NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meledak!

Beberapa saat kemudian…

Kelopak mata Raline bergerak pelan.

Kesadarannya kembali sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang muncul dari dasar air menuju permukaan. Napasnya terasa berat, kepalanya masih sedikit pusing.

Pandangan yang awalnya gelap mulai dipenuhi cahaya lampu ruangan yang redup.

Ia mengerjap pelan.

Langit-langit asing terlihat di atasnya.

"Ugh…" erangnya lirih, refleks menyentuh kepala yang terasa berat.

Bu Dinar yang sejak tadi berdiri di samping ranjang langsung tersentak. Matanya yang sembab karena menangis langsung tertuju pada wajah putrinya.

"Neng…?" panggilnya pelan, suaranya bergetar.

Raline mengerjap lagi. Pandangannya masih buram, tapi ia bisa mengenali sosok ibunya yang berdiri di dekatnya.

"Ibu…?" suaranya lemah.

Bu Dinar langsung menutup mulutnya, menahan tangis yang kembali naik ke permukaan setelah tahu apa yang terjadi pada putrinya itu. Air matanya jatuh lagi tanpa bisa dicegah.

Raline mengernyit bingung.

"Ibu kenapa…?" tanyanya pelan.

Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi tubuhnya masih terasa lemas.

Pandangan Raline kemudian bergeser ke sisi lain ruangan.

Di sana…

Pak Umar berdiri, membelakangi dirinya.

Tubuh pria itu tegak, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Bahunya naik turun pelan, seolah sedang menahan sesuatu yang sangat berat.

Bagaimana tidak. Ia berusaha untuk tidak meluapkan emosinya saat ini di tempat orang lain. Jelas itu sangat sulit.

Ia tidak bergerak, tidak pula menoleh. Dan tidak mengatakan apa pun.

Hanya diam.

Diam yang terasa sangat berbeda. Diam yang dingin. Diam yang penuh tekanan.

Raline menelan ludah.

Perasaan tidak enak tiba-tiba muncul di dadanya.

"Ada apa…?" bisiknya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Bu Dinar hanya menangis pelan.

Pak Umar masih membelakanginya.

Keheningan itu terasa mencekik.

Raline bingung sendiri. Ia bahkan tak tahu mengapa dirinya ada sini saat ini.

Bidan yang tadi memeriksanya mendekat dan memberikan senyuman ramah.

"Syukurlah kamu sudah siuman," ucapnya. "Semoga kamu lekas sehat ya."

"Bu, apa yang terjadi?" tanya Raline, mencoba mendapatkan jawaban dari bidan.

Bidan melirik kedua orang tua Raline, lalu menatap Raline kembali dan menggeleng pelan.

"Sebaiknya kamu tanyakan pada orang tuamu ya," jawabnya hati-hati. "Supaya kamu tahu apa yang terjadi."

Raline terdiam. Tak banyak bertanya lagi.

Sementara bidan keluar lebih dulu seolah memberikan kesempatan untuk keluarga kecil itu saling bicara.

Tapi bukan pembicaraan yang terjadi, justru Pak Umar bergerak dari posisinya. Ia berbalik menatap putrinya yang masih terlihat lemah.

Tatapannya jatuh tepat pada wajah gadis itu. Tapi tatapan itu…

Membuat jantung Raline seperti berhenti berdetak.

Tatapan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dari pria yang ia panggil Bapak seumur hidupnya.

Bukan tatapan hangat. Bukan tatapan lembut penuh kasih seperti biasa. Melainkan tatapan yang penuh luka dan memendam kekecewaan di dalamnya.

Raline membeku.

"Pak…" panggilnya lirih.

Namun Pak Umar tidak menjawab.

Ia hanya berjalan mendekat.

Langkahnya pelan, tapi tegas.

Sampai akhirnya ia berdiri tepat di samping ranjang.

Raline menatapnya dengan bingung dan takut.

"Pak… ada apa?" tanyanya pelan.

Pak Umar masih diam.

Rahangnya mengeras.

Tangannya perlahan bergerak.

Bukan untuk menyentuh wajah putrinya.

Tapi untuk menyelipkan satu tangan di bawah punggung Raline… dan satu tangan di bawah lututnya.

Raline terkejut.

"Pak…?" suaranya gemetar.

Tanpa sepatah kata pun…

Pak Umar mengangkat tubuh putrinya.

Menggendongnya. Seperti saat Raline masih kecil dulu.

Tubuh Raline terlalu lemah untuk melawan.

Ia hanya bisa memandang wajah ayahnya dari jarak dekat.

"Pak… Bapak kenapa...?" tanyanya lagi penuh rasa penasaran.

Pak Umar tetap tidak menjawab. Ia memilih bungkam dan tidak mau menatapnya.

Tatapannya lurus ke depan.

Wajahnya kaku.

