NovelToon NovelToon
Cinta Maraton

Cinta Maraton

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Eli Elita Septiyani

menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengapa Bukan Aku?

“Kamu ngambek? Ngambek karena bentar lagi aku mau nikah? Kamu tahu kan kamu nggak ada hak buat ngambek? Ingat kamu itu cuma...”

“Cuma apa?”

“Cuma teman t i d u r? Pengisi kekosongan kamu?”

*

"Kenapa Kania pakai gelang yang aku kasih buat kamu?"

Anya menoleh. Tatapannya tenang, suaranya datar namun jelas.

“Nggak apa-apa. Aku cuma bosan. Aku punya dua gelang yang sama di rumah. Semua pemberian dari Bapak.”

Indra mengerutkan kening. “Kenapa nggak bilang? Supaya aku bisa nyuruh orang butik buat ganti. Atau kamu kan bisa langsung tukar sendiri, pilih yang kamu suka.”

Anya diam. Karena dijawab seperti apa pun, pria itu tak akan pernah benar-benar mengerti.

Sebaliknya, Indra juga terdiam. Dalam hati ia bertanya-tanya—apa benar selama ini ia memberi gelang yang sama? Ia pikir Anya menyukainya. Wanita itu selalu tampak senang, bahkan ketika hanya menerima benda kecil dari genggamannya.

Selama ini, ia yakin Anya bahagia.

“Ya sudah,” ucap Indra, akhirnya. “Lain kali aku kasih gelang yang lebih bagus.”

Anya menatapnya sebentar, sebelum bibirnya melengkung kecil. Tipis. Bukan senyuman, lebih seperti pamit diam-diam.

“Nggak usah, Pak. Nggak akan ada lain kali.”

Indra mendengus pelan. “Kamu kenapa sih? Kamu n u n t u t lebih sekarang? Dari awal aku udah bilang, aku nggak bisa kasih kamu apa-apa selain hubungan kayak gini.”

Anya mengangguk pelan. “Iya, aku tahu.”

Ia bahkan sangat tahu.

Sejak awal, hubungan ini dibangun di atas batas tak kasatmata yang tetap terasa jelas. Batas kasta. Batas status. Batas yang menempatkan Indra di atas langit, dan dirinya… hanya bayangan kecil yang tak layak disebut.

Anya bukan siapa-siapa.

Sejak hari pertama, ia sadar, bahwa dalam kisah ini, dirinya tak lebih dari putri duyung dalam cerita Hans Christian Andersen—yang hanya boleh mencintai dalam diam, hadir tanpa jejak, dan pada akhirnya kembali menjadi buih, seolah tak pernah ada.

Tapi selama ini, Indra memperlakukannya dengan baik.

Begitu baik, hingga ia pernah percaya... pria itu mencintainya.

“Justru karena itu, Pak Indra. Karena aku tahu batasan dan tahu diri, aku seperti ini.”

Ia menarik napas. Lalu melanjutkan dengan suara yang nyaris terdengar rapuh, namun tetap berdiri di atas harga diri.

“Bapak akan segera nganten. Tidak baik kalau aku tetap berada dekat-dekat Bapak. Mungkin di mata Bapak, saya cuma pengisi waktu dan kekosongan. Tapi saya nggak mau terlihat sebagai perempuan yang mengganggu milik orang lain di mata perempuan lain.”

Tak ada yang bisa Indra balas.

Ia hanya masuk ke ruangannya—dan langsung merasa ada yang hilang.

Meja kerjanya kosong.

Tak ada kotak bekal seperti biasa.

Biasanya, sekotak makanan hangat buatan tangan Anya sudah menunggunya. Makanan rumahan sederhana yang selalu berhasil membuatnya tak pernah sarapan di rumah.

Hari ini... tidak ada.

Indra menghela napas, lalu meraih gagang telepon. Menekan ekstensi ke meja depan.

Sekali dering. Terangkat.

“Good morning, Pak Maha Indra’s office, this is Anya. How may I assist you?”

Suaranya tetap rapi. Profesional. Tapi ada sesuatu yang terasa... dingin.

“Mana sarapanku?”

