Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 SEPERTI ANAK KECIL.
Suasana ruang tengah rumah sederhana itu terasa hangat, namun ada sesuatu yang menggantung di udara. Kata-kata Ayah tentang masa depan masih terngiang di telinga Khay, meski ia berusaha bersikap santai. Sebelum Khay sempat membuka mulut untuk bertanya lebih jauh, Mama Hera lebih dulu menyela dengan nada lembut namun tegas.
“Putrimu baru saja pulang,” ucap Mama sambil menatap Ayah. “Biarkan Khay istirahat dulu. Masih ada hari esok.”
Ayah terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. Wajahnya yang sejak tadi tampak serius perlahan melunak. Ia menoleh ke arah Khay, seolah baru menyadari bahwa putri kesayangannya itu baru saja menempuh perjalanan panjang dari ibu kota.
Khay tersenyum lembut. Senyum yang selalu berhasil meluluhkan hati kedua orang tuanya. “Mamah memang paling pengertian,” ucapnya manja. “Khay mandi dulu ya. Nanti Khay temui Ayah lagi.”
Ayah mengangguk pelan. “Baiklah… maafkan Papah. Yasudah, kamu mandi dulu. Setelah itu kita makan malam.”
“Iya, Yah,” jawab Khay sambil mengangguk kecil, lalu berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
Kamar Khay tidak banyak berubah sejak ia pergi kuliah ke kota. Dinding berwarna krem, lemari kayu sederhana, meja belajar yang penuh buku, dan foto keluarga yang terpajang rapi di dinding. Ia meletakkan tasnya di sudut kamar lalu duduk di tepi ranjang.
Pikiran Khay kembali melayang pada ucapan Ayah tadi. Tentang masa depanmu.
“Apa ya maksud Ayah?” gumamnya pelan.
Ada sedikit rasa penasaran, tapi tidak sampai membuatnya gelisah. Ayah dan Mama tidak pernah membuat keputusan yang merugikannya. Sejak kecil, mereka selalu mengajarkannya untuk berpikir dewasa dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
“Sudahlah,” ucap Khay sambil bangkit berdiri. “Lebih baik aku mandi dulu.”
Ia melangkah ke kamar mandi, membuka keran air, dan membiarkan air dingin membasahi tubuhnya. Rasa lelah akibat perjalanan panjang perlahan luruh. Di bawah guyuran air, Khay justru merasa damai. Tidak ada beban, tidak ada tangis karena putus cinta, tidak ada penyesalan.
Dalam hati, ia bahkan bersyukur. Putus dengan Romi terasa seperti keputusan paling tepat yang pernah ia ambil. Ia tersenyum kecil mengingat wajah kesal ibu Romi di restoran tadi. Namun senyum itu cepat menghilang, digantikan perasaan hangat saat membayangkan wajah Ayah dan Mama. Selama mereka ada, aku baik-baik saja, batinnya.
......................
Aroma masakan Mama menyambut Khay begitu ia keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Ia mengenakan daster rumah yang nyaman, rambutnya masih sedikit basah. Di meja makan, berbagai lauk tersaji rapi sayur bening kesukaannya, ikan goreng, sambal, dan tempe bacem.
“Wah,” Khay berseru pelan. “Lengkap sekali.”
Mama tersenyum bangga. “Mumpung kamu pulang. Mamah masak semua yang kamu suka.”
Ayah sudah duduk di kursinya, menatap Khay dengan senyum penuh kasih. “Sini, duduk. Kamu pasti lapar.”
Khay duduk di antara mereka. Seperti biasa, Mama sibuk mengambilkan nasi dan lauk untuknya, sementara Ayah memastikan gelas minumnya terisi penuh.
Khay tertawa kecil. “Aku sudah besar, tapi kalian masih saja menganggap aku anak kecil.”
Ayah terkekeh. “Walaupun kamu sudah nenek-nenek keriput pun, kamu tetap putri Ayah.”
“Yah!” Khay mendengus manja, membuat Mama ikut tertawa.
“Sudah, ayo kita makan,” ucap Mama. “Mamah sudah lama tidak memasakkan kamu seperti ini.”
Mereka pun mulai makan bersama. Suasana meja makan dipenuhi canda dan tawa. Ayah bercerita tentang sawah yang mulai memasuki masa panen, Mama bercerita tentang tetangga yang baru saja punya cucu, sementara Khay menceritakan sedikit tentang kehidupan kampus tentu tanpa menyebut soal Romi.
Di tengah tawa itu, Khay merasa hatinya penuh. Inilah kebahagiaan yang sederhana, namun tak tergantikan. Bukan restoran mewah, bukan mobil mahal, melainkan makan malam bersama keluarga di rumah kecil yang penuh cinta.
Sesekali, Ayah tampak ingin mengatakan sesuatu, namun ia mengurungkan niatnya. Mama seolah menyadari itu dan memberi isyarat halus agar Ayah menahan diri.
Malam itu berlalu dengan damai. Setelah makan, Khay membantu Mama membereskan meja, lalu mereka duduk sebentar di ruang tengah sambil menonton acara televisi yang sebenarnya tidak terlalu mereka perhatikan.
Rasa kantuk perlahan menyerang Khay. Matanya terasa berat, tubuhnya pun mulai lelah.
“Khay ngantuk,” ucapnya sambil menguap kecil.
“Masuk kamar saja,” ujar Mama. “Besok kamu bisa bangun siang.”
“Iya, Mam. Ayah, selamat malam.”
“Selamat malam, Putriku,” balas Ayah sambil tersenyum.
Khay masuk ke kamarnya, merebahkan diri di ranjang, dan menatap langit-langit kamar. Ia merasa aman. Tenang. Tanpa beban.
Tak butuh waktu lama, ia pun terlelap.
Keesokan paginya…
Sinar matahari sudah tinggi ketika Khay tiba-tiba terbangun. Matanya terbuka lebar saat melihat jam di ponselnya.
“ASTAGA!” serunya panik. “Aku kesiangan!”
Khay bangun tergesa-gesa, rambutnya berantakan, dan langsung duduk di tepi ranjang dengan napas terengah. Di luar kamar, terdengar suara Mama dan Ayah berbincang pelan.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa hari itu, pembicaraan tentang masa depan yang semalam tertunda… akhirnya benar-benar akan dimulai.
Dengan rambut yang masih berantakan dan mata setengah terpejam, Khay membuka pintu kamar lalu melangkah keluar. Ia merentangkan kedua tangannya ke atas sambil menguap lebar, benar-benar lupa bahwa ia tidak sendirian di rumah pagi itu.
“Aaahhh_”