Bu Dinar langsung mengikuti di belakang mereka, masih menangis pelan sambil menutup mulutnya.

"Pak…" panggil Bu Dinar lirih, berusaha menghentikan langkah suaminya.

Namun Pak Umar tetap berjalan seolah tak peduli pada istrinya itu. Bu Dinar tak mampu melawan, ia hanya bisa mengikuti dari belakang sambil pamit pada bidan tadi.

Sekeluarnya dari klinik bidan itu, Pak Umar tetap diam seribu bahasa. Hanya bahasa tubuhnya yang dapat menggambarkan ketegangan dalam suasana saat ini.

Ia menahan diri sekuat tenaga agar emosinya tak pecah di tempat. Ia tidak ingin membicarakan apa pun di sana.

Tidak ingin membuat keributan. Tidak ingin membuka aib keluarganya di tempat yang tak seharusnya.

Masalah ini…

Akan diselesaikan di rumah.

Di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka.

Udara malam langsung menyambut begitu mereka keluar dari klinik. Dingin, sunyi dan berat.

Pak Umar berjalan menuju motor mereka.

Ia mendudukkan Raline perlahan di jok belakang, memastikan putrinya tetap aman meski hatinya tengah berkecamuk.

Gerakannya tetap lembut, seolah tak bisa berbuat kasar meski putrinya telah mengecewakan dirinya.

Ia masih seperti ayah yang sama, tapi suasananya berbeda.

Bu Dinar naik ke motor setelahnya, duduk di belakang Raline untuk menopang tubuh putrinya agar tidak jatuh.

Motor sederhana itu bergerak menjauh dari klinik bidan, dengan kecepatan sedang.

Pak Umar berusaha tetap fokus pada jalan, sementara Raline masih bingung dengan semua ini, bahkan kepalanya masih terasa berat.

Dalam hati ia terus bertanya-tanya, "Apa yang terjadi?"

Sepanjang perjalanan…

Tidak ada satu kata pun yang terucap dari ketiga orang itu. Baik Pak Umar maupun Bu Dina, keduanya sama-sama diam seakan tidak mau membahas apapun untuk saat ini. Membuat Raline semakin bertanya-tanya dalam hatinya.

Malam ini terasa begitu sunyi. Hanya suara mesin motor yang menjadi latar.

Raline yang duduk di tengah-tengah memeluk perutnya tanpa sadar. Tiba-tiba saja ia berpikir rahasianya telah terbongkar di klinik tadi, sehingga membuat kedua orang tuanya bersikap aneh.

Jantungnya berdebar kencang menyadari kemungkinan hal itu benar-benar terjadi. Apalagi melihat bagaimana sikap kedua orang tuanya tadi, hatinya semakin gelisah.

Perasaan bersalah yang selama ini ia tekan tiba-tiba muncul ke permukaan.

Seolah nalurinya tahu…

Bahwa rahasia besarnya telah terbongkar.

_____

Mereka akhirnya tiba di rumah.

Pak Umar mematikan mesin motor. Ia turun lebih dulu. Lalu kembali menggendong Raline tanpa bicara.

Ia membawa tubuh putrinya masuk ke dalam rumah, tapi tetap dengan kebungkaman yang membuat Raline semakin takut.

Bu Dinar menutup pintu di belakang mereka.

Rumah itu terasa berbeda malam ini.

Tidak ada kehangatan. Tidak ada ketenangan.

Hanya ada badai yang menunggu untuk meledak.

Pak Umar menurunkan Raline perlahan di kursi ruang tamu, tidak berniat membawanya ke kamar karena ada banyak hal yang harus ia tanyakan saat ini juga.

Tepat di depannya Pak Umar berdiri, menatapnya dengan tatapan tajam.

Raline menunduk ketika sadar apa yang ia takutkan sepertinya benar-benar akan terjadi malam ini.

Napasnya tidak teratur. Ia tidak berani menatap ayahnya. Rasanya ia ingin menghilang saja dari hadapan sang ayah tanpa jejak, untuk menghindari kemarahan ayahnya yang sebentar lagi akan pecah.

Bu Dinar berdiri di samping, kembali terisak pelan.

Pak Umar berdiri di hadapan putrinya, tangannya terkepal kuat. Urat di lehernya terlihat menegang.

Ia sedang menahan sesuatu.

Menahan amarah. Menahan kehancuran. Menahan rasa sakit sebagai seorang ayah yang merasa dikhianati putrinya sendiri.

Keheningan memenuhi ruang tamu. Begitu pekat. Begitu menekan.

Raline duduk kaku di kursi. Kepalanya tertunduk dalam. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya, sampai buku-buku jarinya memutih.

Ia tidak berani menatap ayahnya.

Tidak berani.

Ia tahu…

Badai itu akan segera datang.

Dan detik berikutnya...

