Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Tiga Tinju Penghancur Langit dan Retaknya Tubuh Begawan
Aula Tahta Langit di puncak Menara Babel menjadi sunyi senyap. Angin kencang di ketinggian stratosfer seolah berhenti bertiup, takut mengganggu duel antara dua monster fisik ini.
Tie Shen (Begawan Tubuh) berdiri dengan kuda-kuda kokoh. Otot-ototnya yang berwarna perunggu bersinar redup, memancarkan panas yang berasal dari Api Inti Bintang yang telah menempa kulitnya selama lima ratus tahun. Dia adalah manusia yang telah mencapai puncak evolusi fisik di Alam Roh Sejati.
Di hadapannya, Ye Chen berdiri santai. Dia tidak mengambil kuda-kuda pertahanan. Dia hanya mengepalkan tangan kanannya, membiarkan Tulang Emas Hitam-nya berderit pelan.
"Pukulan pertama," geram Tie Shen. "Aku yang mulai."
Tie Shen tidak melakukan ancang-ancang lari. Dia hanya memutar pinggangnya dan melepaskan tinju kanannya.
Sederhana. Tapi mematikan.
Teknik Tubuh Mahayana: Tinju Penghancur Bintang!
Udara di depan tinju Tie Shen terkompresi hingga meledak menjadi plasma.
BOOOOOOOOM!
Tinju itu menghantam dada Ye Chen yang terbuka tanpa pertahanan.
Lilith menjerit tertahan. "Tuan!"
Suara benturan itu seperti dua planet yang bertabrakan. Gelombang kejut menyapu aula, menghancurkan pilar-pilar awan di sekeliling mereka.
Debu dan uap panas mengepul dari dada Ye Chen.
Tie Shen menyeringai. "Hancur?"
Namun, senyumnya memudar saat asap menipis.
Ye Chen masih berdiri di tempat yang sama. Kakinya terbenam ke dalam lantai awan padat sedalam lutut, tapi dia tidak mundur selangkah pun.
Di dadanya, kulitnya sedikit memerah dan berasap, tapi tidak ada tulang yang patah. Sisik naga samar yang muncul di bawah kulitnya telah menyerap seluruh dampak hantaman itu.
"Lumayan," kata Ye Chen, menepuk dadanya seolah membersihkan debu. "Rasanya seperti dipijat."
Mata Tie Shen melotot. "Kau... menahan pukulan 70% tenagaku dengan tubuh telanjang?!"
"Giliranku," kata Ye Chen.
Ye Chen menarik tangan kanannya ke belakang.
Dia tidak menggunakan teknik yang rumit. Dia mengaktifkan Jantung Gravitasi di dalam tubuhnya.
"Berat: 100.000 Ton."
Ye Chen memadatkan massa tangannya sendiri menjadi seberat asteroid kecil.
"Pukulan kedua."
Ye Chen meninju.
Tie Shen melihat tinju itu datang. Dia tidak menghindar, harga dirinya sebagai Begawan Tubuh melarangnya. Dia menyilangkan kedua lengannya di depan dada untuk memblokir.
"Pertahanan Besi Mutlak!"
DUMMM!
Tinju Ye Chen menghantam lengan Tie Shen.
KRAAAAAK!
Suara yang tidak ingin didengar oleh ahli bela diri fisik mana pun terdengar jelas. Suara tulang yang retak.
"ARGH!"
Tie Shen terdorong mundur sepuluh meter. Jejak kakinya merobek lantai aula.
Dia menurunkan tangannya. Lengan perunggu yang dibanggakannya kini bengkak dan ungu. Ada retakan halus di tulangnya.
"Kau... mematahkan pertahananku?" Tie Shen menatap lengannya dengan tak percaya. "Bocah... tubuhmu terbuat dari apa?!"
"Dari rasa sakit dan kematian," jawab Ye Chen dingin. "Tinggal satu pukulan lagi, Begawan."
Tie Shen tertawa. Tawa yang marah namun penuh hormat.
"Bagus! Sangat bagus! Sudah lama aku tidak merasakan sakit!"
Aura Tie Shen meledak sepenuhnya. Ranah Mahayana menekan seluruh menara. Tubuh perunggunya berubah warna menjadi merah menyala. Dia membakar esensi darahnya untuk pukulan terakhir ini.
"Pukulan ketiga... akan menentukan hidup dan mati!"
"Datanglah!"
Keduanya menerjang secara bersamaan.
Tie Shen melompat, tinjunya mengarah ke wajah Ye Chen.
Ye Chen melompat, tinjunya mengarah ke wajah Tie Shen.
Tanpa pertahanan. Tanpa trik. Hanya adu hantam murni.
CROSS COUNTER!
BLARRRRRRRRRR!
Langit di atas Menara Babel terbelah dua. Awan-awan di radius seratus kilometer bubar seketika.
Seluruh Menara Babel berguncang hingga ke fondasinya di dasar laut.
Di Aula Tahta Langit, dua sosok terpental ke arah berlawanan.
Ye Chen terlempar menabrak singgasana Tian Jian. Dia memuntahkan darah emas. Rahangnya retak, penglihatannya kabur.
Tie Shen terlempar menabrak singgasana Fa Zun. Dia jatuh telentang. Wajahnya hancur, hidungnya rata dengan pipi. Dia mencoba bangun, tapi kakinya tidak mau merespons.
Hening.
Tian Jian (Begawan Pedang) dan Fa Zun (Begawan Sihir) berdiri dari tempat duduk mereka yang hancur. Mereka menatap Tie Shen yang terkapar.
"Tie Shen kalah?" bisik Fa Zun.
