NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: KONTRAK DI ATAS LUKA

Dinding kaca setinggi empat meter di lantai empat puluh delapan gedung Arkananta Group menawarkan pemandangan Jakarta yang gemerlap, namun bagi Arumi, pemandangan itu terasa seperti jeruji besi yang berkilauan. Udara di dalam ruangan itu sangat dingin, seolah-olah mesin pendingin ruangan diatur khusus untuk mencocokkan temperamen pria yang duduk di balik meja kerja mahogani di depannya.

Arlan Arkananta.

Nama itu bukan sekadar nama. Di dunia bisnis, nama itu adalah hukum. Di bawah sorotan lampu kristal yang menggantung mewah, Arlan tampak seperti penguasa yang sedang menimbang nasib rakyatnya. Rambut hitamnya tertata rapi, rahangnya tegas, dan sepasang mata elangnya menatap Arumi dengan intensitas yang membuat paru-paru wanita itu terasa menyempit.

"Aku tidak butuh biodatamu, Arumi," suara Arlan rendah, namun setiap kata yang keluar memiliki beban yang berat. "Aku sudah tahu bahwa kau adalah lulusan terbaik di angkatanmu sebelum kau berhenti kuliah karena kecelakaan itu. Aku tahu kau tidak punya keluarga lagi selain ibumu yang sekarang terbaring koma di ICU Rumah Sakit Medika. Dan aku tahu, jika kau tidak membayar deposit seratus juta rupiah sebelum jam dua belas malam ini, pihak rumah sakit akan menghentikan bantuan hidup untuknya."

Arumi meremas ujung gamisnya yang sudah pudar warnanya. Jarinya gemetar. Bagaimana pria ini bisa tahu segalanya? Bahkan detail tentang tenggat waktu rumah sakit yang baru saja ia terima melalui telepon satu jam yang lalu.

"Kenapa saya, Tuan?" bisik Arumi. Suaranya serak karena terlalu banyak menangis dalam beberapa hari terakhir. "Anda bisa menyewa perawat terbaik, konsultan laktasi paling mahal di dunia, atau bahkan membeli bank ASI jika itu yang Anda butuhkan."

Arlan berdiri dari kursi kulitnya. Gerakannya tenang namun penuh ancaman, seperti predator yang baru saja bangun dari tidurnya. Ia berjalan mendekat ke arah Arumi, membuat wanita itu secara insting menahan napas. Arlan berhenti tepat di depan Arumi, aroma parfum sandalwood yang mahal dan maskulin menyerbu indra penciuman Arumi, menciptakan kontradiksi yang aneh antara rasa takut dan kekaguman.

"Karena putraku tidak menginginkan mereka semua," Arlan berkata sambil menatap lurus ke dalam mata Arumi. "Tiga hari terakhir, Leon—putraku—menolak semua jenis susu formula. Dia menolak semua perawat yang aku bawa. Dia menangis sampai suaranya habis dan berat badannya turun drastis. Tapi semalam..."

Arlan menjeda kalimatnya, wajahnya mendekat ke telinga Arumi, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

"Semalam, saat kau pingsan di koridor rumah sakit karena kelelahan setelah mencoba mendonorkan darah untuk ibumu, perawat membawa Leon melintas di dekatmu. Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh puluh dua jam, dia berhenti menangis. Dia mencium aromamu, Arumi. Dia merasa tenang hanya dengan berada di dekatmu."

Arumi memejamkan mata. Rasa nyeri yang akrab kembali menghantam dadanya. Tiga bulan lalu, ia seharusnya sedang menimang bayinya sendiri. Namun, sebuah truk besar menghantam taksi yang ia tumpangi. Ia selamat, tapi bayinya tidak. Meski bayinya sudah dikubur, tubuh Arumi seolah menolak untuk menerima kenyataan. Kelenjar susunya tetap aktif, memproduksi ASI yang terus mengalir deras seolah-olah masih ada nyawa yang menanti untuk diselamatkan. Setiap tetes yang terbuang adalah pengingat akan kegagalannya sebagai seorang ibu.

"Aku tidak menawarkan pekerjaan, Arumi. Aku menawarkan sebuah kesepakatan," Arlan kembali ke mejanya dan menyodorkan sebuah map kulit berwarna hitam. "Tanda tangani ini, dan semua biaya rumah sakit ibumu akan lunas dalam lima menit. Kau akan tinggal di mansionku, mendapatkan fasilitas terbaik, dan sebagai gantinya, kau harus memberikan apa yang dibutuhkan putraku."

Arumi membuka map itu dengan tangan gemetar. Matanya menyapu baris demi baris kalimat hukum yang kaku.

PASAL 4: KERAHASIAAN DAN BATASAN EMOSIONAL

1. Pihak Kedua (Arumi) dilarang keras mengungkapkan keberadaan subjek (Leon) kepada pihak luar, termasuk media atau keluarga jauh.

2. Pihak Kedua dilarang memiliki keterikatan emosional yang berlebihan dengan subjek maupun Pihak Kesatu (Arlan Arkananta).

