NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Biru dan Janji Sore

Kami terdiam cukup lama setelah obrolan tentang MOS tadi mereda. Suasana dapur kembali hening, hanya terdengar suara es batu yang beradu dengan gelas sirup Cila.

Aku mencuri pandang, melihat Cila mulai asyik memainkan HP-nya. “Aduh, dia mulai bosen ya?” pikirku panik. Otakku berputar keras, mencari topik apa saja supaya dia nggak buru-buru pulang. Aku ingin lebih lama berinteraksi dengannya, tapi kepalaku mendadak kosong.

Sampai akhirnya, sebuah keberanian muncul entah dari mana.

“Mmm... Cil,” panggilku dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.

Cila bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari layar HP.

“Mau nggak... kalau nanti sore kita jalan-jalan... naik motorku?” ajakku. Kali ini, kupaksakan mataku menatap langsung ke matanya, menunggu jawaban dengan jantung yang berdegup kencang.

Cila terdiam sejenak, melepaskan HP-nya dari tangan, lalu menoleh padaku. Matanya berbinar, sebuah senyuman lebar terukir di wajahnya. Dia menyetujuinya dengan raut wajah yang tampak sangat senang.

Cila kemudian menghabiskan sisa sirupnya dengan cepat, seolah ikut tidak sabar menunggu sore tiba. Ia beranjak dari bangku dapur, tak lupa mengucap terima kasih kepada Bi May yang masih sibuk di belakang.

“Sore ya, Ren!” serunya sambil melambaikan tangan.

Aku terpaku di tempat, merasa sangat bahagia. Begitu sosoknya menghilang di balik pintu, aku langsung beranjak dari dapur, menaiki tangga dengan langkah cepat, dan masuk ke dalam kamar.

Barulah di sana aku berani mengekspresikan kebahagiaanku. Aku mengepalkan tangan ke udara, rasanya ingin berteriak tapi kutahan. Aku melangkah keluar menuju balkon, menatap ke arah jendela kamar Cila di seberang sana.

Tiba-tiba, aku melihat gorden kamar Cila bergerak sedikit. Sepertinya ada yang mau mengintip tapi mendadak tidak jadi. Aku langsung masuk kembali ke dalam kamar sambil menahan senyum yang nyaris pecah. “Itu pasti Cila,” batinku kegirangan.

Aku melirik jam di layar HP. Ternyata masih tengah hari. Saking asyiknya mengobrol dan merasa gugup tadi, aku sampai lupa kalau perutku sudah keroncongan. Baru sekarang rasa lapar itu benar-benar menyerang.

Aku pun kembali turun ke dapur untuk makan, lalu bergegas balik lagi ke atas. Aku menjatuhkan tubuh di atas kasur, melamun menatap langit-langit kamar yang putih. Bayangan tentang jalan-jalan sore nanti menggunakan si 73 biru bersama Cila memenuhi pikiranku.

Tanpa terasa, rasa lelah dan kantuk perlahan menyelimuti, membawaku terlelap dengan senyum yang masih tersisa.

Dalam tidurku, sebuah mimpi buruk datang menyergap. Aku bermimpi bangun kesiangan dan melewatkan janji sore itu. Di sana, Cila menatapku dengan mata benci, ia ngambek dan berkata tidak mau lagi melihat wajahku selamanya.

"Aaaaa!" aku berteriak dalam mimpi sampai akhirnya tersentak bangun.

Napas pelu, jantungku berdegup kencang, dag-dig-dug tak karuan. Aku langsung menyambar HP untuk melihat jam. Aku menghela napas lega, syukurlah itu cuma mimpi. Ternyata masih banyak waktu sebelum sore tiba.

Aku segera bersiap dengan sangat teliti. Mulai dari mandi sebersih mungkin, memakai skincare, hingga memilih baju terbaik yang paling rapi. Sebagai sentuhan akhir, aku melingkarkan jam tangan pemberian Cila di pergelangan tanganku. Aku menatapnya sejenak, lalu mencium jam tangan itu pelan. Sebuah jimat keberuntungan.

Tepat saat aku hampir selesai, sebuah notifikasi berbunyi.

"Rend," pesan singkat dari Cila muncul di layar.

"Kamu udah siap?" balasku cepat.

"Iya," jawab Cila singkat.

Aku sedikit terheran, kok tumben dia sudah siap secepat ini? Biasanya perempuan butuh waktu lama untuk berdandan. Aku pun bergegas turun menuju garasi. Namun, saat menuruni tangga, langkahku terhenti karena Kak Marisa memergokiku dari sofa ruang tengah.

"Tumben rapi amat, mau kemana kamu?" tanyanya penuh selidik.

"Aku mau main, Kak. Berangkat ya!" jawabku cepat tanpa mau memperpanjang urusan.

