Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 Cemburu Dan Marah
Rakash turun dari mobil bersama dengan seorang pria yang kebetulan adalah klien sendiri. Mereka sama-sama memasuki Restaurant di mana Letisha berada.
"Sekretaris saya sudah memesan tempat. Silahkan tuan!" Rakash mempersilahkan dengan sangat sopan membuat pria tersebut menganggukkan kepala.
Langkah Rakash terhenti ketika melihat ke dalam bawah Letisha berada di salah satu meja dengan kedekatan yang tidak bisa dijelaskan, Letisha akan tertawa kecil, entahlah apa yang membuat dia begitu sangat bahagia.
"Tuan Rakash!" pria itu menegur Rakash saat tidak terlihat pergerakan dari Rakash yang hanya diam mematung.
"Tuan!"
"Oh. Maaf," sahut Rakash akhirnya menyadari.
"Apa tuan baik-baik saja?" tanya pria tersebut.
"Iya, saya baik-baik saja. Maaf dengan sikap saya dan silahkan!" Rakash tersenyum kemudian mempersilahkan kembali dengan keduanya akhirnya memasuki Restaurant dan mencari tempat duduk yang sudah disiapkan sekretaris Rakash.
Meeting Rakash kali ini terlihat tidak fokus sesaat matanya terus melihat ke arah Letisha yang tidak menyadari keberadaannya.
"Pak Digo, Saya mengucapkan terima kasih sekali lagi karena sudah percaya pada saya. Saya tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi untuk membuktikan bahwa saya tidak bersalah," ucap Letisha.
"Sama-sama Letisha, Saya senang jika bisa berkontribusi untuk menentukan .... oh iya, ini!" Digo tiba-tiba meletakkan paper bag berwarna coklat di atas meja tersebut.
"Apa ini?" tanya Letisha dengan kebingungan.
"Bukankah tadi saya sudah mengerti teman kamu bahwa saya akan tetap membeli perhiasan kamu. Jadi ini adalah berupa dana tunai dan saya akan mentransfer sisanya kepada kamu," jawab Digo
Letisha mengurutkan dahi dan melihat isi paper bag tersebut. Letisha cukup kaget dengan tumpukan uang yang sangat banyak membuat Letisha mengambilnya dengan gepokan yang sangat tebal.
"Pak Digo bener-bener ingin membayar DP perhiasan saya?" pertanyaannya terlihat tidak percaya membuat Digo menganggukkan kepala.
Rakash dari kejauhan jelas melihat bagaimana istrinya menerima uang dari pria lain. Rakash sudah tidak fokus lagi membahas permasalahan pekerjaan dengan rekannya itu. Rasa penasarannya benar-benar menggebu-gebu dan entahlah apa yang saat ini yang ada di pikirannya.
"Pak saya tidak tahu harus mengatakan apa, sungguh saya bener-bener berterima kasih, tetapi aku tidak berlebihan jika harus membayar di awal perhiasan saya, karena saya ingin perhiasan ini laku setelah masalah saya selesai," ucap Letisha.
"Kamu gunakan uang ini dengan seperlunya, dan seperti apa yang kamu katakan jika kamu butuh bantuan dan bukankah dengan uang kamu bisa melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa kamu tidak bersalah," ucap Digo.
"Baiklah! Kalau begitu saya ucapkan terima kasih," ucap Letisha dengan tersenyum membuat Digo menganggukkan kepala.
****
Letisha pulang ke rumah dengan membawa paper bag yang baru saja dia dapatkan dari restaurant. Letisha cukup kaget dengan kehadiran Rakash yang berada di ruang tamu.
"Ka-kamlu sudah pulang?" tanyanya sedikit gugup dengan memegang dada.
"Dari mana kamu?" tanya Rakash terdengar berat.
"Sejak kapan kamu harus tahu aku dari mana? Aku memiliki banyak urusan dan terlebih lagi aku..."
"Saya bertanya kamu dari mana?" Rakash memotong kalimat tersebut untuk memberi penegasan dan suaranya semakin berat, tidak biasanya berbicara seperti itu.
Rakash mengangkat kepala melihat serius Letisha.
"Kamu dari mana?" tanyanya kembali dengan suara lantang.
"Aku baru saja makan siang," jawab Letisha.
"Makan siang dengan menerima uang yang banyak dari seorang pria yang baru kamu kenal?" tanyanya.
"Apa maksud kamu?" Letisha mengerutkan dahi dan tidak tahu sebenarnya arah tujuan suaminya itu berbicara kepadanya ke arah mana.
