NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertangkap Basah

Felicia sedang fokus menyusun laporan alur penyelesaian sampel ketika Anissa, rekan dari departemen marketing, menghampiri mejanya dengan langkah terburu-buru.

"Fel, kamu sudah tahu belum kalau minggu depan Pak Han ulang tahun?" tanya Anissa pelan, sembari bersandar di kubikel Felicia.

Felicia tertegun sejenak, tangannya berhenti di atas keyboard. "Eh, iya ya, Ca? Aku malah nggak tahu sama sekali."

Anissa mendecak pelan sambil menggelengkan kepala. "Duh, Fel... gimana sih? Kamu kan asisten pribadinya, masa tanggal lahir bos sendiri lewat?" Anissa melontarkan kalimat itu dengan kekehan ramah, meski ada sedikit nada menyindir yang terselip—khas persaingan antar staf yang merasa lebih tahu soal atasan.

Felicia berusaha tetap tenang agar tidak terlihat salah tingkah. "Iya nih, maaf banget. Belakangan ini jadwal sample lagi kacau banget, jadi aku benar-benar nggak sempat cek kalender pribadi Bapak."

"Ya sudah, makanya ini aku ingatkan," lanjut Anissa dengan nada bossy yang halus.

"Tolong atur jadwalnya ya. Anak-anak marketing mau kasih surprise kecil-kecilan seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita sudah iuran buat beli kue dan kado."

Felicia segera meraih agenda kerjanya. "Oke, Ca. Rencananya mau jam berapa? Pagi atau pas jam pulang kantor?"

"Sore saja biasanya, biar lebih santai dan nggak bentrok sama schedule Bapak. Sekitar jam empat-an lah," usul Anissa.

"Sip. Nanti aku kunci jadwalnya supaya Bapak nggak ada meeting atau kunjungan ke pabrik di jam itu," jawab Felicia profesional, meski dalam hati ia mulai berpikir kado apa yang kira-kira belum dimiliki oleh Mas Jimmy-nya itu.

Anissa menegakkan tubuhnya, bersiap pergi. "Oke, jangan sampai bocor ya. Titip salam buat Pak Han kalau dia sudah selesai rapat nanti."

"Siap, nanti disampaikan," sahut Felicia sambil tersenyum tipis, menatap punggung Anissa yang menjauh.

Karena menurut James ia baru akan kembali satu jam lagi, akhirnya ia memutuskan untuk menemui Maria di ruang sampel. Sekalian Felicia meminta weekly report, ia juga akan meminta pendapat Maria tentang hadiah yang harus ia berikan kepada James.

“Mbak, menurut kamu aku kasih hadiah apa ya?” Felicia menyandarkan kepalanya ke tangan yang ia tumpukan di meja.

“Waduh, berat sih kalau nanya itu. Soalnya aku aja nggak berpengalaman tuh ngasih-ngasih kado ke cowok.” keluhnya jujur. Memang benar juga sih, mengingat Maria hanya pernah menjalin hubungan satu kali, dan itu pun kandas tengah jalan.

“Masalahnya, dia itu pasti udah punya semuanya. Kalau pun aku beliin dia sesuatu, harus sesuai sama gaya dia kan? gak mungkin lah yang biasa-biasa aja.”

Maria menjentikkan jarinya, “coba tanya Pak Setya! Mereka seumuran kan?”

Felicia menggeleng cepat, “Mba ih! yang bener aja!”

“Aman, aku tanya pake mode rahasia!” Maria menggeser kursinya ke kubikel Pak Setya, rekan satu ruangannya yang bekerja di bagian pola pakaian.

"Pak, izin sesi tanya jawab dong," cetus Maria sambil mencolek bahu Pak Setya yang tengah serius memelototi monitor, sibuk mengatur grading pola.

Pak Setya terkekeh tanpa mengalihkan pandangan. "Tumben pakai izin segala. Biasanya langsung nodong pertanyaan kayak penagih utang," sahutnya santai. Maklum, mereka sudah menjadi 'paket lengkap' di ruangan ini saking lamanya bekerja sama.

"Pak, serius nih. Cowok itu biasanya suka dikasih apa sih kalau ulang tahun?" tanya Maria, kali ini dengan nada investigasi.

Sontak Pak Setya memutar kursi kerjanya, alisnya terangkat sebelah. "Wah, Maria, akhirnya laku juga kamu? Siapa korbannya?"

"Bukan saya, Pak! Tuh, si Feli!" Maria menunjuk Felicia dengan dagunya.

Pak Setya langsung menoleh ke arah Felicia yang duduk di meja sebelah. "Wah, Fel! Kamu mau ngebalap Maria? Kok nggak cerita-cerita punya pacar? Mentang-mentang sekarang jadi asisten manajer, jadi sibuk sendiri ya?"

Felicia tergelak, mencoba menutupi rasa gugupnya. "Aduh, bukan gitu, Pak. Barusan aja dekatnya, jadi belum sempat cerita ke siapa-siapa kecuali Mbak Mar. Bapak orang kedua, nih."

"Anak sini juga? Orang pabrik atau tim marketing?" tanya Pak Setya, naluri keponya sebagai 'sepuh' kantor mulai bangkit.

