ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT III: Teman Baru, Cerita Baru
[Hari berikutnya: Jumat, 02 November]
“Ckckck, dasar kunyuk ini..” Karinn berkacak pinggang di barisan meja terakhir. Tangan kanannya memegang tongkat sapu sementara ia berdiri dengan wajah bersungut-sungut. Kedua alisnya menukik bagai jalan menanjak, lantaran batinnya terus menggerutu bahwa seharusnya pekerjaannya sudah selesai dalam sepuluh menit—toh, itu pekerjaan paling mudah, tapi nyatanya yang terjadi malah sebaliknya. Arloji di pergelangan tangannya menunjukkan waktu yang telah dihabiskan nyaris menyentuh angka setengah jam, dan itu karena ia harus berurusan dengan beberapa teman sekelasnya yang tertidur sehingga piketnya jadi terkendala. “Oi, naikkan kakimu!” Dia berseru lantang, berteriak persis di dekat telinganya. “Kubilang Naikkan kakimu!”
Si korban yang sedang berada di alam mimpi dengan air liur membasahi pipinya jadi terlonjak kaget. Kepalanya secara spontan langsung terangkat seakan bereaksi nyawanya ditarik paksa kembali ke raganya. “Astaga, suaramu, Karinn..” Dia mengacak rambut, frustasi begitu kelopak matanya terbuka hal yang pertama kali dilihatnya adalah wajah si pemilik nama yang sedang melotot.
“Kau tidak dengar? Mau kubuat telingamu sakit lagi, hu?”
Dia menyodorkan telapak tangannya, menutup mulut Karinn guna mencegahnya berteriak. “Sial.. Ya, akan kulakukan.” Setelah tuntas melaksanakan perintahnya, kepalanya langsung kembali jatuh ke permukaan meja—tertidur dan melanjutkan lagi mimpinya yang sempat terputus.
Sementara Karinn pindah ke meja berikutnya, ia cuma bisa bereaksi geleng-geleng kepala. Pikirnya hal tersebut sudah jadi makanannya sehari-hari, namun nyatanya ia masih belum terbiasa dengan lingkungan baru di tingkat kelas terendah ini—tingkat kelas 5. Padahal ini tahun ketiganya sejak dia turun tingkat pertama kali di SMP kelas 9, tapi tetap saja ada beberapa hal yang menurutnya masih terasa asing. Termasuk soal betapa fleksibelnya teman-temannya di sini.
Tidur di kelas walau kelas belum dimulai? Ck, hal macam itu mana pernah terjadi saat dia berada di tingkat kelas 1 dan 2. Semuanya benar-benar berbanding terbalik, bahkan hal terkecil seperti kerapian seragam sekalipun. Namun alih-alih belajar beradaptasi agar sefrekuensi dengan teman-temannya yang lain, ia justru memilih untuk terjebak di zona itu. Tentunya bukan serta merta tanpa alasan, karena ia pun tahu bahwa ada peran Drama yang harus dipertaruhkan sebagai gantinya.
Ya, benar. Jika bukan Drama, ia tidak akan perlu sampai harus mengalami lonjakan kondisi yang signifikan begini.
Namun apa boleh buat ... Manusia dan segala di sekitarnya berjalan di atas benang takdir.
Sekolah yang menjadi tempat terjadinya kasus ini pun juga demikian begitu. Jauh beberapa tahun ke belakang ... sekolah Endley dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan paling bergengsi di kota dengan sistem pembagian tingkat kelas yang diklasifikasikan berdasarkan prestasi akademik. Para siswi berlomba-lomba mendapatkan nilai terbaik agar dapat masuk ke tingkat kelas unggulan yang dianggap sebagai simbol status dan kebanggaan.
Namun tidak bertahan lama, sistem tersebut diganti secara keseluruhan tepat sebulan setelah seorang siswi ditemukan tewas di atap—diduga perundungan adalah penyebab kematiannya. Tragedi ini menjadi pukulan telak bagi seluruh komunitas sekolah, maka sebagai respons sekaligus penghormatan terakhir kepada korban, pihak sekolah memutuskan untuk merombak total sistem pembagian tingkat kelas yang sebelumnya berdasarkan prestasi akademik kini menjadi sistem penilaian perilaku individu. Tujuan utama atas perubahan tersebut adalah menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan sehat, di mana setiap siswi dihargai bukan hanya berdasarkan kemampuan akademiknya, tetapi juga sikap dan perilaku mereka terhadap sesama. Dengan menghilangkan hierarki berbasis nilai akademik, pihak sekolah berharap dapat meminimalkan tindakan saling menekan satu sama lain, juga mengembalikan citra hubungan sehat antar sesama; baik tanpa pandang bulu maupun kasta.
