NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#31

“Permisi bentar.” Ayunda pergi meninggalkan meja dan berpura-pura ke toilet.

“Kapan sih lo membuang sifat buruk lo itu? Memangnya kenapa kalau dia dari kampung? Gak semua orang kampung itu miskin.” Silvia kesal pada Rehan. Rehan adalah laki-laki yang memang sejak dulu suka pemilih dalam berteman. Dia menganggap tidak bisa berteman dengan mereka yang tidak selevel.

“Tapi gue suka cara ayunda bicara,” ujar Kelan.

“Tau gak sih kemarin dia pake tas apa? Miumiu! Lo tau kan tas itu harganya berapa? Untuk mahasiswa kayak kita, dia udah oke.” Jelas Silvia.

“Gue sih percaya kenapa Silvia sampai mau berteman dengan Ayunda.”

Rehan tersenyum picik.

“Gue permisi.”

Kelan pun ikut pergi meninggalkan meja. Dia tahu Ayunda tidak pergi ke toilet.

“Hai.”

Ayunda yang sedang duduk di kursi jalan depan, menoleh.

“Boleh duduk?”

“Hmmm,” jawab ayunda kesal.

“Sorry ya. Temenku yang satu itu emang beda dari cowok kebanyakan.”

“Kalian itu anak kota memang begini ya. Selalu pemilih dalam berteman? Merendahkan orang lain karena dianggap tidak sederajat dengan kalian? Hebat banget. Sekaya apa sih otang tua kalian? Oh, walaupun kaya memangnya kenapa? Punya hak apa sampai harus memperlakukan orang lain begitu.”

Kelan tersenyum.

“Tapi boleh gak kalau nanti aku ikut ke desa kamu? Janji gak akan ajak Rehan.”

Ayunda menoleh sambil menatap Kelan dengan tatapan heran bercampur kesal.

Sementara Kelan hanya tersenyum menanggapinya.

“Mau tanya deh? Rehan sekaya apa sih? Berapa uang jajan yang dia terima?”

“Kenapa memangnya?”

“Aku masih bisa terima kalau dia lebih di atas aku. Tapi kalau di bawah?” Ayunda mengejek.

“Setahu aku seminggu dikasih tiga juta sama orang tuanya.”

Ayunda tertawa mendapat jawaban dari Rehan.

“Ada apa? Apa dia jauh di bawah kamu?”

“SANGAT.”

Untuk sesat Kelan terdiam. Antara kagum dan juga kaget. Meski tidak menyebutkan nominal, dengan kata sangat yang ditegaskan oleh Ayunda, Kelan bisa menebak jika uang jajan Ayunda memang jauh lebih besar dari Rehan, bahkan mungkin dari uang jajan dirinya.

“Aku tidak punya uang jajan mingguan, tapi uang di rekeningku cukup untuk membiayai makan dia selama kuliah. Uang jajan dia bahkan bisa aku dapatkan dari Mas yang bukan kakak kandungku. Lihat sendiri aja deh nanti. Mereka mau ke sini jemput aku, akan aku kenakan mereka sama kamu. Silakan nilai sendiri. Kamu orang kaya kan? Pasti bisa menebak harga outfit yang mereka kenakan.”

Kelan mengangguk pelan. dalam hatinya dia merasa jika ayunda tidak sepolos dan selugu yang dia kira.

Ayunda dan Kelan kembali ke meja secara bersamaan.

Silvia mengusap tangan ayunda sambil tersenyum, berharap amarah ayunda mereda akibat sikap Rehan.

“Kemarin Kelan beli mobil baru lagi,” ujar Dirga.

“Kok lo masih bawa yang lama? Kan kita juga mau nyobain lah,” timpal Silvia.

“Hanya untuk dua penumpang.”

Mata ketiga sahabat Kelan membulat sempurna, hanya Ayunda yang nampak biasa saja mendengar ucapan Kelan.

“Sport? Wah, luar biasa. Pokoknya lain kali ajak aku jalan-jalan, ya.” Silvia merayu.

Kelan hanya tersenyum menanggapi rengekan manja Silvia.

“Heh, kamu katanya oran kampung tapi kaya, punya—“

“Gak ada.” Ayunda menjawab pertanyaan yang belum selesai diucapkan oleh Rehan.

Silvia memelototi Rehan.

