💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Rahasia paman dan hasrat tunangan.
Setelah jam kerja usai, sebagian karyawan sudah mulai bergerak pulang. Viona masih duduk di mejanya, hatinya penuh dengan rasa tidak nyaman dan sedikit marah. Bagaimana bisa Arsen memberinya hukuman seperti itu?
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengambil ponselnya dari dalam tas, mencari kontak Farel dan menekan tombol panggilan. Setelah beberapa kali dering, telepon akhirnya terhubung.
"Hallo, Sayang." Suara Farel terdengar dari ujung saluran. "Aku sedang dalam perjalanan ke kantor Paman Arsen. Kamu sudah siap belum?"
Viona menghela napas perlahan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang. "Rel... maaf ya. Sepertinya kamu tidak perlu menjemputku hari ini."
Ada jeda sebentar di ujung lain. "Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kamu baik-baik saja kan?"
"Bukan itu..." Viona menjelaskan dengan suara pelan, sambil melihat sekeliling kantor yang sudah mulai sepi. "Aku... aku sedang menjalani hukuman gara-gara tadi pagi aku tertidur di mejaku saat jam kerja, jadi paman menyuruhku membersihkan semua toilet di lantai ini selama seminggu. Hari ini aku harus menyelesaikannya dulu baru bisa pulang."
"Hukuman? Membersihkan toilet?" Suara Farel terdengar sedikit meninggi, penuh dengan tidak percaya. "Bagaimana bisa paman melakukan itu padamu? Kamu kan tunanganku, kalau begitu aku akan tetap kesana untuk bicara dengan paman Arsen!"
"Jangan, Rel!" Viona segera menekan. "Aku juga salah, dan paman hanya mencoba bersikap profesional disini sebagai atasanku. Aku tidak mau kamu membuat masalah dengan paman. Aku akan pulang sendiri dengan mobil jemputan kantor. Kamu pulang saja dulu ya, tidak perlu menjemputku. Nanti kita ketemu dirumah."
Setelah beberapa saat, terdengar suara helaan napas Farel dari saluran telepon. "Baiklah, Sayang. Kalau ada apa-apa, hubungi aku segera."
"Baik, Rel. Makasih ya. Aku akan segera pulang kalau sudah selesai." Viona menutup panggilan dan meletakkan ponselnya kembali di mejanya.
Viona menghela napas panjang, lalu berdiri dan bersiap untuk pergi mengambil peralatan untuk membersihkan toilet. Namun langkahnya tertahan saat melihat asistennya Arsen datang menghampirinya, berdiri di depan mejanya dengan senyum ramah.
"Permisi, Nona Viona," ucap Ferry dengan sopan. "Saya ditugaskan tuan Arsen untuk menjemput Nona sekarang,"
Viona sedikit bingung, "Menjemput? Tapi saya harus pergi membersihkan toilet sekarang,"
"Tugas membersihkan toilet sudah dikerjakan oleh orang lain," beritahu Ferry yang membuat Viona sedikit terkejut. "Tuan Arsen menyuruh saya datang menjemput Nona dan membawakan Nona ke ruang kerjanya. Dia sedang menunggu."
Jantung Viona seketika berdebar kencang. Apa lagi yang akan terjadi? Sudah diberikan hukuman, apakah Arsen masih ingin menyalahkan dia lebih jauh?
"Mari silahkan ikut dengan saya, Nona," ajak Ferry kemudian.
Viona tidak punya pilihan, dia mengambil tasnya dan mengikuti Ferry menuju ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas. Saat sampai di depan pintu ruang kerja Arsen, Ferry mengetuk pintu pelan dan membukanya.
"Tuan, Nona Viona sudah datang," ucap Ferry sambil mempersilahkan Viona untuk ikut masuk.
Viona menatap Arsen yang sedang duduk di kursi kerjanya sambil merapikan beberapa berkas diatas meja. Pria itu mengangkat kepalanya dan pandangannya langsung tertuju pada Viona.
"Kamu boleh pergi sekarang," ucapnya pada Ferry.
Ferry mengangguk hormat dan segera keluar dari ruangan, menutup pintu kembali dengan rapat. Ketenangan yang menyelimuti ruang kerja Arsen membuat Viona merasa semakin gelisah. Dia berdiri di tengah ruangan, tidak berani bergerak lebih jauh.