Seperti yang sudah diprediksi dalam rapat pertemuan bersama Pimpinan Yayasan, dampaknya sangat signifikan dan langsung terasa pada berbagai aspek. Banyak siswi-siswi bertalenta mulai mengajukan surat pindah sekolah dengan alasan serupa, yakni penurunan drastis pada fokus nilai akademik membuat mereka khawatir akan peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan universitas impian mereka. Para orang tua pun langsung menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan baru ini, dan menganggap bahwa sistem tersebut tidak adil bagi anak-anak mereka yang telah bekerja keras mencapai prestasi tinggi.
Kendati demikian, manajemen sekolah menyebutkan langkah ini adalah bentuk tanggung jawab moral atas tragedi masa lalu sekaligus upaya nyata untuk mencegah kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Karena itu, keputusan dinyatakan bulat dan sepuluh tingkat kelas kini dijadikan sebagai tolak ukur untuk menilai perilaku setiap individu.
“Oi, Karinn!” Niana berseru dari kursi belakang, memecah lamunan si pemilik nama.
“Mm?”
“Kau dapat kamar nomor berapa?” tanyanya langsung ke intinya tanpa basa-basi.
“Lima puluh lima.”
Niana menjentikkan jari, wajahnya bereaksi seolah mengatakan, “Sudah kuduga.”
“Kenapa?”
“Suara obrolan kalian terdengar sampai ke kamarku.”
“Apa yang salah dengan itu?”
Niana mengibaskan pergelangan tangannya, isyarat supaya Karinn mendekat kepadanya. “Kau sekamar dengan Irene, kan?” Nada suaranya terdengar lebih rendah, seolah mengandung makna lain.
Dengan wajah yang masih diselimuti semburat perasaan bingung, Karinn mengangguk saja.
“Gadis itu ... ada yang aneh dengannya. Apa kau memperhatikannya?”
“..Hu?”
“Wah, kau serius, Sherlock? Semua orang di sini yang setidaknya sudah pernah jadi teman sekamarnya walau sekali, tahu tentang itu. Bagaimana bisa kau—”
“Ini pertama kalinya kami jadi teman sekamar,” selanya.
“Benarkah? Kalau begitu tetap saja kau melewatkan bagian terpenting.”
Tongkat sapu yang tadi dipakainya piket jatuh ke lantai, sementara embusan angin tertinggal saat ia melesat pergi menghampiri meja Niana. “Kau bicara bertele-tele sejak tadi. Jadi sekarang katakan semua yang kau tahu. Apa itu?” Karinn menarik kursi kosong entah siapa pemiliknya, lalu duduk dengan memposisikan dirinya nyaman saat menerima gosip.
“Aih, kau memang maniak yang haus oleh rasa penasaran.”
“Cepat, katakan. Apa yang membuatmu berpikir dia aneh?”
Niana menyilangkan kedua tangannya ke dada, mulai bercerita. “Semalam kalian makan bersama dan mengobrol di balkon, kan?”
Karinn mengangguk lagi, namun kali ini sepertinya ia paham maksud perkataan si lawan bicara. “Karena itukah kau bertanya soal nomor kamarku?”
Sembari menyeruput es kopinya, Niana mengangkat kedua alisnya. “Sudah kuduga kau akan menyadarinya.”
“Oi, kau.. Apa yang kau maksud aneh darinya adalah tentang gerak-geriknya saat membicarakan kasus itu?”
“Bingo!” Niana menjentikkan jari lagi. Pikirnya gosip hari ini cukup mudah disampaikan karena lawan bicaranya juga tipe yang peka terhadap sekitarnya—tidak asyik.
