Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam itu, lobi apartemen yang mewah dan berlantai marmer itu tampak sepi, namun aura ketegangan langsung terasa begitu Jati melangkah masuk.
Ia hanya ingin pulang sebentar untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih segar sebelum kembali menjaga Lintang di rumah sakit.
Namun, langkah Jati terhenti saat melihat sosok wanita yang sangat ia kenali sedang duduk di sofa lobi dengan wajah yang tampak kacau dan tetap memancarkan keangkuhan.
Mila langsung berdiri begitu melihat Jati yang baru masuk.
"Ada apa lagi?" tanya Jati dingin, suaranya datar tanpa sedikit pun sisa kasih sayang.
Ia bahkan tidak mendekat, tetap berdiri dengan jarak beberapa meter seolah Mila adalah wabah yang harus dihindari.
Mila berjalan mendekat dengan langkah cepat, matanya menyapu penampilan Jati yang tampak lelah namun tetap terlihat berwibawa.
"Mas, aku sudah menunggu berjam-jam di sini! Aku tidak punya tempat tinggal, apartemen Andre itu sempit dan kotor! Kamu tidak bisa membuangku begitu saja!"
Jati terkekeh sinis, menyilangkan tangan dadanya.
"Bukankah itu pilihanmu, Mila? Kamu yang memilih keluar dari rumah itu bersama selingkuhanmu. Sekarang, urusanmu adalah dengan dia, bukan denganku."
"Mas, tolonglah. Beri aku satu kesempatan atau setidaknya berikan aku uang muka untuk apartemen baru," rengek Mila, mencoba menyentuh lengan Jati, namun Jati dengan cepat menghindar.
"Jangan sentuh aku," desis Jati tajam.
"Uangku hanya untuk orang yang berharga di hidupku. Dan kamu sudah tidak termasuk dalam daftar itu."
Mila mengeratkan pegangannya pada tas mahalnya, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang bercampur rasa malu.
"Jadi benar? Kamu punya wanita lain? Wanita berharga yang kamu banggakan itu? Siapa dia, Mas? Siapa wanita yang sudah mencuci otakmu sampai kamu setega ini pada istri sahmu sendiri?"
Jati menatap Mila dengan tatapan menghina. "Istri sah? Kita sudah selesai sejak kamu memilih tidur dengan pria lain saat suamimu sedang berjuang untuk sembuh. Dan soal wanita itu, dia jauh lebih mulia darimu. Dia tidak butuh hartaku, tapi dia memberiku kesembuhan yang tidak pernah bisa kamu berikan."
Jati memanggil petugas keamanan yang sejak tadi berjaga di dekat lift.
"Pak, tolong pastikan wanita ini keluar dari gedung ini sekarang juga. Mulai detik ini, dia dilarang masuk ke area apartemen saya."
"Mas! Mas Jati! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Mila saat dua petugas keamanan mulai mendekatinya dengan sopan namun tegas.
Jati tidak menoleh sedikit pun. Ia terus melangkah menuju lift dengan mantap.
Pikirannya sudah kembali pada Lintang yang menunggunya di rumah sakit.
Baginya, Mila hanyalah debu masa lalu yang sedang ia bersihkan dari sepatunya.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Jati merasa jauh lebih segar. Namun, sebelum kembali ke rumah sakit, ia memutar kemudinya menuju sebuah butik kelas atas di pusat kota.
Ia sadar bahwa Lintang hanya membawa pakaian seadanya, dan ia ingin wanita itu merasa dihargai.
Jati memilihkan beberapa set pakaian yang elegan namun tetap sopan—beberapa blus sutra yang lembut dan gaun tidur berbahan katun kualitas terbaik yang tidak akan menyakiti luka-luka di tubuh Lintang.
"Tolong bungkus semuanya dengan rapi," ucap Jati singkat sambil menyerahkan kartu kreditnya.
Tanpa Jati sadari, di seberang jalan, sebuah taksi berhenti dengan mesin yang tetap menyala.
Di dalamnya, Mila duduk dengan wajah penuh kedengkian.
Matanya menyipit saat melihat Jati keluar dari butik dengan beberapa tas belanjaan mewah.
"Lihat itu, dia membelikan baju mewah untuk wanita jalang itu," desis Mila pada dirinya sendiri.
Tangannya mencengkeram ponsel dengan kuat. "Pak, ikuti mobil mewah di depan itu. Jangan sampai kehilangan jejak, tapi jangan terlalu dekat!" perintahnya pada sopir taksi.
Sopir taksi itu mengangguk patuh dan mulai melajukan kendaraannya saat mobil Jati bergerak membelah kemacetan malam.
Sepanjang perjalanan, hati Mila terbakar hebat. Ia membayangkan wanita seperti apa yang telah berhasil merebut perhatian Jati.
Apakah seorang model? Atau anak pengusaha kaya? Ia tidak sudi jika posisinya digantikan begitu saja, apalagi saat Jati sedang berada di puncak kejayaannya kembali.
Mobil Jati akhirnya memasuki area parkir sebuah rumah sakit swasta ternama.
Mila meminta sopir taksi berhenti agak jauh agar tidak mencurigakan.
Ia melihat Jati turun dengan langkah terburu-buru, membawa tas belanjaan dan sebuah buket bunga kecil yang tadi sempat ia beli di lobi.
"Rumah sakit? Untuk apa dia ke sini?" gumam Mila heran.
Mila segera turun dan mengenakan kacamata hitam serta syal untuk menutupi wajahnya.
Ia berjalan mengendap-endap, mengikuti Jati dari kejauhan hingga pria itu memasuki lift khusus menuju lantai VVIP.
