" Aku telah kehilangkan kedua orang tuaku dari karna ulah keluargamu, maka bersiap lah menerima akibat dari perbuatanmu itu!" Ucap seorang pria dengan mata penuh dendam.
” Aku menerima semua kemarahan mu tuan, atas apa yang telah di perbuat oleh orang tuaku untuk menebus semua kesalahan itu. Tapi jika aku lelah aku pamit pergi tuan." Balas seorang wanita dengan wajah sendiri penuh kepasrahan apa yang akan ia terima dengan ikhlas untuk menebus semua kesalahannya pada pria yang membenci dirinya itu.
Bagaimana kelanjutannya ikuti terus cerita ini sampai selesai ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda sri ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama
Terlihat seorang remaja perempuan berusia 15 tahun tengah membersihkan sebuah kolam renang dengan menggunakan alat serokan untuk mengambil sampah sampah yang mengotori kolam renang tersebut.
Di siang hari yang begitu panas gadis remaja tersebut tetap melakukan pekerjaannya tampa memperdulikan rasa lelah di tubuhnya sehabis pulang sekolah.
Keringat terus bercucuran membasahi dahi serta leher gadis itu di bawah terik matahari yang begitu panas.
Apa lagi di tambah perut yang sangat lapar membuat gadis itu sedikit merasakan pusing di kepalanya hingga menghentikan pekerjaannya sesat.
" Ya allah kenapa kepalaku pusing sekali apa karna dari pagi belum sarapan jadi pusing begini." Ucap gadis tersebut di pinggir kolam renang.
Sampai sebuah teriakan dari atas balkon membuat gadis tersebut terkejut serta wajah yang tampak ketakutan.
" Hei siapa yang nyuruh dirimu berhenti bekerja hah. Cepat kerjakan pekerjaan mu sampai selesai kalo gak liat saja apa yang akan lo terima..." Teriak seorang laki laki dengan tatapan tajam menatap gadis itu dari atas balkon sebuah kamar dengan baju putih abu abu yang masih melekat di tubuh remaja pria tersebut.
"Maaf tuan." Ucap gadis itu dengan wajah takut saat dirinya di marahin oleh pria itu.
Setelah itu remaja perempuan tersebut pun kembali melanjutkan pekerjaannya walaupun kepalanya dilanda pusing yang sangat terasa berat di kepalanya.
Dari kejauhan remaja pria itu masih terus memperhatikan gadis tersebut dengan wajah datarnya serta kedua tangan yang di masukan kedalam saku celananya dengan tatapan tidak suka terhadap gadis tersebut.
Di sudut rumah terlihat beberapa pekerja di rumah itu yang menatap kasihan pada gadis belia itu.
" Ya allah kasihan ya mbak naura baru pulang sekolah sudah di suruh bersih bersih kola renang panas panas begini." Ucap salah satu asisten rumah tangga di sana yang melihat gadis tersebut.
" Iya bener bu, kenapa nasib tidak beruntung datang pada gadis itu sampai harus menjalani ini semua yang bukan ulah nya." Tambah wanita di paru baya itu dengan pelan.
" Ngapain kalian di situ. apa mau saya pecat kalian semua hah! Ingat ya jangan ada seorang pun yang bantuin dia atau kalo tidak kalian siap siap saja pergi dari sini saat itu juga!" Suara lantang terdengar dari belakang tubuh kedua asisten rumah tangga itu yang tampak ketakutan saat mereka ketahuan sedang melihat gadis itu yang masih membersihkan kolam renang tersebut.
” Maafkan kami den." Ucap kedua wanita itu pada remaja pria yang tengah menatap mereka dengan tajam berdiri menjulang di hadapan mereka di pintu keluar menuju kolam renang.
Setelah itu kedua asisten rumah tangga itu minta maaf mereka pun langsung pergi dari sana meninggalkan remaja pria itu yang kini melihat gadis itu tanpa senyuman di wajah tampan nya.
" Ini belum seberapa untuk membalas atas semua rasa sakit dan kehilangan yang telah ku rasakan gadis sialan." Gumam remaja pria itu dengan tatapan kebencian melihat gadis tersebut yang tengah berhenti sejenak dari pekerjaannya untuk menyeka keringat yang membasahi kepalanya.
*
*
*
Malam hari tiba di mana para art sedang menyiapkan makan malam di dapur untuk majikan mereka.
