Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 telur naga
Dua hari berlalu meksipun pihak Jepang sudah berusaha untuk membuat voltra nyaman. Tapi tetap saja setelah dua hari kuliner disana sini dan juga sesekali menyelesaikan gate, voltra memilih untuk pulang ke Indonesia. Tentunya bagi Alina itu adalah kemenangan telak.
"Wah mereka benar-benar memberi banyak barang" Gumam Raven membuka kacamata melihat banyak barang di pesawat.
"Setelah mereka tidak bisa menyakinkan voltra, mereka mencoba untuk memberikan kesan agar voltra memiliki hubungan baik dengan Jepang" ucap Alina bersedekap dada sambil duduk di kursi pesawat.
"Bangunkan aku saat kita tiba" Ujar voltra mencari posisi nyaman untuk tidur.
"Kau punya wawancara di bandara nanti" ucap Alina memberitahu. "Karena kau sudah setuju untuk bergabung dengan guild ku" Lanjutnya sangat senang.
"Merepotkan sekali" Gumam voltra menutup mata.
Beberapa jam berlalu, pesawat jet pribadi akhirnya tiba di bandara terdekat. Voltra, Alina, Raven dan para hunter Indonesia lainnya berjalan di lorong bandara untuk keluar, siapa sangka akan ada banyak orang di luar dan semuanya meneriaki nama mereka cukup keras.
"Sepertinya kau punya banyak fans" goda Raven.
"Aku tidak tertarik pada fans ataupun yang lainnya" Balas voltra malas.
"Reporter datang" ucap Alina menepuk punggung voltra.
Voltra membalas dengan mendengus kesal, dia ingin cepat pulang dan melihat keadaan Vanya. Bantu reporter menyodorkan mikrofon kearahnya, tentu saja selain berita voltra di Jepang, mereka juga ingin meliput dan bertanya secara langsung pada hunter S ketujuh Indonesia itu, ia bergabung di guild mana.
"Tuan voltra, apa anda sudah memutuskan untuk masuk ke guild mana atau anda ingin membuat guild sendiri?" Tanya seorang reporter wanita.
"Tidak!. Aku tidak berniat membuat guild ku sendiri karena itu merepotkan, aku lebih suka bekerja sendiri" Jawab voltra menatap malas. "Tapi mengenai guild, aku sudah membuat keputusan untuk bergabung dengan ISG" Lanjutnya menujuk Alina.
"Apakah ada sesuatu khusus yang membuat anda bergabung dengan guild milik nona Alina?" Tanya reporter itu kembali.
"Yah guild itu lebih baik dibandingkan milik Raven" jawab voltra membuat Raven berpura-pura kesakitan sambil memegang dadanya. "Untuk detailnya kalian bisa tanyakan pada orang itu" Lanjutnya menujuk Alina.
Alina segera mengambil alih kendali situasi dengan senyum profesionalnya yang paling menawan, sementara Voltra mulai melangkah menjauh, mengabaikan jepretan kamera yang terus menyambar.
"Seperti yang Hunter Voltra katakan, ISG sangat bangga menyambutnya sebagai anggota inti. Kami telah menyiapkan struktur khusus yang mendukung fleksibilitasnya sebagai Hunter Rank S" jelas Alina kepada para reporter yang kini mengerubunginya seperti semut menemukan gula.
Raven, yang ditinggalkan begitu saja setelah dihina, menyusul Voltra dengan langkah gontai. Yah dia memang bukan pemimpin yang baik, bahkan guild nya kadang naik turun dari peringkat.
"Oi! Setidaknya bilang kalau guild-ku punya camilan yang enak kek! Kenapa kau jujur sekali soal reputasi guild-ku yang berantakan itu?"
"Kenyataan itu memang pahit, Penyihir" sahut Voltra tanpa menoleh.
Begitu mereka berhasil menembus barisan pengawal dan masuk ke dalam mobil jemputan, Voltra langsung menyandarkan kepalanya. Rasa lelah yang tidak ia tunjukkan di depan kamera mulai terasa.
