Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Wayan
Dokter Rahmat akhirnya mendapatkan seorang dokter forensik berusia tiga puluhan tahun yang baru saja pindah dari Denpasar ke Jakarta untuk bergabung di Medical Examiner RS Bhayangkara. Nama pria itu adalah dokter Anak Agung Wayan Parabaya.
"Ah, Dokter Rahmat? Anda masih residen bedah?" tanya dokter Wayan. "Panggil saja dokter Wayan biar enak dan mudah diingat."
Kedua dokter itu saling bersalaman. Dokter Rahmat menatap serius ke dokter forensik berdarah Bali itu.
"Dok, apakah anda bisa dipercaya?" tanya dokter Rahmat.
"Soal apa Dok?" balas dokter Wayan.
"Hasil autopsi. Jujur saya agak curiga dengan kematian pak Yono ini," jawab dokter Rahmat yang segera menghubungi AKP Dean Thomas.
Dokter Wayan semakin penasaran karena dia baru tiba di Jakarta bersama istrinya karena memang tugas dari Polri. "Sebenarnya ada apa ini?"
"Tolong anda tunggu sebentar. Akan ada orang yang datang kemari," pinta dokter Rahmat.
***
Sementara itu, Iptu Nana dan Kompol Jarot mulai menyelidiki kematian Lala, termasuk mendatangi kampus tempat Lala kuliah dulu. Awalnya mantan dosen dan dekannya tidak mau bekerja sama tapi bukan Iptu Nana kalau tidak menggunakan kemampuan intimidasi khas ras terkuat di muka bumi.
"Anda sebagai dekan dan dosen yang punya kemampuan akademik yang baik, apa tidak punya hati yang benar kah? Ini anak orang, masuk kampus sini susah payah, dibully dan kalian hanya diam saja serta lepas tangan? Anda itu secara tidak langsung adalah pelaku pembunuhan, bapak-bapak!" amuk Iptu Nana.
Kompol Jarot hanya diam sambil mengamati satu persatu orang yang katanya pendidik itu dengan perasaan menahan emosi. Jika dia tidak menahan emosinya, bisa jadi Kompol Jarot mengeplak satu persatu kepala orang-orang yang katanya pintar.
"Atau karena yang jadi korban bukan adik perempuan anda, kakak perempuan anda dan anak perempuan anda, jadi kalian bodo amat?" lanjut Iptu Nana semakin emosi.
Empat orang pria itu hendak melawan Iptu Nana namun aura polwan badass itu seolah tidak perduli.
"Ayo, bicara! Saya disini sebagai wakil dari ibunya Lala yang berusaha mencari keadilan buat putrinya!" tantang Iptu Nana. "Apa susahnya sih kalian semua jujur? Kenapa? Takut sama bapaknya Tegar? Iya?"
"Bu Nana, ayah Tegar itu salah satu pejabat Polri. Dia juga donatur di kampus," ucap salah seorang dosen.
"Oh jadi UUD ... Ujung ujungnya duit? Mana jargon kalian yang 'Stop Bullying', 'Say No to Bullying'? Lip service doang karena kalah sama duit! Ngana nyanda ada otak ( kamu tidak ada otak - Manado )!" sinis Iptu Nana. "Kalau anda mau head to head sama instansi saya, silakan! Wong instansi saya sudah terkenal bobrok! Ya kali kampus nasional yang diakui internasional mau disamain instansi bobrok? Dimana logikanya! Kalian masih punya hati nurani tidak sih?"
Kompol Jarot memilih diam karena gaya juniornya seperti seorang emak memarahi anaknya. Para pria itu melihat ke arah Kompol Jarot seolah meminta tolong.
"Maaf, bapak-bapak. Anda memang minus empati ke kaum ibu kalian," senyum Kompol Jarot tanpa dosa.
***
Sementara itu di rumah Siti
Iptu Rayyan dan Iptu Atikah mendatangi kembali rumah keluarga Akbar untuk memastikan bahwa mereka memberikan izin untuk membongkar makam Siti. Kedua orang tua itu tahu, mereka butuh jawaban atas kematian putrinya.
"Jadi kita sudah berkoordinasi dengan tim CSI serta forensik untuk mencari tahu apa penyebabnya," ucap Iptu Atikah.
Akbar dan istrinya menoleh ke Iptu Rayyan. "Pak Jarot kemana?"
Iptu Rayyan auto manyun. "Pak Jarot sedang mengurus kasus lain."
Iptu Atikah tersenyum. "Iya. Sama saja bapak, ibu. Kan satu tim."
"Maaf lho Bu Atikah, tapi wajah pak Rayyan kurang meyakinkan untuk jadi polisi hebat," bisik Bu Akbar.
"Jelek-jelek gini Bu, saya pernah menyelesaikan kasus lintas negara! Bahkan sampai India!" cebik Iptu Rayyan kesal.
"Itu benar Bu," senyum Iptu Atikah.
"Tapi bagi saya ... kok agak kureng ya? Rasa yakin saya," eyel Bu Akbar skeptis. "Kalau pak Jarot kan terlihat kompeten."
