Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. AMSALIR
Di malam yang sunyi, dalam kamar yang hanya diterangi temaram lampion, Zhen Yi membiarkan jemari hangat Zihan membelainya. Dalam keheningan itu, mereka seolah hanya saling berbagi kehangatan. Di dalam dekapan Zihan, Zhen Yi bersikap seolah-olah ia begitu rapuh dan membutuhkannya.
Tangan Zihan terus membelai lembut rambut berkilaunya. "Malam ini aku akan menemanimu. Tidurlah, aku akan menjagamu."
Zhen Yi mengangguk, kian membenamkan wajahnya di dada Wang Zihan sembari berpura-pura memejamkan mata. Namun, tiba-tiba suara Kasim Bao memecah keheningan.
"Yang Mulia Kaisar tiba!" teriaknya lantang. Seketika Zhen Yi terlonjak, tampak terkejut.
Ia bangkit dan menatap Wang Zihan dengan cemas. "Pangeran, bagaimana ini? Anda bisa ketahuan!"
"Lagi-lagi Ayahanda kemari. Mau apa lagi dia? Pergilah, buka pintunya," perintah Zihan tenang. Mata Zhen Yi membelalak, tak percaya dengan ketenangan Zihan yang seolah tak takut tertangkap basah.
"Apa Pangeran gila? Anda bisa saja dipenggal!" desis Zhen Yi tertahan.
"Sudah, jangan khawatir. Buka saja," perintahnya lagi.
Zhen Yi melangkah perlahan ke arah pintu. Sebelum menarik gerendel, ia menoleh untuk memastikan keadaan, namun Zihan hanya mengangguk mantap, memintanya segera menyambut sang kaisar.
Krek!
Pintu perlahan terbuka. Kaisar berdiri di sana dan tersenyum ke arahnya. Zhen Yi sempat menegang dan menoleh ke belakang dengan waswas, namun Zihan sudah lenyap tak berbekas.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Kaisar melihat gelagatnya.
Zhen Yi segera menggeleng cepat. "Tidak, Yang Mulia. Apa yang membawa Yang Mulia datang selarut ini?"
"Kasim Bao, cepat siapkan semuanya," perintah Kaisar. Beberapa pelayan segera masuk membawa nampan berisi hidangan.
"Kita akan makan malam bersama. Aku ingin memastikan kamu aman malam ini, Istriku," ungkapnya lembut sembari membimbing Zhen Yi untuk duduk.
Zhen Yi dan Kaisar menikmati jamuan dengan tenang. Beberapa kali Kaisar menyuapinya, sebuah perlakuan yang berbanding terbalik dengan rumor kejam yang beredar di luar sana. Kaisar memang tak pernah bersikap kasar padanya, meski di medan perang atau dalam urusan takhta, pria itu dikenal tak punya belas kasihan. Namun, tetap saja, saat menatap mata itu, bayangan sang Kaisar yang membawa paksa ibunya membuat amarah Zhen Yi bergejolak. Ia merasa ingin menebas kepala itu saat itu juga.
"Yang Mulia, bagaimana keadaan Selir Ling? Apakah dia baik-baik saja?" tanyanya dengan nada yang dibuat seolah peduli.
Kaisar mendadak berhenti menyuap. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar. "Sekarang dia berada di paviliunnya. Besok, seluruh anggota keluarganya akan diasingkan. Kamu terlalu baik, Selir Zhen. Dia sudah mencelakaimu, tapi kamu masih memikirkannya."
"Bagaimanapun, Selir Ling dulu adalah selir kesayangan Yang Mulia. Mungkin dia hanya merasa cemburu hingga tega melakukan semua itu," ucap Zhen Yi dengan nada meratap yang menyedihkan.
"Jangan merendahkan dirimu seperti itu. Dia pantas mendapatkannya. Kamu harus kuat menghadapi persaingan di istana belakang, jika tidak, mereka tidak akan segan menyakitimu lagi. Tapi jangan takut, selama ada aku, tak ada yang berani menyentuhmu," kata Kaisar meyakinkan.
Kaisar bangkit dan mendekat. Ia meraih kepala Zhen Yi dan menyandarkannya di perutnya. Di dalam dekapan sang Kaisar, Zhen Yi menyeringai, sebuah senyum kepuasan yang tersembunyi.
Sementara itu, di sudut luar istana yang gelap, Dali tampak menyelinap di antara bayang-bayang tembok besar. Langkah kakinya sangat ringan, hampir tak bersuara. Namun, ia tidak menyadari bahwa Liang telah mengawasinya dari kejauhan dan mulai mengikutinya.
Dali mempercepat langkah saat memasuki kawasan perumahan warga yang padat dan berliku. Liang, yang mengenakan penutup wajah hitam, terus menjaga jarak agar tidak tertangkap basah. Namun, Dali bukanlah pelayan biasa, ia merasakan keberadaan seseorang di belakangnya.
Di sebuah persimpangan yang gelap, Dali tiba-tiba berbelok tajam dan menghilang di balik dinding. Liang terkejut dan segera berlari menyusul, namun ia hanya menemukan jalan buntu yang kosong.
"Sial, ke mana dia?" gumam Liang pelan. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan.
Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul dari kegelapan di belakangnya. Sebelum Liang sempat berbalik, sebuah lengan kecil namun kuat mengunci lehernya, dan mata pisau khusus menempel erat di kulit lehernya.
"Siapa kau? Berani-beraninya membuntutiku," desis Dali.
Liang membeku. Ia bisa merasakan ujung pisau itu mulai menekan kulitnya. Karena wajah Liang tertutup rapat, Dali tidak mengenali siapa pria yang sedang ia ancam itu. Bagi Dali, pria ini hanyalah mata-mata yang harus segera ia bungkam.
"Bicara, atau pisau ini akan merobek kerongkonganmu sebelum kau sempat berkedip," ancam Dali lagi, tangannya tidak gemetar sedikit pun.