cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia
Karya ini diterbitkan atas izin Novel Toon Alif cariza nofiriyanto,isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili Novel Toon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 31
"Skeptis itu pasti, Din," kataku sambil memutar setir, menghindari lubang di jalan berbatu menuju balai desa. "Bagi mereka, orang kota itu cuma datang untuk dua hal: beli tanah murah atau kasih janji manis terus hilang saat panen gagal."
Dina merapikan kemeja linennya, wajahnya terlihat serius. Di pangkuannya ada map tebal berisi draf "Kontrak Kemitraan Inti-Plasma". "Makanya aku tidak bawa angka-angka triliunan, Raka. Aku bawa skema bagi hasil yang masuk akal. Kalau mereka untung, kita untung. Kalau mereka gagal panen karena hama, kita tanggung biaya bibitnya. Itu risiko yang harus kita ambil kalau mau punya bahan baku kualitas premium."
Kami sampai di balai desa. Sekitar dua puluh petani berpakaian sederhana sudah duduk melingkar di atas tikar pandan. Suasananya hening, hanya ada suara kepulan asap rokok linting dan tatapan mata yang curiga.
"Selamat pagi, Bapak-Bapak," sapaku sambil menjabat tangan Pak Kades yang menunggu di depan.
"Pagi, Mas Raka. Ini orang-orang kami. Jujur saja, mereka agak trauma. Bulan lalu ada 'orang kantor' yang janji beli kol mereka sepuluh ribu per kilo, tapi pas panen, orangnya hilang. Akhirnya kol itu busuk atau dijual seribu rupiah ke tengkulak," Pak Kades berbisik pelan.
Dina maju ke depan, tanpa alas kaki, dia ikut duduk bersila di atas tikar. Tindakannya ini langsung mencairkan sedikit ketegangan.
"Bapak-Bapak," Dina memulai, suaranya jernih tanpa nada menggurui. "Nama saya Dina. Saya bukan mau beli tanah Bapak. Saya mau beli 'keringat' Bapak dengan harga yang pantas. Kami punya ratusan gerai di Jakarta yang butuh cabai dan sayur segar tiap jam lima pagi. Masalahnya, kami nggak mau sayur yang disemprot pestisida berlebihan. Kami mau yang sehat."
Seorang petani tua, Pak Sobari, berdeham. "Kalau kami tanam organik, biayanya mahal, Neng. Belum tentu hasilnya banyak. Kalau gagal, siapa yang bayar cicilan traktor kami?"
Dina membuka map-nya, mengeluarkan lembaran sederhana dengan grafik yang mudah dipahami. "Itulah bedanya kami dengan tengkulak, Pak. Kami akan suplai pupuk organik dari limbah dapur kami di Jakarta. Gratis. Kami juga siapkan dana talangan untuk operasional. Bapak-Bapak cukup fokus tanam sesuai standar kami. Berapa pun hasilnya, Dapur Ma yang akan serap semuanya dengan harga yang sudah kita kunci di kontrak ini. Tidak akan turun meski pasar banjir."
"Harga kunci?" Pak Sobari mengernyit. "Artinya kalau harga di pasar jatuh ke dua ribu, Neng tetap beli harga enam ribu?"
"Tetap enam ribu," sahut Dina mantap. "Dan kalau harga pasar naik jadi sepuluh ribu, kita akan bagi selisihnya. Kita adil."
Para petani mulai berbisik-bisik. Aura kecurigaan perlahan berubah jadi diskusi yang intens. Aku melihat dari pojok ruangan, bangga melihat bagaimana Dina mengubah bahasa akuntansi yang rumit menjadi bahasa harapan bagi mereka.
"Tapi ada satu syarat," tambahku sambil berdiri di samping Dina. "Kami minta kejujuran. Tidak boleh ada sayur dari luar yang dimasukkan ke kiriman kami. Kita bangun keluarga, bukan cuma transaksi."
Pak Sobari berdiri, menatap rekan-rekannya, lalu menatap kami. "Kalau Mas dan Mbak berani jamin harga dan bibit, kami berani jamin kualitas tanah kami. Setuju, Bapak-Bapak?"
"Setuju!" seru mereka serempak.
Satu jam kemudian, kontrak pertama ditandatangani di atas meja kayu tua. Saat kami berjalan kembali ke mobil, Dina menyenggol lenganku.
"Raka, kamu tahu apa artinya ini?"
"Artinya kita bakal punya truk pendingin minggu depan?"
"Bukan," Dina tersenyum lebar. "Artinya, Dapur Ma Express baru saja punya 'Akar'. Dan asal kamu tahu saja, margin kita mungkin turun sedikit di awal karena subsidi bibit, tapi nilai kepercayaan pelanggan kita di Jakarta akan meledak saat mereka tahu sayurnya dipetik langsung oleh Pak Sobari."
