek, sebuah tawa yang tidak mengandung humor sedikit pun. “Helix berpikir sebaliknya. Bagi mereka, keberadaan wanita itu adalah sebuah lubang dalam rencana besar mereka yang harus segera ditambal dengan darah.”

“Helix selalu berpikir mereka benar karena mereka punya uang untuk membeli kebenaran,” jawab Leon pelan.

Hening kembali turun. Suara mesin mobil yang melaju jauh di jalan utama sesekali terdengar seperti raungan bayangan yang lewat di kejauhan. Kehidupan di Distrik 6 terus berputar meski maut sedang berdiri membeku di salah satu sudutnya.

Gray akhirnya berbicara lagi, kali ini dengan nada yang berbeda. Lebih dalam, lebih kelam. “Leon.”

“Apa.”

“Kau tahu kenapa aku selalu menerima kontrak dari Helix selama bertahun-tahun ini? Meskipun mereka sering memberikan target yang membuat nurani orang normal mual?”

Leon menjawab datar, menatap ujung sepatunya yang kotor. “Uang. Itu alasan kita semua berada di industri ini.”

Gray mendengus keras, suara yang menunjukkan kekecewaan. “Kalau aku hanya mengejar angka-angka di rekening, aku sudah pensiun dan berjemur di pantai selatan lima tahun lalu. Aku tidak butuh tujuh juta lagi untuk sekadar hidup.”

Leon tidak berkata apa-apa. Dia membiarkan Gray melanjutkan, tahu bahwa ada sesuatu yang selama ini disembunyikan di balik layar monitor peretas itu.

“Helix menghancurkan banyak hidup, Leon. Mereka bukan sekadar korporasi farmasi atau manufaktur senjata,” kata Gray.

“Aku tahu. Aku melihat apa yang mereka lakukan di kereta Marcus Hale,” sahut Leon.

“Tidak,” potong Gray dengan nada tajam. “Kau tidak benar-benar tahu apa yang kau lihat. Kau hanya melihat permukaan dari sebuah samudera yang penuh dengan bangkai.”

Sunyi menggantung di udara malam yang dingin. Angin Distrik 6 bertiup melewati gang sempit, membawa bau karat dan minyak mesin yang menusuk hidung.

“Aku pernah bekerja dengan mereka,” bisik Gray.

Leon sedikit mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam memindai kegelapan, namun pikirannya terfokus pada pengakuan itu. “Sebagai tentara bayaran?”

“Sebagai alat eksperimen mereka,” koreksi Gray. Suaranya bergetar karena emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. “Mereka tidak tertarik untuk menyelamatkan manusia dari penyakit. Mereka lebih suka menciptakan monster yang bisa dikendalikan melalui kode genetik.”

Leon tidak menyela. Dia tahu Gray sedang membuka luka lama yang sangat dalam.

“Aku melihat rekan-rekanku berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia. Aku melihat mereka meregang nyawa dalam tabung kaca hanya karena sebuah formula gagal,” Gray melanjutkan. Suaranya kini terdengar sangat pelan, hampir menyerupai bisikan angin malam yang menyedihkan. “Aku mencoba menghentikan mereka dari dalam. Aku mencoba membocorkan data mereka ke publik.”

Leon bertanya dengan nada rendah. “Dan?”

Gray tertawa pahit, sebuah tawa yang penuh dengan kebencian murni. “Mereka menghentikanku lebih dulu sebelum aku sempat menekan tombol kirim. Mereka mengambil segalanya dariku. Keluargaku, identitasku, wajahku. Mereka menguburku hidup-hidup dalam sistem mereka sendiri.”

Sunyi kembali menguasai. Leon bisa merasakan kemarahan Gray yang memancar melalui saluran komunikasi mereka.

“Sejak hari itu, aku hanya punya satu tujuan tunggal yang membuatku tetap bernapas,” lanjut Gray.

Leon bertanya pendek. “Apa.”

“Menghancurkan Helix sampai ke akar-akarnya,” jawab Gray dengan kemantapan yang mengerikan.