Suara berat itu akhirnya terdengar.

"…Siapa ayah dari janin yang kamu kandung, Neng?"

Degh!

Jantung Raline seperti berhenti berdetak.

Tubuhnya langsung menegang.

Tangannya gemetar.

Dugaannya benar. Orang tuanya sudah tahu tentang kehamilannya.

Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan.

Pertanyaan yang paling ia takutkan… akhirnya terucap dari mulut sang ayah.

Raline menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tangis yang ingin pecah.

Pak Umar melangkah satu langkah lebih dekat.

Tatapannya semakin tajam.

Ia terlihat terluka dan penuh kekecewaan.

"Jawab Bapak."

Suaranya tidak keras.

Tapi justru itulah yang membuatnya terasa jauh lebih menakutkan.

Raline menggeleng pelan.

Air matanya jatuh semakin deras.

Ia tidak sanggup menjawab. Tidak sanggup mengucapkan nama itu.

Melihat putrinya diam, Pak Umar menghela napas panjang. Namun napas itu tidak membawa ketenangan, tapi justru sebaliknya.

Ia kembali bicara.

Suaranya mulai bergetar.

"Kenapa kamu bohongi Bapak sama Ibu?"

Air mata Bu Dinar jatuh semakin deras mendengar itu. Ia pun sama kecewanya, tetapi tidak tega menghakimi anak yang selalu ia manja selama ini.

Pak Umar menatap putrinya dengan mata yang mulai memerah.

"Kenapa kamu merusak kepercayaan kami… yang selama ini percaya sama kamu sepenuhnya?"

Setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk.

Raline akhirnya menangis keras, tetapi tak bisa memberikan jawaban.

"Bapak selalu percaya sama kamu, Neng…" suara Pak Umar mulai pecah. "Selalu bangga sama kamu…"

Tangannya gemetar di sisi tubuhnya.

"Tapi ini…"

Ia menunjuk perut Raline dengan tangan yang gemetar.

"Ini balasan kamu untuk Bapak dan Ibumu ini?"

Raline langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Maaf…" bisiknya lirih. "Maafin Raline, Pak... Bu..."

"Raline salah... Raline salah... Tolong maafkan... huhuhu..."

Namun kata itu tidak cukup.

Tidak akan pernah cukup untuk menebus kekecewaan kedua orang tuanya. Semuanya sia-sia saja.

Pak Umar menggeleng pelan, rahangnya mengeras.

"Kenapa kamu melampaui batas?" suaranya mulai meninggi, dipenuhi emosi yang selama ini ia tahan.

"Kenapa?!"

Suara itu menggema di seluruh ruangan.

Membuat tubuh Raline bergetar hebat.

Ia menangis tanpa suara.

Bu Dinar langsung menutup mulutnya, menangis semakin keras dibaliknya.

Pak Umar yang biasanya selalu lembut, kini memperlihatkan kemarahannya tanpa ditahan lagi. Ia benar-benar murka.

"Bapak sudah bilang berkali-kali sama kamu tentang bagaimana menjaga diri dari perbuatan seperti itu, kan?" tanyanya. "Apa nasihat Bapak tidak cukup untuk mengingatkan kamu, hah?!"

Raline tidak menjawab. Hanya terus menangis tanpa suara karena takut akan kemarahan sang ayah yang kemungkinan akan semakin pecah saat mendengar suara tangisnya.

Pria itu mengacak rambutnya frustasi.

"Kenapa kamu lakukan ini?" tanyanya lagi dengan suara serak. "Jawab Bapak!"

Raline tetap tidak bisa memberikan jawaban.

Selama ini kedua orang tuanya selalu menasihati untuk menjauhi perkara yang buruk, yang akan merugikan dirinya. Tapi Raline justru melakukan kesalahan itu, dan jelas semua itu bukan kesalahan orang tuanya.

"Demi Allah, Bapak merasa gagal..." ucap Pak Umar dengan suara bergetar, air matanya akhirnya jatuh juga. "Bapak gagal menjadi orang tua yang baik. Bapak benar-benar gagal..."

Kalimat itu membuat Raline langsung mengangkat wajahnya.

Matanya merah dan basah.

"Jangan bilang gitu, Pak…" tangisnya pecah. "Bapak gak gagal. Ini murni kesalahanku..."

"Terus ini apa?!" suara Pak Umar keras dan lantang. "Ini apa, Neng?!"

Ia menunjuk perut putrinya lagi.

"Anak yang Bapak jaga… anak yang Bapak lindungi… sekarang mengandung tanpa suami? Bagaimana bisa Bapak percaya kalau Bapak tidak gagal, hah?!"

Kata-kata itu seperti cambuk. Raline semakin semakin terisak keras, tak mampu lagi menahan suara tangisannya sendiri.

"Maaf, Pak… maaf…" ulangnya terus-menerus.

