NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 1

Lampu neon remang-remang di kawasan industri Jakarta Utara memantul pada jaket kulit hitam milik Andi "Cobra". Di bawah kakinya, seorang pemimpin geng motor tersungkur, memuntahkan darah ke aspal yang dingin.

Andi tidak perlu banyak bicara. Kecepatannya saat bertarung seperti patukan ular kobra—mematikan dan tak terduga. Dalam tiga tahun, ia telah mengubah sekumpulan pemuda jalanan menjadi The Venom, sindikat mafia terbesar yang menguasai jalur logistik hitam dan arena petarung bawah tanah di ibu kota.

"Siapa pun yang berani menyentuh wilayahku," bisik Andi dengan suara berat yang mengancam, "berarti dia sudah memesan tempat di liang lahat."

Namun, di balik kegarangannya, ada kekosongan yang tak bisa diisi oleh tumpukan uang atau sorakan kemenangan di ring beton.

Malam itu, Andi sedang menghindari kejaran polisi setelah sebuah transaksi yang kacau. Ia masuk ke sebuah kafe kecil di sudut kota yang tenang untuk bersembunyi. Di sana, ia bertemu dengan Andin.

Andin adalah seorang relawan guru di sekolah kaum marjinal. Ia sedang membereskan buku-buku saat Andi masuk dengan luka robek di pelipisnya. Bukannya takut, Andin justru mendekat dengan kotak P3K.

"Dunia luar pasti sangat keras padamu," ucap Andin lembut sambil mengobati luka Andi.

Mata Andi yang biasanya tajam dan penuh kebencian, tiba-tiba layu saat menatap manik mata Andin yang bening. Untuk pertama kalinya, seseorang melihat Andi bukan sebagai "Sang Cobra" yang ditakuti, melainkan sebagai manusia yang terluka.

Cinta tumbuh di tempat yang paling tidak masuk akal. Andi mulai menjalani kehidupan ganda. Di siang hari, ia adalah pria misterius yang membawakan donasi buku untuk anak-anak didik Andin. Di malam hari, ia masih raja diraja dunia kriminal.

Namun, rahasia tidak bisa selamanya terkubur. Konflik memuncak saat organisasi saingan mengetahui bahwa "titik lemah" Sang Cobra adalah seorang gadis polos bernama Andin.

Ketika Andin diculik oleh musuh bebuyutannya sebagai umpan, Andi dihadapkan pada pilihan mustahil: Mempertahankan kerajaan mafianya atau menghancurkan segalanya demi keselamatan wanita yang ia cintai.

Andi datang ke markas lawan sendirian. Tanpa senjata api, hanya dengan kepalan tangan yang telah memenangkan ratusan street fight.

"Aku melepaskan tahtaku malam ini," teriak Andi di depan ratusan anak buah musuhnya. "Ambil semua wilayahku, ambil semua uangku. Tapi kembalikan dia."

Pertempuran pecah. Andi bertarung bukan lagi untuk ego atau kekuasaan, melainkan untuk sebuah kesempatan hidup baru. Meski tubuhnya bersimbah darah, ia terus berdiri. Setiap pukulan yang ia terima dirasanya sebagai penebusan dosa atas masa lalunya yang kelam.

Malam itu hujan turun deras di Jakarta. Andi duduk di teras kecil rumah Andin, memandangi rintik air yang jatuh ke tanah. Di balik kemeja flanelnya yang rapi, ada perban yang melilit perutnya akibat tusukan belati dalam pertemuan rahasia dengan para petinggi The Venom beberapa jam lalu.

"Andi, kau melamun lagi," suara Andin memecah keheningan. Ia membawa secangkir teh jahe hangat.

Andi tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit ia tunjukkan pada anak buahnya. "Hanya memikirkan masa depan, Ndin. Apakah orang seperti aku pantas mendapatkan ketenangan seperti ini?"

Andin duduk di sampingnya, menatap lurus ke depan. "Setiap orang punya masa lalu, Andi. Tapi masa depan itu seperti tanah liat, kita sendiri yang membentuknya. Kenapa kau selalu merasa tidak pantas?"

