⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!
SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA
Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?
Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.
Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?
Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengacau dan Preman Tagih Utang
Hari Senin, kembali menjadi hari yang penuh semangat.
"Hehe." Wahyu menertawakan dirinya sendiri, dengan enggan melangkahkan kakinya menuju perusahaan.
Meskipun tidak ingin menghadapinya, dia tetap harus memaksakan diri untuk berangkat.
Entah ide gila apa yang sedang direncanakan Raka, tapi perusahaan tidak bisa beroperasi tanpa sosok 'Bos' meski hanya sehari. Wahyu sendiri cukup memiliki wibawa di Grup Adiyaksa, jadi para karyawan pun menaruh hormat padanya.
Kringgg~
Ponsel Wahyu tiba-tiba berdering, membuatnya terkejut hingga nyaris melepaskan genggamannya dari setir Lamborghini.
"Halo, ada masalah mendesak apa nih? Saya sebentar lagi sampai!"
"Gawat, Bos Wahyu, ada pihak mitra kerja yang bawa gerombolan orang ke sini buat bikin keributan!" suara sekretaris resepsionis terdengar sangat panik.
Wahyu merasa bingung: "Mitra kerja kita kan cuma ada beberapa yang itu-itu aja, lagian belakangan ini yang hubungannya paling intim sama kita cuma Grup Santoso. Ini sebenernya rombongan dari mana yang berani ngacau?"
"Saya juga nggak kenal, Pak. Pokoknya mereka kelihatannya bukan orang baik-baik. Ada cowok yang gayanya kayak preman, pake kalung emas tebel banget persis abang-abang jagoan neon, mukanya sangar banget terus langsung nyerobot jalan ke arah meja saya!"
"Kamu tenang dulu, jangan panik. Jaga keselamatan diri kamu sendiri, tunggu saya sampai di sana."
"Siap, Bos Wahyu, Bapak cepetan ke sini ya!"
Setelah menutup telepon, Wahyu langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Kurang dari lima menit, dia sudah tiba di depan lobi gedung Grup Adiyaksa.
Karena tidak membawa bodyguard di sisinya, dia harus melangkah masuk dengan sangat berhati-hati.
Namun, lobi lantai satu itu ternyata kosong melompong. Wahyu berjalan mengendap-endap mendekati meja resepsionis.
"Aaa, jangan bunuh saya, jangan bunuh saya!"
Terdengar suara jeritan panik dari sekretaris wanita itu, ternyata dia sedang bersembunyi jongkok di balik kursi kerjanya.
Wahyu bertanya: "Katanya tadi ada orang yang mau bikin keributan, mana orang-orangnya?"
Begitu melihat sosok Wahyu, sekretaris itu baru bisa menghela napas lega: "Bos Wahyu, akhirnya Bapak dateng juga! Rombongan preman itu udah naik ke lantai atas!"
Otak Wahyu langsung memproses informasi, firasatnya mengatakan ini masalah besar. Dia buru-buru memberi instruksi pada sekretaris: "Cepat kasih pengumuman darurat ke semua departemen. Bilang kalau ada sindikat preman yang lagi nyusup mau merampok, suruh mereka semua fokus jaga keselamatan nyawa masing-masing, soal aset kantor nggak usah dipeduliin."
"Bos Wahyu memang keren dan bijaksana," begitu mendengar instruksi itu, sekretaris tersebut langsung mengetik pesan dan menyebarkannya ke seluruh kepala departemen.
Melihat angka di layar indikator lift yang terus berubah naik, jantung Wahyu berdebar kencang.
"Kita lapor polisi aja dulu."
Setelah berpikir selama beberapa detik, Wahyu memutuskan jalan keluar yang paling aman.
Ini adalah hari pertamanya menjabat sebagai "Bos Pengganti", dan langsung dihadapkan pada situasi ruwet seperti ini. Karena dia sendiri tidak punya solusi jitu, lebih baik panggil polisi saja. Tidak peduli siapa rombongan yang datang hari ini, dan tidak peduli apakah memanggil aparat akan menyinggung pihak lawan atau tidak, lapor polisi adalah langkah yang paling rasional.
