NovelToon NovelToon
Kau Harus Rela Melepasnya

Kau Harus Rela Melepasnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anto Sabar

Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak Yang tak Terucap

Malam pun datang.

Lampu-lampu bengkel masih menyala terang, memantulkan cahaya pada lantai yang kini bersih dan mengilap.

Namun suasana sudah berbeda.

Tidak ada lagi keramaian.

Tidak ada lagi suara orang-orang yang kagum.

Yang tersisa hanya—

hening.

Ryan berdiri di tengah ruangan.

Sendiri.

Tangannya masuk ke saku celana.

Tatapannya kosong, namun pikirannya penuh.

Hari ini…

seharusnya menjadi hari yang sempurna.

Bengkel resmi dibuka.

Orang-orang datang.

Pengakuan mulai terlihat.

Namun—

satu hal mengubah semuanya.

Arini.

Ia menghela napas panjang.

Masih teringat jelas bagaimana tatapan itu.

Tatapan yang dulu begitu dekat.

Kini terasa… jauh.

“Kenapa dia datang…” gumamnya pelan.

Bukan karena tidak ingin bertemu.

Justru sebaliknya.

Namun pertemuan itu—

datang di waktu yang tidak sederhana.

“Belum pulang?”

Suara lembut terdengar dari belakang.

Ryan menoleh.

Dan untuk kedua kalinya hari itu—

ia kembali melihat wajah yang sama.

Arini.

Ia berdiri di sana.

Masih mengenakan pakaian yang sama.

Namun kali ini—

tanpa keramaian di sekitarnya.

Tanpa sorotan.

Hanya mereka berdua.

Ryan sedikit terkejut.

“Kamu belum pulang?”

Arini menggeleng pelan.

“Belum.”

Ia melangkah masuk.

Perlahan.

Matanya menyapu sekeliling bengkel.

Mengamati setiap detail.

Dan semakin ia melihat—

semakin jelas sesuatu di wajahnya.

Kagum.

Namun juga…

sesuatu yang lebih dalam.

“Berubah banyak,” katanya pelan.

Ryan tersenyum tipis.

“Iya.”

Jawaban sederhana.

Namun di balik itu—

ada perjalanan panjang yang tidak terucap.

Beberapa detik—

mereka hanya diam.

Karena di antara mereka—

terlalu banyak hal yang tidak mudah dibicarakan.

“Dulu…” Arini membuka suara.

Ryan menoleh.

Arini menatap ke depan.

Bukan ke arahnya.

“Dulu kamu bilang… kamu akan jadi sesuatu.”

Ia berhenti sejenak.

Menelan kata-katanya sendiri.

“Aku kira itu cuma… kata-kata.”

Ryan tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Arini.

Lalu berkata pelan,

“Aku juga dulu tidak tahu akan sampai sejauh ini.”

Arini tersenyum kecil.

Namun senyum itu tidak sepenuhnya bahagia.

“Sekarang kamu sudah sampai.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian.

Namun ada jarak di dalamnya.

Jarak yang tidak terlihat—

tapi terasa.

Ryan berjalan beberapa langkah.

Mendekat.

Namun tidak terlalu dekat.

“Dan kamu?” tanyanya.

Arini terdiam.

Pertanyaan itu sederhana.

Namun jawabannya—

tidak.

“Aku…” Arini menarik napas.

“Masih di tempat yang sama.”

Namun dari nada suaranya—

Ryan tahu.

Itu tidak sepenuhnya benar.

Karena di balik kalimat itu—

ada tekanan.

Ada sesuatu yang tidak ia katakan.

Ryan menatapnya lebih dalam.

“Kamu baik-baik saja?”

Arini tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum.

Dan itu sudah cukup—

untuk menunjukkan bahwa jawabannya tidak sesederhana itu.

Di luar—

suara mobil lewat terdengar samar.

Namun di dalam—

suasana terasa semakin sunyi.

“Ryan…”

Arini akhirnya memanggil namanya.

Pelan.

Namun jelas.

Ryan menoleh.

“Iya?”

Arini menatapnya.

Beberapa detik.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Namun…

tidak jadi.

“Tidak apa-apa,” katanya akhirnya.

Ryan mengernyit.

“Kamu yakin?”

Arini mengangguk.

Namun matanya tidak bisa berbohong.

Ia melangkah mundur sedikit.

Memberi jarak.

“Selamat sekali lagi,” katanya.

“Kamu pantas dapat ini.”

Ryan tidak menjawab.

Karena ia tahu—

kalimat itu bukan sekadar ucapan.

Tapi juga…

perpisahan kecil.

“Arini…”

Ryan memanggil.

Wanita itu berhenti.

Namun tidak langsung menoleh.

“Kalau ada apa-apa…”

Ryan berhenti sejenak.

“…kamu bisa bilang.”

Arini menutup matanya sebentar.

Lalu tersenyum tipis.

“Tidak semua hal bisa dibilang, Ryan.”

Kalimat itu pelan.

Namun…

meninggalkan sesuatu.

Ia melangkah pergi.

Pelan.

Tanpa menoleh lagi.

Dan Ryan—

hanya bisa berdiri.

Melihatnya pergi.

Tanpa menghentikan.

Beberapa saat kemudian—

pintu bengkel tertutup.

Dan Ryan kembali sendiri.

Namun kali ini—

bukan hanya sepi.

Tapi juga…

berat.

Ia menatap ke depan.

Namun pikirannya jauh.

Tentang Arini.

Tentang jarak.

Dan tentang sesuatu yang belum selesai.

Di tempat lain—

Dimas duduk bersama beberapa orang.

Wajahnya serius.

“Kita tidak bisa pakai cara biasa,” katanya.

Salah satu orang bertanya,

“Terus?”

Dimas tersenyum tipis.

“Kita serang dari yang dia jaga.”

“Bengkelnya?”

Dimas menggeleng.

“Bukan.”

Ia menatap ke depan.

Matanya tajam.

“Orangnya.”

Kembali ke Ryan—

ia masih berdiri di dalam bengkel.

Namun kali ini—

ia tidak menyadari bahwa langkahnya ke depan…

tidak hanya akan diuji oleh dunia luar.

Tapi juga…

oleh masa lalu yang belum selesai.

1
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
baru juga mau mulai belum apa² udah ada yang gak suka 🤦
Nur Wahyuni
seru
Nur Wahyuni
lanjut
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
O,oh .., tidak!!! jangan bikin aku nangis bawang kak .
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
ih ko sedih ya bayangin nya, jangan terlalu rumit lah kasian yang baca, next lanjut... semoga bagus ceritanya
Anto Sabar: insyaallah,makasih bnyk atas dukungannya senior.
total 1 replies
Nur Wahyuni
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!