Andi terdiam. Ia ingin berteriak bahwa tangannya telah mematahkan ratusan tulang. Bahwa uang yang ia gunakan untuk menyumbang ke sekolah Andin berasal dari bisnis yang berlumuran darah.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam legam berhenti di depan pagar. Tiga orang pria berbadan tegap dengan tato ular di leher turun. Mereka adalah Bara, orang kepercayaan Andi di The Venom.

"Bos, keadaan darurat. Anak-anak Macan Putih menyerang gudang sektor empat. Mereka minta kepala Anda," ucap Bara tanpa memedulikan kehadiran Andin.

Dunia Andi seakan runtuh. Keheningan yang ia bangun hancur seketika. Andin berdiri, wajahnya pucat pasi. Tatapannya beralih dari pria-pria sangar itu ke arah Andi.

"Bos? Apa maksud mereka, Andi?" suara Andin bergetar.

Andi berdiri perlahan, menahan perih di perutnya. Ia tidak menatap Bara, melainkan menatap Andin dengan mata yang penuh penyesalan. "Pergilah ke dalam, Ndin. Tolong."

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Andin, air mata mulai menggenang.

Bara mendengus tidak sabar. "Dia adalah Andi Cobra, Nona. Raja jalanan Jakarta. Dan malam ini, rajanya harus kembali ke medan perang."

Andi akhirnya melangkah menuju mobil, namun sebelum masuk, ia berbalik. "Aku akan menyelesaikan ini, Ndin. Bukan sebagai Cobra, tapi sebagai pria yang ingin pulang padamu. Jika aku tidak kembali dalam dua jam... pergilah dari kota ini."

Andi berangkat menuju pelabuhan tua, tempat di mana musuh-musuhnya berkumpul. Di sana, ratusan petarung sudah menunggu.

"Kalian ingin takhta ini?" teriak Andi di tengah hujan badai, melepas kemejanya dan menunjukkan tato kobra raksasa di punggungnya yang penuh luka parut. "Ambil! Tapi setelah malam ini, jangan pernah ada yang berani menyebut nama 'Cobra' lagi di jalanan!"

Pertarungan itu brutal. Andi tidak menggunakan pistol. Ia menggunakan teknik Street Fighter murninya—sikut, lutut, dan pukulan yang menghancurkan mental lawan. Satu demi satu tumbang. Andi bertarung seolah ia sedang memukul keluar setan-setan dalam dirinya.

Setiap kali ia hampir terjatuh karena kelelahan, bayangan senyum Andin menjadi pemacu jantungnya.

Di akhir pertempuran, Andi berdiri di tengah tumpukan lawan yang mengerang kesakitan. Bara mendekat, memberikan sebuah pistol. "Habisi pemimpin mereka, Bos. Maka kekuasaanmu tidak akan tertandingi."

Andi melihat pemimpin musuhnya yang sudah tak berdaya di tanah. Ia memegang pistol itu, merasakannya dingin di tangannya. Namun, ia teringat kata-kata Andin: “Masa depan itu seperti tanah liat.”

Andi membuang pistol itu ke laut.

"Aku selesai," ucap Andi pelan namun tegas. "Bara, mulai malam ini, The Venom bubar. Jika kalian ingin tetap di jalanan, itu urusan kalian. Tapi jangan pernah cari aku lagi."

Andi berjalan tertatih-tatih meninggalkan pelabuhan. Ia tidak peduli lagi pada kekuasaan. Ia hanya ingin membersihkan darah di tangannya sebelum menyentuh tangan Andin kembali.

Langkah Andi gontai. Darah menetes dari pelipis dan sela-sela jemarinya, bercampur dengan air hujan yang semakin menderu. Di belakangnya, Bara dan sisa-sisa anggota The Venom hanya terpaku menatap punggung sang legenda yang menjauh. Mereka sadar, malam ini "Cobra" telah mati, dan yang tersisa hanyalah seorang pria bernama Andi yang sedang mencari jalan pulang.

Andi sampai di depan gerbang rumah Andin saat fajar hampir menyingsing. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak seolah tulang rusuknya ada yang patah. Ia ragu untuk mengetuk pintu. Dengan kondisi hancur begini, ia merasa lebih mirip monster daripada manusia yang layak dicintai.