Namun Pak Umar hanya tertawa kecil.

Tawa yang pahit.

"Maaf?" ulangnya lirih. "Apa maaf bisa menghapus semua ini? Apa maaf bisa mengembalikan keadaan seperti semula?"

Tidak ada jawaban.

Pak Umar menatap putrinya lama.

Air mata berlinang dari mata pria itu.

Air mata yang menjelaskan segala luka dalam hatinya.

Melihat itu, hati Raline terasa hancur berkeping-keping. Ia belum pernah melihat ayahnya menangis seperti ini.

"Bapak... maaf..." ucapnya lagi. Masih berusaha meminta maaf. Dan seolah hanya kata itu yang bisa ia ucapkan saat ini.

"Siapa dia?" tanya Pak Umar lagi, kali ini lebih pelan.

Malam sudah cukup larut. Suaranya yang keras akan menarik perhatian orang-orang, yang kemudian akan membuat mereka datang berbondong-bondong ingin tahu apa yang terjadi.

Kali ini Pak Umar kembali menahan emosinya. Mencegah siapapun tahu masalah yang tengah mereka hadapi.

"Siapa laki-laki yang sudah melakukan ini padamu?"

Raline membeku.

Nama Kaisar muncul di kepalanya. Wajah dan suaranya pun muncul bagai slide yang otomatis tergambar saat ayahnya bertanya tentang sosok yang menghamilinya.

Namun ia masih ingat kata-kata pemuda itu, yang memintanya untuk menyingkirkan janin dalam kandungan hanya karena tak bisa menikahinya.

Sebuah permintaan yang menyakitkan sekaligus mengoyak perasannya.

Tubuh Raline gemetar hebat.

Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis lagi.

Pak Umar menatapnya penuh harap. Tapi juga tatapan itu penuh luka.

Ia tahu, setelah mendengar jawaban putrinya tentang sosok yang ia maksud, hatinya akan jauh lebih sakit. Tetapi ia harus tahu siapa orang itu. Setidaknya ia tahu ayah dari janin yang putrinya kandung.

"Jawab Bapak…" pinta Pak Umar lirih.

Namun Raline menggeleng pelan.

"Dia…" suaranya bergetar.

Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokannya.

Ia tidak sanggup.

Ia tidak ingin menghancurkan segalanya lebih jauh. Ia tidak ingin ayahnya melakukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.

Ia tidak ingin membuat semuanya semakin buruk.

Air matanya jatuh semakin deras.

"…dia udah mati, Pak."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa ia rencanakan, dan tanpa ia sadari.

Pak Umar membeku.

"Apa maksud kamu?" tanyanya pelan.

Raline menunduk dalam.

Air matanya jatuh ke pangkuannya.

"…anggap aja dia udah mati, Pak."

"Dia gak mau tanggung jawab," lanjutnya dengan hati pedih. "Jadi aku anggap dia udah mati."

Raline menutup wajahnya, menangis tersedu-sedu dengan suara pelan.

"Astagfirullah..."

Pak Umar mundur beberapa langkah, tubuhnya terasa lemas. Bu Dinar dengan sigap menahan tubuh suaminya dan memeluknya dari samping.

"Pak..."

"Bagaimana jika sudah begini, Bu?" kata Pak Umar lirih. "Apa yang kita hadapi akan lebih buruk lagi setelah ini. Kita akan di cap sebagai orang tua yang buruk, bahkan gagal, jika Raline tidak dinikahi..."

Bu Dinar yang sejak tadi menangis tidak bisa memberikan jawaban. Hanya terus memeluk suaminya erat.

Sementara itu, Raline juga tetap pada posisinya. Menangis sendirian, merasakan penyesalan yang mendalam akibat perbuatannya.

Ia telah menyakiti kedua orang tuanya. Membuat mereka kecewa. Dan menghancurkan

citra mereka sebagai orang yang dikenal paham agama oleh semua orang.

Raline putus asa.

Tidak ada jalan keluar untuknya lepas dari semua ini.

Ia mulai berpikir satu hal saat ini...

"Apa aku harus mati?"

Bersambung....

1
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
Nurul Hilmi
jangan kasih cinta buat kaisar lin. biar die nyesel😄
Lisdaa Rustandy: cinta akan hadir saat waktu terus berjalan. bahkan saya yg menikah tanpa cinta aja sekarang jadi bucin🤣
total 1 replies
Nurul Hilmi
anak jangan dikasih orang lain, tetep raline yang rawat...
deeRa
Ganbatee Lin💪😊
falea sezi
jangan mau pergi jauh dr situ besarin anak sendiri ibunya egois cucu kandung mau di buang dajjal bgt ne orang
deeRa
Nyesek ya jd raline, 🥺
ROSULA DARWATI
kasihan Raline
Melinda Cen
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!