3. Setelah kontrak berakhir (ketika subjek berhenti menyusu), Pihak Kedua wajib meninggalkan lokasi tanpa menuntut hak apa pun atas subjek.

"Kau melarangku mencintai anak itu?" tanya Arumi dengan nada tidak percaya.

Arlan menatapnya datar, seolah pertanyaan itu adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar. "Dia bukan anakmu, Arumi. Dia adalah pewaris Arkananta Group. Kau hanyalah... penyedia nutrisi. Jangan campur adukkan tugasmu dengan fantasi menjadi seorang ibu."

Kata-kata itu bagai tamparan bagi Arumi. Dingin dan tak berperasaan. Namun, saat ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 22.30, ia tahu ia tidak punya pilihan. Nyawa ibunya sedang dipertaruhkan. Dengan sisa keberanian yang ada, ia meraih pulpen emas di atas meja dan menorehkan tanda tangannya.

"Pilihan yang cerdas," gumam Arlan. Ia segera meraih ponselnya, melakukan satu panggilan singkat, dan dalam hitungan detik, Arumi menerima notifikasi di ponselnya. Deposit rumah sakit telah dibayar lunas. Bahkan lebih dari yang diminta.

"Sekarang, ikut aku. Mobil sudah menunggu di bawah. Putraku sedang menunggumu," perintah Arlan tanpa memberikan waktu bagi Arumi untuk bernapas.

Perjalanan menuju mansion Arlan terasa seperti mimpi buruk yang indah. Mobil Rolls-Royce itu melaju menembus kawasan elit Jakarta Selatan hingga memasuki sebuah gerbang besi tinggi yang dijaga oleh pria-pria berpakaian safari gelap. Di balik pagar itu, berdiri sebuah mansion bergaya minimalis modern yang megah namun terasa sepi, seolah tidak ada kehidupan di dalamnya.

Arlan melangkah cepat masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Arumi yang merasa asing dengan kemewahan di sekelilingnya. Mereka menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Semakin dekat dengan sebuah pintu kayu besar di ujung lorong, Arumi mendengar suara itu.

Suara tangisan bayi.

Bukan tangisan biasa, melainkan tangisan yang penuh kesakitan dan rasa haus yang amat sangat. Suara itu begitu pilu hingga Arumi merasa jantungnya diremas. Tanpa menunggu perintah Arlan, Arumi mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam kamar bayi tersebut.

Di dalam, seorang wanita tua—mungkin pengasuh—tampak panik mencoba menimang seorang bayi yang wajahnya sudah merah padam karena terlalu banyak menangis. Bayi itu menendang-nendang kecil, menolak botol susu yang disodorkan padanya.

"Berikan dia padaku," ucap Arumi tiba-tiba. Suaranya tidak lagi bergetar; kini dipenuhi oleh otoritas seorang wanita yang nalurinya telah bangkit.

Pengasuh itu menoleh pada Arlan, yang mengangguk singkat. Begitu Leon berpindah ke pelukan Arumi, sebuah keajaiban kecil terjadi.

Tangisan melengking itu seketika mereda menjadi isakan-isakan pendek. Leon, yang baru berusia beberapa bulan, menyurukkan wajahnya ke dada Arumi. Ia menghirup aroma tubuh Arumi dengan dalam, seolah menemukan oase di tengah padang pasir.

Arumi duduk di kursi goyang di sudut ruangan yang remang-remang. Dengan gerakan lembut yang sudah ia pelajari di kelas persalinan dulu—namun belum sempat ia praktikkan pada bayinya sendiri—ia mulai menyusui Leon.

Kesunyian yang damai menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar suara Leon yang menyusu dengan rakus dan detak jantung Arumi yang mulai tenang. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, rasa perih di dada Arumi karena ASI yang membeku perlahan mencair. Ia menatap wajah Leon; pipinya yang gembul, bulu matanya yang lentik, dan jemari kecilnya yang tiba-tiba menggenggam jari telunjuk Arumi.

"Dia sangat Tampan, Tuan Arlan," bisik Arumi tanpa menoleh. Air mata jatuh ke pipinya, membasahi kain bedong Leon.

Arlan berdiri di ambang pintu, memperhatikan pemandangan itu. Untuk sesaat, topeng dingin di wajahnya retak. Ada kilatan rasa sakit, penyesalan, dan sesuatu yang menyerupai rasa syukur di matanya. Namun, itu hanya bertahan sedetik. Ia segera membuang muka.

"Jangan salah paham, Arumi," suara Arlan memecah keheningan, kembali tajam seperti sembilu. "Kau di sini karena dia butuh makan. Bukan karena aku butuh kehadiranmu. Selesaikan tugasmu, lalu pengasuh akan mengantarmu ke kamarmu sendiri."

Arlan berbalik dan pergi, langkah kakinya bergema di lorong yang sunyi. Arumi memeluk Leon lebih erat. Di dalam hati, ia tahu bahwa mulai malam ini, hidupnya telah terikat pada dua hal yang sangat berbahaya: seorang bayi yang bukan miliknya, dan seorang pria yang memiliki hati dari es.

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!