"Lha?"
***
Ruang autopsi Medical Examiner RS Bhayangkara
AKP Dean Thomas mendatangi ruang autopsi sendirian karena semua anak buahnya sedang mengurus kasus masing-masing. Dia melihat jenazah penghuni panti jompo Harmoni Life itu sudah terbujur kaku di atas meja baja bersama dengan dokter Rahmat dan seorang dokter asing.
"Ini siapa Dokter Rahmat?" tanya AKP Dean Thomas.
"Perkenalkan, ini dokter forensik yang baru saja datang dari Denpasar. Beliau dulu di Polda Denpasar terus dipindahkan kemari." Dokter Rahmat memperkenalkan keduanya.
"Dean Thomas."
"Wayan Parabaya."
"Saya panggil anda apa Dok?" tanya AKP Dean Thomas.
"Panggil saja Dokter Wayan. Setahu saya, hanya saya yang orang Bali disini," senyum dokter Wayan.
Tiba-tiba datang seorang gadis berambut cepak dengan membawa koper Taffguard yang sudah pasti berisikan semua perlengkapan dan peralatan forensik.
"Sorry, bang Dean. Aku tadi habis buat laporan," ucap gadis itu dengan nafas sedikit terengah.
"Tidak apa-apa, Hani. Tolong bantu ya? Kasusnya ini cukup sensitif," pinta AKP Dean Thomas.
"Aku suka kasus sensitif. Halo, aku Hani, bagian CSI. Anda dokter forensik baru?" sapa Hani.
"Benar. Aku Dokter Wayan," senyum pria itu.
"Senang bertemu dengan anda Dokter. Semoga kita bisa saling bekerjasama," balas Hani.
"Amin. Baik semuanya. Sebelum dimulai, mari kita berdoa di depan jenazah agar izin autopsi berjalan lancar dan kita diberikan petunjuk apa penyebab kematiannya."
***
Ruang autopsi itu dingin dan sunyi, hanya suara dengung alat pendingin yang terdengar samar. Di atas meja stainless steel, tubuh kakek Yono terbujur kaku, ditutupi kain putih hingga dada.
Dokter Wayan berdiri di sampingnya, mengenakan sarung tangan, sorot matanya tajam meneliti setiap detail.
“Secara kasat mata, ini terlihat seperti kematian alami,” ucapnya pelan, memecah keheningan.
AKP Dean Thomas bersandar di dinding, tangan terlipat di dada. “Tapi Anda tahu kan penyebabnya, Dok.”
Dokter Rahmat dan Hani berdiri lebih dekat, memperhatikan dengan serius.
Dokter Wayan menghela napas, lalu membuka sedikit kain penutup di bagian leher Yono. “Lihat ini.”
Mereka semua mendekat. Ada bekas samar di sisi leher, hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan teliti.
“Ini bukan tanda biasa,” lanjut dokter Wayan. “Ada tekanan yang tidak wajar di area ini. Tidak cukup kuat untuk meninggalkan luka luar yang jelas, tapi cukup untuk mengganggu aliran darah dan oksigen.”
Hani mengernyit. “Seperti … dicekik?”
“Bukan dicekik secara brutal,” jawab dokter Wayan. “Lebih ke arah tekanan terkontrol. Pelakunya tahu apa yang dia lakukan.”
AKP Dean Thomas menatap tubuh itu lama, rahangnya mengeras. “Jadi ini pembunuhan yang dibuat seolah-olah alami.”
Dokter Rahmat menimpali, suaranya rendah namun tegas. “Pelaku kemungkinan punya pengetahuan medis. Orang biasa tidak akan tahu titik mana yang bisa mematikan tanpa meninggalkan banyak jejak.”
Suasana makin menegang. Masing-masing tampak berpikir.
Dokter Wayan kemudian mengambil sebuah alat kecil dan menunjukkan bagian lain di tubuh Yono. “Selain itu, ada reaksi jaringan yang tidak sesuai dengan kematian alami. Ini memperkuat dugaan saya, kematian ini dipercepat oleh faktor eksternal.”
AKP Dean Thomas melangkah mendekat, matanya menyipit. “Artinya … seseorang ada di sana saat Yono menghembuskan napas terakhirnya.”
Hani menelan ludah. “Dan orang itu memastikan tidak ada yang curiga.”
Beberapa detik hening. Kemudian AKP Dean Thomas menegakkan tubuhnya. “Baik. Kita anggap ini kasus pembunuhan.”
Dia menatap satu per satu. “Kita cari siapa yang punya akses ke Yono … dan cukup pintar untuk melakukan ini tanpa meninggalkan jejak.”
Dokter Rahmat menyilangkan tangan, ekspresinya serius. “Dan jangan lupa, orang itu mungkin masih sangat dekat dengan kita.”
Kalimat itu menggantung di udara, membuat suasana terasa semakin berat. Dan mereka tahu siapa yang dicurigai.
Di atas meja autopsi, tubuh Yono seakan menyimpan rahasia besar, rahasia yang kini mulai terkuak sedikit demi sedikit.
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....