Wahyu berpikir di dalam hati, toh Bos Raka sendiri yang bilang, sekalipun langit runtuh, nggak usah peduli.
Di saat yang bersamaan, para karyawan yang sedang bekerja di lantai atas juga mulai mengirimkan laporan update ke sekretaris resepsionis.
"Mbak Sekretaris, rombongan preman itu sama sekali nggak ngerampok barang lho. Mereka cuma keliling bentar ngeliat-liat terus langsung jalan lagi."
Sekretaris resepsionis segera menyampaikan kabar ini kepada Wahyu.
Wahyu merasa ini sangat ganjil: "Udah naik sampai ke atas, tapi nggak niat ngerampok, terus ngapain? Emangnya mereka lagi study tour?"
"Denger dari omongan Bapak, kok kesannya Bapak malah ngarep banget mereka ngerampok harta kita ya?" komentar sekretaris itu speechless.
Wahyu mencoba menjernihkan alur pikirannya: "Kamu mikirnya terlalu dangkal. Kalau dari awal tujuan mereka ke sini emang murni buat ngerampok duit, itu malah bagus banget. Soalnya kita jadi punya kejelasan soal apa yang mereka incar, niat mereka dateng ke sini itu mutlak dan bisa diprediksi. Tapi situasi sekarang ini, kita sama sekali buta sama motif asli mereka, dan itulah yang paling mengerikan."
Ini adalah filosofi dasar dalam seni berperang, persis seperti pepatah 'Kenali dirimu, kenali musuhmu, niscaya kau akan memenangkan ratusan pertempuran'.
Mendengar analisa itu, sekretaris tersebut tanpa sadar mulai merasa kagum pada Wahyu.
"Terus sekarang kita harus ngapain, Bos?"
"Nunggu."
Di bawah tatapan pasrah sang sekretaris, waktu berlalu menit demi menit.
Tak lama kemudian, pihak kepolisian akhirnya tiba di lokasi.
"Siapa yang melapor? Di mana posisi perampoknya?"
Wahyu menunjuk ke arah atas, dan berkata pada para petugas polisi: "Mereka udah naik ke atas, Pak."
Bapak polisi itu tidak banyak bertanya lagi, dia langsung memberikan komando taktis kepada anak buahnya: "Semuanya, ambil posisi siaga dan menyergap!"
Gerakan mereka sangat cepat bak kilat. Para polisi yang tiba di lokasi langsung mencabut senjata api mereka dan mencari titik buta untuk berlindung dan mengambil posisi cover. Wahyu dan sekretarisnya sampai dibuat melongo takjub melihat formasi yang begitu profesional ini.
Dulu saat menemani bosnya syuting film aksi, Wahyu sering menonton adegan action, tapi aktor-aktor film itu sama sekali tidak bisa memancarkan aura heroik dan intimidasi sekuat aparat asli ini. Kesimpulannya, sekeren apa pun akting film, tidak akan pernah bisa mengalahkan realita.
Ting Tong~
Setelah membiarkan para polisi mempertahankan posisi siaga selama setengah jam penuh tanpa bergerak, pintu lift akhirnya terbuka.
Wahyu yang tidak takut mati, langsung melangkah maju menjadi orang pertama yang menyambut mereka.
"Halo Bapak-bapak sekalian, boleh saya tahu apa gerangan tujuan kalian datang berkunjung ke perusahaan sederhana kami hari ini?"
Meskipun dia belum melihat dengan jelas wajah orang-orang itu, nada bicaranya tetap dipertahankan sangat sopan dan formal.
"Mana bos kalian?!"
Gerombolan preman berwajah garang itu membentaknya kasar. Pria yang tampaknya menjadi pemimpin mereka kemudian mengangkat kepalanya. Di detik itulah, Wahyu bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas. Saking kagetnya, Wahyu sampai nyaris terlompat.
"Vino Pratama?!"
"Nggak usah banyak bacot lo, cepet panggil bos lo ke sini buat nemuin gue!"
