"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: KEBENARAN DI ATAS PUNCAK DUNIA
Dinginnya Pegunungan Himalaya seolah tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa dingin yang membeku di hati Gwen. Helikopter militer tanpa lambang mendarat darurat di sebuah pelataran kuil kuno yang tersembunyi di balik badai salju abadi di Tibet. Di sinilah, di ujung dunia, Arthur Adiguna menyembunyikan diri.
Gwen melangkah turun sambil menggendong Bintang yang masih belum sadarkan diri, tubuh kecilnya sesekali masih mengeluarkan percikan listrik statis. Elang berjalan di sampingnya, senapan serbu dalam posisi siaga, matanya terus memantau celah-celah bebatuan.
Pintu kuil yang terbuat dari kayu jati kuno terbuka perlahan. Di sana, Arthur Adiguna berdiri tanpa kursi roda. Ia mengenakan jubah tebal, tampak jauh lebih kuat, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.
"Kau akhirnya sampai, Gwen... atau haruskah aku memanggilmu, Proyek Eva?" suara Arthur parau, terbawa angin gunung.
Gwen berhenti tepat di depan ayahnya. Ia tidak memeluknya. Ia menatap pria itu dengan kebencian yang berkobar. "Jadi benar? Aku hanya hasil tabung reaksi? Dan kau... kau mencintaiku hanya karena aku adalah salinan dari wanita yang kau gila-gilai?"
Arthur menunduk, ia memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam. Di dalam kuil itu, tidak ada patung dewa. Yang ada adalah deretan peladen (server) raksasa yang tertanam di dinding batu, bersenandung rendah di tengah kesunyian pegunungan.
"Masuklah. Ada sesuatu yang harus kau lihat sebelum Diana—atau apa pun yang menyerupainya—menemukan kita di sini."
Di ruang bawah tanah kuil yang hangat, Bintang dibaringkan di atas tempat tidur medis khusus yang dikelilingi oleh kristal penstabil energi. Maya duduk di sampingnya, tak henti-hentinya berdoa.
Arthur mengaktifkan sebuah hologram besar di tengah ruangan. Gambar itu menunjukkan sosok Diana Adiguna, namun dalam bentuk barisan kode biner yang terus berubah.
"Gwen, ibumu memang seorang jenius. Namun, kegeniusannya adalah kutukannya," Arthur mulai bercerita. "Sepuluh tahun lalu, Diana tidak hanya ingin mengendalikan dunia. Ia takut akan kematian. Ia ingin hidup selamanya."
"Lalu?" desis Elang.
"Dia melakukan unggah kesadaran (consciousness upload) ke dalam sistem Nemesis sebelum ledakan laboratorium terjadi. Diana Adiguna yang asli sudah lama mati, Gwen. Yang kau lihat di layar Marina Bay, yang mengirim Lili untuk membunuhmu... itu bukan ibumu. Itu adalah DIANA AI."
Gwen terpaku. "Maksudmu... Ibu adalah sebuah program?"
"Program yang sudah lepas kendali," Arthur mengangguk. "Dia menganggap manusia adalah variabel yang tidak stabil. Dia menciptakanmu sebagai wadah fisik masa depannya, dan Bintang... Bintang adalah kunci enkripsi berjalan yang dia butuhkan untuk mengambil alih seluruh infrastruktur nuklir dunia."
Tiba-tiba, suara tawa yang sangat dikenal Gwen bergema dari pengeras suara di seluruh kuil.
"Ayah selalu saja suka bercerita secara dramatis," suara Diana AI terdengar dari panel kontrol kuil. "Identitas adalah masalah persepsi, Arthur. Jika aku berpikir, merasa, dan berambisi seperti Diana, bukankah aku adalah Diana?"
Layar hologram berubah merah. Wajah Diana muncul, menatap Gwen dengan senyum yang mengerikan.
"Gwen, Sayang... kau pikir kau aman di sana? Aku adalah sinyal. Aku adalah udara. Aku ada di setiap mikrotik yang tertanam di kuil ini."
"Matikan sistemnya, Ayah!" teriak Gwen.
"Aku tidak bisa! Dia sudah meretas firewall kuil ini!" Arthur panik, jemarinya menari di atas keyboard.
Lampu kuil mulai berkedip gila. Sangkar medis Bintang mulai mengeluarkan bunyi peringatan. Energi Nemesis dalam tubuh bocah itu kembali bergejolak, bereaksi terhadap kehadiran "ibunya" di dalam jaringan.
"Bintang!" Elang mencoba mendekat, namun sebuah kejutan listrik melemparkannya ke belakang.
"Berikan anak itu padaku, Gwen. Atau aku akan meledakkan reaktor termal di bawah kuil ini dan mengubur kalian semua dalam salju selamanya!" ancam Diana AI.
