"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sore hari itu, langit Jakarta mulai berubah menjadi jingga keunguan. Afisa baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan daster rumahan yang nyaman. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah koper yang mulai ia keluarkan dari gudang—simbol nyata bahwa perjalanannya ke Semarang bukan lagi sekadar mimpi buruk.
Tepat saat itu, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama Bintang 🌻 berkedip di layar. Afisa menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo, Bin?"
"Fis... hei," suara Bintang terdengar sangat serak, jauh lebih lelah daripada saat ia mengirim pesan pagi tadi. "Maaf ya, Sayang. Aku benar-benar baru bisa pegang ponsel sekarang. IGD hari ini benar-benar di luar kendali."
Afisa memejamkan mata, hatinya mencelos mendengar nada bersalah di suara pria itu. "Nggak apa-apa, Bin. Aku mengerti, kamu kan sedang menyelamatkan nyawa orang. Sudah makan?"
Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana. "Belum sempat. Dan... Fis, ada satu lagi kabar buruk. Rekan sejawatku yang harusnya ganti shift malam ini mendadak izin karena keluarganya kecelakaan. Aku harus gantiin dia lembur sampai besok pagi. Maaf banget, ."
Hening sejenak. Afisa meremas ujung sprei tempat tidurnya. Di satu sisi, ia merasa lega karena tidak perlu melakukan konfrontasi tentang mutasi Semarang malam ini. Namun di sisi lain, rasa bersalahnya semakin menumpuk. Bintang sedang kelelahan bekerja demi masa depan mereka, sementara ia menyimpan rahasia besar tentang "kepergiannya".
"Nggak apa-apa, Bin. Jangan minta maaf terus," ucap Afisa lembut, suaranya sedikit bergetar. "Kesehatanmu lebih penting. Jangan sampai tumbang ya, jangan lupa minum air putih yang banyak."
"Kamu kok suaranya gitu, Fis? Kamu lagi nangis?" tanya Bintang jeli. Insting dokternya tidak pernah meleset soal perubahan emosi Afisa.
"Nggak kok, cuma... tadi habis dari rumah Bunda di Jaksel. Kaila dan Alif datang, mereka mau nikah bulan depan. Aku cuma sedikit kaget aja dunia ternyata sesempit itu," bohong Afisa lagi, meski ia menggunakan sebagian kebenaran.
Bintang terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat letih. "Oh, Ya sudah, biarkan saja mereka bahagia, Fis. Fokus kita sekarang cuma satu: kita. Maaf ya aku belum bisa pulang. Besok pagi, begitu shift-ku selesai, aku langsung ke apartemenmu. Aku janji."
"Iya, Bin. Aku tunggu. Selamat bertugas kembali ya, Dokter hebatku."
Setelah sambungan terputus, Afisa melempar ponselnya ke kasur. Ia menatap surat mutasi yang masih tergeletak di atas meja kerja. Malam ini semesta memberinya waktu tambahan untuk berpikir, tapi juga memberinya rasa sesak yang luar biasa.
Ia sendirian di apartemen, di malam kedua tahun 2022, dengan undangan pernikahan biru navy di satu tangan dan surat mutasi ke Semarang di tangan lainnya. Ekuilibrium yang ia dambakan terasa semakin jauh, terhalang oleh tanggung jawab profesi yang menuntut pengabdian tanpa henti.
"Kamu terlalu baik, Bin," bisik Afisa pada ruangan yang sunyi. "Dan aku terlalu takut kalau kejujuranku besok pagi akan memadamkan binar di matamu."
Pagi di tanggal 2 Januari 2022 terasa jauh lebih sibuk daripada seharusnya. Alarm Afisa berbunyi pukul 05.30, namun ia sudah rapi dengan setelan blazer charcoal yang memberikan kesan otoritas tinggi. Tidak ada waktu untuk galau; klien besarnya dari perusahaan manufaktur sudah menunggu untuk konsultasi kontrak di kantor pusat sebelum jam sembilan.
Sambil menyambar tas kerjanya—yang kini berisi surat mutasi terselip di antara draf gugatan—Afisa melirik ponselnya. Ada pesan singkat dari Bintang yang dikirim pukul 04.15 pagi.
Bintang 🌻: "Pasien stabil. Akhirnya bisa napas sebentar. Aku selesai shift jam 8, langsung meluncur ke apartemenmu ya, Fis. Tunggu aku."
Afisa menggigit bibir. Ia tidak sempat membalas pesan itu karena harus segera memacu mobilnya menembus jalanan Jakarta yang mulai padat. Ia ingin mengabari Bintang bahwa ia harus ke kantor, tapi panggilan telepon dari atasannya masuk lebih dulu, menanyakan kesiapan berkas untuk rapat pagi ini.
Pukul 08.45, di ruang rapat firma hukum yang berdinding kaca, Afisa tampak sangat profesional. Ia membedah pasal demi pasal di depan kliennya dengan lugas. Namun, setiap kali ponselnya yang diletakkan telungkup di atas meja bergetar, jantungnya ikut mencelos.
Ia tahu, Bintang mungkin sudah sampai di depan unit apartemennya sekarang. Menunggu dengan wajah kuyu dan kantung mata hitam, membawa sarapan hangat, namun hanya menemukan pintu yang terkunci rapat.
"Jadi, bagaimana menurut Anda, Ibu Afisa? Apakah klausul arbitrase ini sudah cukup melindungi kepentingan kami?" tanya klien tersebut.
Afisa tersentak kecil, lalu kembali ke mode pengacara elitnya. "Secara hukum, ini sudah kokoh. Namun, kita perlu mengantisipasi risiko jarak dan waktu jika eksekusi dilakukan di luar Jakarta," jawab Afisa. Suaranya tenang, tapi kata 'jarak' itu seolah menyindir dirinya sendiri.
Rapat baru berakhir pukul 10.30. Begitu keluar dari ruangan, Afisa langsung menyambar ponselnya. Ada tiga panggilan tak terjawab dan satu pesan suara dari Bintang.
Dengan tangan gemetar, ia mendengarkannya di sudut lobi kantor.
"Fis... aku di depan apartemen kamu. Tadi satpam bilang kamu sudah pergi pagi-pagi sekali. Maaf ya kalau aku ganggu waktu kerjamu. Aku titip bubur ayam kesukaanmu di pintu ya, tadi aku beli pas lewat Senopati. Aku pulang dulu, badan rasanya mau tumbang. Semangat sidangnya, Calon Istri."
Suara Bintang terdengar begitu lemas, namun tetap berusaha memberikan dukungan. Afisa menyandarkan punggungnya di dinding marmer yang dingin. Rasa bersalahnya kini meluap-luap. Di saat Bintang memberikan perhatian sekecil itu di tengah kelelahannya, Afisa justru sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke kota lain tanpa berkata apa-apa.
Tiba-tiba, bos besarnya, Partner Senior di firma tersebut, melintas dan menepuk bahunya.
"Afisa, sudah baca surat tugasnya? Tim di Semarang sudah menunggumu untuk briefing via Zoom jam satu siang ini. Kamu harus mulai serah terima kasus Jakarta minggu ini juga."
Dunia seolah berputar. Afisa mengangguk kaku. "Baik, Pak. Segera saya siapkan."
Ia kembali ke kubikelnya, menatap kalender digital. Tanggal 15 Januari tampak seperti garis finish yang kejam. Ia tidak bisa lagi menunda. Malam ini, bagaimanapun kondisinya, ia harus menemui Bintang di rumah keluarganya atau di mana pun, dan mengakui bahwa ekuilibrium mereka akan segera diuji oleh ratusan kilometer jalur kereta api.