NovelToon NovelToon
A Killer Reborn

A Killer Reborn

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.

Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKR 13 — Kabar Kematiannya

Mobil hitam mewah itu berhenti tepat di depan rumah besar keluarga Raine menjelang sore. Pintu terbuka, dan pasangan suami istri itu turun dengan langkah lelah setelah penerbangan panjang dari luar negeri. 

Victor Raine langsung memeriksa ponselnya, sementara Sabrina melepas kacamata hitamnya dan menarik napas panjang, berniat beristirahat setelah perjalanan. Namun suasana rumah terasa aneh.

Lucy menyambut mereka di ruang tengah dengan wajah yang tidak biasa, pucat dan sedikit gelisah. Ia mencoba tersenyum, tetapi senyum itu tampak rapuh.

“Di mana Jean? Aku tidak bisa menghubunginya sejak semalam. Biasanya dia akan langsung menyambut kami begitu mendengar suara mobil. Ke mana dia?” tanya Sabrina. 

Lucy menunduk dalam, antara takut dan cemas. “Tuan Jean belum pulang sejak semalam, Nyonya,” katanya pelan.

Victor hanya mendengus kecil. “Dia pasti menginap di tempat temannya lagi. Kau tahu sendiri kebiasaannya.”

Pria itu langsung naik ke atas tanpa rasa cemas ataupun penasaran, seolah memang sudah mengenal baik kebiasaan putra semata wayangnya itu. 

“Victor! Kau selalu saja abai pada putra kita. Setidaknya—”

“Sabrina.” Victor langsung menoleh cepat. “Dia sudah dewasa, wajar saja jika dia tidak ada di rumah untuk semalam. Kau terus mengkhawatirkannya tanpa sebab seperti anak kecil.” 

Sabrina ingin protes, tetapi melihat wajah lelah suaminya, ia memilih diam pada akhirnya. Kenyataannya, Jean memang sering pulang larut atau bahkan tidak pulang sama sekali setelah pesta panjang bersama teman-temannya. Dan bagi Victor, itu bukan hal baru.

Namun Sabrina tidak bisa mengabaikan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba tumbuh di dadanya. 

“Dia tidak memberi kabar sama sekali?” tanyanya lagi pada Lucy. “Apakah dia tidak memberitahu akan pergi ke mana?” 

Lucy menggeleng pelan. “Tidak, Nyonya. Ponselnya juga tidak aktif.” 

Alis Sabrina berkerut. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi satu per satu teman Jean. 

Panggilan pertama tak terjawab. Panggilan kedua dijawab dengan suara bingung.

“Tidak, Tante. Kami tidak bertemu Jean sejak beberapa hari lalu. Kami memang sempat berpesta, tapi aku belum melihat ataupun menghubunginya lagi. 

Dan jawaban serupa terus ia dengar. Tak seorang pun tahu di mana Jean berada. Rasa khawatir yang semula samar kini berubah menjadi sesuatu yang lebih berat. 

Sabrina berdiri di tengah ruang tamu, jari-jarinya gemetar saat menatap layar ponsel yang tak kunjung menunjukkan tanda kehidupan dari putranya.

“Ini tidak biasa,” bisiknya.

Victor mulai memperhatikan perubahan ekspresi istrinya. Ia mencoba tetap rasional, tetapi semakin lama, keheningan rumah terasa menekan.

Menjelang malam, Sabrina tak lagi sanggup menunggu. Dengan suara bergetar namun tegas, ia menghubungi kantor polisi dan melaporkan putranya sebagai orang hilang. 

Permintaan pencarian resmi pun diajukan. Foto Jean dikirimkan. Deskripsi terakhirnya diberikan. Malam itu terasa panjang, entah bagi Sabrina maupun Victor. 

“Lakukanlah sesuatu, Victor! Putra kita tidak pulang semalaman dan tidak bisa dihubungi. Aku benar-benar cemas!” pinta Sabrina cemas, 

Victor yang awalnya merasa baik-baik saja pun turut cemas. “Kau tenanglah,” katanya pelan seraya mengusap bahu istrinya. “Aku sudah meminta beberapa orang untuk mencarinya, jangan khawatir.” 

Namun, Sabrina tetap tidak bisa merasa tenang. Ia menggenggam sapu tangan milik Jean dengan erat dan berharap putra tersayangnya itu akan segera pulang. 

Kabar mengejutkan itu datang keesokan harinya. Sebuah panggilan dari kepolisian memecah keheningan pagi. 

Sabrina yang mengangkatnya, dan dalam hitungan detik, warna wajahnya memudar drastis. Ponsel itu hampir terlepas dari tangannya.

Jasad seorang pria ditemukan di gudang tua yang terbengkalai di pinggiran kota dan identitasnya cocok dengan laporan orang hilang atas nama Jean Raine.

“Ti-tidak mungkin,” lirihnya merasa lemah usai mendengar kabar itu dari kepolisian. 

Sabrina terduduk di lantai, suara tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Dunia yang semula terasa stabil mendadak runtuh di hadapannya.

Victor berdiri kaku beberapa saat sebelum wajahnya berubah keras. Ia tidak menangis ataupun berteriak. Namun kemarahan yang muncul jauh lebih mengerikan daripada air mata.