Cklek.

Pintu terbuka sebelum Andi sempat menyentuhnya. Andin berdiri di sana. Matanya sembap, wajahnya pucat karena terjaga semalaman. Ia menatap Andi dari ujung kepala hingga ujung kaki—pakaian yang robek, luka lebam yang membiru, dan noda darah yang belum sepenuhnya luntur oleh hujan.

"Kau kembali," bisik Andin pelan. Suaranya pecah.

Andi tertunduk, tidak berani menatap mata bening itu. "Aku sudah menyelesaikannya. Semuanya. Tidak ada lagi Cobra. Tidak ada lagi mafia. Hanya aku... jika kau masih mau menerimaku."

Andin tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju dan memeluk Andi dengan erat, tidak peduli dengan bau amis darah atau kemeja mahalnya yang ikut kotor. Isak tangisnya pecah di dada Andi.

"Jangan pernah pergi seperti itu lagi," tangis Andin. "Aku tidak peduli siapa kau di masa lalu, Andi. Aku hanya peduli pada pria yang membantuku mengajar anak-anak itu."

Namun, dunia hitam tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja. Saat Andi mulai mencoba menata hidup sebagai warga sipil biasa, sebuah ancaman baru muncul dari tempat yang tak terduga.

Bara, yang selama ini menjadi tangan kanan Andi, merasa dikhianati. Baginya, membubarkan The Venom adalah penghinaan terhadap semua keringat dan darah yang mereka tumpahkan. Bara mengambil alih sisa-sisa anggota yang haus kekuasaan dan membentuk faksi baru yang lebih kejam.

Suatu sore, saat Andi sedang mengecat dinding sekolah marjinal bersama Andin, sebuah amplop hitam terselip di bawah pintu. Di dalamnya hanya ada satu foto: foto Andin saat sedang mengajar, dengan tanda silang merah di wajahnya.

Andi meremas kertas itu. Amarah yang coba ia kubur dalam-dalam kembali bergejolak.

"Ada apa, Andi?" tanya Andin cemas melihat perubahan raut wajah kekasihnya.

Andi berusaha tersenyum, meski matanya berkilat tajam. "Bukan apa-apa, Ndin. Hanya urusan lama yang minta diselesaikan dengan cara baik-baik."

Andi tahu ia tidak bisa terus berlari. Untuk melindungi Andin selamanya, ia harus mencabut akar masalahnya. Ia mendatangi markas baru Bara di sebuah gedung tua yang belum selesai dibangun—tempat yang dulu mereka rencanakan sebagai pusat kekuasaan The Venom.

"Kau datang juga, Sang Legenda," ejek Bara, berdiri di tepian lantai teratas tanpa dinding pembatas. Di tangannya, ia memainkan pisau lipat kesayangan Andi yang tertinggal saat malam pelabuhan.

"Bara, berhentilah. Jangan libatkan Andin," kata Andi tenang.

"Andin adalah alasan kau menjadi lemah!" teriak Bara. "Kau dulu adalah petarung jalanan terbaik! Kau adalah raja! Dan kau membuang semuanya demi seorang wanita?"

Bara menerjang. Pertarungan ini berbeda. Jika dulu Andi bertarung untuk berkuasa, kali ini ia bertarung untuk mempertahankan kedamaian yang baru saja ia rasakan. Teknik Street Fighter Andi jauh lebih matang; setiap gerakannya efisien, tidak ada tenaga yang terbuang untuk amarah yang sia-sia.

Dalam satu gerakan sapuan bawah yang cepat, Andi menjatuhkan Bara. Ia mengunci leher mantan sahabatnya itu di pinggir gedung.

"Aku tidak menjadi lemah karena cinta, Bara," bisik Andi tepat di telinga Bara. "Aku justru menjadi kuat karena sekarang aku punya sesuatu yang layak untuk diperjuangkan."

Andi tidak membunuh Bara. Ia melepaskannya dan menyerahkannya pada pihak kepolisian yang sudah ia hubungi sebelumnya—sebuah bukti bahwa ia benar-benar telah meninggalkan cara-cara mafia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!