Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan yang di Paksakan
Pagi itu terasa berbeda.
Langit cerah, matahari bersinar terang.
Namun bagi Ryan… semuanya terasa kosong.
Ia berdiri di depan bengkelnya, menatap jalan seperti biasa.
Tapi kali ini—
tidak ada lagi harapan.
Tidak ada lagi yang ditunggu.
Surat itu masih tersimpan rapi di sakunya.
Dan sejak semalam, ia sudah membaca berkali-kali.
Setiap kata.
Setiap kalimat.
Seolah ingin memastikan bahwa semua ini benar.
“Sudah selesai,” gumamnya pelan.
Seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Lalu ia kembali bekerja.
Lebih fokus.
Lebih dingin.
Seolah mencoba menghapus sesuatu yang tidak bisa ia miliki.
Di sisi lain kota—
Arini duduk diam di ruang tamu besar rumahnya.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Di depannya, kedua orang tuanya duduk berhadapan.
Suasana hening.
Namun tekanan terasa sangat jelas.
“Ada yang ingin Ayah sampaikan,” kata Prasetyo akhirnya.
Arini tidak menjawab.
Ia hanya menatap lurus ke depan.
“Kamu akan bertunangan.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tanpa peringatan.
Tanpa pilihan.
Arini langsung mengangkat kepalanya.
Tatapannya berubah.
“Apa?”
Prasetyo tetap tenang.
“Dengan putra dari rekan bisnis Ayah.”
Arini berdiri.
“Ayah tidak bisa memaksakan ini!”
Prasetyo menatapnya dingin.
“Ayah tidak memaksa. Ini keputusan.”
“Ini sama saja!” balas Arini.
Suaranya mulai bergetar.
Ibunya mencoba menenangkan.
“Arini, dengarkan dulu—”
“Aku sudah dengar cukup!” potong Arini.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak mau!”
Suasana memanas.
Namun Prasetyo tetap tidak berubah.
“Ini yang terbaik untuk keluarga.”
“Untuk keluarga… atau untuk bisnis?” tanya Arini tajam.
Keheningan.
Namun itu sudah menjadi jawaban.
Arini tersenyum pahit.
“Jadi aku hanya bagian dari kesepakatan?”
Prasetyo tidak membantah.
“Kadang… kita harus mengorbankan sesuatu.”
Kalimat itu seperti pisau.
Menusuk tanpa ampun.
Arini menatap ayahnya.
Lama.
Lalu berkata pelan,
“Kalau begitu… aku juga sudah mengorbankan sesuatu.”
Prasetyo mengernyit.
“Maksudmu?”
Arini menunduk sejenak.
Lalu mengangkat kepalanya kembali.
Namun kali ini—
matanya kosong.
“Aku sudah berhenti menemui dia.”
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Ibunya terlihat terkejut.
Prasetyo hanya diam.
Namun jelas ia mengerti siapa yang dimaksud.
Arini melanjutkan,
“Aku sudah melakukan yang Ayah mau.”
Ia menarik napas dalam.
“Jadi… jangan minta aku lebih dari ini.”
Untuk pertama kalinya—
suasana terasa tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Prasetyo.
Namun ia tetap berkata,
“Pertunangan tetap berjalan.”
Arini terdiam.
Lalu perlahan…
ia tertawa kecil.
Namun tidak ada kebahagiaan di sana.
“Baik.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi penuh luka.
Sore hari—
Ryan sedang bekerja ketika suara gaduh terdengar di depan bengkel.
Beberapa orang berkumpul.
Membicarakan sesuatu.
Ryan tidak terlalu peduli.
Namun satu kalimat membuatnya berhenti.
“Katanya anak konglomerat itu mau tunangan!”
Ryan langsung menoleh.
“Siapa?” tanyanya singkat.
Salah satu orang menjawab,
“Arini. Anak Pak Prasetyo itu.”
Dunia terasa diam.
Beberapa detik.
Namun Ryan tidak menunjukkan reaksi besar.
Ia hanya mengangguk pelan.
“Oh.”
Satu kata.
Sesederhana itu.
Namun di dalam—
ada sesuatu yang runtuh.
Ryan kembali ke pekerjaannya.
Tangannya bergerak seperti biasa.
Namun kali ini—
lebih keras.
Lebih cepat.
Seolah ingin melampiaskan sesuatu.
“Memang sudah seharusnya begitu,” gumamnya.
Seolah mencoba menerima.
Namun hatinya…
tidak sepenuhnya setuju.
Malam itu—
Ryan duduk sendirian di bengkel.
Lampu redup.
Suasana sunyi.
Ia mengeluarkan kembali surat itu.
Membacanya sekali lagi.
Namun kali ini—
ia tidak mencari makna.
Ia hanya ingin memastikan satu hal.
Bahwa semua ini… benar-benar sudah berakhir.
Perlahan, ia melipat kembali kertas itu.
Lalu berkata pelan,
“Kalau ini pilihanmu…”
Ia berhenti sejenak.
Menatap kosong ke depan.
“…aku tidak akan menghalangi.”
Kalimat itu terdengar tenang.
Namun di baliknya—
ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Malam itu menjadi saksi…
bahwa dua orang yang pernah berada di satu jalan
kini mulai berjalan ke arah yang berbeda.