Leon menatap jalanan yang sepi. Dia mulai memahami pola permainan Gray. “Dan Alice?”

Gray langsung menjawab tanpa jeda. “Alice adalah kesempatan terbaik yang pernah kita miliki selama lima tahun ini. Dia adalah potongan terakhir dari A-Project. Dia adalah bukti berjalan yang bisa meruntuhkan Helix jika kita membawanya ke permukaan.”

Leon mengerutkan rahangnya. Dia bisa merasakan kemarahan yang mulai membakar dadanya. “Dengan cara menjadikannya umpan?”

Gray menyahut dingin. “Aku tidak peduli pada formula biologis itu atau keajaiban medis yang dia miliki. Aku hanya butuh Helix keluar dari lubang persembunyian mereka. Aku ingin mereka mengirimkan pasukan terbaik mereka untuk mengambil wanita itu.”

Leon terdiam, tangannya mengepal di samping tubuh.

“Jika Helix muncul untuk mengambilnya, mereka akan meninggalkan jejak yang tidak bisa mereka hapus lagi,” lanjut Gray. “Itu saatnya aku meledakkan semuanya dari dalam.”

Lampu klinik berkedip sebentar, lalu kembali stabil. Bayangan Alice terlihat bergerak di balik tirai, seolah dia sedang merapikan rak buku atau botol obat. Dia tampak begitu damai, sama sekali tidak menyadari bahwa Gray sedang merancang skenario eksekusinya.

“Kau ingin menjadikan dia umpan untuk memancing monster keluar,” kata Leon pelan.

Gray menjawab tanpa keraguan sedikit pun. “Ya. Itu adalah pengorbanan yang diperlukan.”

Leon memejamkan mata sejenak, menghirup udara malam yang lembap. “Tidak.”

Gray langsung menyambar jawaban itu. “Kau tidak punya pilihan, Leon. Ini adalah langkah catur yang sudah aku siapkan sejak kita menerima informasi pertama tentang target di Distrik 6.”

Leon menatap pintu klinik yang terbuat dari kayu tua itu. “Ada pilihan lain. Aku akan melindunginya.”

Gray tertawa kecil, suara tawa yang meremehkan. “Kau serius? Seorang Phantom ingin menjadi pahlawan bagi seorang hantu dari masa lalu? Itu terdengar seperti lelucon paling buruk yang pernah aku dengar.”

Leon tidak menjawab. Dia tahu Gray sedang mencoba memprovokasi logikanya.

“Leon, dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi,” kata Gray, suaranya kini kembali tenang namun sangat otoriter. “Jika kita memainkan kartu ini dengan benar, kita bisa menarik petinggi Helix keluar ke tempat terbuka. Kita bisa mengakhiri perang ini malam ini juga.”

Leon menjawab dengan nada yang sama dinginnya. “Dengan mempertaruhkan hidup seseorang yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang dendammu?”

“Perang selalu membutuhkan korban untuk mencapai kemenangan, Leon. Kau sendiri yang mengajari itu padaku melalui setiap peluru yang kau lepaskan,” ujar Gray.

Leon menggelengkan kepala sedikit, meski Gray tidak bisa melihatnya. “Tidak kali ini. Garis itu tidak akan aku lintasi.”

Gray diam selama beberapa detik. Suara ketikan keyboard di latar belakang terhenti sepenuhnya. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Leon? Apa yang wanita itu lakukan pada kepalamu?”

Leon tidak menjawab. Dia sendiri tidak tahu pasti jawabannya.

“Kau sudah membunuh puluhan, bahkan ratusan orang tanpa berkedip selama bertahun-tahun ini,” Gray melanjutkan dengan nada yang lebih tajam. “Kau mengeksekusi pengawal di dermaga, kau membantai unit Marcus Hale di kereta tanpa sedikit pun keraguan. Dan sekarang kau menolak satu target hanya karena dia menjahit perutmu?”