Mereka semua sibuk dengan pekerjaannya masing masing, sampai tidak lama kemudian seorang gadis yang tadi sang membersihkan kolam renang masuk dengan baju tidur lengan panjang beserta celananya yang sudah tampak kucel dengan rambut yang di kuncir kuda mendatangi art tersebut.
" Bu ada yang bisa naura bantu." Tanya gadis tersebut dengan senyum ramah.
" Eh mbak naura sudah siap sholat ya." Tanya balik wanita paru baya tersebut dengan menoleh kearah gadis itu.
" Alhamdulillah sudah bu. sini naura bantuin bawa ini kemeja makan." Ucap naura dengan mengambil semangkuk sop panas dari tangan wanita paru baya tersebut yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri.
" Tapi ini masih panas loh mbak hati hati ya bawak nya." Kata wanita itu dengan menatap wajah naura.
" Aman bu, kan naura sudah biasa mengerjakan hal seperti ini." Ucap naura sembari tersenyum lalu pergi dari dapur sambil membawa semangkuk sop panas di tangannya dengan hati2.
Gadis itu berjalan dengan penuh ke hati hatian sampai di meja makan utama rumah tersebut yang ternyata sudah menunggu remaja laki laki tersebut yang tengah memainkan ponselnya.
Naura yang melihat pria itu dengan cepat menundukkan kepalanya sambil meletakkan sayur sop itu di atas meja dengan pelan pelan.
Sesudah selesai meletakan sayur tersebut naura pun berniat pergi dari sana tampa mengeluarkan suaranya.
Sampai sebuah suara dingin menghentikan langkah naura yang belum terlalu jauh melangkah.
" Siapa yang menyuruhmu pergi!" kata remaja pria itu sambil meletakan ponselnya kedalam saku celananya ia berbicara tampa menatap gadis tersebut.
Naura pun membalikkan badannya perlahan dengan kepala tertunduk kebawah dengan kedua tangan yang saling bertautan.
"Ad- ada yang bisa saya bantu tuan." Ucap gadis tersebut dengan nada suara pelan tampa berani mengangkat wajahnya.
Remaja pria itu pun melirik kesamping dengan wajah datar dengan tatapan penuh makna di matanya.
" Ambilkan saya makan." Perintah pemuda itu pada gadis tersebut dengan tegas.
Wajah gadis itu tampak terkejut saat pria di hadapannya menyuruh dirinya untuk mengambil makan. karena biasanya naura tidak pernah melayani pria itu karna biasa yang mengambilkan makan adalah art yang tadi sempat naura aja bicara di belakang.
Sesaat naura tengelam dalam pikirannya sampai suara keras mengejutkan naura kembali.
" Saya tidak akan mengulangi ucapan saya untuk yang kedua kalinya!" Sentak pemuda itu dengan nada dingin.
Lalu dengan perlahan naura pun mengambil piring yang sudah ada tersedia di sana lalu mengambil nasi dan juga lauk pauk yang sudah tersedia di sana termasuk sop panas yang tadi naura bawa.
Namun saat naura hendak memberikan kepada pria itu tidak tau sengaja atau tidak pemuda itu sengaja menyenggol tangan gadis itu sehingga piring tersebut jatuh mengenai tangan dan baju gadis tersebut.
Pranggg...
" Aww aww panas." Rintih naura saat tangannya terkena kuah panas dari sayur sop yang tadi ia ambil kini berserakan di lantai.
Pemuda itu langsung bangkit dari tempat duduknya dengan wajah yang terlihat marah pada gadis tersebut.
" Kamu itu bisa kerja nggak sih, kerja kayak gitu aja nggak becus!!" Bentak pemuda tersebut dengan nada tinggi membuat gadis tersebut ketakutan hingga membuat tubuhnya bergetar menahan air mata.
Art yang mendengar suara keributan dari ruang makan pun berlari menuju depan dan terkejut saat melihat piring pecah berserakan di lantai dengan gadis itu yang menangis sambil memegangi tangannya yang memerah menahan sakit akibat terkena kuah panas sop.
" Ya allah mbak naura kenapa bisa begini." Ucap wanita paru baya tersebut dengan wajah khawatir pada gadis itu.
....
Assalamualaikum semuanya. Ini adalah karya Author yang baru maaf kalo banyak tipo semoga yang membaca suka ya...
Jangan lupa like comment dan ikuti terus perjalanan dari cerita ini terimakasih🥰