Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu di antara benang dan berkas
Seminggu menjelang hari besar Azka dan Zivanna, kesibukan di Pesantren Salsabila mencapai titik didih. Sebagai kepala yayasan sekaligus sahabat mempelai pria, Ghibran nyaris tidak memiliki waktu luang. Ponselnya terus berdering, berkoordinasi dengan katering, vendor tenda, hingga mengurus izin cuti Azka yang sengaja ia buat menjadi sangat panjang sebagai hadiah pernikahan.
Di sisi lain, Aira mulai merasakan "sisi gelap" dari hormon kehamilannya. Selain mual yang belum sepenuhnya hilang, ia mulai menjadi sangat sensitif.
Siang itu, Aira sedang berada di lantai dua ndalem, mengawasi dari balkon bagaimana Ghibran tampak sangat akrab berdiskusi dengan Zivanna di bawah pohon jati. Zivanna tampak menunjukkan beberapa berkas administrasi butik yang akan ditinggalkannya selama bulan madu, dan Ghibran sesekali tertawa kecil menanggapi ucapan Zivanna.
Dada Aira terasa sesak. Logikanya tahu itu hanya urusan pekerjaan, tapi perasaannya berkata lain. Ia merasa Ghibran lebih banyak menghabiskan waktu dengan urusan pernikahan orang lain daripada mengusap perutnya yang kini mulai sedikit menonjol.
"Mbak, ini teh hangatnya," ujar seorang asisten butik baru yang disewa Ghibran.
"Letakkan saja di sana," sahut Aira singkat, matanya masih terpaku pada dua orang di bawah sana.
Protes Sang Desainer
Malam harinya, Ghibran masuk ke kamar dengan wajah yang sangat lelah namun tampak puas. Ia langsung menghampiri Aira yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku—atau lebih tepatnya, hanya memandangi halaman yang sama selama satu jam.
"Aira, persiapan aula sudah sembilan puluh persen. Azka benar-benar beruntung mendapatkan Zivanna, wanita itu sangat teliti mengurus rinciannya," ujar Ghibran sambil mulai melepas kancing kemejanya.
Aira tidak menjawab. Ia hanya membalik halaman bukunya dengan suara yang cukup keras.
Ghibran mengerutkan kening. Ia mendekat, berlutut di depan Aira. "Sayang? Kamu kenapa? Ada yang sakit?"
Aira menutup bukunya, menatap Ghibran dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kakak sepertinya sangat senang mengurus pernikahan mereka. Sampai-sampai tadi sore aku lihat Kakak asyik sekali mengobrol dengan Zivanna di bawah pohon."
Ghibran tertegun. Ia butuh waktu beberapa detik untuk menyadari apa yang sedang terjadi. "Tunggu... kamu cemburu pada Zivanna? Aira, dia itu adik angkatmu. Kami hanya membahas soal serah terima kunci gudang butik."
"Aku tahu!" seru Aira pelan, suaranya bergetar. "Tapi Kakak jarang sekali tertawa bersamaku belakangan ini. Kakak selalu sibuk dengan telepon, sibuk dengan Azka, sibuk dengan vendor. Aku... aku merasa Kakak lupa kalau ada aku dan bayi ini di sini."
Air mata Aira akhirnya tumpah. Kepanikan Ghibran kembali muncul, namun kali ini lebih lembut. Ia segera menarik Aira ke dalam pelukannya, membiarkan istrinya menangis di bahunya.
"Maafkan aku, Salsabila. Maafkan aku," bisik Ghibran sambil mengelus punggung Aira. "Aku tidak pernah bermaksud mengabaikanmu. Aku hanya ingin semuanya cepat selesai agar aku bisa mengambil libur panjang dan hanya fokus padamu. Hanya kamu."
Ghibran mengangkat dagu Aira, menghapus air mata di pipinya dengan ibu jari. "Besok, aku akan menyerahkan sisa urusan pada panitia santri. Aku akan menemanimu di butik seharian. Tidak ada ponsel, tidak ada Azka, tidak ada vendor. Hanya kita."
Godaan Azka yang Tak Kenal Waktu
Keesokan paginya, Ghibran benar-benar menepati janjinya. Ia duduk di pojok butik Aira, berpura-pura membaca buku padahal matanya terus mengikuti gerak-gerik Aira yang sedang memasang payet pada gaun pengantin Zivanna.
Ketentraman itu terusik ketika Azka masuk dengan langkah yang sangat ceria, membawa seikat bunga melati besar.
"Ghib! Di sini rupanya kau bersembunyi! Aku mencarimu di kantor yayasan sampai lumutan," seru Azka.
Ghibran meletakkan telunjuk di bibirnya. "Sstt! Aira sedang fokus. Jangan berisik."
Azka melihat Aira yang sedang serius, lalu melirik Ghibran yang duduk manis seperti asisten magang. Azka tertawa tanpa suara, mendekati Ghibran dan berbisik, "Kau kena hukuman, ya? Apa karena ketahuan memuji masakan Zivanna kemarin?"
"Azka, pergi sekarang atau aku batalkan katering mewahmu," ancam Ghibran dengan suara rendah.
"Galak sekali!" Azka malah menghampiri Aira. "Ra, jangan terlalu keras pada Singa ini. Dia tadi pagi merengek padaku minta diajarkan cara memijat kaki ibu hamil yang benar lewat YouTube. Sepertinya dia benar-benar merasa berdosa."
Aira tertawa mendengar ucapan Azka, rasa cemburunya semalam seketika hilang berganti rasa haru. Ia melirik Ghibran yang kini membuang muka karena malu rahasianya dibongkar Azka.
"Terima kasih informasinya, Mas Azka," sahut Aira jenaka.
"Sama-sama! Aku pergi dulu, mau memberikan bunga ini pada calon istriku. Semangat menjalani hukuman, Bos!" Azka melenggang pergi dengan siulan kemenangan.
Setelah Azka hilang dari pandangan, Ghibran menghampiri Aira, memijat bahunya dengan canggung namun lembut. "Jangan dengarkan Azka, dia terlalu banyak drama."
"Tapi Kakak benar-benar belajar cara memijat?" tanya Aira sambil menggoda.
Ghibran tidak menjawab, namun telinganya memerah. Ia hanya menarik Aira ke dalam dekapannya. "Apapun akan kulakukan, selama 'Mawar Salsabila'-ku ini tidak layu karena cemburu lagi."
Pagi itu, di tengah kesibukan menuju pernikahan sahabat, Ghibran dan Aira kembali menemukan ritme mereka. Bahwa di tengah dunia yang bising, pelukan satu sama lain adalah tempat pulang yang paling tenang.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