**********
Mobil berhenti tepat di depan apartemen mewah mereka. Voltra turun tanpa menunggu yang lain, ia menaiki lift dengan perasaan tidak sabar. Saat pintu apartemen terbuka, aroma gurih dan pedas langsung menyambut indra penciumannya.
"Kakak!" Pekik vanya gembira.
Vanya berlari dari arah dapur, masih mengenakan celemek bergambar kucing. Ia langsung memeluk kakaknya dengan erat.
"Aku pikir kau akan tinggal di Jepang selamanya karena ditawari jadi bintang iklan sushi!" ucap vanya cemberut.
Voltra menepuk kepala adiknya perlahan, aura dingin yang ia tunjukkan di depan media internasional kini lenyap tak berbekas. Alasan vanya memasak karena ia melihat voltra di televisi secara live, lagipula berita itu tersebar seperti hembusan angin.
"Terlalu banyak orang aneh di sana. Tidak ada yang bisa memasak sepedas ini" Gumam voltra tersenyum.
"Hehe, aku sudah siapkan semuanya! Ada ceker ayam mercon, ayam goreng, dan jus jeruk!" Balas Vanya menarik tangan Voltra ke meja makan yang sudah penuh.
duduk dan mulai makan dengan lahap, jauh lebih lahap daripada saat ia menyantap wagyu di hotel bintang lima Tokyo. Namun, di tengah makannya, ia melirik ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta.
"Vanya" panggil Voltra tiba-tiba.
"Ya, Kak?" Tanya vanya.
"Besok, aku akan memasang beberapa 'alat pengaman' tambahan di apartemen ini. Jangan kaget kalau kau melihat cahaya ungu di sudut-sudut ruangan" ujar voltra tidak bisa tidak waspada.
"Apa... apa perjalanannya ke Jepang seberbahaya itu? Atau ada orang jahat yang mencarimu lagi?" Tanya vanya meremas tangannya sendiri.
"Hanya untuk memastikan tidak ada serangga yang mengganggu tidurmu. Makanlah, jangan sampai dingin" Dalih voltra melihat ketakutan vanya.
Setelah Vanya tertidur, Voltra berdiri di balkon. Ia mengeluarkan ponselnya yang layaknya sudah diperbaiki. Sebuah notifikasi masuk dari Alina.
[Alina: "Besok pagi jam 8. Serah terima lisensi resmi dan kontrak ISG di markas. Oh, dan satu lagi... Asosiasi baru saja mengonfirmasi bahwa posisi Bara di jajaran Rank S akan segera digantikan melalui seleksi nasional]
Voltra menghapus pesan itu. Matanya menatap ke kegelapan kota. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres. Sejak kepulangannya, ia merasa Jakarta tidak lagi terasa sama. Ada aroma Mana yang 'busuk' yang mulai menyebar di beberapa titik gate rendah di pinggiran kota.
"Haruskah aku membangkitkan mu" ucap voltra mengeluarkan sebuah telur naga yang ia temukan di gate gunung Fuji. "Bagaimana kau bisa berakhir ditempat jauh ini, telur seperti mu harusnya berada di sarang naga" Lanjutnya bergumam.
Telur berwarna merah dengan sisik warna hitam. Voltra memutar telur itu begitu mudah menggunakan telunjuk tangan kanannya, sekarang dia tidur tahu harus melakukan apa dengan telur ini. Untuk kelahiran naga, sang induk harus terus menerus memberikan asupan mana besar, mana itu bekerja seperti sebuah inkubator.
"Naga kecil sebagai raja mu menetaslah" ucap voltra menyatukan mana.
Pusaran mana miliknya masuk ke dalam telur itu. Batas mana voltra? Untuk voltra sendiri ia tidak tahu, banyaknya sebuah mana itu tergantung pada tubuh yang cukup atau tidak untuk menampung. Dimasa lalu sebagai raja naga, jelas kapasitas begitu besar hingga tidak terbatas.
"Sial, hanya dalam tiga menit dia sudah menghabiskan setengah dari mana ku" ucap voltra memegang telur itu. "Bangsat, rasanya seperti penghinaan" Lanjutnya menahan rasa ingin teriak.