Tie Shen terbatuk, darah menyembur. Dia mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk ke arah Ye Chen yang sedang berdiri perlahan sambil memegangi rahangnya.
"Dia... masih berdiri..." kata Tie Shen lemah. "Aku... kalah."
Ye Chen meludahi darah dari mulutnya. Tulang Emas-nya bekerja cepat memperbaiki retakan di rahangnya.
"Tiga pukulan sudah lewat," kata Ye Chen, suaranya serak. "Sesuai janji. Minggir."
Tie Shen tertawa lemah, lalu pingsan.
Ye Chen berjalan tertatih-tatih menuju bagian belakang aula, tempat sebuah Pintu Cahaya (Portal menuju Alam Dewa) tertutup rapat.
Namun, Tian Jian melangkah menghalangi jalannya.
Pria tua itu tidak memancarkan aura membunuh seperti Tie Shen. Dia tenang, setajam pedang yang tersarung.
"Kau memenangkan taruhan Tie Shen," kata Tian Jian. "Tapi kau belum memenangkan izin kami."
"Kau mau bertarung juga?" Ye Chen memegang gagang Pedang Naga Langit-nya. Dia lelah, tapi dia belum habis.
Tian Jian menggelengkan kepala.
"Fisikmu memang setara Mahayana. Tapi jiwamu... kultivasimu... masih Spirit Severing. Jika kau memaksa masuk ke Alam Dewa dengan kondisi ini, Tekanan Hukum di sana akan menghancurkan jiwa Nascent Soul-mu sebelum kakimu menyentuh tanah."
Tian Jian menunjuk ke arah portal cahaya.
"Pintu itu disegel bukan hanya untuk mencegah orang masuk, tapi juga untuk melindungi orang bodoh sepertimu agar tidak mati konyol."
"Aku punya Lima Kunci," kata Ye Chen.
Ye Chen mengeluarkan kelima benda pusaka itu dari cincinnya. Pedang, Jangkar, Matahari, Bulan, Bintang.
Mereka melayang di udara, berputar membentuk lingkaran harmonis.
Mata Fa Zun (Begawan Sihir) melebar. "Lima Kunci Elemen... Kau benar-benar mengumpulkannya?"
"Dengan kunci-kunci ini," kata Ye Chen, "Aku bisa memanipulasi Hukum Alam untuk melindungi tubuhku saat menyeberang."
Tian Jian menatap kunci-kunci itu, lalu menatap Ye Chen.
"Membuka gerbang itu membutuhkan ritual. Dan ritual itu akan memancarkan energi yang memancing perhatian... Mereka."
"Mereka?"
"Para Penjaga Alam Dewa di sisi lain," jelas Tian Jian. "Mereka tidak suka ada tikus yang menyusup dari dunia bawah. Jika kau membuka pintu, mereka akan menyerang."
Ye Chen tersenyum tipis.
"Biarkan mereka menyerang. Aku sudah mengalahkan Iblis, Kaisar, dan Begawan. Apa bedanya dengan Penjaga Pintu?"
Tian Jian menatap mata Ye Chen yang penuh tekad gila. Akhirnya, dia menghela napas dan minggir.
"Baiklah. Jika kau ingin mati, kami tidak akan menghalangimu. Tapi ingat... begitu pintu terbuka, tidak ada jalan kembali."
"Aku tidak pernah melihat ke belakang," jawab Ye Chen.
Ye Chen berjalan ke depan Pintu Cahaya.
Dia memasukkan kelima kunci itu ke dalam slot udara yang tak terlihat.
KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK!
Resonansi lima elemen meledak.
Langit-langit aula menghilang, memperlihatkan Vortex Galaksi yang berputar di atas kepala mereka.
WUUUUUUUUUUUNG!
Pintu Cahaya itu perlahan terbuka, memperlihatkan tangga emas yang menuju ke langit berbintang.
Dan benar saja. Begitu pintu terbuka, sebuah tangan raksasa bersisik biru—tangan makhluk setingkat Dewa—mencoba meraih keluar dari dalam portal untuk menghancurkan Ye Chen.
Penjaga Alam Dewa.
"Sampah dari dunia bawah! Dilarang masuk!" suara menggelegar terdengar dari balik portal.
Tian Jian dan Fa Zun mundur, takut terkena dampak.
Tapi Ye Chen tidak mundur. Dia mencabut pedangnya.
"Minggir dari jalanku!"
Ye Chen melompat masuk ke dalam portal, menebas tangan raksasa itu.
CRASS!
Darah dewa (berwarna perak) tumpah.
Ye Chen menghilang ke dalam cahaya, meninggalkan Alam Roh Sejati di belakangnya.
Lilith, yang bersembunyi di pojok, berlari mengejar. "Tunggu aku!" Dia ikut melompat masuk sebelum portal menutup.
Tian Jian menatap portal yang perlahan menghilang.
"Dia melukai Penjaga Dewa..." gumam Tian Jian tak percaya. "Mungkin... mungkin dia benar-benar bisa mengubah takdir Asura."
Alam Dewa Kuno (Ancient God Realm) - Wilayah Pinggiran.
Ye Chen jatuh dari langit, mendarat di hutan kristal yang asing. Gravitasi di sini... ribuan kali lipat dari dunia sebelumnya.
Dia mencoba berdiri, tapi tubuhnya berat.
"Selamat datang di neraka tingkat lanjut," Ye Chen tersenyum pahit, menyeka darah perak (darah dewa yang dia tebas tadi) dari wajahnya.
Di kejauhan, auman naga sejati dan phoenix terdengar.
Perjalanan Ye Chen untuk menaklukkan Alam Dewa dan mencari orang tuanya... resmi dimulai.
(Akhir - Bab 12)