Kak Marisa tidak menjawab, ia hanya memasang ekspresi penuh tanda tanya sambil memerhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Aku langsung menuju garasi samping depan rumah. Kuhidupkan mesin Si 73 biru elektrik itu sejenak untuk memanaskan mesin. Suaranya yang khas mulai menderu. Aku keluar dari halaman rumahku, lalu perlahan memasuki gerbang halaman rumah Cila.

Dari kejauhan, aku melihat Cila sudah menunggu di bangku depan rumahnya. Begitu aku semakin dekat, matanya langsung tertuju pada si biru 73.

"Ini motor kamu?" tanya Cila saat aku berhenti tepat di depannya.

"Iya... maaf ya, jalan-jalannya pakai motor tua," jawabku agak rendah diri.

"Iih, motornya lucu banget!" seru Cila dengan nada gemas yang jujur.

"Masa sih?" tanyaku, masih sulit percaya dia suka motor sekuno ini.

"Iya, unik!"

Aku tersenyum bangga. "Ini pemberian Abah di kampung."

Syukurlah, pikirku dalam hati. Rasa khawatirku seketika menguap. Aku menyodorkan helm kepadanya, yang kemudian ia pasang dengan rapi. Cila perlahan naik ke jok belakang.

"Pak Bejo, pamit dulu ya!" seruku pada Pak Bejo yang kebetulan sedang berada di halaman depan.

Setelah mendapat anggukan dari Pak Bejo, aku menarik gas pelan. Si 73 biru itu pun meluncur membelah sore, membawa kami berdua memulai perjalanan yang sudah kunantikan sejak lama.

Aku menarik gas pelan, membawa Si 73 biru elektrik keluar dari gerbang kompleks. Suara mesinnya yang khas—tek-tek-tek—terasa sangat bersahabat di telingaku.

Baru beberapa ratus meter berjalan, aku mulai tersadar akan satu masalah besar.

“Ren, kita mau ke mana?” tanya Cila sedikit berteriak di balik helmnya.

“Eee... ke mana ya? Enaknya ke mana, Cil?” jawabku jujur, sambil tetap fokus menatap jalanan yang masih terasa asing bagiku.

Cila tertawa renyah, aku bisa merasakannya dari getaran di bahuku. “Lah, yang ngajak siapa, yang bingung siapa! Kamu kan yang tuan rumah di sini, masa nggak tahu tempat asyik?”

“Kan aku baru di sini, Cil. Seminggu ini kan aku... anu... sibuk di kamar terus,” kilahku, hampir saja keceplosan bilang kalau aku sibuk angkat beban dan makan dada ayam rebus.

“Dasar ansos!” ledek Cila sambil mencubit pinggangku pelan. “Ya udah, lurus aja dulu. Cari yang adem.”

Aku pun pasrah dan terus memacu Si 73 dengan kecepatan santai. Kami melewati beberapa jalan protokol yang mulai ramai oleh kendaraan sore. Aku sempat beberapa kali salah ambil jalur, membuat Cila harus berkali-kali mengingatkanku.

Rasanya agak memalukan, tapi di sisi lain, kebingungan ini justru membuat kami jadi lebih banyak mengobrol dan tertawa di sepanjang jalan.

Setelah sekitar lima belas menit berputar-putar tanpa tujuan yang jelas, mataku menangkap hamparan hijau di kejauhan.

“Eh, itu apa, Cil?” tanyaku sambil menunjuk ke arah kanan.

“Wah, kayaknya itu taman kota yang baru deh!” seru Cila antusias.

Aku membelokkan setang motor menuju ke sana. Ternyata benar. Di depan kami terbentang sebuah taman luas dengan danau buatan di tengahnya. Air danau itu memantulkan cahaya matahari sore yang mulai berubah jingga. Di pinggirannya, berderet gerobak-gerobak makanan yang mulai dikerumuni orang. Aroma martabak, bakso bakar, dan jagung manis menyeruak masuk ke hidungku.

“Nah, ini baru asyik!” Cila langsung turun begitu aku memarkirkan motor di bawah pohon rindang.

Aku melepas helm, menyeka sedikit keringat di dahi, lalu menatap danau itu. “Gila, untung ketemu ya. Kalau nggak, mungkin kita bakal muter-muter sampai magrib.”

Cila menoleh, menatapku sambil tersenyum manis. “Tuh kan, kadang nggak perlu rencana matang buat nemuin tempat yang bagus. Yang penting... jalannya bareng siapa.”

Deg. Kalimat terakhirnya sukses membuat wajahku panas lagi. Aku pura-pura sibuk mengunci setang motor agar dia tidak melihat rona merah di pipiku.

“Yuk, cari makan! Aku laper banget gara-gara nungguin kamu tadi!” ajak Cila sambil menarik ujung jaketku, membawaku melangkah menuju keramaian di tepi danau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!