Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Gema Dari Masa Lalu
Hujan telah benar-benar berhenti, meninggalkan udara yang berat dan berbau tembaga di sepanjang jalur kereta api terbengkalai menuju Sektor 7. Kawasan ini adalah luka terbuka di peta Jakarta—sebuah zona industri yang ditinggalkan setelah skandal kebocoran limbah kimia hebat satu dekade lalu. Di sini, pepohonan tumbuh bengkok dengan daun yang berwarna kelabu, dan keheningan malam hanya dipecah oleh suara tikus-tikus besar yang berlarian di antara pipa-pipa raksasa yang berkarat.
Arga berjalan tertatih, menggunakan bayang-bayang pipa uap sebagai pelindung. Tubuhnya berteriak minta istirahat. Luka sayatan dari keris Kala Vira di bahunya mulai berdenyut panas, tanda bahwa infeksi atau mungkin residu energi dari senjata itu mulai bereaksi. Namun, pikirannya jauh lebih bising daripada rasa sakitnya.
“Sektor 7 adalah tempat di mana cahaya matahari pun takut masuk.” Kata-kata pria tua di pasar burung itu terus berputar di kepalanya.
“Inang, berhati-hatilah,” suara Macan Kencana kali ini terdengar lebih dalam, seperti geraman peringatan. “Ada sesuatu yang bukan sekadar manusia di bawah sana. Aku merasakan frekuensi yang mirip dengan keberadaanku, namun jauh lebih dingin dan tanpa kehidupan. Ini bukan sekadar bunker... ini adalah peti mati yang luas.”
Arga berhenti di depan sebuah pagar kawat berduri yang sudah roboh. Di kejauhan, bangunan fasilitas pengolahan limbah kimia berdiri seperti raksasa beton yang sedang meringkuk. Lampu sorot dari menara penjaga menyapu tanah secara berkala, namun ada yang aneh. Penjaga yang terlihat di sana tidak mengenakan seragam polisi atau militer. Mereka mengenakan jubah abu-abu panjang dengan topeng sensorik canggih yang menutupi seluruh wajah mereka.
"Pasukan Jagat Mahesa," bisik Arga.
Ia tidak bisa menerjang masuk. Kekuatannya hanya tinggal tiga puluh persen. Jika ia memaksakan konfrontasi fisik, ia akan mati sebelum mencapai gerbang utama. Ia harus menggunakan cara kuli panggul: mencari celah yang dianggap tidak penting oleh orang-orang berjas rapi itu.
Arga merangkak menuju saluran pembuangan limbah yang kering. Saluran itu tertutup oleh jeruji besi tebal. Tanpa bantuan Mustika, menarik jeruji ini adalah hal yang mustahil. Arga menarik napas panjang, menempelkan kedua telapak tangannya pada besi yang dingin.
Ia tidak memanggil kekuatan macan untuk meledakkan besi itu. Sebaliknya, ia memanggil teknik yang baru saja ia pelajari dari Kala Vira: Sinkronisasi Berat Badan. Ia memposisikan kakinya di dinding beton, memindahkan seluruh massa tubuhnya ke otot punggung, dan menarik jeruji itu bukan dengan otot lengan, melainkan dengan momentum seluruh tubuhnya.
Kreeek...
Besi itu bergeser perlahan tanpa suara ledakan yang mencolok. Arga masuk ke dalam terowongan yang gelap dan sempit, merayap di antara tumpukan kerak kimia yang mengeras. Bau belerang di sini sangat menyengat, membuat matanya perih, namun ia terus maju.
Setelah merayap selama hampir tiga puluh menit, ia tiba di bawah sebuah lubang ventilasi yang mengeluarkan cahaya biru pucat. Arga mengintip ke dalam.
Apa yang ia lihat membuatnya membeku.
Itu bukan sekadar bunker penyimpanan. Itu adalah laboratorium raksasa yang sangat steril. Di tengah ruangan, terdapat puluhan tabung kaca setinggi manusia yang berisi cairan hijau fluoresen. Dan di dalam salah satu tabung itu...
"Sari?" napas Arga tertahan.
Sari berada di dalam tabung nomor 09. Tubuhnya melayang pelan, kabel-kabel halus terhubung ke pelipis dan dadanya. Ia tidak tampak menderita; ia tampak seperti sedang tertidur dalam keabadian yang dingin. Namun yang membuat jantung Arga seolah berhenti berdetak adalah apa yang tertulis di layar monitor di depan tabung tersebut:
[SUBJEK 09: KOMPATIBILITAS RESONANSI MUSTIKA - 88%]
[STATUS: EKSTRAKSI MEMORI TAHAP AKHIR]
"Mereka tidak hanya menculiknya," desis Arga, matanya memerah karena amarah yang baru. "Mereka menjadikannya wadah cadangan."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong laboratorium. Arga segera menarik kepalanya kembali ke bayang-bayang. Dua orang ilmuwan masuk, diikuti oleh seorang pria yang Arga kenali dari deskripsi Maya: Barata Adiraja, pengusaha brutal yang menguasai sektor pertambangan, salah satu dari 15 antagonis besar yang menjadi sekutu Jagat Mahesa.
"Bagaimana perkembangannya?" suara Barata berat dan serak, seperti suara batu yang bergesekan.
