Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Brilian Morgan
Aula besar universitas pagi itu dipenuhi oleh desas-desus ratusan mahasiswa yang berkumpul untuk menghadiri kuliah umum paling dinantikan semester ini. Ruangan tersebut memiliki arsitektur megah dengan langit-langit tinggi dan barisan kursi teater yang melingkar, menciptakan atmosfer akademis yang sangat kental. Liana Shine duduk di barisan tengah, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik tudung jaket tipisnya, namun matanya tetap tertuju pada podium kayu di depan sana.
Tepat pukul sepuluh, lampu aula sedikit meredup, menyisakan cahaya sorot yang fokus pada tengah panggung. Morgan Bruggman melangkah masuk dengan setelan jas tiga lapis berwarna biru gelap yang dipotong sempurna mengikuti postur tubuhnya yang tegap. Ia tidak membawa tumpukan catatan; hanya sebuah kendali jarak jauh kecil di tangan kanan dan ekspresi wajah yang sangat tenang.
Begitu Morgan berdiri di belakang mikrofon, keheningan instan menyelimuti ruangan. Suara baritonnya menggema ke seluruh penjuru aula saat ia mulai berbicara tentang Global Economic Transformation.
"Ekonomi bukan hanya tentang angka di atas kertas," Morgan memulai narasinya sambil berjalan perlahan di sepanjang panggung, kedua tangannya bergerak dengan isyarat yang terkontrol dan berwibawa. "Ia adalah jantung dari peradaban yang berdenyut setiap kali manusia melakukan pilihan."
Liana tertegun. Ia telah melihat Morgan yang menyebalkan di rumah, Morgan yang kaku di meja makan, dan Morgan yang dingin sebagai dosen kelas. Namun, Morgan yang berdiri di podium ini adalah sosok yang berbeda. Cara Morgan membedah teori yang rumit menjadi analogi yang mudah dipahami, cara ia menjawab pertanyaan kritis dengan logika yang tak terpatahkan, benar-benar memukau.
"Gila, Pak Morgan tampan sekali kalau sedang serius begitu," bisik seorang mahasiswi di belakang Liana.
"Bukan hanya tampan, dia sangat jenius. Aku dengar dia baru saja menolak tawaran menjadi konsultan kementerian demi tetap mengajar di sini," sahut mahasiswi satunya lagi dengan nada memuja.
Liana meremas ujung jaketnya. Ia merasakan desiran aneh di dadanya—rasa bangga yang muncul tanpa seizinnya, namun segera diikuti oleh rasa kesal yang tak beralasan. Ia ingin berteriak kepada mahasiswi-mahasiswi itu bahwa "Dewa" mereka adalah pria yang memaksanya makan brokoli setiap pagi, namun ia hanya bisa diam membeku. Setiap kali Morgan melemparkan senyum tipis setelah mematahkan argumen lawan bicaranya, Liana merasa jantungnya berdegup lebih kencang.
Kuliah umum berakhir dengan tepuk tangan riuh yang seolah tidak mau berhenti. Liana bermaksud segera keluar untuk menghindari kerumunan, namun langkahnya terhenti saat melihat sekelompok staf dosen naik ke atas panggung untuk memberikan selamat.
Di antara mereka, ada seorang wanita bernama Renata, dosen muda dari fakultas hukum yang dikenal karena kecantikannya yang elegan. Renata melangkah maju dengan sebuah buket bunga lili putih besar di tangannya. Ia berdiri cukup dekat dengan Morgan, menyentuh lengan jas Morgan dengan gerakan yang tampak begitu akrab dan natural.
"Presentasi yang sangat brilian, Morgan. Aku tidak menyangka kau bisa membawakan topik seberat itu dengan begitu puitis," ucap Renata, suaranya terdengar cukup keras melalui sisa audio mikrofon yang masih menyala.
Morgan sedikit memundurkan langkahnya, menciptakan jarak fisik yang sopan namun tegas. Ia mengangguk kecil tanpa mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih hangat. "Terima kasih, Renata. Itu hanya hasil riset biasa."
"Jangan terlalu rendah hati. Bunga ini untukmu, sebagai tanda apresiasi dariku," Renata menyerahkan buket itu sambil menatap mata Morgan dengan binar yang tidak bisa disembunyikan.
Liana yang masih berdiri di barisannya merasa suhu tubuhnya naik drastis. Ia menatap tangan Renata yang masih mencoba mencari celah untuk menyentuh Morgan lagi. Rasa panas merambat dari perut hingga ke wajahnya. Tanpa sempat berpikir logis, Liana melangkah menuruni tangga aula dengan cepat, menerobos kerumunan mahasiswa yang masih berkerumun di depan panggung.
Ia naik ke atas panggung dengan langkah yang menghentak, membuat beberapa dosen menoleh heran. Liana berhenti tepat di samping Morgan, napasnya sedikit memburu. Ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan, ia hanya tahu bahwa ia tidak tahan melihat wanita lain memberikan bunga pada suaminya.
Renata menoleh, alisnya bertaut melihat mahasiswi yang tiba-tiba muncul di antara mereka. "Ada yang bisa dibantu, mahasiswi?"
Liana tidak menjawab Renata. Ia justru menatap Morgan dengan tatapan menuntut yang tajam. Morgan yang memiliki kepekaan tajam terhadap perubahan emosi di sekitarnya, segera menyadari kilat amarah dan kecemburuan di mata Liana.
Morgan menerima buket bunga dari tangan Renata dengan satu tangan, namun sebelum Renata sempat berkata apa-apa lagi, Morgan langsung mengalihkan bunga itu kepada Liana.