Sementara itu setelah topik obrolan berakhir, atensi Karinn teralihkan menatap ke arah lain, merenung dengan isi kepalanya sejenak. Dengan pernyataan salah seorang teman sekelasnya, kini dia tahu fakta bahwa kecurigaannya pada malam itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh dirinya saja. Irene. Sejak awal memang ada hal yang mengganjal darinya. Semuanya menyadari itu, namun ... apa yang membuatnya melakukan kesalahan sampai gerak-gerik mencurigakannya terbaca berulang kali? Pertanyaan itu jelas masih menggantung di udara tanpa jawaban.
“Terlebih saat dia mengomentari pernyataan Kak Villy, wajahnya yang berbicara benar-benar tidak dapat disembunyikan,” lanjut Niana lagi, mendadak terbesit di benaknya tentang hal yang paling diingatnya—alias mencurigakan—dari gadis itu.
“Kak Villy? Dia ada di sana juga?”
Niana mengangguk. “Hanya di dua kesempatan (dua kali jadi teman sekamar).” Kelepasan menyinggung senior itu, ia merasa jadi teringat akan sesuatu. “Omong-omong, apa kau tahu soal konspirasi antara Irene dengan Kak Villy dan Kak Ayaa?”
Karinn mendekatkan wajahnya secara refleks, membuka mulutnya sembari berkata dengan bingung. “...Hu? Konspirasi?”
...• • • • • ...
Pintu berderit pelan—tentunya sudah didahului oleh ketukan dan konfirmasi jawaban dari dalam. Bu Kaila masuk dengan membawa sebuah kardus berisikan setumpuk kertas yang merupakan berkas data minat kampus kelas 12 yang telah disusunnya dengan cermat selama beberapa minggu terakhir. Di dalam berkas tersebut terdapat hasil survei yang dilakukan terhadap para siswi mengenai pilihan jurusan dan universitas yang mereka inginkan.
“Maaf aku agak terlambat memberikannya, pak. Ada beberapa siswi yang absen karena sakit, jadi kuputuskan untuk menunggu supaya tidak ada yang tertinggal,” ujar Bu Kaila sembari meletakkan kardus tersebut di atas meja tamu.
“Tidak masalah, akan lebih baik jika begitu.” Riyan meninggalkan pekerjaannya sejenak, kemudian menghampiri Bu Kaila untuk bercengkerama. “Bagaimana hasilnya? Kau sudah memeriksanya?”
“Tidak semua, aku hanya memeriksa hasil survei milik kelasku (11-5). Dan yah, aku cukup terkesan. Pilihan mereka benar-benar menggambarkan bagaimana mereka saat ini.”
“Kau punya anak-anak yang kreatif, bu. Satu dengan yang lainnya pasti berbeda.” Riyan tertawa tipis, menanggapi lelucon. “Oh ya, omong-omong persiapan seminar ada sedikit kendala. Beberapa pembicara utama tiba-tiba membatalkan kehadiran karena jadwal mereka serentak dengan sekolah lain. Aku sedang mencoba mencari pengganti secepat mungkin. Katanya Pak Edwin juga akan membantu, tapi dia belum menghubungiku.” Riyan mengambil ponselnya dari saku celananya, menatap kosong layar hitamnya yang tak berarti apa-apa. “Sepertinya kali ini kita menghadapi masalah yang agak pelik.”
Bu Kaila mengetuk-ngetuk berkas di dalam kardus, berpikir sejenak. “Jadwalnya serentak, ya? Mungkin karena sekolah-sekolah di pinggiran pusat melakukannya juga. Jika begitu, apa boleh buat. Kita tidak bisa membatalkan seminar karena sudah begitu banyak persiapan. Baiklah, bagaimana kalau agenda tetap pada jadwalnya, namun waktunya diundur lebih sedikit? Kita bisa mengundang para alumni dari sini untuk berbagi pengalaman sampai pembicara datang. Aku yakin anak-anak juga pasti akan jadi lebih akrab.”
“Kalau begitu, pasti akan terjadi perpanjangan waktu. Bisa-bisa siswi kelas 12 akan kembali ke asrama lebih larut. Selain itu, ada kemungkinan mereka juga akan meninggalkan wawancara polisi.”