“Siapa pun yang melakukan ini,” katanya dengan suara rendah dan bergetar, “Akan membayarnya.”

Di lokasi penemuan, garis polisi membentang membatasi gudang tua yang kini menjadi pusat perhatian. Petugas lalu-lalang melakukan dokumentasi dan pengumpulan bukti. Victor menuntut investigasi penuh, meminta pemeriksaan forensik dilakukan secara menyeluruh. Ia ingin setiap jejak, sekecil apa pun itu, ditemukan.

“Cari pelakunya,” perintahnya pada kepala penyidik. “Aku sama sekali tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Pelaku itu harus ditemukan!”

Sabrina tak sanggup mendekat. Ia hanya bisa berdiri di balik mobil polisi, memeluk dirinya sendiri, seolah berharap itu semua hanyalah kesalahan. Namun kenyataan terlalu nyata untuk disangkal.

Di sudut kota yang lain, Elizabeth berdiri di depan jendela rumahnya. Cahaya pagi menyinari wajahnya yang tenang. Di layar ponselnya terpampang berita singkat tentang penemuan jasad seorang pemuda di gudang terbengkalai.

Ia membaca dengan perlahan, tanpa perubahan ekspresi.

“Tersisa 4 orang lagi.” Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Ia benar-benar sangat yakin bahwa polisi tidak akan bisa menemukan jejak apapun kecuali jejak milik Jean sendiri. 

Gudang itu telah ia bersihkan dengan teliti. Semua yang perlu hilang telah hilang. Semua yang perlu diam telah diam.

Polisi boleh mencari dan Victor Raine boleh mengerahkan seluruh kekuasaannya.

Namun mereka tidak akan menemukan apa pun.

Karena ketika Elizabeth menyelesaikan sesuatu, ia melakukannya dengan bersih.

***

“Dari mana saja kau, Elijah? Kenapa baru tiba? Hari ini kita sangat sibuk! Kita harus menyiapkan upacara pemakaman untuk Tuan Muda. Pastikan hari ini tidak akan ada masalah,” kata Lucy dengan tegas. Tapi dari raut wajahnya, Elizabeth bisa tahu bahwa perempuan itu merasa kehilangan. 

Elizabeth pura-pura terkejut. “Upacara pemakaman Tuan Muda? Apa maksudnya Bibi Lucy?” tanyanya berpura-pura tidak tahu. 

Lucy menoleh, wajahnya tertunduk dengan bahu yang bergetar. “Tuan Muda kita yang malang. Dia … dia telah dibunuh dengan sangat keji,” katanya tak kuasa lagi menahan tangis. 

“A-apa? I-itu tidak mungkin, BIbi. Bagaimana bisa Tuan Muda dibunuh?” tanyanya lagi berpura-pura sedih. “Ya Tuhan, Tuan Jean. Apakah berita ini benar? Bagaimana dengan kronologinya, Bibi?” 

Lucy menggeleng pelan seraya menyeka ujung matanya dengan tisu. “Ini salahku, aku seharusnya tidak membiarkannya keluar saat itu. Aku seharusnya mencegahnya pergi, Elijah.” 

Elizabeth berpura-pura bersimpati dengan mengusap bahu Lucy pelan. “Tenangkan dirimu, Bibi. Aku tahu kau sedih dengan kepergiannya tapi kita harus kuat,” katanya pelan sambil mengusap ujung matanya yang berair. 

“Kau benar, Elijah. Aku berharap pelakunya segera ditemukan! Pelaku itu harus dihukum dengan berat!” seru Lucy dengan yakin sementara Elizabeth menyembunyikan senyum puasnya. 

“Mereka bisa saja mencari, tapi belum tentu bisa menangkap pelakunya,” gumam Elizabeth pelan, tersenyum tipis. Ada kepuasan tersendiri saat ia tahu bahwa tugas pertamanya berhasil. 

1
❤️⃟Wᵃf༄SNѕ⍣⃝✰🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ🦀
mulai curiga.
awesome moment
smg eliz ttp tersamar dlm tubuh elijah
awesome moment
d yg jd stalker eliz
awesome moment
eliz sdg bermain. spt mrk mempermainkan elijah dlu. melecehkan elijah. merekam dan menjual. bahkan dajjalpun spt.nya hrs berguru ke mrk soal kekejian
awesome moment
good. kehadiran eliz jd bukti kesakitan yg slama n elijah derita
awesome moment
bikin perkara n manusia buzuk 1
awesome moment
smg eli tdk dihalangi
awesome moment
😄😄😄mrk butuh disiksa, eli
Night Watcher
sayangnya elij gak bisa menyamarkan sikapnya agar gak menimbulkan kecurigaan, utk memuluskan langkah selanjutnya.
awesome moment
👍👍👍cerdik
awesome moment
duh...kasihan bgts ternyata elijah..
awesome moment
duh...smg elijah bukan sasaran pelecehan berkali2
Night Watcher
sudah saatnya ikutan sukreb..👌
Night Watcher
hingga bab ini, alurnya bagus & penyajiannya simpel dan asyik diikuti.👌💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ada, Elijah buktinya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Fisik nya sama tapi roh nya beda 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang sudah berubah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dan sekarang akan balas dendam 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tetangga baru tapi udah tau namamu Elijah 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!