Suasana kembali canggung. Ditambah muka ayunda selalu melihat ke arah lain. Seolah enggan melihat mereka yang ada satu meja dengan nya.

Tidak lama kemudia ayunda melihat Elang dan Alex datang. Wajahnya berubah sumringah seketika. Dia melambaikan tangan agar posisinya terlihat oleh kedua pria tersebut.

Alex mengerutkan keningnya.

“Lama banget kalian. Aku udah pengen pulang dari tadi tapi gak tau jalan, gak tau juga harus naik apa.”

“Makanya ijin dulu kalau mau pergi.”

“Awwww, sakit.” Ayunda mengusap telinganya yang dijewer Elang.

“Kenapa di sini? Gak kuliah kamu?” Tanya Alex.

“Nggak, Bang.” Kelan menjawab.

“Bang?@ Tanya Ayunda kaget. Bukan hanya kaget, dia sangat terkejut.

“Ka-kalian kenal?” Tanya Ayunda.

“Dia adik ibunya Alex.” Elang menjawab pertanyaan Ayunda.

“Mereka yang kamu bilang kakak sama mas kamu?” Tanya Kelan heran.

“Ah, itu. Mas elang aja kakak aku, kalau Kak Alex—“

“Dia kekasih gue,” jawab Alex menyela ucapan Ayunda.

Baik Kelan maupun Alex sama-sama dibuat terkejut oleh pernyataan Alex.

“Nggak, kok. Kami belum resmi pacaran cuma lagi deket aja.”

“Deket? Jadi kamu deket sama dia bukan karena dia temen mas tapi karena deket sedang pdkt?” Tanya Elang.

Ayunda mengangguk.

“Gila. Kalian bener-bener gak bisa dipercaya.”

“Bang, ayunda masih kecil banget loh. Umur kalian jauh apalagi kan om itu…” Kelan tidak berani menyebutkan status anak dari kakak nya yang sudah meninggal itu.

“Duda? Ya emang kenapa?” Tanya Ayunda polos.

“Ck, ayo pulang.” Elang menarik tangan Ayunda menjauh dari sana.

“Lang.” Alex berusaha menghentikan sikap Elang yang menyeret tangan Ayunda sampai gadis itu meringis kesakitan.

“Kenapa? Mau apa lo? Lo balik sama Kelan, gue balik sama dia.”

Alex melepaskan tangan ayunda dari Elang.

Suasana menegang karena Alex dan Elang terlihat sama-sama emosi. Mereka saling menatap dengan sorot mata tajam seperti pedang yang siap untuk saling menghunus.

“Kak, udah. Aku pulang dulu sama Mas elang ya.” Ayunda berusaha menenangkan Alex. Dia berdiri di anatara kedua pria tinggi itu.

“Kak.” Ayunda menggoyang kan tangan Alex agar matanya tidak tertuju pada Elang.

Alex menghela nafas berusaha menyetabilkan amarahnya.

“Ya, jangan lupa berkabar.”

Ayunda mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Ayo, Mas.” Ayunda menggandeng tangan Elang dan pergi menuju parkiran.

Alex pergi bersama Kelan dan teman-teman nya.

“Bang, yakin sama keputusan lo?”

“Hmm.”

“Tapi apa kak Dela gak akan marah? Dia bahkan sering mengenalkan abang pada perempuan pilihan dia. Jika dilihat, kualifikasinya jauh di atas ayunda.”

“Gue gak lagi nyari karyawan yang harus memiliki kualifikasi.”

“Gimana cara lo bilang ke kak dela?”

“Sementara gak usah bicarakan masalah ini dulu. Lagian masih belum jelas juga.”

“Lo ditolak ayunda?”

“Hmmm.”

“What?” Kelan merasa heran dengan jawaban Alex. Di mata dia, Alex adalah pria yang sempurna dalam segi apapun. Rasanya aneh jika ada yang menolak pesonanya. Baik pesona wajahnya, ataupun pesona hartanya.

“Dia punya cinta masa kecil yang tidak bisa dia lupakan.”

“Abang tahu?”

“Hmmm.”

“Tapi abang masih suka dan ngejar dia?”

“Hmmm.”

Kelan menggelengkan kepala semakin tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Alex.

“Fokus aja nyetir jangan kebanyakan nanya.”

Kelan mengangguk pelan.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!