"Din, tahan dulu soal truk pendingin," bisikku sambil melirik kaca spion.
Sebuah motor bebek tua dengan knalpot bising berhenti tepat di samping mobil kita, menghalangi jalan keluar dari balai desa. Pengendaranya seorang pria gempal dengan jaket kulit kusam dan tatapan yang tidak bersahabat. Di belakangnya, dua orang pria lain menyusul, menyilangkan tangan di dada.
"Itu siapa?" tanya Dina, tangannya refleks merapikan map kontrak di pangkuannya.
"Itu 'hantu' lama dalam bentuk baru, Din. Tengkulak lokal," jawabku pelan. Aku membuka pintu mobil dan turun sebelum mereka mendekat.
Pria berjaket kulit itu, yang belakangan aku tahu namanya Kang Dadang, meludah ke tanah. "Mas, Mbak, saya dengar kalian mau ambil sayur langsung dari sini? Tanpa lewat timbangan saya?"
Dina ikut turun, berdiri di sampingku dengan dagu terangkat—mode pertahanannya aktif. "Kami pakai sistem kemitraan mandiri, Pak. Petani sudah setuju dengan kontrak kami."
Kang Dadang tertawa hambar. "Kontrak? Kertas itu nggak bisa kasih mereka makan kalau mesin traktor rusak malam-malam. Selama ini saya yang pegang desa ini. Kalau kalian potong jalur saya, berarti kalian mau cari ribut sama orang sini."
Suasana mendadak tegang. Beberapa petani yang tadi ada di dalam balai desa mulai keluar, tapi mereka tampak ragu. Mereka terjepit antara harapan baru dari kita dan utang budi (atau rasa takut) pada Kang Dadang.
Aku melangkah maju satu tindak. "Kang Dadang, kami ke sini bukan untuk merebut rezeki Akang. Kami ke sini karena permintaan di Jakarta sudah tidak sanggup lagi ditampung oleh stok pasar induk. Bagaimana kalau Akang tidak lagi jadi tengkulak, tapi jadi Kepala Logistik Kemitraan kami?"
Kang Dadang mengernyit. "Maksudnya?"
"Akang punya truk, kan? Akang punya orang-orang yang biasa angkut barang," kataku, mencoba pendekatan diplomatis. "Dapur Ma butuh Cold Chain. Truk Akang kita modifikasi jadi truk pendingin. Akang nggak perlu lagi tekan harga petani untuk untung. Akang akan kami bayar per rit pengiriman dengan kontrak resmi dari PT Dapur Ma Berdikari. Penghasilan Akang jadi pasti, dan Akang nggak perlu lagi jadi 'musuh' petani."
Dina langsung menangkap sinyalku. Dia membuka tabletnya, menunjukkan skema biaya logistik. "Lihat ini, Pak Dadang. Kalau Bapak jadi mitra logistik kami, Bapak dapat asuransi kendaraan, biaya bensin kami tanggung, dan ada bonus kalau sayur sampai di Jakarta dalam kondisi suhu di bawah 5°C. Ini jauh lebih menguntungkan daripada spekulasi harga sayur yang tiap hari naik turun."
Kang Dadang terdiam. Matanya beralih dari tablet Dina ke wajah para petani yang mulai mendekat. Dia melihat perubahan arah angin.
"Jadi... saya tetap bisa pegang pengiriman?" tanya Dadang, suaranya melunak sedikit.
"Tetap Akang. Tapi syaratnya satu," Dina menegaskan. "Tidak ada lagi potongan timbangan siluman atau sistem ijon di desa ini. Semuanya lewat aplikasi Dapur Ma. Transparan."
Kang Dadang menatap kawan-kawannya, lalu menjabat tanganku dengan genggaman yang masih keras, tapi tidak lagi mengancam. "Baik. Tapi kalau truk saya rusak gara-gara jalanan hancur ini, kalian yang tanggung!"
"Deal," jawabku mantap.
Saat kami kembali masuk ke mobil dan perlahan meninggalkan balai desa, Dina mengembuskan napas panjang. "Raka, itu tadi berisiko tinggi. Kita baru saja menggaji orang yang tadinya mau memeras kita."
"Bukan menggaji musuh, Din," kataku sambil tersenyum. "Tapi mengintegrasikan hambatan jadi solusi. Sekarang kita nggak perlu beli truk baru dan nggak perlu bayar keamanan. Kang Dadang akan jaga sayur-sayur itu seolah-olah itu emas, karena sekarang itu adalah gaji tetapnya."
Dina menyandarkan kepalanya, tersenyum kecil. "Kadang aku lupa kalau suamiku ini dulunya jago negosiasi di jalanan ruko. Oke, 'Dapur Ma: Green Farm' resmi punya divisi logistik lokal. Sekarang, mari kita bahas cara pasang sensor suhu di truk tua Kang Dadang."