Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika sang Idola Terjatuh
“Oke mas, gua ngaku bersalah, foto-foto itu gua copy ke harddisk eksternal gua waktu elu ketiduran,” balas Kusna.
“Gua khilaf mas, gua minta maaf.”
Randy diam sejenak, lalu membalas WA dari Kusna itu, “Gua nggak akan memperpanjang masalah ini, asal elu mau minta maaf terbuka di akun Facebook elu.”
“Baik mas, gua akan lakukan secepatnya,” kata Kusna lewat pesan WhatsApp. “Sekali lagi maaf.”
“Baik, gua tunggu dalam 3x24 jam,” balas Randy tegas dalam pesannya. “Kalau nggak, masalah ini akan berbuntut panjang. Ini bukan karena gua jahat, tapi gua nggak mau ribet, dan biar lo belajar menghargai karya orang."
“Baik mas,” tutup Kusna mengakhiri percakapan itu.
Paginya, Randy bangun pagi dalam keadaan segar, dan bersiap-siap ke kampus. Kali ini dia tak membawa kamera DSLR-nya yang besar itu, tapi dia tetap membawa kamera mirrorless yang berukuran lebih kecil dan praktis dibawa ke mana-mana, siapa tahu ada obyek yang menarik untuk difoto.
Sesampainya di kampus, dia melihat Facebook Kusna sudah memposting permintaan maaf terbuka untuk Randy yang isinya:
“Saya Kusna Subrata, mengakui telah meng-copy beberapa karya foto milik Mas Randy Kurniawan tanpa hak dan saya jual di Shutterstock. Bersama ini, saya mengakui kekhilafan saya, dan di kemudian hari tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Hormat saya, Kusna Subrata.”
Randy segera mengirim link postingan Facebook itu kepada Christian dan tersenyum lebar. “Satu urusan beres,” katanya dalam hati.
Christian lalu membalas dengan satu emoticon tanda jempol saja.
Tiba-tiba bahu Randy ditepuk dari belakang, ternyata Wedha. “Eh Ran, nanti sore elu main sepak bola ya. Kita ada pertandingan persahabatan lawan fakultas ekonomi. Julius barusan WhatsApp, hari ini dia flu, nggak masuk kuliah dan nggak jadi main nanti sore.”
“Ya, gua nggak bawa pakaian olahraga dan sepatu bola,” jawab Randy.
“Kalau pakaian kita pakai seragam fakultas, dan sepatu kebetulan gua bawa 2 pasang, moga-moga cukup,” kata Wedha sambil memberikan sepasang sepatu kepada Randy.
Kemudian Randy mencoba sepatu itu dan berkata: “Pas bro, enak dipakainya.”
Perkuliahan siang itu berjalan lancar, hanya sesekali ponsel Randy bergetar, dari beberapa cewek baik dari fakultasnya atau fakultas lain.
Salah satunya: “Eh Rand, gua denger elu nanti main bola ya?” pesan dari Nita, cewek jurusan arsitektur. “Kirain cuma bisa tebar pesona, ternyata bisa juga main bola. Ntar gua janji nonton deh.”
Randy cuma tersenyum lalu membalas pesan itu, “Sip, moga-moga nambah semangat main.”
Sore itu, selesai kuliah Randy tidak langsung pulang. Ia menuju lapangan bola kampus yang tidak jauh dari ruang kuliahnya, sudah lengkap mengenakan seragam dan sepatu bola. Kepalanya diikat bandana agar rambut tidak mengganggu pandangannya. Tapi itu malah yang membuat hati para cewek fansnya meleleh.
Dan tidak seperti biasanya lapangan bola yang biasanya hanya beberapa gelintir saja yang nonton, kali ini penuh, dan mayoritas cewek-cewek.
“Randy, semangat, Rand,” teriak Tatia dari bangku penonton. Randy melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.
Di kedua tim ada cowok-cowok lain yang nggak kalah sama Randy seperti Herman, Rusdy, Amarullah, dll., tapi entah kenapa cewek-cewek lebih heboh menyoraki Randy daripada mereka.
“Lu di posisi tengah, ya Rand,” kata Hermanto, kapten tim Randy.
“OK bro,” jawab Randy yang tahu posisi tengah adalah posisi yang krusial dalam sebuah tim.
Pertandingan segera dimulai, bola diletakkan di titik tengah lapangan dan wasit melemparkan koin untuk menentukan tim mana yang mendapat bola duluan. Ternyata tim Randy yang mendapatkan bola duluan.
Hartawan dan Randy berada di tengah lapangan, Hartawan yang akan melakukan kick-off kepada Randy.
“Prit!” wasit meniup peluit pertanda pertandingan dimulai. Hartawan menendang bola pelan ke arah Randy, dan cewek-cewek berteriak-teriak heboh dari pinggir lapangan.