Bu Kaila mengeluarkan selembar catatan rangkaian agenda dari dalam tasnya, menyerahkannya ke hadapan Riyan. Kertas tersebut tampak cukup kotor oleh banyaknya coretan bolpoin dan penanda stabilo, merupakan bukti nyata dari rapat pertemuan yang telah diikuti beberapa kali. “Aku bersama panitia penyelenggara (para guru) telah membahas permasalahan ini. Setelah melewati banyak pertimbangan, muncul sebuah solusi untuk membagi acara seminar menjadi dua sesi. Satu sesi setelah pulang sekolah, dan sesi berikutnya dilanjut setelah kelas mandiri. Bagaimana menurutmu, pak?”
Riyan tidak langsung memberikan jawaban, dia berpikir sejenak untuk menimbang-nimbang usul tersebut. “Untuk saat ini kurasa itu ide bagus. Kita akan membahasnya lebih lanjut dalam rapat. Mari kita lakukan.” Sembari balas tersenyum pada Bu Kaila, ia mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi Pak Edwin guna mengabari bahwa solusi atas permasalahan seminar sudah ditemukan. Namun baru juga ponselnya dihidupkan, pintu terketuk tiga kali dan seorang tamu masuk dengan tergopoh-gopoh.
Dia melonggarkan ikat dasinya, lantas menyandarkan punggungnya di bangku. Napasnya memburu, rambutnya tampak berantakan seolah menunjukkan betapa frustasi dirinya pada pagi dini hari. Riyan dan Bu Kaila yang tak tahu apa-apa pun hanya bereaksi saling bersitatap, tak ada yang berani bertanya karena tahu pria berumur 50-an itu cenderung galak saat berada di situasi begini.
Semenit kemudian, tamu lain datang. Kehadirannya tampak santai seolah embusan angin ikut berjalan menyertai langkahnya. “Riyan, kau sungguh keterlaluan,” kata Pak Bams sembari duduk di sebelah Bu Kaila.
Riyan yang disebut namanya tanpa tahu apa yang telah terjadi, membuka telapak tangannya—mengatakan “Ada apa?” dengan bahasa tubuhnya.
“Karena kau bilang pembicara yang akan diundang dalam seminar mendadak membatalkan kehadiran, jadi kami pergi menemui mereka untuk bernegosiasi. Dan dia..” Pak Bams menunjuk ke orang di seberangnya, Pak Edwin yang masih berurusan dengan napasnya yang tidak beraturan. “Kami pergi ke tiga tempat berbeda. Dan selama perjalanan dia mual-mual seperti orang sekarat. Aku sungguh kerepotan membawanya pergi. Kupikir dia akan berguna karena pandai dalam membujuk, nyatanya malah terlihat seperti aku sedang mengurus ibu hamil.”
Pak Edwin yang tak terima dibicarakan macam-macam pun lantas bangkit dari sikap bersandar, balas menyahut, “Pak Bams, kukira Pak Riyan sudah paling keterlaluan dalam tidak memahamiku. Ternyata kau ... Wah, kau sungguh tiada taranya.” Pak Edwin menyambar amplop cokelat di tangan Pak Bams, lalu menyerahkannya ke hadapan Riyan.
“Apa ini?” tanyanya.
“Jadwal dan agenda ketiga pembicara di hari yang sama. Ya, singkatnya kita gagal (bernegosiasi).”
“Kau menemukan solusi lain, pak? Kita tidak bisa menghancurkan seminar setelah begitu banyak persiapan telah dilakukan,” Pak Bams menatap lekat Riyan yang sedang memeriksa berkas tersebut, menunjukkan kekhawatirannya.
“Tentu, Bu Kaila memberikan usul cerdas agar seminar tetap berjalan dengan mengundang ketiga pembicara.”
“Sungguh?” Pak Edwin dan Pak Bams bereaksi serentak, antusias bercampur rasa penasaran. Mereka saling melirik sesaat sebelum segera berpindah tempat duduk, mendekati Bu Kaila. Dengan penuh saksama, mereka mencondongkan tubuh ke arah berkas seminar yang kini terbuka di atas meja. Berkas itu memuat rangkaian agenda yang telah disusun dengan cermat oleh tim penyelenggara—lengkap dan menyeluruh, mencakup kegiatan kelas 12 setelah jam sekolah sampai kedatangan para alumni untuk mengisi acara.