"Duduklah sebentar. Pekerjaanku sebentar lagi selesai, setelah itu kita pulang." ucap Arsen dengan nada yang lebih lembut dari biasanya, menunjuk kursi kulit hitam yang ada di depan mejanya.
"Aku sudah menyuruh orang lain menyelesaikan pekerjaan membersihkan toilet," ujar Arsen tanpa basa-basi, "Aku memberimu hukuman hanya supaya tidak terlihat pilih kasih didepan karyawan lain. Karena kalau tidak, mereka akan berpikir kamu mendapatkan perlakuan khusus dariku,"
Arsen berhenti sejenak, menatap Viona dengan pandangan yang dalam sebelum melanjutkan. "Kamu tahu kan, aku selalu mengedepankan profesionalisme di perusahaan ini. Semua karyawan harus diperlakukan sama, tanpa terkecuali."
Arsen berdiri dari kursinya dan melangkahkan kakinya keluar dari meja kerjanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Viona. Saat sudah cukup dekat, Arsen menghentikan langkahnya dan menarik pinggang Viona mendekat.
Viona terkejut, namun tidak berusaha menjauh. Rasa hangat dari tangan Arsen di pinggangnya membuat jantungnya berdebar kencang, sementara pandangan intens pria itu membuatnya sulit bernapas.
"Selain itu aku tidak bisa membiarkan kamu pulang berdua dengan Farel," ucap Arsen dengan suara rendah, "Aku takut dia melakukan sesuatu yang akan membuatmu merasa tidak nyaman."
Viona mendongak, matanya penuh dengan kebingungan. "Maksud, Paman?"
Arsen tak menjawab, dia memindahkan tangan yang tadinya berada di pinggang perlahan turun dan menggenggam tangan Viona, lalu menariknya menuju sofa yang berada di sudut ruangan.
"Ayo duduk," ucapnya, membimbing Viona untuk duduk di sofa. "Tidak sampai satu jam pekerjaanku juga selesai, kamu tunggu disini saja dulu,"
Arsen memberikan senyum singkat sebelum melepaskan pegangan tangannya. Dia berbalik dan melangkah kembali ke mejanya, meraih tumpukan berkas yang belum selesai dan mulai menyortirnya satu persatu.
"Maaf, aku tidak punya hak untuk bercerita apapun padamu. Aku hanya khawatir Farel akan melakukan sesuatu yang buruk padamu," batinnya, mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada dihadapannya dan beralih menatap ke arah Viona yang sedang menatap ke arah jendela.
-
-
-
Sementara itu, setelah mengakhiri panggilan dengan Viona, Farel memutar balik mobilnya menuju ke rumah Rio karena teman-temannya sudah menunggu disana. Dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah temannya itu begitu sampai di sana dan langsung masuk melalui pintu depan yang sudah terbuka lebar.
Di ruang tamu, beberapa teman lain sudah berkumpul. Adit langsung menghampiri Farel begitu melihatnya datang.
"Eh, Rel. Katanya mau ngajak Viona, kok malah datang sendirian sih," ujar Adit sambil menepuk bahu Farel. "Aku udah siapin obatnya nih buat dia,"
Farel menatap botol kecil berwarna coklat tua yang ditunjukkan oleh Adit. Kemarin dia meminta Adit untuk mencari sesuatu yang bisa 'membantu' dia dan Viona agar lebih dekat.
"Aku mendapatkannya dari sumber terpercaya. Katanya aman dan tidak ada efek samping yang berbahaya." ujar Adit dengan suara rendah, melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
Farel mengambil alih botol itu dari tangan Adit, memutarnya di tangannya sambil menatap cairan kekuningan di dalamnya. Ingatan tentang bagaimana Viona selalu tampak tidak nyaman saat dia mendekatinya muncul di benaknya. Bagaimana Viona selalu menjauh ketika dia mencoba menciumnya, bahkan tangannya selalu kaku ketika dia memegangnya.
Farel menyeringai, "Tidak peduli bagaimana caranya, Viona hanya akan menjadi milikku seutuhnya,"
-
-
-
Bersambung...
panjang banget perjuangan cinta mereka..
ayolah Lisa, datang lah ke rumah farel dan beberkan tingkah laku nya farel dan tentang kasus nindi...