“Randy, Randy…”
Dengan tenang Randy menggiring bola sebentar, di tengah teriakan para supporter yang tak henti meneriakkan namanya. Henry lalu mengumpan bola ke belakang kepada Katamso, Randy segera berlari ke depan mencari posisi.
Katamso mengumpan bola jauh ke depan kepada Randy.
Kembali fans cewek-cewek berteriak-teriak memanggil namanya, setiap Randy menyentuh bola. Namun Randy tetap fokus dan tenang. Dua pemain belakang lawan coba mem-pressure Randy, dan Randy segera memberi umpan jauh kepada Hartawan yang berdiri bebas yang langsung disundul Hartawan, namun sayang masih mampu ditangkap kiper lawan.
Penonton bersorak, kali ini semua penonton, bukan yang cewek saja.
“Mantep, bro. Umpan lu mantep,” ujar Hartawan yang berlari mendekati Randy. “Lu pantes jadi bintang lapangan, bukan cuma idola cewek-cewek.”
Randy hanya tersenyum lebar dan menepuk bahu Hartawan.
Tak terasa permainan sudah hampir berakhir, dan Randy beberapa kali mendapatkan peluang mencetak gol dan melakukan beberapa assist, walaupun belum mampu mencetak gol.
Kembali Randy menguasai bola, dan suara cewek-cewek meneriakkan namanya kembali terdengar. Kali ini Randy memberikan umpan jauh kepada Sigit yang berdiri bebas, dan dengan dua kali sentuhan Sigit berhasil memperdaya kiper lawan, dan gol!
Sorak sorai para penonton langsung bergema, dan Sigit dipeluk oleh semua kawan setimnya, termasuk Randy.
“Trims, bro,” kata Sigit dengan tertawa dan terengah-engah. “Umpan barusan cakep banget!”
Randy hanya tersenyum dan memberikan salam tos kepada Sigit.
Semenit kemudian Hartawan giliran menguasai bola di dekat kotak penalti lawan, namun beberapa pemain lawan sudah mengepungnya. Tanpa berpikir panjang Hartawan menyodorkan bola kepada Randy yang berdiri bebas. Randy lalu menggiring bola cepat memasuki kotak penalti lawan. Satu pemain lawan sudah tertinggal di belakangnya, dan tinggal kiper di depan mata.
Cewek-cewek sudah meneriakkan namanya dengan histeris karena sudah yakin Randy akan mencetak gol indah sore itu.
Namun sebuah sliding tackle keras yang dilakukan Adolf membuyarkan semuanya. Randy langsung tergeletak tak berdaya di dekat gawang lawan.
“Mampus kau,” kata Adolf dalam hati. “Biar cewek-cewek fansmu itu pada diam.”
Wasit langsung meniup peluit dan segera berlari mendekati Randy, memeriksa kondisi kakinya. Beberapa rekan setimnya juga mengerubungi Randy. Randy tampak pucat dan mengerang kesakitan.
“Kayanya parah nih kondisinya,” kata wasit. “Coba dibawa ke pinggir lapangan dan diperiksa dengan lebih seksama.”
Lalu beberapa rekan Randy memapah Randy ke pinggir lapangan, Randy ditarik keluar lapangan dan digantikan Hartono. Wasit memutuskan tendangan penalti yang disambut protes oleh para pemain lawan, dan mulai mendorong-dorong wasit.
“Itu sliding tackle yang sah sit!” hardik Stevie yang tampak emosi. “Jangan karena dia idola cewek-cewek, lu bertindak nggak adil!”
“Tapi itu memang pelanggaran dan harus penalti,” jawab wasit. Stevie yang tampak emosi dan tidak puas atas keputusan wasit itu berusaha mendekati wasit, mungkin hendak memukul, namun dihalang-halangi teman-temannya.
Hartawan mengambil tendangan penalti, ambil ancang-ancang, dan gol! 2-0! Wasit seketika meniup peluit panjang setelah gol terjadi, tanda pertarungan usai. Tim Randy tampak tumpah ruah ke lapangan.
Randy masih tergeletak dan mengerang kesakitan, lututnya terasa sangat nyeri, bagaikan ditusuk ribuan pisau.
Dalam sakitnya, Randy melihat sekilas Adolf yang memandang dari kejauhan dengan senyum tipis serta mata dingin.
"Akhirnya diam juga lo, bintang."
Hartawan berlari mendekat, wajahnya panik.
"Rand! Tahan sebentar ya, kita ke RS sekarang!"
Di pinggir lapangan, Nita dan Tatia saling pandang khawatir dan hanya bisa terdiam, tangan mereka menutup mulut.
Lalu Randy dipapah ke mobil, sorak sorai penonton berubah jadi gumaman cemas. Di dalam mobil, Randy menatap langit-langit, berbisik dalam hati:
"Siapa sebenarnya lu, Adolf?"