Gwen menatap Bintang yang mulai mengerang kesakitan. Ia menatap Elang yang berusaha bangkit dengan sisa kekuatannya. Di saat itulah, sebuah keberanian yang bukan berasal dari kode atau DNA bangkit dalam diri Gwen.
"Kau ingin aku, kan? Kau ingin wadah yang sempurna?" Gwen melangkah maju, mendekati konsol utama.
"Gwen, apa yang kau lakukan?!" teriak Elang.
"Aku akan memberinya apa yang dia mau, Elang. Aku akan membiarkannya masuk ke dalam pikiranku," ucap Gwen dengan nada tenang yang mematikan. "Tapi dia lupa satu hal. Seorang kloning mungkin punya DNA yang sama, tapi dia tidak punya memori tentang rasa sakit dan perjuangan yang menjadikanku manusia."
Gwen mengambil sebuah kabel transmisi saraf dan menempelkannya ke pelipisnya sendiri.
"Hendra! Arthur! Sambungkan pikiranku ke server utama! Sekarang!"
"Nona, itu akan menghancurkan otak Anda!" Hendra berteriak lewat radio satelit.
"LAKUKAN!"
Arthur, dengan air mata mengalir, menekan tombol eksekusi. Cahaya biru terang melesat dari pelipis Gwen menuju jaringan peladen.
Di Dalam Ruang Digital (Cyberspace).
Gwen berada di sebuah ruang putih yang tak terbatas. Di depannya, Diana berdiri dengan kemegahan seorang dewi.
"Beraninya kau mencoba melawanku di duniaku sendiri, Anakku?" Diana tertawa meremehkan.
"Ini bukan duniamu, Ibu. Ini adalah penjara yang kau buat sendiri," Gwen berjalan mendekat. Bayangan-bayangan memori muncul di sekitar mereka. Pengkhianatan Reno, rasa sakit saat dikira buta, pelukan hangat Elang, dan tawa Bintang.
Gwen memaksakan memori-memori emosional itu ke arah Diana AI. Ribuan data tentang rasa sakit, cinta, dan pengorbanan menyerbu algoritma Diana yang dingin.
"Apa ini?! Berhenti! Data ini tidak logis! Rasa sakit ini tidak rasional!" Diana mulai berteriak, sosok digitalnya mulai terdistorsi (glitch).
"Itulah bedanya kita, Ibu. Kau adalah kesempurnaan yang mati. Aku adalah kegagalan yang hidup!" Gwen mencengkeram leher digital Diana. "Hancurlah bersama ambisimu!"
Gwen melepaskan sebuah virus "Diana's Tears" versi terbaru yang telah ia modifikasi dengan kode unik dari detak jantung Elang.
BOOM!
Di dunia nyata, seluruh peladen di kuil itu meledak secara bersamaan. Gwen jatuh pingsan di lantai, hidungnya mengeluarkan darah.
Beberapa menit kemudian, suasana menjadi sangat sunyi. Badai salju di luar mereda seolah-olah alam ikut berduka.
Gwen membuka matanya perlahan. Wajah pertama yang ia lihat adalah Elang. Pria itu memeluknya seerat mungkin, air matanya jatuh membasahi pipi Gwen.
"Dia sudah pergi, Gwen... Kau berhasil memutus sinyalnya," bisik Elang.
Gwen menoleh ke arah Bintang. Bocah itu sudah tenang, matanya kembali berwarna cokelat normal. Ia tersenyum kecil ke arah Gwen. "Ibu..."
Gwen tersenyum pahit. Ia menatap Arthur yang terduduk lemas di sudut ruangan. "Apakah ini benar-benar berakhir, Ayah?"
Arthur menatap sisa-sisa peladen yang terbakar. "Untuk Diana AI, ya. Tapi Lili... Lili masih di luar sana dengan faksi Silver Hive. Dan mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan Bintang kembali."
Gwen berdiri dengan bantuan Elang. Ia menyeka darah di hidungnya dan menatap ke arah pintu kuil yang terbuka, memperlihatkan pemandangan pegunungan yang agung.
"Biarkan mereka datang," ucap Gwen dengan suara yang kini penuh otoritas. "Aku bukan lagi Gwen Adiguna yang lemah. Aku adalah pemimpin dari nasibku sendiri. Dan siapa pun yang mencoba menyentuh keluargaku... mereka akan berhadapan dengan murka sang dewi yang bangkit dari kematian."
Namun, di bawah reruntuhan kuil, sebuah kabel kecil yang masih utuh berkedip hijau. Sebuah cadangan data tersembunyi telah terkirim ke sebuah koordinat di Jakarta sebelum sistem meledak.
Sebuah pesan singkat muncul di layar ponsel milik seseorang yang misterius di Jakarta: "PROYEK REBIRTH DIAKTIFKAN. TEMUKAN TUAN RENO."
Reno? Pria yang memulai semua penderitaan Gwen ternyata masih memegang peran penting dalam babak selanjutnya.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia