Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Apa itu malu? ~Aira
Ruang kelas XII IPS 2 mendadak hening saat Aira dan teman-temannya masuk tepat setelah bel masuk berbunyi. Beberapa murid yang sudah lebih dulu duduk langsung menoleh serempak. Bisik-bisik kecil menjalar cepat seperti api, jelas sekali mereka masih mengunyah kejadian di lapangan tadi pagi sebagai bahan gosip utama.
Mereka melirik ke arah Aira yang berjalan di barisan paling depan. Gadis itu tampak terlalu santai, langkahnya ringan, wajahnya cerah untuk ukuran seseorang yang baru saja dipermalukan di depan satu sekolah tanpa mendapatkan jawaban. Seharusnya ia malu. Seharusnya ia menunduk dan bersembunyi di balik punggung teman-temannya. Tapi apa itu malu bagi seorang Aira Putri Manggala?
Dalam kamus pribadinya, tidak dijawab bukan berarti ditolak. Namanya juga perjuangan, tidak seru kalau jalannya semulus jalan tol. Justru ada sensasi adrenalin tersendiri setiap kali ia mencoba meruntuhkan tembok es Leonel.
Aira duduk di kursinya seperti biasa. Tidak ada gurat murung, tidak ada tanda-tanda ingin menghilang ditelan bumi. Tatapan kasihan atau cemoohan dari beberapa teman sekelas sama sekali tidak ia gubris. Baginya, mereka hanya penonton di drama cintanya yang epik.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka kembali. Suasana yang tadinya mulai riuh langsung senyap seketika.
Bu Nilam masuk.
Guru Bimbingan Konseling itu berdiri di depan kelas dengan senyum lembutnya yang khas. Kehadirannya membuat dahi beberapa murid berkerut, sebab ini bukan jadwal pelajaran BK. Atmosfer kelas mendadak berubah sedikit tegang.
“Selamat siang, anak-anak,” sapa Bu Nilam tenang.
“Selamat siang, Bu…” jawab mereka serempak, meski nada suara mereka menyiratkan rasa penasaran.
“Baiklah, waktu beberapa menit ini Ibu hanya ingin memberi pengumuman singkat. Pekan depan, seluruh murid kelas XII akan mengikuti sesi Bimbingan Konseling gabungan. Kita akan belajar di luar kelas bersama semua jurusan.”
Seketika, kelas meledak dalam keramaian.
“Di luar kelas, Bu? Serius?”
“Gabung satu angkatan, Bu? IPA dan IPS jadi satu?”
Bu Nilam mengangguk mantap. “Ya. Materinya tentang visi dan misi setelah lulus nanti. Kalian masing-masing akan diminta menulis visi dan misi pribadi secara mendalam. Beberapa di antaranya akan Ibu minta untuk membacakan hasilnya langsung di depan teman-teman semua.”
Aira yang tadinya bersandar santai, perlahan menegakkan punggungnya. Matanya berbinar, seolah baru saja menemukan harta karun.
"Visi dan misi..." gumamnya sangat pelan, hampir menyerupai bisikan, dengan senyum misterius yang mulai mengembang di sudut bibirnya.
Anya yang duduk di sebelahnya langsung menoleh dengan alarm bahaya yang menyala di kepalanya. “Jangan aneh-aneh, Ra,” bisiknya penuh penekanan, tahu betul arti dari senyum "kreatif" sahabatnya itu.
Aira hanya tersenyum lebih lebar tanpa memberikan jawaban.
Satu angkatan berada di luar kelas secara bersamaan? Itu artinya ada kelas Leonel juga di sana! Gila... ini kesempatan yang sangat amat menarik! batin Aira bersorak kegirangan. Rencana ke-100 sepertinya sudah menemukan panggungnya sendiri.
☘️
☘️
☘️
Mobil Lamborghini warna hitam itu melaju sangat pelan saat memasuki sebuah jalan yang cukup sepi. Lampu depannya sengaja diredupkan, kecepatannya nyaris seperti orang yang baru pertama kali belajar menyetir. Di dalam kabin yang mewah itu, empat pasang mata bergantian melirik ke luar jendela dengan waspada, memastikan situasi benar-benar aman dari penglihatan orang asing.
“Ada orang?” bisik Aira dari balik kursi kemudi. Matanya lurus menatap ke depan, kedua tangannya mencengkeram setir dengan tegang.
Nathaniel yang duduk di sampingnya mencondongkan badan, mengintip ke depan lalu ke spion belakang berkali-kali. “Aman,” jawabnya pelan sambil memberikan isyarat jempol.
Mobil itu akhirnya berhenti dengan halus di pinggir jalan. Sebuah gang di samping mereka terlihat gelap; tidak terlalu sempit, tapi jelas tidak dirancang untuk dilewati mobil mewah. Itulah sebabnya mereka memilih turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki.
Klik.
Pintu mobil ditutup dengan sangat pelan, seolah takut suaranya akan membangunkan seluruh penghuni jalan tersebut. Mereka berempat lalu masuk ke dalam gang itu dengan langkah kaki yang dijinjitkan. Sesekali mereka serempak menoleh ke belakang, memastikan tidak ada warga atau satpam yang memperhatikan aksi mencurigakan mereka.
“Kamu yang naik ya, Nathan,” ujar Aira dengan suara yang nyaris hilang, setengah berbisik.
Nathaniel langsung menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak percaya. “Ih, kok aku…?”
“Ya kamu kan cowok! Masa aku terus yang manjat? Lagipula tenaga kamu kan lebih besar,” balas Aira cepat, memberikan alasan logis yang sebenarnya hanya kedok agar ia tidak perlu susah payah memanjat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo semuanya... selamat datang di karya baru aku. Ini kisah sederhana yang ringan, anaknya mami Aulia dan Mommy Alena nih😁
Yang suka ceritanya jangan lupa tinggalkan jejak sebagai dukungan ya. Dan yang nggak suka, bisa di skip tanpa meninggalkan jejak buruk.
Jangan lupa like, komen, subscribe, dan rate ya✨🫶
Selamat membaca🥰🥰