Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pijakan Pertama
Tiga hari berlalu seperti detik-detik yang diseret paksa menjadi jam.
Setiap pagi dimulai dengan ritual yang sama—Daniel masuk ke ruangan dengan tablet medis di tangan, wajah serius tapi mata yang selalu mengamati setiap detail perubahan pada tubuh Rafael.
Pemeriksaan vital, tes refleks, analisis darah, scan biometrik. Rutinitas yang membosankan tapi perlu.
***
Hari ini berbeda.
Daniel masuk dengan peralatan yang berbeda—tidak ada jarum suntik, tidak ada alat scan portable. Hanya sarung tangan medis dan gunting bedah kecil.
"Hari ini kita lepas semuanya," katanya tanpa basa-basi.
Rafael menatap selang-selang yang masih tertancap di lengannya—infus nutrisi, monitor detak jantung, sensor oksigen darah.
Sudah tiga hari dia terhubung dengan mesin-mesin ini. Tiga hari dia berbaring seperti boneka yang dirawat.
Daniel bekerja dengan presisi—melepas plester medis dengan hati-hati, mencabut jarum infus dengan gerakan cepat tapi lembut, menonaktifkan sensor satu per satu.
Setiap selang yang dilepas membuat Rafael merasakan kebebasan yang aneh. Kebebasan yang seharusnya melegakan, tapi justru membuat tubuhnya terasa asing.
"Sekarang,"
Daniel meletakkan peralatan medis ke meja samping,
"kita coba berdiri."
Dia mengulurkan tangan.
Rafael menatap tangan itu sejenak. Lalu dia meletakkan kakinya di lantai—pelan, seperti menguji permukaan yang mungkin rapuh.
Lantai terasa dingin di telapak kakinya. Dia menggenggam tangan Daniel, menarik tubuhnya sendiri untuk berdiri.
Dunia berputar.
Gravitasi menghantamnya seperti gelombang. Lutut Rafael melipat, tubuhnya limbung, keseimbangan hilang total.
Tangan Daniel langsung menopang tubuhnya—kuat, stabil, mencegah Rafael jatuh ke lantai.
"Pelan-pelan," suara Daniel tenang.
"Tubuh lo butuh waktu untuk menyesuaikan. Tiga bulan berbaring membuat otot-otot lo lupa bagaimana cara menopang berat badan lo sendiri."
Rafael mencengkeram lengan Daniel lebih erat. Nafasnya memburu—bukan karena kelelahan, tapi karena frustrasi.
Dia yang pernah berkelahi dengan pembunuh bayaran, yang bisa bergerak dengan kecepatan yang membuat lawan kebingungan, sekarang tidak bisa berdiri dengan benar.
Tubuhnya gemetar. Kaki kanannya berusaha menemukan pijakan yang tepat, tapi otot-ototnya tidak merespons dengan baik. Seperti ada jeda antara perintah otak dan eksekusi fisik.
"Fokus," kata Daniel.
"Rasakan lantai di bawah kaki lo. Rasakan berat tubuh lo. Sekarang transfer berat itu ke kedua kaki secara merata."
Rafael mengikuti instruksi—memindahkan fokusnya dari kepanikan ke sensasi fisik. Lantai dingin. Otot kakinya menegang. Tulang-tulangnya menopang berat.
Pelan-pelan, keseimbangan mulai kembali.
Dia berdiri. Tidak sempurna, masih sedikit limbung, tapi berdiri.
Daniel tidak langsung melepaskan pegangannya.
"Baik. Sekarang coba ambil satu langkah."
Rafael mengangkat kaki kanannya—gerakan yang seharusnya mudah, instingtif, sekarang terasa seperti mengangkat beban besi.
Lututnya kaku, persendiannya seperti diberi karat.
Dia menyeret kakinya ke depan, lebih seperti gerakan zombie daripada manusia yang berjalan normal.
Kaki kirinya menyusul. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Setiap gerakan adalah perjuangan melawan tubuhnya sendiri.
Daniel berjalan di sampingnya—tidak melepaskan pegangan, selalu siap menangkap jika Rafael jatuh.
Mereka berkeliling ruangan dengan langkah yang sangat pelan.
Rafael merasakan keringat mengalir di pelipisnya—bukan keringat dari aktivitas fisik yang berat, tapi keringat dari frustrasi yang menumpuk.
Tiga puluh menit terasa seperti tiga jam.
Akhirnya Daniel membawa Rafael kembali ke ranjang. Rafael duduk dengan nafas yang agak berat—bukan karena dia kelelahan secara fisik, tapi karena mental yang terkuras.
"Bagus,"
kata Daniel sambil menyiapkan sarapan dari troli yang sudah disiapkan di sudut ruangan.
"Untuk hari pertama terapi berjalan, ini sudah sangat bagus."
Rafael tidak menjawab. Dia menatap kakinya sendiri—kaki yang terasa asing, seperti bukan miliknya.
Daniel meletakkan nampan berisi sarapan di meja samping—roti gandum, telur rebus, jus jeruk segar, dan beberapa suplemen vitamin. Lalu dia menarik kursi, duduk di samping tempat tidur.
"Makan dulu," katanya.
"Kita ngobrol sambil makan."
Rafael mengambil roti, menggigitnya tanpa selera. Rasanya hambar di lidahnya—bukan karena rotinya tidak enak, tapi karena pikirannya terlalu penuh untuk fokus pada rasa makanan.
***
BERSAMBUNG...