Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Cengkraman Sang Pangeran
Suara derap kaki kuda yang beradu dengan jalanan berbatu di halaman The Velvet Menor terdengar seperti dentuman genderang perang bagi Aira.
Ia berdiri di depan cermin besar di aula utama, menatap pantulannya yang kini terbalut gaun bepergian berwarna hitam legam dengan aksen emas yang melingkar di pinggangnya yang ramping.
Topi kecil dengan cadar transparan menutupi sebagian wajahnya, memberikan kesan misterius sekaligus angkuh.
"Kereta sudah siap, Nyonya. Perjalanan menuju Istana akan memakan waktu tiga jam," suara Zane terdengar dari belakangnya.
Zane adalah pengawal yang ditugaskan Dante untuk mendampingi Aira hari ini.
Pria itu berdiri tegak, tangannya yang bersarung tangan kulit hitam berada di gagang pedangnya. Matanya yang tajam seperti elang tidak pernah lepas dari sosok Aira.
Berbeda dengan Dante yang penuh dengan interogasi kata-kata, Zane adalah pria yang mengawasi melalui keheningan yang menyesakkan.
Aira berbalik, mencoba menjaga dagunya tetap terangkat. "Di mana yang lain?"
"Dante sedang mengurus administrasi mansion, Kael sedang berpatroli, dan Julian... dia sedang menyiapkan 'perbekalan' tambahan untuk Anda di dalam kereta," jawab Zane datar.
Aira melangkah menuju kereta kuda yang megah. Saat ia naik, ia terkejut menemukan Julian sudah duduk di dalam, di kursi yang berhadapan dengan tempat duduknya.
Kereta itu sangat luas, dilapisi beludru merah gelap, namun kehadirannya membuat ruang itu terasa sempit dan penuh dengan hasrat yang tertahan.
"Kenapa kau di sini, Julian?" tanya Aira saat pintu kereta ditutup oleh Zane yang kemudian naik ke kursi kusir di luar.
Julian tersenyum, sebuah senyuman yang sangat manis namun terasa seperti jerat sutra di leher Aira.
"Saya khawatir Anda akan merasa bosan, Nyonya. Dan saya juga membawa teh khusus untuk menjaga agar 'jiwa' Anda tetap stabil saat bertemu dengan Pangeran nanti."
Kereta mulai bergerak perlahan. Guncangan kecil membuat tubuh mereka hampir bersentuhan.
Julian condong ke depan, matanya yang cokelat gelap menatap tajam ke arah mata hijau Aira di balik cadar.
"Anda tahu, Nyonya... Pangeran sangat mengenal Isabella. Dia mengenal setiap bekas luka, setiap nada suara, dan setiap kebohongan yang pernah Anda ucapkan," bisik Julian.
Ia mengambil tangan Aira, mengelus buku-buku jarinya dengan ibu jari secara perlahan—sebuah sentuhan yang intim sekaligus mengancam.
"Jika Anda salah bicara sedikit saja, dia tidak akan hanya curiga. Dia akan menghancurkan Anda."
Aira merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Tiba-tiba, ia melihat pantulannya di jendela kereta yang gelap. Isabella yang asli tampak duduk di samping Julian, menatap Aira dengan senyum kemenangan.
“Dia benar, Penipu. Pangeran akan tahu kau bukan aku hanya dari caramu bernapas,” bisik suara itu di kepala Aira.
"Julian, lepaskan tanganku," ujar Aira, suaranya sedikit bergetar.
Julian tidak melepaskannya. Malahan, ia menarik tangan Aira dan mencium punggung tangannya dengan sangat lama. Matanya tetap terkunci pada mata Aira.
"Ketegangan yang menyiksa ini... saya bisa merasakannya dari tangan Anda yang dingin. Apa yang Anda takutkan sebenarnya?"
Di luar, Zane yang sedang mengendalikan kuda-kuda, tiba-tiba memacu kereta lebih kencang saat mereka memasuki hutan kabut yang menjadi pembatas wilayah von Raven.
Suasana di dalam kereta menjadi semakin remang-remang. Julian kini berpindah duduk tepat di samping Aira, tangannya merangkul bahu Aira, menariknya lebih dekat hingga aroma tubuh Julian yang harum melati memenuhi indra penciuman Aira.
"Jangan takut, Isabella," bisik Julian di telinganya, hawa napasnya membuat Aira merinding.
"Selama Anda tetap menjadi milik saya, saya akan memastikan Pangeran tidak akan melihat apa pun kecuali apa yang ingin saya perlihatkan."
Aira menyadari bahwa perjalanan menuju Istana ini bukan hanya tentang menemui tunangannya, tapi tentang bagaimana ia bertahan dari perang dingin yang sedang dilancarkan para pelayannya untuk menguasai jiwanya yang kini terbagi dua.
Gerbang Istana yang berlapis emas terbuka lebar, menyambut kereta kuda keluarga von Raven dengan keangkuhan yang setara. Aira menarik napas panjang, mencoba meredam gemetar di tangannya yang tersembunyi di balik sarung tangan renda hitam.
Julian di depannya hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip dengan seringai pemenang.
"Ingat, Nyonya... Pangeran menyukai kepatuhan yang dibalut pemberontakan," bisik Julian saat kereta berhenti.
Zane membukakan pintu kereta. Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan emosi, namun matanya yang tajam mengawasi setiap sudut istana seolah-olah ia sedang bersiap untuk sebuah pembantaian.
Ia mengulurkan tangan untuk membantu Aira turun, cengkeramannya pada jemari Aira terasa sedikit lebih kuat dari biasanya—sebuah proteksi yang posesif.
Mereka melangkah masuk ke aula mawar, tempat Pangeran Valerius sudah menunggu.
Pangeran berdiri di dekat balkon, mengenakan jubah kebesaran yang mewah.
Saat ia berbalik, matanya yang kelabu menatap Aira dengan rasa lapar yang tidak disembunyikan.
"Isabella... tunanganku yang hilang," suara Valerius terdengar halus namun tajam. Ia melangkah mendekat, mengabaikan kehadiran Zane dan Julian yang berdiri kaku di belakang Aira.
"Pangeran," Aira membungkuk hormat, mencoba meniru keanggunan Isabella yang dingin.
Valerius tidak membalas sapaannya dengan kata-kata. Ia justru meraih pinggang Aira dengan sentakan kasar, menarik tubuh Aira hingga menempel pada tubuhnya yang keras.
Tangan Valerius yang besar naik ke leher Aira, jemarinya membelai bekas merah yang samar—bekas 'sentuhan' Isabella asli tempo hari—dengan cara yang sangat provokatif.
"Kau tampak berbeda, Isabella. Lebih... rapuh. Dan itu sangat merangsang," bisik Valerius di depan bibir Aira.
Pangeran kemudian menundukkan kepalanya, mencium leher Aira dengan napas yang memburu, tepat di hadapan Zane dan Julian.
Ia sengaja meninggalkan tanda kemerahan baru di kulit porselen Aira, sebuah klaim kepemilikan yang terang-terangan di depan para pelayannya.
Aira bisa merasakan atmosfer di ruangan itu seketika menjadi membeku.
Julian dan Zane hanya bisa berdiri diam, terikat oleh protokol istana yang melarang pelayan menyentuh bangsawan, namun kecemburuan yang membakar menghanguskan kewarasan mereka.
Di mata mereka, hanya mereka yang berhak menyentuh, menyiksa, dan memuja Nyonya mereka. Melihat pria lain—bahkan seorang Pangeran—mengambil hak itu di depan mata mereka adalah siksaan yang paling kejam.
"Lepaskan aku, Valerius. Kita sedang di tempat umum," bisik Aira, mencoba mendorong dada sang Pangeran.
Valerius justru tertawa rendah, ia menatap Julian dan Zane dengan pandangan menghina sebelum kembali menatap Aira.
Valerius menarik Aira lebih dalam ke dalam pelukannya, mencium bibir Aira dengan paksa dan penuh dominasi.
Aira terkesiap, tangannya mencengkeram jubah Pangeran demi mencari keseimbangan, sementara di sudut matanya, ia melihat bayangan Isabella asli di cermin aula sedang tertawa terbahak-bahak melihat kehancuran harga diri kedua pelayannya.
Aura di aula mawar itu mendadak menjadi pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah dihisap habis oleh kehadiran Pangeran Valerius. Valerius tidak hanya memeluk Aira; ia memenjarakannya.
Tangannya yang besar dan kuat mencengkeram pinggang Aira, menarik lekuk tubuh wanita itu agar menyatu dengan tubuhnya yang kokoh di balik jubah sutra emas.
"Kau tampak begitu kaku, Isabella," bisik Valerius, suaranya halus namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
"Apakah kau lupa bagaimana rasanya disentuh oleh pria yang akan segera memilikimu sepenuhnya?"
Tanpa menunggu jawaban, Valerius menunduk.
Ia tidak mencium bibir Aira dengan kelembutan; ia menghisapnya dengan lapar, menuntut kepatuhan yang biasanya diberikan Isabella yang asli.
Aira terkesiap, tangannya yang bersarung tangan renda hitam mencengkeram bahu Pangeran untuk menjaga keseimbangannya yang goyah.
Di tengah ciuman yang mendominasi itu, Aira bisa merasakan lidah Valerius yang kasar mencoba masuk, memaksa Aira untuk membuka pertahanannya di depan mata semua orang.
Namun, di balik punggung Pangeran, suasana jauh lebih mematikan.
Zane berdiri hanya beberapa langkah di belakang mereka. Matanya yang gelap kini berkilat dengan kemarahan yang nyaris tak terkendali. Tangan kanannya mencengkeram gagang pedang begitu kuat hingga sarung tangan kulitnya berderit keras—suara yang memecah kesunyian aula.