"Kebetulan sekali kau di sini, Liana," ucap Morgan, suaranya terdengar sangat otoriter namun ada sedikit tekanan pada nada bicaranya. Ia meletakkan buket bunga itu ke dalam pelukan Liana, memaksa gadis itu memegangnya.
Liana tertegun, menatap buket lili itu dengan bingung.
"Bawa bunga ini ke ruangan saya sekarang. Letakkan di dalam vas di atas meja kerja saya," perintah Morgan sambil menatap Liana lurus-lurus. Matanya seolah mengirimkan pesan rahasia: 'Pergilah ke sana, kita akan bicara setelah ini'.
Renata tampak terkejut dan sedikit tersinggung melihat bunga pemberiannya diberikan begitu saja kepada seorang mahasiswi untuk dijadikan "kurir". "Morgan, aku pikir bunga itu untuk menghias mejamu, bukan untuk dibawa lari oleh mahasiswamu."
"Meja saya sudah penuh dengan dokumen, Renata. Mahasiswi ini—Liana—adalah asisten tugas khusus saya hari ini. Dia akan mengurusnya," jawab Morgan pendek tanpa menoleh ke arah Renata. Ia kembali menjaga jarak, memasukkan satu tangannya ke saku celana, memberikan sinyal bahwa percakapan dengan Renata telah berakhir.
Liana yang tadinya ingin meledak, tiba-tiba merasa sedikit menang saat melihat ekspresi kecewa di wajah Renata. Namun, kekesalannya belum hilang sepenuhnya. Ia merenggut buket bunga itu dengan kasar, memeluknya seolah itu adalah benda paling berat di dunia, lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ia berjalan keluar aula dengan langkah lebar, melewati para mahasiswi yang menatapnya dengan iri. Liana tidak peduli. Ia terus berjalan menuju gedung fakultas, naik ke lantai empat, dan masuk ke ruangan Morgan yang sunyi.
Sesampainya di dalam, Liana tidak meletakkan bunga itu di vas. Ia justru melempar buket itu ke atas meja kerja Morgan yang rapi hingga beberapa helai daunnya berserakan. Ia duduk di kursi tamu, menyilangkan tangannya, dan menunggu dengan napas yang masih tersengal.
Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan terbuka. Morgan masuk dan langsung mengunci pintu di belakangnya. Ia melepaskan kancing jasnya, meletakkannya di sandaran kursi, lalu berjalan mendekati meja tanpa melihat buket yang berantakan itu.
"Kenapa kau bertingkah seperti itu di aula?" tanya Morgan, suaranya rendah namun penuh selidik. Ia berdiri di hadapan Liana, menumpukan satu tangannya di meja, mengurung Liana dengan kehadirannya yang dominan.
"Apa urusanku? Aku hanya tidak suka melihat dosen memberikan bunga seperti itu di tempat umum. Itu tidak profesional!" dalih Liana, meski suaranya sedikit bergetar.
"Renata sudah memberikan bunga itu setiap kali saya selesai kuliah umum selama dua tahun terakhir," ucap Morgan tenang. Ia mengambil buket yang tergeletak miring dan memperbaikinya dengan gerakan jemari yang sangat lambat. "Tapi baru kali ini ada mahasiswi yang naik ke panggung dengan wajah seperti ingin membakar seluruh aula."
"Aku tidak cemburu!" teriak Liana sebelum Morgan sempat menuduhnya.
Morgan menghentikan gerakannya. Ia sedikit membungkuk, membawa wajahnya sangat dekat dengan wajah Liana hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Liana bisa mencium aroma parfum Morgan yang maskulin dan dingin, bercampur dengan aroma bunga lili yang menyengat.
"Saya tidak mengatakan kau cemburu, Liana," bisik Morgan, matanya mengunci mata Liana dengan intensitas yang mengerikan. Ia bisa melihat pupil mata Liana yang membesar dan rona merah di pipinya yang bukan karena amarah. "Tapi tindakanmu tadi sangat berisiko. Jika kau tidak bisa mengontrol emosimu, orang-orang akan mulai bertanya-tanya mengapa asisten tugas khusus saya begitu protektif terhadap dosennya."
"Terserah! Berikan saja bunga itu kembali pada dosen cantik itu!" Liana mencoba berdiri, namun Morgan menahan bahunya, menekannya kembali ke kursi.
"Bunganya sudah ada di sini. Dan saya yang memintamu membawanya ke sini agar kau punya alasan untuk berada di ruangan saya saat saya kembali," Morgan menjauhkan wajahnya, lalu mengambil sebuah vas kaca kosong dari lemari buku. "Saya tidak memiliki perasaan apa pun pada Renata. Saya menjaga jarak darinya bukan karena saya membencinya, tapi karena saya tahu apa yang saya miliki di rumah jauh lebih ... menantang untuk ditangani."
Liana terdiam. Jantungnya berdebar kencang mendengar kata terakhir Morgan.
"Sekarang, bantu saya menata bunga ini," ucap Morgan, kembali ke mode kaku dan dinginnya. Ia menyodorkan setangkai bunga lili yang sudah ia rapikan kepada Liana. "Atau kau lebih suka duduk di sana dan terus merasa kesal sampai jam kuliah berikutnya?"
Liana merampas setangkai bunga itu, namun kali ini ia tidak melemparnya. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia memasukkan bunga itu ke dalam vas. Morgan berdiri di sampingnya, mengawasi setiap gerakannya dalam keheningan yang tebal namun tidak lagi menyakitkan. Di ruangan yang hanya berisi mereka berdua, rasa panas di hati Liana perlahan mendingin, berganti dengan kebingungan yang lebih dalam tentang perasaannya sendiri terhadap pria yang baru saja ia "selamatkan" dari wanita lain.