Tentu saja Wahyu sangat paham betul akar permasalahan antara Vino dan Raka. Namun Raka sudah mewanti-wanti dengan keras, bahkan jika langit runtuh sekalipun, jangan pernah meneleponnya. Sangat mungkin Raka sengaja bersembunyi untuk menghindari konfrontasi dengan musuh bebuyutannya ini.
Memikirkan hal itu, Wahyu merapikan kerah bajunya, dan memberanikan diri melangkah lebih dekat.
"Ehem, sayalah bos di perusahaan ini."
"Elo? Nggak usah sok-sokan ngelindungin dia deh! Gue tau persis lo ini cuma kroco asistennya Raka doang!" Vino Pratama mencibir dengan sangat meremehkan. "Lo itu nggak punya level dan kasta buat ngomong sama gue, cepet panggil Raka ke sini!"
"Saya serius, saya beneran bos di sini. Raka udah ngehibahin dan mindah tangan Grup Adiyaksa seutuhnya ke saya, nggak kurang satu sen pun."
Wahyu menjawab dengan wajah datar tanpa emosi.
Siapa sangka, pihak lawan tetap tidak percaya, malah mulai meracau dan melontarkan makian kasar: "Nggak usah cosplay lo! Gembel kere miskin kayak lo mana punya kemampuan buat megang perusahaan?! Daripada lo tiap hari halu ngayal siang bolong, mending lo pergi ngaduk semen aja sana di proyek!"
Pada saat inilah, sekretaris resepsionis dengan sangat hati-hati mencoba memberi penjelasan pada Vino: "Beliau ini memang benar bos kami di sini, kami semua memanggilnya Bos Wahyu."
"Cuma levelan elo?!" Vino Pratama melirik Wahyu dengan tatapan penuh kebencian, mengambil dua langkah lebar, dan langsung mendorong tubuh Wahyu dengan sangat kasar.
Wahyu yang kehilangan keseimbangan, langsung jatuh terjerembab mencium lantai.
Mendengar suara debuman tubuh yang jatuh itu, para polisi yang sudah bersiaga langsung melompat keluar dari persembunyian, dan dengan gerakan secepat kilat langsung membekuk dan melumpuhkan Vino Pratama.
"Jangan bergerak! Angkat tangan kalian ke atas!"
Rombongan yang terdiri dari sekitar lima orang preman itu, semuanya berhasil dipiting paksa ke lantai oleh bapak-bapak polisi.
"Aduh, aduh, sakit banget woy!" Vino Pratama merintih-rintih kesakitan bak babi disembelih.
Selanjutnya, semua orang yang ada di lobi itu digiring ke kantor polisi untuk dimintai keterangan (BAP).
"Jawab jujur, kenapa kalian datang ke sana buat bikin keributan?"
"Pak Polisi, sumpah ini salah paham, saya difitnah! Saya sama sekali nggak ada niat buat bikin onar, saya cuma mau silaturahmi nyari temen lama saya, si Raka." Wajah Vino terlihat sangat licik dan menyebalkan, persis seperti rubah tua yang licik.
"Mau silaturahmi nemuin temen lama, tapi kenapa bawa-bawa tongkat pemukul baseball?"
"I-Itu, temen saya itu hobinya main baseball Pak, makanya saya niatnya mau ngajakin dia tanding olahraga."
"Masih berani ngeles kamu ya?!"
"Pak, saya ngaku salah!" Melihat taktik ngelesnya tidak mempan di depan polisi, Vino langsung jatuh berlutut memohon ampun. "Pak Polisi, tolong banget jangan masukin saya ke sel tahanan! Kalau bapak saya sampe denger soal ini, dia pasti bakal gebukin saya sampe mati!"
"Kalau gitu mending kamu kooperatif dan jawab yang jujur, paham?!"
"Siap, Paham, Ndan!"
"Jawab sekarang, apa motivasi asli kalian dateng ngacau ke perusahaan orang?"
"Soalnya... si Raka itu udah nyulik dan nyembunyiin pacar saya."
"Hah?"