"Eh, si Bapak malah jadi intel. Jawab dulu pertanyaan saya tadi," potong Maria, berusaha menyelamatkan Felicia dari interogasi lebih lanjut.

"Ya harus tahu dulu hobi cowoknya si Feli ini apa? Dia tipe yang suka olahraga, gamers, atau kolektor apa? Jangan sampai saya kasih ide tapi nggak nyambung sama orangnya," ujar Pak Setya masuk akal.

Felicia terdiam sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat apa hobi James. Namun, yang terbayang hanya James yang sedang memelototi laporan produksi, James yang sedang berdebat di ruang finishing, atau James yang sedang sibuk menelepon klien di Singapura. James seolah tidak punya hobi selain bekerja.

"Duh, saya juga bingung, Pak. Dia orangnya... lurus banget. Kayaknya hobinya cuma kerja," gumam Felicia jujur.

Pak Setya manggut-manggut. "Ya sudah, kalau orangnya konvensional begitu, kasih barang basic saja. Kemeja, sepatu, atau parfum. Pasti kepakai."

"Masalahnya, Pak... pacar si Feli ini tajir melintir. Sepertinya butuh dana investasi besar kalau mau kasih barang bermerek yang selevel sama dia," bisik Maria setengah berahasia.

"Oalah, keren juga kamu, Fel. Dapat spek dewa," Pak Setya tertawa, lalu menarik kursi rodanya hingga mendekat ke kubikel Felicia dan Maria. Suaranya merendah, mode konsultan cinta diaktifkan. "Kalau cowok sudah punya segalanya, dalam artian dia sanggup beli apa pun sendiri, berarti kamu harus kasih sesuatu yang nggak bisa dibeli pakai uang."

Felicia mengerutkan kening, bingung. "Maksudnya? Perasaan semua hal di dunia ini ujung-ujungnya pakai duit, Pak. Mau bikin kue pun, bahan-bahannya tetep harus beli di toko kelontong."

Puk!

Pak Setya mengetuk pelan dahi Felicia dengan ujung pulpennya. "Bukan itu maksudnya, Bocah! Maksud saya, berikan sesuatu yang sifatnya personal. Effort-nya yang mahal. Contohnya ya itu tadi, kue bikinan sendiri. Atau kerajinan tangan, apa pun yang cuma ada satu di dunia ini karena itu buatan tangan kamu khusus untuk dia."

Mata Felicia seketika berbinar. Ide Pak Setya terasa sangat masuk akal. Mengingat James yang selalu dikelilingi barang-barang mewah dari pabrik dan relasi bisnisnya, hadiah buatan tangan pasti akan memberikan kejutan yang sangat berbeda.

"Betul juga ya, Pak... Hadiahnya jadi kerasa lebih personal," gumam Felicia dengan senyum yang mulai mengembang.

"Sama satu lagi, Fel." Pak Setya semakin mencondongkan tubuhnya, memberikan isyarat agar Felicia mendekat sebelum membisikkan sesuatu yang nakal. "Kasih kecupan mesra di pipi, dijamin bakal jadi kado paling memorable sepanjang sejarah hidupnya."

Felicia membelalak, wajahnya seketika memerah sampai ke telinga. "Pak, ih! Kasih saran yang normal sedikit bisa nggak, sih?!" serunya sambil menepuk lengan Pak Setya dengan cukup kencang.

Ehem!

Sebuah dehaman berat dan sangat kasar tiba-tiba membelah keriuhan kecil di kubikel itu. Suasana mendadak beku. Pak Setya, Maria, dan Felicia menoleh serempak, dan sedetik kemudian mereka seperti laron yang terpapar asap—langsung membubarkan diri ke posisi masing-masing dengan kecepatan cahaya.

James berdiri di sana, menjulang dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya.

"Eh, Bapak sudah kembali? Katanya tadi masih ada urusan satu jam lagi," ucap Felicia terbata, berusaha mengatur napasnya yang mendadak tidak beraturan.

James tidak langsung menjawab. Ia menatap Pak Setya yang pura-pura sibuk dengan pola di layar, lalu beralih ke Felicia dengan tatapan mengintimidasi. "Kalian ini sebenarnya sedang bekerja atau sedang mendaftar jadi tim infotainment?"

"Maaf, Pak. Barusan saya sedang minta saran personal sedikit sama Pak Setya dan Mbak Maria. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Felicia, berusaha kembali ke mode sekretaris profesional meski jantungnya berdisko.

"Ikut saya sekarang," titah James pendek. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah lebar menuju ruangannya.

Mampus, batin Felicia nelangsa.

Ia segera bangkit dan mengekori punggung tegap James yang tampak sangat kaku dari belakang. Sebelum ia benar-benar keluar dari area kubikel, Maria sempat menyembul dari balik monitornya, memberikan kode tangan 'berdoa' yang sangat dramatis—mengisyaratkan agar Felicia menyiapkan mental sebelum benar-benar 'tamat' di dalam sana.

Felicia menelan ludah getir. Ia tahu persis, jika James sudah memanggil dengan nada seperti itu, berarti "Mas Jimmy" sedang cuti, dan yang akan ia hadapi adalah Pak Han yang bisa membuat seluruh lantai produksi gemetar.

UPDATE SEBELUM BUKA PUASA BUAT NGABUBUREAD HAHAHA

jangan lupa like dan komen

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!