Anya diam sejenak. Lalu menjawab pelan.

“Aku nggak masak.”

“Kenapa?”

“Buat apa, Pak?”

Klik.

Indra menutup telepon tanpa pamit.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak mengerti... siapa yang baru saja ia ajak bicara.

---

Sepanjang hari, pekerjaan di kantor benar-benar menyita waktu Anya. Ia harus menyiapkan segala keperluan untuk Indra sambil mulai berkoordinasi dengan tim sales, marketing, banquet, dan kitchen untuk memastikan acara pertunangan Indra berjalan lancar.

Ia melakukan semuanya dengan profesional, meskipun hatinya sakit bukan main.

Setiap kali rasa sakit itu menyerang, ia menghardik dirinya sendiri.

'Stop! Kamu yang berharap sendiri, jangan terlalu merasa sakit!'

Sepanjang hari itu, chat dari Indra masuk.

Beruntung, Anya tak merasa perlu membalasnya. Semua pesan itu tidak lebih dari rutinitas yang biasa terjadi—berjalan seperti biasa, tanpa menanyakan kabar, tanpa melibatkan emosi.

[Mau makan siang apa?]

[Mau liat sunset di Uluwatu bentar sore?]

[Nya, tolong ke ruanganku.]

[Nya, sini!! P i j e t i n punggungku bentar]

Namun, semua pesan dan panggilan telepon itu ia abaikan. Ia hanya akan merespons jika Indra menelfon extension-nya atau memberinya instruksi terkait pekerjaan.

Namun entah kenapa, meski ia berusaha keras untuk tidak peduli, hatinya tetap merasa terperangkap di antara harapan dan kenyataan.

Saat pulang kerja, ketika ia sampai di depan rumah kontrakannya, mobil mewah Indra sudah terparkir di depan pintu.

Anya tahu, ia tak mungkin menghindari pria itu terus-menerus. Indra, pria yang selalu menetapkan batasan—tapi juga yang selalu melangkahi batas itu. Ia tidak bisa terus bersembunyi dari kenyataan bahwa pria itu memiliki kontrol atas banyak hal dalam hidupnya, termasuk perasaan Anya.

Mobil itu menunggu. Pintu mobil dibuka, dan Indra duduk di dalam menunggu tanpa berkata apa-apa.

Saat Anya duduk di sampingnya, udara di dalam mobil terasa penuh ketegangan.

Indra langsung bertanya tanpa tedeng aling-aling.

“Kamu kenapa sih? Seharian ini aneh banget!”

Anya menunduk, tidak ingin bertemu tatapan mata Indra yang penuh tanya.

“Nggak apa-apa.”

Tapi Indra tak bisa menahan a m a r a hnya lebih lama lagi. Ia meledak, suara keras itu menggema di dalam mobil, mencabik-cabik kesunyian yang selama ini mengisi ruang antara mereka.

“Kamu ngambek? Ngambek karena bentar lagi aku mau nikah? Kamu tahu kan kamu nggak ada hak buat ngambek? Ingat kamu itu cuma...”

Anya merasa p a n a s merambat dari d a d a nya ke seluruh t u b u hnya. Ia sudah tak bisa menahan kata-kata yang sudah lama terpendam.

“Cuma apa?”

Ia me m o t o ng ucapan Indra, suaranya mulai meninggi, meskipun b i b i rnya masih tetap setengah tersenyum, senyum yang sudah hilang maknanya.

“Cuma teman t i d u r? Pengisi kekosongan kamu?”

Indra terdiam sejenak. Terkejut dengan jawaban Anya yang lebih t a j a m dari yang ia duga. Ia mencoba mengendalikan diri, menahan a m a r a hnya.

“Kamu denger apa yang aku bilang sama temenku m a l a m itu? Aku tuh cuma bercanda, nggak ada maksud apa-apa.”

Anya menatapnya dengan t a j a m, merasakan l u k a yang semakin dalam. Ini bukan hanya soal kata-kata yang keluar dari mulut Indra, ini tentang hubungan yang selama ini tidak pernah bisa dia pastikan. Hanya ilusi.

“Trus, coba jawab, jadi buat kamu, aku ini apa?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!