Sementara itu, Riyan kembali ke meja kerjanya, duduk berhadapan lagi dengan laptop dan secangkir americano hangat yang belum dihabiskan. Ruangannya yang semula sunyi—tak terdengar suara apa pun selain bunyi papan keyboard dan mesin cetak, kini menjadi ramai oleh suara obrolan para tamu. Dia tersenyum tipis saat sesekali atensinya melirik, namun begitu kemudian manik matanya tertuju pada Bu Kaila, senyumnya perlahan memudar seiring ingatannya membawa kembali dirinya ke hari sebelumnya.
Kemarin ... Di hari yang bertepatan dengan kedatangan Nek Mira, dia menerima fakta lain selain Nek Mira belum mengetahui kematian Keisha. Yakni...
“Bu Kaila?” Riyan mengernyitkan dahi, wajahnya tampak dipenuhi oleh semburat bingung.
Pak John yang ditatap juga bereaksi sama. Dia tidak tahu apa yang salah dengan ucapannya barusan, dan tahu-tahu saja tanpa sadar semburat kepanikan membayang di wajahnya. “...Pak Riyan, kenapa kau membuat wajah begitu? Apa aku mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan?”
“....Tidak, bukan begitu. Maksudku ... tolong jelaskan bagaimana kau bisa tahu tentang hal itu? Kau bilang Bu Kaila?”
Pak John menelan ludah, mendadak perasaan gugup menyelimuti sekujur tubuhnya. Kendati keringat yang mulai bercucuran di dahinya menunjukkan bahwa ia masih ragu untuk berterus terang, tetap saja perasaannya itu kalah oleh wajah si lawan bicara yang lekat menatapnya menunggu jawaban. “....Begini. Pada hari permainan kelompok asrama dua bulan lalu...”
Ini juga merupakan salah satu tradisi unik yang sangat dinanti-nantikan setiap bulannya: 'Permainan Kelompok Asrama' namanya. Kegiatan ini tidak hanya menyajikan berbagai macam permainan yang menyenangkan karena dimainkan dalam suatu tim, tetapi juga menciptakan suasana ramai dan penuh semangat karena melibatkan seluruh guru dan petugas asrama yang berperan sebagai pembawa acara, serta para siswi dengan segudang strategi dan jiwa kompetitif.
Ketika itu, Pak John beserta beberapa petugas asrama lain sedang sibuk mempersiapkan api unggun besar untuk acara penutup malam nanti setelah permainan selesai. Tugas ini sebenarnya tampak sederhana—menyusun kayu bakar dalam formasi kerucut raksasa dan memastikan semuanya siap menyala tepat waktu. Namun bagaimanapun, hari sial memang tidak tertera di kalender; hujan gerimis turun sejak matahari meninggi sampai nyaris hampir tenggelam, membuat api sulit menyala meskipun sudah menggunakan cairan pembakar tambahan.
Dalam kerepotan yang ditanganinya bersamaan urusan lain, ia memberanikan diri meminta bantuan Riyan untuk menyulut api—memeriksa apakah api unggun tersebut dapat menyala tanpa kendala.
“Ya,” Pak John mengangguk, menjawab tanpa ragu sembari melirik pada Riyan dan Pak Sion yang sedang berjongkok di dekat tumpukan kayu.
“Jangan biarkan dia melakukannya.” Bu Kaila menggenggam lengan Pak John, menghentikan gerakannya yang sibuk menurunkan dus-dus camilan ringan dari mobil bak terbuka. “Serahkan pekerjaan ini padaku, dan gantikan dirimu dengannya.” Ia membuka ponselnya, mengirimkan pesan ke grup obrolan guru supaya dapat kesediaan untuk datang membantu.
“....Kenapa begitu, bu? Apa ada yang salah?”
Bu Kaila menyodorkan ponselnya, menunjukkan sebuah artikel berita dari internet—'Mobil Oleng dan Tabrak Truk, Ciptakan Kecelakaan Beruntun' tercetak tebal sebagai judul. “Pak John, kau tahu berita ini?” tanyanya.
Ia membetulkan posisi kacamatanya sejenak sembari membacanya perlahan kata demi kata. Lantas kemudian, bahunya tersentak diikuti suara yang keluar dari kerongkongannya dengan gugup. “Itu... Tentu aku tahu. Adikku ... ada di sana dan menjadi salah satu korbannya.”
“Benar, pasti mengerikan mengingat bagaimana mobil-mobil itu terbakar di bawah rintik hujan.”