"Aku selama ini membiarkan kamu bukan berarti aku tidak punya hak untuk melarang kamu. Saya mendingan kamu sadar sendiri dan bukan malah tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan!" tegas Rakash.
"Tunggu dulu! sebenarnya pembicaraan ini ke arah mana?" tanya Letisha.
"Saya melihat kamu bertemu dengan laki-laki yang menawar perhiasan kamu dengan sangat mahal," ucap Rakash.
"Pak Digo, ya memang kami baru saja pertama? lalu kenapa hah! kami hanya membicarakan masalah tanpa negosiasi atas perhiasanku, dia membeli perhiasanku dan aku tidak menerima uang apapun darinya jika bukan berurusan dengan perhiasan!" tegas Letisha.
"Kamu menjual perhiasan yang asal-usulnya belum jelas, Kamu tahu tidak etika designer dan bisnis itu ada, bagaimana bisa jalan pikiran kamu tetap penjual perhiasan itu dan sementara kebenarannya belum terungkap sampai saat ini!" tegas Rakash.
"Jadi benar, kamu menganggap bahwa hasil karya yang baru susah payah aku kuat adalah plagiat dan bukan milikku?" tanya Letisha semakin kecewa pada suaminya itu.
"Aku tadinya berharap bahwa kamu berbeda dari orang lain, ternyata sama saja," Letisha tersenyum getir.
Letisha sudah tidak ingin berbicara banyak dengan suaminya yang kita buatnya langsung pergi.
"Kembalikan uang itu?" langkah Letisha terhenti ketika mendengar perintah dari sang suami.
"Apa maksudmu?"
Rakash berdiri dari tempat duduknya dan mengambil paper bag yang sejak tadi dipegang istrinya, tetapi justru ditahan Letisha.
"Apa-apaan sih kamu? Kamu jangan mengambil sesuatu yang bukan milik kamu!" tegas Letisha berusaha untuk mempertahankan paper bag tersebut.
"Saya masih bisa memberimu uang lebih dari apa yang diberikan laki-laki itu, jika kamu menerima uang itu dan sama saja kamu merendahkan saya!" tegas Rakash.
"Aku sudah mengatakan berkali-kali uang ini adalah uang hasil dari kerja kerasku, kamu tidak memperlakukanku seperti ini!" tegas Letisha masih berusaha mempertahankan uang tersebut.
Tetapi Rakash dipenuhi dengan amarah menarik paper bag tersebut cukup keras sampai akhirnya sobek dan membuat semua uang-uang itu berserakan di lantai dengan ikatan yang cukup banyak.
Letisha sampai tidak percaya dengan apa yang dia lihat membuatnya melihat uang tersebut akan dilantai dan mengangkat kepalanya melihat ke arah Rakash.
"Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu bisa-bisanya memperlakukanku seperti ini!" tegas Letisha.
"Kamu yang keterlaluan! kamu tidak bisa menghargai seseorang, kamu masih tetap keras kepala dan tidak belajar dari kesalahan, ambil uang ini dari tempat ini dan kembalikan pada pria itu sebelum saya membakarnya!" tegas Rakash.
"Tidak akan! Ini adalah milikku dan kamu tidak punya hak untuk mengaturku!" tegas Letisha tetap keras kepala.
"Baiklah! Kamu ternyata lebih suka jika aku melakukan sendiri," ucap Rakash mungkin jika istrinya tetap keras kepala dan dia akan melakukan hal itu secara langsung.
"Aku aku pergi dari rumah dan terserah dengan semua pernikahan kita! Aku tidak peduli sama sekali!" tegas Letisha memberi ancaman.
"Coba saja lakukan, saya tidak akan memberikan toleransi apapun kepada kamu!"
"Sekarang semua pilihan ada pada kamu, ambil uang ini dan kembalikan kepada pria itu atau saya sendiri yang akan melakukannya!" tegas Rakash kembali memberi penegasan kepada istrinya.
"Jahat!" umpat Letisha dengan tangan terkepal dan mata berkaca-kaca.
Rakash tidak mengatakan apapun lagi dan langsung pergi memasuki kamarnya.
"Kamu benar-benar jahat Rakash!"
"Aku benci sama kamu! Kamu hanya manis di awal dan setelah itu kamu sama saja seperti orang lain, kamu tidak peduli kepadaku, kamu justru orang yang paling jahat!"
Letisha tidak henti-hentinya berteriak kepada sang suami, dia benar-benar penuh dengan kemarahan, penuh dengan emosi yang tidak akan tergambarkan dengan apapun.
Letisha hanya bisa terduduk lemas, benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia dapatkan hari ini.
Bersambung.....