Zane ingin sekali menghunuskan bilah bajanya ke tenggorokan siapa pun yang berani menyentuh "miliknya", namun protokol istana merantai tangannya.
Rahangnya mengeras, otot-otot di pelipisnya berdenyut hebat saat ia melihat Pangeran mulai mencium leher Aira, meninggalkan tanda merah yang mencolok di kulit putih porselen itu.
Di sisi lain, Julian tampak lebih tenang, namun auranya jauh lebih beracun. Senyum manisnya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh tatapan dingin yang seolah sedang menguliti Pangeran Valerius hidup-hidup.
Jemari Julian meremas nampan perak yang ia bawa hingga logam itu sedikit melengkung di bawah kekuatannya. Dalam pikirannya, ia sudah merencanakan racun jenis apa yang paling menyakitkan untuk pria yang berani menodai Nyonya-nya dengan air liur yang menjijikkan itu.
"Hentikan... Valerius..." bisik Aira terengah-engah saat Pangeran melepaskan bibirnya sejenak untuk menatap para pelayan itu dengan pandangan menghina.
"Kenapa? Biarkan mereka melihat," Valerius tertawa rendah, sengaja mengelus dada Aira yang naik-turun karena napas yang sesak melalui kain gaun sutranya.
"Biarkan anjing-anjingmu ini sadar bahwa tidak peduli seberapa dekat mereka menjagamu di mansion, di tempat ini, aku adalah tuanmu yang sebenarnya."
Valerius menunduk lagi, kali ini ia menggigit kecil daun telinga Aira, sebuah tindakan yang sangat provokatif.
Aira merintih kecil, sebuah suara yang membuat Zane dan Julian hampir kehilangan kewarasan mereka.
Bagi mereka, suara itu adalah melodi yang hanya boleh mereka dengar di balik pintu tertutup mansion, bukan di depan mata seorang bangsawan angkuh.
Tiba-tiba, di pantulan cermin besar yang menghiasi dinding aula, Aira melihat sosok Isabella yang asli.
Sosok itu tidak lagi tersenyum jahat; ia tampak sangat puas, menatap Zane dan Julian dengan pandangan mengejek..
“Lihatlah mereka, Aira... mereka terbakar oleh api yang mereka ciptakan sendiri. Gunakan mereka, atau biarkan Pangeran ini menghancurkanmu,” bisik suara itu di kepala Aira.
"Cukup, Pangeran," suara Zane memecah ketegangan. Suaranya rendah, hampir seperti geraman serigala. Ia melangkah satu langkah maju, sebuah pelanggaran protokol yang fatal.
"Nyonya harus segera kembali untuk mempersiapkan jamuan malam ini. Perjalanan akan memakan waktu lama."
Valerius melepaskan pelukannya perlahan, matanya yang kelabu menatap Zane dengan penuh kebencian.
"Kau berani memerintahku, Pelayan?"
Julian segera menengahi dengan suara yang dingin namun sopan.
"Maafkan Zane, Pangeran. Dia hanya terlalu... berdedikasi pada jadwal Nyonya. Kami tidak ingin Nyonya kelelahan sebelum hari besarnya tiba."
Valerius mengabaikan Julian, ia kembali menatap Aira dan mengusap bibir Aira dengan ibu jarinya, menghapus sisa ciumannya dengan kasar.
"Pergilah. Tapi ingat, Isabella... tanda di lehermu itu adalah pesanku untuk siapa pun yang mencoba menyentuh apa yang menjadi milikku."
Aira segera berbalik, hampir berlari menuju pintu keluar. Saat mereka berjalan menuju kereta di bawah sinar bulan yang mulai muncul, atmosfer di antara mereka bertiga sangat mencekam.
Zane dan Julian berjalan di kiri dan kanan Aira, mengurungnya dalam proteksi yang terasa menyesakkan.
Saat pintu kereta tertutup dan mereka mulai menjauh dari Istana, Julian tiba-tiba menarik tangan Aira dengan kasar.
Wajahnya yang biasanya lembut kini tampak sangat gelap dan berbahaya di kegelapan kereta.
"Tanda itu..." bisik Julian, jemarinya menyentuh leher Aira yang memerah karena gigitan Pangeran.
"Sangat kotor. Saya tidak suka melihatnya di kulit Anda, Nyonya."
Zane yang duduk di samping Aira, tiba-tiba menarik bahu Aira hingga wanita itu bersandar pada dadanya yang bidang dan keras.
"Aku akan menghapusnya," suara Zane terdengar sangat parau oleh hasrat dan amarah yang tertahan.
"Hanya aku yang boleh meninggalkan tanda di tubuhmu."
Kereta itu berguncang hebat saat Zane memacu kudanya menembus hutan kabut, namun di dalam sana, sebuah pertempuran hasrat yang jauh lebih liar baru saja akan dimulai.
Lanjuutt