"Gadis ini sangat luar biasa, Tuan Barata," lapor salah satu ilmuwan. "Ingatannya tentang subjek Arga Satria adalah kunci untuk menstabilkan Mustika Macan Kencana. Jika kita bisa menghapus jati diri Arga melalui hubungan emosional mereka, Mustika itu akan bisa kita pindahkan ke wadah yang baru tanpa risiko ledakan energi."
Barata tertawa kasar. "Bagus. Dharmendra Rajendra terlalu sibuk bermain media, sementara kita di sini sedang membangun dewa baru. Jika proyek ini berhasil, Jagat Mahesa akan memberikan kita kendali penuh atas suplai energi nasional."
Arga mengepalkan tinjunya hingga darah kembali menetes dari luka di telapak tangannya. Logikanya memerintahkannya untuk tetap diam dan mengumpulkan informasi lebih banyak, namun melihat Sari diperlakukan seperti barang eksperimen menghancurkan semua dinding kesabarannya.
Emosinya meluap, memicu reaksi berantai pada Mustika di dadanya. Kali ini, macan itu tidak bicara; ia hanya memberikan sensasi panas yang murni. Arga merasakan otot-ototnya mengencang, bukan karena kekuatan instan, melainkan karena adrenalin yang dipicu oleh kemarahan yang melampaui logika.
Ia tidak bisa menunggu lagi.
Arga menendang penutup ventilasi hingga hancur berkeping-keping. Ia melompat turun ke tengah laboratorium, mendarat dengan suara dentuman yang menggetarkan kaca-kaca tabung di sekitarnya.
"Siapa?!" teriak Barata Adiraja sembari menarik pistol kaliber besar dari balik jasnya.
Arga berdiri perlahan di tengah kepulan uap kimia. Wajahnya yang kotor dan berdarah kini tampak seperti hantu yang menuntut balas. Matanya tidak lagi berwarna emas murni; ada gurat hitam yang melingkari irisnya, tanda bahwa ia mulai menyerap sisi gelap dari Mustika tersebut secara sadar.
"Aku adalah orang yang akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi, Barata," suara Arga terdengar berlapis, seperti ada ribuan suara yang berbicara secara bersamaan.
Barata tidak membuang waktu. Ia melepaskan tembakan. Bang! Bang!
Arga tidak menghindar dengan kecepatan super. Ia menggunakan teknik menjadi air. Ia menggeser tubuhnya hanya beberapa inci, membiarkan peluru itu melewati telinganya, lalu ia menerjang maju.
Ini adalah pertarungan pertama Arga melawan salah satu dari 15 bos besar. Barata Adiraja bukan hanya pengusaha; dia adalah mantan tentara bayaran dengan kekuatan fisik yang luar biasa. Ia menyambut terjangan Arga dengan pukulan uppercut yang mampu menghancurkan beton.
Arga menahan pukulan itu dengan kedua lengannya. Rasa sakitnya luar biasa, namun ia tidak mundur. Ia mencengkeram lengan raksasa Barata, menggunakan teknik gravitasi yang diajarkan Kala Vira, dan membanting tubuh berat pria itu ke arah meja laboratorium yang penuh dengan peralatan kaca.
Prang!
Lampu alarm merah mulai meraung di seluruh fasilitas.
"Pewaris telah masuk! Kunci semua pintu! Aktifkan protokol pemusnahan!" teriak salah satu ilmuwan melalui interkom sebelum Arga membungkamnya dengan lemparan pecahan kaca.
Arga menatap ke arah tabung Sari. Ia harus memecahkan kaca itu, tapi ia tahu bahwa perubahan tekanan yang tiba-tiba bisa membunuh gadis itu. Ia harus menemukan cara untuk melakukan shutdown pada sistem secara manual.
Namun, Barata Adiraja bangkit kembali dari reruntuhan meja. Ia menyeka darah di dahinya, matanya berkilat penuh kegilaan. "Kau pikir kau hebat karena punya mainan di dadamu, Arga? Di Sektor 7, kekuatanmu tidak berarti apa-apa!"
Barata menekan sebuah tombol di dinding, dan tiba-tiba, lantai laboratorium terbuka. Dari bawah sana, muncul sebuah mesin berbentuk humanoid yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan—prototipe tempur yang dikembangkan oleh keluarga Adiraja.
Arga terpojok. Di satu sisi ada Sari yang nyawanya bergantung pada kabel-kabel rumit, di sisi lain ada Barata dan mesin pembunuhnya, sementara di luar, pasukan Jagat Mahesa sedang mengepung ruangan ini.
Inilah tingkat kesulitan yang sebenarnya. Arga harus bertarung tanpa menghancurkan ruangan ini, karena satu kesalahan kecil saja bisa berarti kematian bagi Sari.
"Mari kita lihat seberapa besar cintamu pada gadis ini, Arga Satria!" Barata tertawa gembira sembari memerintahkan mesin itu untuk menyerang.
Arga menarik napas dalam. Ia menatap tabung nomor 09, menatap wajah Sari untuk terakhir kalinya sebelum badai pecah. "Sari... bertahanlah. Aku akan membawamu pulang."
Arga tidak lagi menahan diri. Ia membiarkan resonansi Mustika Macan Kencana menyatu dengan setiap teknik bela diri yang ia miliki. Malam ini, di jantung Sektor 7, Arga Satria akan membuktikan bahwa kemanusiaan yang terluka jauh lebih berbahaya daripada mesin yang paling canggih sekalipun.