Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Pertengkaran dua bersaudara
Langkah kaki itu terdengar sangat tegas. Setiap hentakannya seolah telah diperhitungkan. Lucas Moses, terlihat sempurna dengan balutan jas hitam pekatnya. Ervana menunduk, terlalu takut bertatapan mata dengan pria angkuh di depannya itu.
Ervana mengenakan gaun pemberian sahabatnya, berdiri di hadapan sang kakak dengan tubuh bergetar ketakutan.
Efendi dan istrinya telah pergi menuju hotel bintang lima yang menjadi tempat peresmian Moses group. Ditemani Renita, mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
"Kau selalu saja bersikap munafik". Lucas tersenyum miring melihat reaksi terkejut adiknya. Pria itu mendekat lalu mengangkat pelan dagu Ervina.
"Kau pikir aku akan merasa bersalah karena melihat ekspresi bodohmu itu? Angkatlah wajahmu sialan jika kau berani padaku".
"A-aku tidak tau apa yang kakak bicarakan".
"Jika bukan karena nama baik keluarga, aku sungguh malu mengajakmu ke pesta keluarga". Netra hitam pekat itu menatap nyalang wajah cantik adik perempuannya. Lucas tidak tau sejak kapan ia begitu membenci gadis munafik di hadapannya ini.
"Berapa bayaran yang kau terima dari Morgan Aston? Kau menjajakan tubuhmu pada pria itu agar diberi pekerjaan di sana kan? JAWAB!" Ervana merasakan sakit di hati dan gendang telinganya. Apa maksudnya? Kenapa kakaknya bisa semarah ini?
"Aku sungguh malu punya adik menjijikan sepertimu". Lucas melepaskan cengkeramannya dengan kasar sebelum meninggalkan adiknya yang masih ketakutan. Ervana mendesah putus asa, benar-benar tidak tau apa yang menjadi penyebab kemarahan kakak sulungnya itu.
Dengan langkah gontai, Ervana menyusul kakaknya yang telah mendudukkan tubuhnya di balik kemudi mobil mewahnya. Berkat Lucas, keluarga Moses akhirnya diperhitungkan sebagai salah satu keluarga bangsawan di negara ini. Pria itu seperti tidak menyia-nyiakan suntikan dana dari keluarga Baskara. Dalam waktu tiga tahun, nama keluarga itu melambung tinggi hingga hari ini keluarga itu memutuskan untuk memperbanyak gurita bisnisnya. Keluarga Moses benar-benar eksklusif sekarang.
Hening, Ervana memilih melemparkan tatapannya ke luar jendela dari pada menatap wajah tegang kakaknya. Dilihat dari sudut manapun, keduanya benar- benar sangat mirip namun Lucas selalu menyangkal kebenaran itu.
"Aku terlalu jijik melihat wajah gadis murahan itu. Berhenti mengatakan hal bodoh itu! Aku tidak pernah mirip dengannya", ucap Lucas kala itu saat Renita sengaja memprovokasinya. Ervana medengar semua kalimat menyakitkan itu, namun seperti biasa ia tidak pernah punya kesempatan untuk membela diri.
"Turun". Lamunan Ervana buyar karena suara berat itu. Apa ia salah dengar? Kakaknya menyuruhnya turun di tempat sesunyi ini?
"Tapi kita belum sampai".
"Aku terlalu malu jika orang-orang melihat kebersamaan kita".
"Kak, aku-"..
"TURUN". Suara itu seperti sebuah putusan hakim yang sedang menangani kasus berat. Di hadapan kakaknya, Ervana tak lebih dari seorang penjahat. Gadis malang itu membuka sabuk pengamannya lalu turun dari mobil mewah itu dengan penuh rasa takut. Mobil melaju kencang persis ketika Ervana menutup pelan pintunya.
"Selalu saja seperti ini". Gadis itu tertawa getir di pinggiran jalan sunyi ini.
"Kenapa nasibku selalu seperti ini?" Gaun panjang dan sepatu tumit tingginya membuat ia tak bisa bergerak bebas.