Leon akhirnya berkata dengan kemantapan yang mutlak. “Dia bukan target. Dia adalah dokter yang merawatku saat aku hampir mati. Itu membuatnya berada di luar kontrak.”

Gray tertawa lagi, kali ini terdengar lebih sinis. “Kontrak Helix mengatakan sebaliknya. Tujuh juta dollar dan perintah eliminasi sudah tertulis dengan tinta hitam di atas putih.”

Leon menatap langit malam yang tertutup kabut polusi industri. “Aku yang mengubah kontraknya sekarang.”

Sunyi menyergap.

“Tidak,” kata Gray pelan. “Kau tidak berhak melakukan itu.”

“Ya,” sahut Leon. “Aku yang berada di lapangan. Aku yang memegang senjatanya.”

Gray menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti awal dari sebuah badai. “Kau ingin melindunginya dari Rook? Dari Helix? Dari dunia yang menginginkan kepalanya?”

Leon tidak membantah. Dia sudah membulatkan tekadnya.

“Kenapa, Leon? Berikan aku satu alasan logis yang masuk akal bagi seorang pembunuh bayaran profesional,” tuntut Gray.

Leon menatap pintu klinik. Bayangan Alice kembali bergerak di balik tirai tipis itu, tampak begitu rapuh namun berharga di tengah kekacauan kota ini. “Karena dia tidak pantas mati hanya untuk menjadi umpan dalam rencanamu.”

Gray menyahut dingin, suaranya kini benar-benar tanpa perasaan. “Banyak orang di dunia ini yang tidak pantas mati, Leon. Tapi mereka tetap mati setiap hari karena kita menjalankan tugas kita.”

“Tapi tidak kali ini,” balas Leon pelan.

Sunyi kembali turun di gang itu, terasa lebih berat dari sebelumnya. Gray akhirnya berbicara lagi, suaranya sangat rendah, hampir menyerupai ancaman yang disamarkan sebagai pertanyaan.

“Jadi, sekarang kau memutuskan untuk menghentikan rencanaku?” tanya Gray.

Leon menjawab tanpa ragu. “Jika itu diperlukan untuk menjaganya tetap hidup, maka ya.”

Gray terdiam cukup lama. Hanya ada suara dengung statis yang menandakan sambungan masih aktif. Kemudian, Gray berbicara lagi dengan suara yang terdengar sangat terluka namun berbahaya.

“Leon,” panggilnya.

“Apa.”

“Aku yang menemukanmu saat kau hanyalah tumpukan daging yang membusuk di selokan Distrik 4,” kata Gray. “Aku yang menarikmu keluar ketika semua orang, termasuk organisasimu sendiri, menganggap kau sudah mati dan tidak berguna.”

Leon menatap tanah, bayangannya memanjang di bawah lampu jalan.

“Aku yang melatihmu, memberimu identitas baru, dan memberimu tujuan untuk tetap hidup,” Gray melanjutkan. Suaranya kini penuh dengan tekanan emosional.

Sunyi.

“Aku yang membuat dunia mengenal nama Phantom sebagai simbol maut yang tak terelakkan,” kata Gray lagi.

Leon memejamkan mata, merasakan angin malam yang semakin menusuk. “Aku tidak pernah melupakan setiap hal yang kau lakukan untukku, Gray. Tidak sedetik pun.”

Gray menghela napas panjang, sebuah suara yang menandakan kekecewaan yang mendalam. Kemudian, ia bertanya dengan suara yang jauh lebih pelan, nyaris seperti bisikan yang menyakitkan.

“Dan sekarang,” Gray menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan itu menyiksa mereka berdua selama beberapa detik. “Kau siap menodongkan senjata padaku demi seorang wanita yang baru kau kenal selama dua malam?”

Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menggenggam gagang pistolnya lebih erat di balik jaketnya, menatap lurus ke arah kegelapan yang menantinya di ujung gang. Dia tahu, mulai detik ini, dunianya tidak akan pernah sama lagi. Garis itu telah ditarik, dan dia sudah memilih di sisi mana dia berdiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!