NovelToon NovelToon
Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Spiritual
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .

bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Mama Retno hanya terkekeh melihat anak gadisnya yang mendadak linglung. "Sudah, jangan banyak bengong. Habiskan buburnya, atau mama panggilkan Rain lagi buat suapin kamu pakai gaya pesawat terbang?"

"Mama! Memangnya aku anak TK!" protes Aisyah, meski pipinya mulai bersemu merah.

Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Rain keluar dengan rambut basah yang disisir rapi ke belakang, mengenakan kaus polos hitam yang pas di badannya. Aroma sabun maskulin yang segar seketika memenuhi ruangan, mengusir bau obat-obatan yang membosankan.

Aisyah yang sedang menyuap bubur tiba-tiba tersedak. Uhuk!

"Pelan-pelan, Sayang. Lapar atau lagi terpana lihat ketampanan suami sendiri?" goda Rain sambil menyodorkan segelas air putih. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap Aisyah dengan binar jenaka yang sangat hangat.

Aisyah menerima gelas itu dengan tangan gemetar. "Si-siapa yang terpana? Tadi ada lalat lewat saja, jadi aku kaget."

"Lalatnya pasti ganteng ya kalau sampai bikin kamu keselek," sahut Rain santai. Ia mengambil alih mangkuk bubur dari tangan Aisyah. "Sini, biar aku yang lanjut. Tangan kamu masih lemas, nanti mangkuknya pecah, mama bisa marah-marah tujuh hari tujuh malam."

Aisyah ingin menolak, tapi aroma sabun dari tubuh Rain dan tatapan matanya yang teduh membuatnya menurut seperti kerbau dicocok hidung. "Kamu... benar-benar suamiku?"

"Bukan, aku ini agen rahasia yang menyamar jadi tukang bubur," canda Rain sambil menyodorkan sesendok bubur ke depan mulut Aisyah. "Ayo, pesawatnya mau mendarat. Nguuung..."

Aisyah tertawa kecil meski berusaha menahannya. "Mas! Berhenti bersikap konyol!"

Malam harinya, saat Rain tertidur pulas di sofa samping ranjang karena kelelahan, rasa penasaran Aisyah memuncak. Ia melihat ponsel Rain tergeletak di meja nakas. Dengan gerakan gerilya, ia meraih ponsel itu.

"Sandi? Pasti sandinya susah," gumam Aisyah. Ia mencoba tanggal lahirnya. Klik. Terbuka.

"Ya ampun, kenapa dia pakai tanggal lahirku jadi sandi? Dasar tidak kreatif," bisiknya, padahal hatinya sedikit meleleh.

Ia membuka galeri foto. Awalnya ia menemukan foto-foto pemandangan, tapi kemudian ia menemukan folder berjudul "Istriku yang Ajaib". Isinya?

Foto Aisyah yang sedang tidur mangap dengan iler di sudut bibir. Foto Aisyah yang sedang marah-marah sambil memegang sutil karena masakannya gosong. Dan yang paling parah, video Aisyah yang sedang menyanyi lagu dangdut dengan mic berupa botol kecap di dapur.

"Hah?! Ini kapan aku begini?!" Aisyah menutup mulutnya agar tidak berteriak. Ia menoleh ke arah Rain yang masih mendengkur halus. "Pria ini... dia benar-benar menyimpan aibku sebanyak ini?"

Ia terus menggulir foto, hingga sampai pada foto pernikahan mereka. Di sana, ia melihat kedua orang tuanya dan kakaknya tersenyum dengan lebar ,senyuman paling bahagia yang pernah ia lihat dalam keluraganya. Di bawah foto itu ada catatan kecil: Hari ini aku menikahi wanita impian ku dan paling kucintai.

Aisyah tertegun. Ia meletakkan kembali ponsel itu dengan perasaan yang campur aduk.

Tiba-tiba, ponsel Aisyah yang ada di bawah bantal bergetar. Sebuah nomor tanpa nama. Aisyah mengangkatnya dengan ragu.

"Aisyah... ini aku," suara serak David terdengar di seberang sana. "

" David..." Lirih Aisyah sembari menatap Rain yang tertidur di sofa.

Keduanya terdiam dalam keheningan yang menyesakkan. Detak jantung Aisyah berpacu dua kali lebih cepat, bukan karena debar cinta, melainkan karena rasa bersalah dan kebingungan yang menghantamnya secara bersamaan. Di satu sisi, ada Rain yang baru saja ia ketahui adalah suami , dan di sisi lain, ada suara dari masa lalu yang kini terasa asing.