Mila menunggu lift lain dan menekan tombol lantai yang sama.
Begitu sampai di lantai VVIP, suasana terasa sangat sunyi dan eksklusif.
Mila mengintip dari balik pilar lorong. Ia melihat Jati berhenti di depan sebuah kamar, berbicara sejenak dengan dua pengawal yang berjaga di depan pintu, lalu masuk ke dalam dengan senyum yang tidak pernah Mila lihat sebelumnya—senyum penuh kasih sayang yang tulus.
"Kamar 501," bisik Mila.
Ia menunggu beberapa menit sampai keadaan tenang, lalu dengan keberanian yang didorong oleh rasa cemburu, ia melangkah menuju kamar tersebut.
Mila tidak langsung masuk. Ia berdiri di samping pintu yang sedikit tidak rapat, mencoba mengintip ke dalam.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat Jati sedang duduk di tepi ranjang, sedang menunjukkan pakaian-pakaian baru itu kepada seorang wanita yang wajahnya masih terlihat lebam dan diperban.
"Ini untukmu, Lintang. Aku harap kamu suka warnanya," suara Jati terdengar begitu lembut di telinga Mila.
Mila tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Nama "Lintang" terdengar begitu asing, namun sekaligus membakar seleret harga dirinya.
Lintang? Siapa Lintang? Mengapa Mas Jati memberikan perhatian sebesar itu pada wanita yang wajahnya babak belur seperti itu? pikir Mila dengan penuh kebencian.
Rasa tidak terima meledak saat ia melihat Jati merengkuh tubuh Lintang ke dalam pelukannya dengan begitu protektif.
Pemandangan itu bagaikan bensin yang menyambar api di hati Mila.
Tanpa pikir panjang, ia mendorong pintu kamar VVIP itu hingga menghantam dinding dengan keras.
BRAKK!
"Dasar PELAKOR!" teriak Mila histeris, suaranya melengking memenuhi ruangan yang tadinya tenang.
Jati tersentak dan langsung berdiri, secara naluriah ia menempatkan tubuhnya di depan Lintang untuk melindunginya.
Matanya berkilat marah melihat sosok yang sangat ia hindari kini berdiri di hadapannya dengan wajah yang merah padam.
"Mila?! Bagaimana bisa kamu masuk ke sini?!" bentak Jati dengan suara menggelegar.
Mila tidak memedulikan gertakan Jati. Matanya tertuju tajam pada Lintang yang tampak ketakutan di atas ranjang.
Lintang mengeratkan pegangannya pada selimut, tubuhnya gemetar melihat kemurkaan wanita cantik yang ia yakini sebagai istri Jati.
"Ooh, jadi ini wanita 'berharga' itu, Mas? Ini wanita yang kamu bilang lebih mulia dariku?!" Mila tertawa sumbang, tawanya penuh penghinaan.
"Lihat tampangnya! Hanya wanita desa kelas bawah yang wajahnya pun hancur seperti itu! Apa yang dia lakukan padamu, Mas? Dia pakai guna-guna apa sampai kamu mau membelikan baju mewah untuk sampah seperti dia?!"
"Jaga bicaramu, Mila!" Jati melangkah maju, auranya begitu mengancam hingga Mila mundur satu langkah.
"Jangan pernah berani menghina Lintang. Dia jauh lebih terhormat daripada kamu yang menjual harga diri demi lelaki lain!"
"Terhormat? Dia mencuri suamiku saat aku lengah! Kamu pikir aku akan diam saja melihat hartamu habis untuk membiayai wanita jalang ini?!"
Mila menunjuk Lintang dengan telunjuknya yang gemetar.
"Heh, kamu! Dengar ya, Jati itu milikku! Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan sepeser pun darinya!"
Lintang meneteskan air mata, ia merasa sangat rendah di hadapan Mila.
"Maaf, saya tidak bermaksud..." suara Lintang terputus oleh isak tangis.
"Jangan minta maaf padanya, Lintang! Kamu tidak salah apa-apa," potong Jati tegas.
Ia kemudian menoleh ke arah pintu dan berteriak keras.
"PENGAWAL! MASUK!"
Dua pengawal yang tadi berjaga di luar segera masuk dengan wajah pucat karena kecolongan.
"Seret wanita ini keluar! Dan pastikan dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di rumah sakit ini lagi! Kalau sampai dia muncul lagi, kalian semua saya pecat!" perintah Jati tanpa ampun.
"Lepaskan! Mas Jati, lepaskan aku! Kamu akan menyesal karena memilih tukang pijat ini daripada aku!" Mila meronta-ronta saat kedua pengawal itu menyeretnya keluar dari kamar.
Teriakan makiannya masih terdengar sepanjang lorong hingga suaranya menghilang di balik lift.
Suasana kembali sunyi, namun kini penuh dengan isakan pilu Lintang.
Jati segera berbalik dan memeluk Lintang erat, mencoba menenangkan wanita itu yang kini terguncang hebat.
"Sstt... sudah, dia sudah pergi. Jangan dengarkan kata-katanya," bisik Jati sambil mengusap rambut Lintang dengan penuh penyesalan.
"Mas, apa saya benar-benar pembawa masalah? Mungkin benar kata mbak tadi kalau saya tidak pantas di sini," isak Lintang di dada Jati.
Jati memegang wajah Lintang, menghapus air matanya dengan ibu jari.
"Dengarkan aku, Lintang. Kamu adalah jawaban atas doaku. Kejadian ini justru membuatku sadar bahwa aku harus segera meresmikan hubungan kita agar tidak ada lagi yang berani mengusikmu."