Sementara itu, beberapa kilometer dari tempatnya berdiri saat ini, keluarga Moses tertawa bahagia. Mimpi lama Efendi benar-benar terwujud. Nama besarnya benar-benar diperhitungkan sekarang. Di pintu masuk tempat itu, kamera menyorot kehadiran putra sulung keluarga itu. Lucas Moses melangkahkan kakinya penuh wibawa. Renita menaikkan sebelah alisnya ketika tidak mendapati sosok kakak menyedihkannya, namun sedetik kemudian gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Dunia hanya perlu tau jika ia adalah satu-satunya putri keluarga Moses.
"Selamat malam, Sayang". Eva Moses mendekat lalu mengecup pipi kanan putranya dengan rasa bangga yang mengebu-gebu. Beberapa kamera langsung menyorot momen penuh kehangatan antara ibu dan anak itu. Lucas adalah kebanggaan keluarga Moses yang memang pantas mendapatkan semua kasih sayang itu.
"Ibu tidak bertanya kenapa aku tidak datang bersama Ervana?" Lucas berbisik pelan di telinga ibunya. Terlalu takut jika kalimat sensitif itu didengar oleh orang lain. Tak banyak yang tau jika Efendi Moses mempunyai putri selain Renita dan ini adalah sebuah keberuntungan bagi sang anak angkat yang langsung memanfaatkan momen berharga ini. Malam ini Renita adalah bintang yang baru saja bersinar paling terang di atas langit bernamakan kejayaan keluarga Moses.
"Ibu rasa itu bukankah sesuatu yang penting. Bukankah Vana hanyalah gadis menjijikkan yang suka merepotkanmu. Kau pasti menurunkannya di tengah jalan karena terlalu malu untuk datang bersamanya. Nak, ibu sangat setuju dengan keputusanmu. Jangan sampai orang-orang tau jika kau punya adik perempuan sedekil itu. Reputasimu akan hancur, Sayang". Kalimat panjang itu terdengar ambigu di telinga Lucas. Sisi lain dari nuraninya ingin membantah semua ucapan sang ibu, namun bukankah wanita paruh baya itu baru saja mengatakan sebuah kebenaran yang susah dibantah. Ervana memang menjijikkan dan memalukan. Gadis itu tidak pernah pantas menjadi adiknya. Tangannya terkepal sempurna. Keangkuhan menguasainya dalam sekejap. Saat ini, semua orang harus tau jika Lucas Moses adalah pria berkuasa yang hanya memiliki satu adik cantik yang begitu membanggakan, Renita Moses. Biarkan Ervana terkurung sempurna dalam nama baik dan kejayaan keluarga Moses yang tidak pernah berpengaruh padanya. Ah, malang sekali gadis itu. Semenjak kedatangan sang anak angkat ke rumah besar keluarganya, cinta dan perhatian keluarganya tidak lagi tertuju padanya. Semua orang terlalu sibuk membuat Renita merasa nyaman dan tenang, tanpa mempedulikan perasaan putri kandung yang kerap menyaksikan pemandangan menyakitkan itu dengan sorot penuh kecemburuan. Dulu, Ervana mungkin merengek dan mencecar sang kakak dengan berbagai pertanyaan paling memuakkan di telinga Lucas Moses.
"Kenapa Kakak mengabaikanku? Bukankah aku juga adikmu? Kurasa aku perlu tau alasannya seperti apa", dalam sekejap, adik yang dulu begitu dicintainya berubah menjadi sosok paling dibencinya. Cara Ervana merengek membuatnya muak. Lucas lelah, ia butuh sosok adik yang mendukungnya bukan yang memberatkan dirinya dengan segala macam kecemburuan tidak beralasan itu.
Saat ini, lampu-lampu kristal di ballroom hotel ini berkilau indah. Cahaya lembutnya memantul ke lantai, menambah kesan mewah dan kejayaan yang malam ini menjadi milik keluarga Moses. Di sudut ruangan, Renita menyesap minumannya dengan gerakan terukur. Sebentar lagi dunia hanya perlu tau jika dirinya hanyalah satu-satunya putri keluarga Moses. Berbagai rencana jahat berkeliaran di kepalanya. Keluarga Moses terlalu sibuk sampai-sampai tidak sadar bahwa mereka baru saja memungut rubah betina yang bisa menerkam mereka kapan saja. Keluarga itu menganggap jika Renita adalah penyelamat keluarga yang sudah sepatutnya diberi cinta dan perhatian yang cukup walaupun itu terlihat tidak adil di mata seorang gadis bermata bening.