"Aisyah, kamu masih di sana?" suara David memecah keheningan, terdengar penuh keputusasaan. " Apa kamu baik - baik saja di sana ? Aku... aku tidak bisa tenang sebelum memastikan kamu baik-baik saja."

Aisyah meremas pinggiran selimutnya. Matanya tertuju pada Rain yang mendengkur halus. Pria itu rela tidur meringkuk di sofa sempit demi menjaganya, sementara David pria yang dulu pernah mengisi hatinya hanya muncul sebagai suara tanpa wujud di tengah malam.

"Aku baik-baik saja, David," jawab Aisyah dingin, suaranya nyaris berbisik. "Seharusnya kamu tidak menelepon lagi. Aku sudah menikah."

"Aku tahu! Tapi aku mengkhawatirkan kondisi mu yang sekarang,kamu pasti bingung dengan pernikahan mu kan?"

Kata-kata David bagaikan belati yang mencoba mengoyak kenyamanan yang baru saja Aisyah rasakan. Ia menatap layar ponsel Rain yang masih tergeletak di nakas , ponsel yang menggunakan tanggal lahirnya sebagai kunci. Ia teringat folder "Istriku yang Ajaib". Apakah mungkin semua tawa dalam foto-foto itu hanya kepura-puraan?

Jangan hubungi aku lagi," tegas Aisyah. Sebelum David sempat membalas, ia memutus sambungan telepon itu dan segera menghapus jejak panggilannya.

Baru saja ia hendak meletakkan ponselnya kembali ke bawah bantal, sebuah gerakan di sofa membuatnya membeku. Rain menggeliat, lalu perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum fokus menatap Aisyah yang tampak tegang.

"Belum tidur, Sayang? Kepalanya sakit lagi?" tanya Rain dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia bangkit berdiri dan menghampiri ranjang dengan langkah gontai.

Aisyah menggeleng cepat, menyembunyikan tangannya yang masih sedikit gemetar di balik selimut. "Tadi... cuma haus."

Rain mengusap kening Aisyah lembut. "Tangan kamu dingin. Mau aku buatkan teh hangat? Atau mau aku nyanyikan lagu pengantar tidur? Tapi suaraku lebih mirip knalpot bocor daripada penyanyi dangdut di video kamu tadi," godanya sambil mengedipkan sebelah mata.

Aisyah tertegun. "Kamu... kamu tahu aku buka galeri kamu?"

Rain tertawa kecil, duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Aisyah. "Aku nggak tidur nyenyak kalau kamu belum tidur, Syah. Lagipula, sandi itu memang sengaja supaya kamu bisa buka. Aku mau kamu lihat betapa bahagianya hidup ku sejak ada kamu."

Aisyah merasa tenggorokannya tercekat. Apakah Rain tahu tentang telepon dari David? Ataukah ia hanya sedang berusaha meyakinkannya?

Aisyah terdiam, matanya menatap tautan tangan mereka. Hangat. Sangat kontras dengan suara David di telepon yang tadi terasa seperti embusan angin musim dingin yang menusuk tulang.

"Kenapa?" bisik Aisyah pelan, hampir tak terdengar. "Kenapa kamu membiarkan aku membuka ponselmu? Kamu tidak takut aku akan melihat semua isi nya?"

Rain terkekeh pelan, ibu jarinya mengusap punggung tangan Aisyah dengan gerakan melingkar yang menenangkan. "Buat apa aku marah? kamu istriku kamu berhak atas semua yang ada dalam diriku luar dan dalam."

Ia menjeda, tatapannya melembut. "Aku ingin kamu jatuh cinta lagi padaku . Aku ingin kamu tahu kalau kamu dicintai bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu adalah kamu."

Aisyah merasakan matanya memanas. "Tapi David bilang... aku tidak menginginkan pernikahan ini."

Mendengar nama itu disebut, gerakan tangan Rain terhenti sejenak. Ada kilatan luka yang melintas cepat di matanya, namun ia segera menutupinya dengan senyuman tipis yang getir. Ia tidak terkejut David menghubungi Aisyah ,ia sudah menduganya.

" Itu hanya pemikiran nya saja" jawab Rain tenang, meski suaranya sedikit lebih berat. "Tapi foto-foto di ponselku tidak bisa berbohong, Syah. Kamera tidak punya memori palsu."

Rain bangkit, membetulkan letak selimut Aisyah hingga ke dada. "Tidurlah. Jangan biarkan suara dari masa lalu mencuri kedamaianmu malam ini. Aku ada di sini. Di sofa itu, atau di sampingmu kalau kamu takut lalat ganteng tadi lewat lagi."

Aisyah menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. "Mas..."

"Ya?"

"Terima kasih. Dan... maaf aku sempat meragukanmu."

Rain hanya mengangguk kecil, lalu mengecup kening Aisyah dengan lembut ,sebuah kecupan yang terasa seperti janji perlindungan. Saat Rain kembali ke sofanya, Aisyah memiringkan tubuh, menatap punggung suaminya itu. Ia menyadari satu hal meskipun ingatannya hilang, hatinya mulai merasakan kenyamanan yang diberikan pria ini.

Namun, di kegelapan malam, layar ponsel Aisyah yang disembunyikan di bawah bantal kembali menyala. Sebuah pesan singkat masuk.

"Aku tahu kamu belum tidur. Besok pagi aku ingin bertemu dengan mu di taman kota . Kita perlu bicara jujur, Aisyah. Sebelum Rain mencuci otakmu lebih jauh."

Aisyah memejamkan mata rapat-rapat. Esok hari sepertinya tidak akan semudah malam ini.

Pagi itu, aroma pengharum ruangan di kamar Aisyah terasa lebih tajam dari biasanya. Rain baru saja meletakkan segelas kopi panas di meja nakas setelah kembali dari dapur di lantai satu. "Aku ke kantor dulu ,ya sayang..mama akan menjagamu selama aku di kantor."

Aisyah mengangguk, mencoba tersenyum meski jemarinya meremas sprei. "Iya, Mas. Hati-hati."

Setelah kepergian Rain , Aisyah keluar dari kamar dan menuju halaman depan untuk menghirup udara pagi , sementara mamanya dan art nya sedang ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan dapur yang sudah habis.

Aisyah duduk di sebuah bangku besi sembari menatap bunga-bunga yang bermekaran di depannya. Ingatannya kembali pada pesan David semalam yang mengajaknya untuk bertemu pagi ini,tapi entah mengapa ia terlihat tak ingin bertemu dengan David hari ini.

"Aisyah!" David melangkah cepat, nyaris berlari ke arah Aisyah. Ia mencoba meraih tangan Aisyah, namun Aisyah menariknya menjauh. "Syah, lihat aku. Kita begitu saling mencintai dan berjanji untuk selamanya bersama ,tapi kedatangan Rain memaksamu menikahinya dengan dalih perjodohan dari keluarga membuat kita terpaksa harus berpisah."

" menikah paksa? Aku dan Rain di jodohkan?" Suara Aisyah bergetar. Ingatannya kembali pada foto-foto pernikahan nya bersama Rain dimana tak ada senyum satu pun dari bibirnya saat pernikahan itu berlangsung.Hanya keluarganya yang merasakan kebahagiaan.Benarkah semua yang di katakan oleh David,tapi mengapa yang di katakan Rain dan mamanya justru sebaliknya.

" Tapi kata mama dan Rain aku yang meminta di nikahi."

Itu manipulasi, Syah! Rain itu pintar. Dia punya segalanya untuk membuatmu percaya pada kebohongannya," David mendesis, matanya menyala penuh obsesi. "Dia memanfaatkan kecelakaan mu untuk menghapus aku dari hidupmu. Kamu mencintaiku, Aisyah. Bukan Rain, jika semua yang di katakan Rain benar kalau kalian menikah karena cinta ,mengapa tidak satupun dari kenangan kalian yang kamu ingat,kamu justru hanya mengingatku dan kenangan kita!"

Aisyah menggeleng, kepalanya mulai berdenyut hebat. "Tapi dia menjagaku... dia tahu semua tentangku..."

"Karena dia penguntit! Dia tahu karena dia terobsesi padamu!" David merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kalung perak usang dengan liontin berbentuk inisial 'A'. "Ini. Kamu memberikanku ini sebagai janji. Apa Rain punya bukti sekuat ini?"

1
maya
makasih sudah mampir kk😍
Isabela Devi
waduh ada mata mata yg melapor tiap gerak gerik mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!